بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠Ambil buruk, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Pusat Agama Masjid Kanaya dan Indri meluncurkan masjid. Kanaya mirip orang yang kuper, sungguh dia benar-benar pantas asing. Pakaian mereka semua yang diubah, Hanya yang dipakai saja yang memakai celana. Dia memilih ini bukan tempatnya. Kanaya tidak layak berada di tengah-tengah mereka yang tingkat kesalihahannya pasti sudah tidak diragukan lagi.
Indri juga nampak akrab dengan mereka. Banyak juga dari teman-peserta yang bercadar. Mereka terlihat ramah sekali.
"Teh, duduk di depan, yuk. Supaya jelas."
Kanaya mengangguk.
Bukan karena Kanaya memakai celana, tetapi karena menggunakan yang sangat cantik, jadi dia menjadi bahan sorotan ukhti-ukhti yang nampak terpukau.
"Teteh kalau mau hijrah harus sering dateng ke Kajian."
Selama perjalannya menuju Islamic Centre, Kanaya mencurahkan isi kemenangan yang ingin diperbaiki diri. Dia sudah bosan dengan banyak yang terkesan monoton. Ada kata yang sering ia dengar dan baca, yaitu kata 'Hijrah'. Indri pun menjelaskan apa yang dibahas dengan hijrah.
Hijrah adalah proses perpindahannya pada sesuatu yang lebih baik.
Maka, jika Kanaya ingin beralih ke pergantian yang lebih baik, itu bisa dinamakan hijrah. Dia juga harus meninggalkan perkara-perkara yang menyimpang dari ajaran agama.
Hijrah itu butuh proses.
Jadi Indri mewawancarai Kanaya yang masih membawa celana. Kanaya yang sudah mau ditutup aurat saja sudah terbilang cukup baik.
Kanaya tinggal menkaji lebih dalam ilmu agama. Nanti dia sendiri yang tahu bagaimanakah pakaian muslimah yang paling benar.
"Ooh, iya deh nanti kalau gue udah pulang gue bakal coba ikut kajian."
Seorang pria maju ke depan seraya memegang mikrofon.
"Tes. Tes. Tes" Tangannya mengetuk-ngetuk ujung mikrofon.
Kanaya terkejut bukan main. Tubuhnya serta-merta menegang tanpa dikomandan.
"Assalamualaikum wa warahmatullahi wa barakatuh. Selamat siang semuanya, kita kembali lagi ke kajian rutin komunitas Pemuda Hijrah. Bagaimana kabarnya?" tanyanya dengan sangat ramah. Senyum itu terlihat manis sekali. Mereka yang ada dalam masjid itu menyahut, alias menjawab pertanyaan lelaki yang berdiri percaya diri di depan itu. Kopiahnya bertengger manis di kepala. Baju koko putih bersih terpasang di tubuhnya. Wajahnya bersih bercahaya. Nampak bersahabat sekali.
"Hehe pasti baik semua, ya. Alhamdulillah pada kesempatan kali ini Allah masih memberi nikmat yang luar biasa pada kita semua. Dia masih berkenan memberi kita kekuatan untuk melangkah dan berkumpul di taman Surga yang in syaa Allah penuh berkah dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala."
Ketika Rifki melempar pandangan ke tempat akhwat yang berada di sebelah kanan, dia menemukan wanita berwajah familiar yang duduk paling depan.
Kanaya meneguk ludah.
Baru saja kedua pasang mata mereka berserobok.
Selain menegang, tubuhnya juga mendadak panas-dingin.
Dia Rifki.
Ternyata di sinilah pertemuan kedua mereka.
Rasanya Kanaya ingin kabur saja dari tempat ini.
Dia malu bertemu Rifki.
Mau ditaruh di mana mukanya?
Pasti Rifki bertanya-tanya mengapa dirinya ada di tempat ini.
Lho? Bukankah ini keinginan Kanaya? Bukankah dia ingin bertemu dengan Rifki? Bukankah ini tujuan utamanya mendatangi kajian ini?
Iya, Kanaya merindukannya. Tapi saat berada dalam satu ruangan yang sama seperti ini, nyalinya ciut. Ke mana Kanaya yang dulu? Yang selalu terang-terangan menatap wajah bahkan bicara sekenanya.
Tapi ternyata, berbeda dengan Rifki tidak terlalu memedulikan. Terlihat dia hanya lebih memokuskan pandangan pada para ikhwan dan bercakap ramah. Mungkin untuk menjaga pandangan.
"Baik, sebelum pengisi acara ini datang, di sini saya akan membacakan beberapa ayat suci Al-Quran. Yang membawa mushaf silakan dikeluarkan dan buka surat Ar-Rahman." Rifki duduk di kursi yang telah disediakan di tengah-tengah, dia membuka Alquran, sesekali membenarkan kacamatanya.
Rifki mulai membacakan surat Ar-Rahman. Suaranya merdu, tahsinnya membuat hati tenteram bagai alunan nada yang menyejukkan, bacaan tajwidnya pun fasih.
Dia benar-benar paket kumplit.
Tanpa sadar, Indri terlampau menikmati lantunan ayat suci yang dibacakan Rifki.
Semenjak Aiza mengikrarkan pernikahan dengan pria lain, Indri mulai menyimpan rasa pada mantan kakak kelasnya itu. Iya, Rifki adalah kakak kelasnya sewaktu di SMA. Empat bulan lalu Indri memperkenalkan Rifki kepada sahabat terbaiknya yang bernama Aiza. Tapi sepertinya mereka memang tidak berjodoh. Aiza harus pergi ke Jakarta untuk mengganti posisi ibunya yang bekerja sebagai pembantu. Dan ternyata, Aiza juga malah melangsungkan pernikahan dengan lelaki lain di sana, membatalkan rencana lamarannya dengan Rifki.
Rifki yang sudah telanjur mencintai Aiza pun harus mengubur dalam-dalam perasaannya.
Kadang jodoh memang sulit ditebak.
Semua terjadi di luar nalar.
Bukan hanya Indri, tapi juga Kanaya yang ikut-ikutan terbawa suasana. Baru kali ini dia merinding ketika mendengarkan lantunan ayat suci.
Selama ini dia selalu mengabaikan suara azan dan lantunan ayat suci yang pernah nongol di acara tivi. Entah mengapa Kanaya memang tidak suka dengan hal yang berbau agama. Aneh memang. Tapi begitulah kenyataannya. Salat pun diabaikan dengan dalih malas. Di waktu Magrib saat orang-orang berbondong-bondong melaksanakan salat tiga rakaat, dia malah masih asyik dengan drama Koreanya. Seruan azan Magrib di telinganya tak bernilai apa-apa. Bahkan Kanaya pun pernah marah-marah, gara-gara suara azan dia tidak bisa konsentrasi menonton acara di televisi.
Tapi sekarang Kanaya mulai tertarik pada ajaran agama. Dia mulai berjilbab dan mau melaksanakan salat, walaupun masih bolong-bolong. Rasa malas itu benar-benar membuatnya kesulitan. Apalagi untuk salat Subuh, Kanaya belum bisa istiqamah. Mengingat dirinya yang selalu bangun lewat dari jam delapan.
Kanaya pikir selama ini dia sudah menjalani hidupnya dengan baik. Baginya selama tidak membunuh, memfitnah, dan menyakiti orang lain, dia sudah aman dari dosa. Tapi ternyata tidak. Katanya, meninggalkan salat pun lebih parah dosanya dari apa yang tadi disebutkan.
Semenjak itu Kanaya mulai belajar salat.
Sekitar 20 ayat selesai dibacakan, Rifki beranjak dari tempat duduknya seraya mengucapkan salam, lalu kembali bergabung di barisan ikhwan lain.
Kajian dimulai begitu ustaz yang akan mengisi acara sudah tiba.
Tema yang diambil adalah : Mengambil Hikmah di Balik Ujian
"Eh, Ndri, kita tunggu dulu di sini. Gue mau ketemu sama seseorang," ucap Kanaya sewaktu mereka sudah berada di halaman masjid. Kajian berlangsung selama dua jam, berlanjut salat zuhur berjamaah. Sekarang para ikhwan dan akhwat sedang bubaran.
Indri dan teman-temannya berpelukan, bersalaman sebelum akhirnya pamit. Terlihat sekali tali persaudaraan kental di antara mereka.
"Kangen teteh Aiza aku tuuh." Salah seorang akhwat berkata demikian pada Indri. Indri tersenyum. Dia pun sebenarnya sangat merindukan sahabat terbaiknya yang telah membuatnya teguh untuk bercadar.
"Kirim doa, ukh."
Dia mengangguk-anggukkan kepala, terlihat sedih.
Kanaya jadi minder, sepertinya mereka lemah-lembut semua. Cara bicara dan lain sebagainya terlihat begitu kemayu. Berbeda dengan dirinya yang gesreknya minta ampun. Kanaya juga ingin seperti mereka, tapi ya begitulah, ia tak mampu. Dari dulu perilakunya memang sudah seperti ini. Mengubah perilaku tidak semudah membalikan telapak tangan, kadang ia butuh orang yang bisa menasehati. Tapi sayang, Kanaya tidak mempunyai orang itu. Bahkan mamanya pun melarang Kanaya memakai gamis dan kerudung panjang. Bagaimana bisa Kanaya menjadi seperti mereka?
"Seseorang siapa, Teh? Emangnya ada yang Teteh kenal?" tanya Indri kepada Kanaya setelah menyelesaikan acara pamitannya dengan teman-teman fillah-nya.
"Tadi yang bacain Alquran di depan. Gue kenal sama dia."
"Aa Rifki maksudnya?"
"Eh, lo kenal juga?"
"Iya, kenal."
"Wajar sih kan pasti suka ketemu di sini."
"Eh tunggu-tunggu, kok Teteh bisa kenal? Eh, itu A Rifki."
Otomatis Kanaya mengalihkan pandangan ke arah pintu Masjid. Ada Rifki yang baru keluar bersama teman lelakinya. Setelan Rifki memang biasa saja, bahkan sederhana dan sangat-sangat sederhana. Dia tidak memakai kemeja berbalut jas ala-ala CEO cerita w*****d. Bukan pula jas dokter yang kadang bisa membuat ibu-ibu pun berpikir untuk berselingkuh.
Tapi mengapa auranya berbeda? Justru karena kesederhanaan itulah yang membuat dia berbeda dari lelaki lain. Orang tampan biasanya selalu bertingkah dan berpenampilan istimewa. Tidak dengan Rifki.
Sepertinya jantung Kanaya tidak bisa diajak kompromi. Nanti kalau debarannya terdengar oleh dia bagaimana? Kan bisa berabe.
Cepat-cepat Kanaya menatap ke arah Indri lagi. Tiba-tiba tubuhnya kikuk. Kanaya pikir, ia tak akan segugup ini.
"Tuh, Teh. A Rifki ngedeket ke sini."
"Serius lo? Jangan becanda aaah!"
"Iyaaa."
Benar saja, Kanaya merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Sekatika bulu kuduknya meremang. Yang di belakangnya ini orang ganteng, tapi kok bikin serem? Orang ganteng woy! Bukan genderewo!
"Ayo Teh, katanya ada perlu sama a Rifki," ucap Indri, dan Kanaya menyesali ucapan Indri itu, praktis membuatnya memicingkan mata.
Kanaya pun memberanikan diri untuk membalikan badan, liur yang mengalir di tenggorokan berubah jadi biji kedongdong.
"Eh, apa kabar, Teh. Eh salah, Mbak."
Kanaya cengengesan.
Ia ingin mengatakan baik, tapi nyatanya tidak. Selama bertemu Rifki jiwanya selalu tak tenang, selalu saja kacau.
"Teteh ada perlu sama saya? Kok bisa ada di sini?"
"Emang nggak boleh, ya?! Emang gue nggak boleh dateng ke sini lagi?!" sungut Kanaya di depan wajah Rifki.
Percayalah, Kanaya hanya berusaha bersikap seperti dulu. Agar Rifki tidak curiga bahwa ia telah menyimpan rasa.
"Enggak, Teh. Saya cuma nanya, kok."
Indri berlaga pilon melihat interaksi Rifki dan Kanaya yang memang sepertinya sudah saling mengenal.
Merasa kalau suaranya barusan terlalu keras, Kanaya segera meminta maaf. "Maaf kalau bahasa gue kasar." Kanaya menutup mulutnya, sadar akan kesalahan. Tadi memang rem mulutnya blong, jadi ceplas-ceplos. "Ini... Eemmm, emmm, gue ..."
Haduh! Kok susah amat ya?! Arggghhh!! Kok gue deg-degannya parah banget, sih?! Perasaan dulu nggak gini-gini amat. Parah ini namanya! Orang yang gue kangenin ada di depan mata, gue cengo, kan.
Kanaya segera mengeluarkan uang dari tasnya.
"Ini gue ke sini mau ngembaliin uang yang dulu lo pinjemin. Maaf gue kelupaan. Makannya gue dateng ke sini sekalian ada hal yang penting yang harus gue lakuin di sini. Jangan nanya gue kenapa gue ada di sini karena barusan gue udah jelasin dengan gamblang. Plis. Jangan nanya lagi."
Sekalian mau ketemu lo juga sih sebenernya. Tapi masa sih gue ngaku? Dulu gue bisa aja berani, tapi sekarang gue jadi cewek kaku gini. Apa karena udah lama nggak ketemu?
"Eh, Teh. Nggak usah. Saya ridho ngasihnya. Teteh simpan aja."
"Udah ambil aja. Gue nggak enak. Gue udah bela-belain lho dateng ke sini."
"Enggak, Teteh simpen aja."
"Enggak mau. Lo harus mau terima. Gimanapun ini namanya hutang. Gue nggak mau tau pokoknya!"
"Saya ikhlas. Kalau mau, Teteh sumbangin aja ke yang lebih membutuhkan. Tuh, masukan ke kotak amal Masjid, misalnya?"
Kanaya mengernyit.
"Maaf ya, saya harus pulang dulu."
Rifki langsung berlalu meninggalkan Kanaya dan Indri tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Tangan Kanaya yang memegang uang hanya menggantung di udara, matanya menatap kepergian Rifki. Ada yang berbeda dari dia.
Dia tidak seramah seperti waktu itu.
Apakah hari ini akan menjadi pertemuan kedua sekaligus terakhir mereka?
Kanaya sudah tidak memiliki urusan apa-apa lagi.
Bahkan uangnya pun tertolak.
Akankah semuanya benar-benar berakhir?
"Teteh kenal dari mana sama a Rifki?" tanya Indri begitu Rifki sudah pergi menggunakan motor matic-nya.
Lamunan Kanaya buyar. "Dulu sempet ketemu. Gue juga sempet nginep di rumahnya gara-gara mobil mogok."
"Kebetulan banget, ya."
"Kebetulan banget juga kalau lo kenal. Gue mau banyak nanyain soal dia."
"Eh tapi, dalam hidup ini nggak ada yang namanya kebetulan. Semuanya pasti udah diatur sama Allah. Kenapa, Teh? Kenapa Teteh mau nanya banyak soal dia? Teteh ... Suka sama a Rifki?"
"Heeeh???"
Indri menaikkan kedua alisnya melihat reaksi Kanaya.
"Enggak itu, ada yang pengin gue tau aja dari dia. Kisah cintanya, mungkin? Gue penasaran. Lo pasti tau, kan?"
"Dengan Teteh bilang gini, secara nggak langsung Teteh udah bilang kalau Teteh emang suka sama a Rifki."
"Iih apaan, sih."
Indri terkekeh melihat wajah Kanaya yang berubah kusut. Dia jadi penasaran dengan hubungan Kanaya dan Rifki. "Iya di syaa Allah, nanti aku terima kasih tau. Yuk, Teh. Kita pulang juga."
Siapakah jodoh Rifki?
Indri?
Kanaya?
Yang pengen tau kisah Aiza silahkan baca selengkapnya di cerita Di Balik Niqab, cerita yang dimengerti ini adalah sekuel dari cerita itu.
Aku yakin sebagian besar yang membaca cerita ini sudah membaca DBN. Tapi pasti ada satu / dua orang yang belum membaca. Silakan baca ya agar tidak bingung. Tapi nggak maksa juga sih Karena didukungnya nggak terlalu terkait.
Jazaakumaallaahu khairan ..
05 Desember 2018
27 Rab'iI 1440H