بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Tempat pertama yang akan dikunjungi adalah Kamojang. Sekarang ini dia sudah berada di salah satu tempat wisata bernama Kamojang bernama Eco Park. Pohon pinus yang menjulang tinggi, suasananya gelap, dingin, menyejukkan, dan cukup sepi. Seperti biasa, Kanaya suka sekali selfie . Jadi tadi, baru di pintu masuk pun dia selfie .
Emang malu-maluin.
Orang Garut juga nggak lebay begitu.
Maklum, baru pertama kali.
Kanaya kan jarang jalan-jalan.
Kuper. Alias kurang pergaulan.
Hanya gara-gara takut bertemu orang yang mau jadi orang munafik.
"Kalau main ke tempat gini tuh harusnya bawa pacar, mau sendiri tuh nggak seru," sambil terus berjalan sambil memoto pemandangan di sekitarnya. "Eh enggak, deh. Gue udah nggak nyari pacar. Gue maunya nyari suami. Biar kayak di mimpi. Gue minta dijadiin pacar, eh dianya mau nikah. Kamui itu bukan cuma mimpi. Kamui itu mau pakai, pasti gue suka banget."
Kanaya terus menyusuri tempat yang cukup luas itu, dia manggut-manggut, bisa jadi tempat ini pun bisa dijadikan tempat orang pacaran, berdua-duaan, mesra-mesraan.
Kanaya melihat pagar yang bertuliskan Gerbang Langit. Coba bagus jika berfoto di sana.
Kanaya melirik ke samping dan belakang, memandang ke bawah pada wanita yang duduk santai di atas ke atas sambil mengenakan kain sambil memainkan ponselnya. Detik berikutnya, Kanaya melangkah ke Arahnya.
"Dek, bisa fotoin gue nggak?" pintanya tanpa malu-malu.
Perempuan berkerudung panjang itu mendongkak. Wajahnya manis. Begitulah penilaian Kanaya sewaktu pandangan mereka bertemu.
"Ooh, bisa, Teh."
"Ganggu, nggak?'
"Enggak. Ayo." Dia pun turun dari ayunannya.
"Soalnya kalau difoto di sini pasti bagus banget, Dek. Sayang kalau nggak difoto, jauh gue dari Jakarta." Kanaya terus bicara saat dia menyerahkan ponselnya pada perempuan kisaran umur 17 tahun itu. Mulutnya memang tidak bisa diam. Padahal baru kenal, tapi langsung nyerocos panjang kayak kereta api.
Kanaya mulai naik, lalu berdiri di depan pagar bertuliskan Sky Gate yang ada di atasnya itu. Dia bergaya ala-ala model, membuat anak perempuan yang memotonya itu menahan tawa. Menertawakan orang lain itu dosa, jadi lebih baik ditahan. Kasian juga, nanti yang difotonya jadi nggak pede.
Ya Allah, ternyata orang Jakarta alay juga ya, si anak itu membatin.
Beralih dari gaya model, Kanaya mengubah gayanya seraya memonyongkan bibir dengan pandangan mata ke atas, kadang juga memelotot ke arah kamera. Si gadis yang memakai gamis biru dongker itu berupaya menahan tawa lebih keras.
Lalu, gaya yang paling bagus adalah saat dia memamerkan tawa renyahnya.
Lumayan, aura kecantikannya terpancar dengan jelas.
Tiba-tiba wajah Kanaya berubah terkejut, kedua alisnya terangkat ke atas sewaktu melihat sosok hitam yang sudah berdiri di belakang si perempuan yang saat itu memegang ponselnya.
Cepat-cepat Kanaya turun, nyaris tersandung, dia berdiri di belakang anak perempuan yang telah berbalik itu. Mereka nampak bercakap.
"Dek dia siapa?! Kok serem gitu?! Kayak ninja!" Kanaya heboh sendiri. "Kayak ninja yang ada di permainan yang selalu gue mainin dulu!!"
Tuh kan, kalau ngomong nggak pernah disaring dulu.
Entahlah bagaimana perasaan wanita yang Kanaya katai itu.
"Ini Teteh saya, Teh," jawabnya, lalu memberikan ponsel di tangannya kepada Kanaya. Kanaya menerimanya kembali dengan wajah yang masih ngeri, bahkan kedua mata itu masih menatap penuh selidik pada perempuan yang sedang memegang sebotol air mineral itu.
"Bukan ninja, tapi Teteh ini pakai cadar, pakaian muslimah yang taat sama agama. Nggak usah takut, Teh. Baik, kok."
Kanaya mengerjap sewaktu melihat wanita bercadar itu malah melempar senyum. Bibirnya memang tidak terlihat, tapi Kanaya bisa melihatnya lewat sorot mata. Awal-awal melihat memang seperti ninja yang amat menakutkan, lantaran seluruh wajahnya ditutupi kecuali mata. Tapi lama kelamaan, Kanaya malah merasa teduh. Ternyata tidak semenyeramkan itu.
Dia pun mengulurkan tangan ke arah Kanaya, masih dengan sorot mata tersenyum. Kanaya yang masih syok menerima uluran tangan yang berbalut handshock itu dengan diplomatis. "Perkenalkan Teh, nama saya Indri."
"Ka ... Ka ... Kanaya. Ya. Nama gue Kanaya Putri Wardhana."
"Temen Aisyah?" tanya Indri.
Kanaya menggeleng.
"Bukan, aku juga baru kenal tadi, Teh." Aisyah yang menjawab. Ya, gadis yang barusan memoto Kanaya bernama Aisyah.
"Ooh."
Kanaya dan Indri melepas uluran tangan mereka.
"Oh ya, Teh, kita belum kenalan." Giliran Aisyah yang mengulurkan tangan. "Nama saya Aisyah."
"Nama gue Kanaya."
"Tadi Teteh ini minta aku untuk fotoin," ungkap Aisyah kepada Indri. Kebetulan tadi Indri sedang membeli air mineral dan Aisyah menunggunya di ayunan.
"Kalian adek-kakak?" tanya Kanaya mencoba basa-basi.
"Bukan adik-kakak asli, cuma temen."
Kanaya manggut-manggut. "Ooh adek-kakakaan gitu, ya."
Aisyah mengangguk. Baginya, Indri adalah sosok pengganti kakaknya yang beberapa minggu lalu telah berpulang ke rahmatullah.
"Eh, btw, makasih ya Dek tadi udah motoin gue. Maaf kalau ngerepotin." Ternyata Kanaya masih memiliki rasa bersalah karena dia sudah membuat anak orang repot lantaran harus melakukan hal tak berfaedah alias memoto dirinya yang sama sekali bukan orang penting. Artis bukan. Temen bukan. Baru kenal tapi sudah so kenal so dekat.
"Iya sama-sama, Teh. Saya nggak keberatan, kok. Santai aja, Teh."
"Teteh sendirian aja? Pasti bukan orang sini, ya?" tanya Indri.
"Iya sendiri aja, kok tau gue bukan orang sini?"
"Iya keliatan dari wajahnya."
"Kenapa sama wajah gue?"
"Cantik."
Tiba-tiba wajah Kanaya berubah merah merona. "Ah, kamu ini bisa aja." Gadis itu tersipu malu.
"Serius."
"Pasti orang Jakarta kan, Teh?" Aisyah menebak.
"Kok tau?"
"Bahasanya orang Jakarta ya gitu, 'lo-gue'." Asiyah nyengir.
"Husttt..." timpal Indri.
"Hehehehe...." Kanaya cengengesan. "Maaf ya bahasa gue kasar. Tapi emang gini. Ya abis mau gimana lagi."
"Nggak papa, Teh. Bisa dimaklumin, kok."
"Oh ya udah, kalau Teteh sendirian gabung sama kita aja," usul Indri dengan nada ramah.
"Beneran? Emang boleh?"
"Boleh, lah. Kenapa enggak? Biar Teteh ada temen juga. Nggak seru kalau sendiri. Kita kan bisa foto sama-sama. Ngobrol-ngobrol bareng. Itu sih kalau Teteh mau."
"Iya sih, bener juga, ya udah gue gabung sama kalian, ya. Ide yang bagus, lho. Gue juga belum keliling sepenuhnya."
Mereka pun mengelilingi taman pohon pinus itu. Tiba di tempat yang menurut Kanaya bagus, dia menyuruh Aisyah untuk memoto dirinya. Sepertinya niatnya bukan untuk riset, tapi untuk foto-foto.
"Ngomong-ngomong, Teteh lagi ngapain ke sini? Jauh-jauh dari Jakarta, lho. Padahal di sana jauh lebih banyak wisata bagus dan menarik."
"Sebenernya pengin ketemu seseorang sih, tapi sayang, dia bukan siapa-siapa gue. Gimana, dong?"
"Maksudnya?"
"Udah lupain aja. Gue gini orangnya, suka ngelantur." Kanaya makin gaje.
Indri hanya mengangguk-anggukkan kepala. Kadang dia bercengkerama dengan Aisyah. Indri datang ke sini untuk menemani Aisyah yang ingin jalan-jalan ke Kamojang. Katanya, sudah lama sekali ia tidak keluar selain sekolah. Indri yang sudah menganggap Aisyah sebagai adik sendiri, dengan senang hati menemaninya. Bagaimanapun Aisyah adalah adik dari sahabatnya
"Dek, kenapa pakai itu, sih?" tanya Kanaya pada Indri, menunjuk cadar yang gadis itu kenakan.
"Ini cadar, Teh. Supaya lebih meminimalisir dosa aja."
"Terus lo kenapa nggak pakek?" Kanaya bertanya pada Aisyah.
"Belum berani. Masih sekolah."
Terus muka aku juga biasa aja."
"Emang yang cantik doang yang harus bercadar? Banyak tuh artis yang cantik tapi nggak cadaran."
"Karena mereka itu orang islam yang nggak mau belajar agama Islam. Jadi gitu, Teh. Asal-asalan," celetuk Aisyah. "Di kerudung aja nggak mau apalagi cadaran."
Setelah berkeliling cukup lama, mereka pun bertukar nomor ponsel. Kanaya merasa beruntung karena dipertemukan dengan orang baik seperti mereka. Selama ini Kanaya begitu menutup diri para orang-orang hanya karena takut disakiti.
"Emang kalau nggak pakek cadar dosa, ya?" tanya Kanaya polos, kembali membahas soal cadar.
"Enggak kok, Teh. Saya cuma pengin ikutin sunnah Rasulullah. Biar dapet pahala gitu hehe."
"Ouuuhh. Kalau gue baru-baru ini pakai kerudung."
"Alhamdulillah kalau begitu, bagus, Teh. Tingkatin."
"Kadang gue nggak pede sama pakaian gue yang sekarang. Ngerasa nggak pantes aja gitu. Akhlak gue belum sebaik itu."
"Kenapa nggak pede, Teh? Bagus lho kalau Teteh mau tutup aurat. Kerudung itu lebih berharga dari apa pun. Artis yang terkenal dan nggak pakek kerudung aja lebih rendah derajatnya di hadapan Allah daripada kita yang biasa aja tapi mau menutup aurat. Mau sekaya, sepintar, atau sekeren apa pun perempuan itu, kalau dia nggak pakai jilbab, itu nggak ada nilai apa-apanya di hadapan Allah. Semuanya itu jadi percuma. Jilbab itu kewajiban muslimah, Teh. Mau akhlaknya baik atau buruk, mereka harus tetep mau berjilbab. Kewajiban menutup aurat itu nggak bisa diganggu gugat sama apa pun. Dan jilbab adalah awal dari perubahan. Teteh bisa ngerubah sikap Teteh secara perlahan-lahan salama Teteh pakai kerudung. Karena kerudung itu sendiri yang bakal ngubah Teteh."
"Iya, in syaa Allah gue istiqamah, deh. Makasih buat sarannya."
"Kalau Teteh mau istiqamah, Teteh harus bergaul sama orang-orang yang sejalan dan sama-sama mau perbaiki diri, supaya bertambah ketakwaan Teteh sama Allah. Jauhin temen-temen yang mungkin bikin Teteh nggak nyaman alias mereka yang bikin Teteh jauh sama Allah."
Alhamdulillah gue udah jauhin mereka semua dari dulu.
"Maksudnya orang yang sejalan itu gimana?"
"Ya, yang sama-sama mau berjuang di jalan Allah."
"Iya, bener juga lo, Dek." Kanaya tersenyum.
Ternyata tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk bisa menjalin keakraban. Kanaya memang gampang kenal, dia hanya tidak mau mengambil risiko nantinya.
Kanaya berharap Indri dan Aisyah tidak seperti yang lain. Semoga ia tidak menyesal pernah mengenal mereka.
Semoga nantinya mereka tidak muka dua.
Dan entah mengapa Kanaya jadi suka dipanggil Teteh.
Kanaya sudah kembali ke kostnya, selama menginap di sana dia akan membeli makanan siap saji. Itu risiko. Kalau malas masak, maka Kanaya akan memesan jasa delivery.
Hasil foto-foto yang bagusnya Kanaya upload ke i********:.
Lumayan banyak yang menyukai fotonya itu, tapi sayang, Kanaya tidak terlalu terkenal. Bahkan sepertinya anak perempuan yang selalu mengaku sebagai kekasih Iqbal pun lebih terkenal. Padahal Kanaya merasa cantikan dirinya ketimbang perempuan yang giginya ke depan itu.
Mungkin benar, sekarang adalah zamannya orang berwajah jelek terkenal. Yang jelek lebih terkenal daripada yang cantik atau tampan. Begitulah pandangan Kanaya.
Yang jelek pada masuk tivi.
Ternyata jadi jelek itu bermanfaat, ya.
Lo besok mau ke sana, Dek? Gue boleh ikut nggak? Kayaknya topiknya menarik banget.
Kanaya mengirim pesan itu kepada Indri setelah dia melihat status Indri yang menguopload banner jadwal kajian yang diadakan besok Ahad. Sebab banner yang Indri upload, sama dengan banner yang Rifki upload. Dan ini membuat Kanaya penasaran.
Bisa jadi Rifki juga akan datang ke Masjid itu.
Indri
Iya, Teteh beneran mau ikut?
Iya, mau coba aja. Sekalian kita ketemuan lagi, kan?
Kanaya merasa nyaman berteman dengan Indri.
Indri
Iya, Teh. Teteh tahu kan alamatnya?
Gini aja, lo besok dateng ke kost gue, nanti dari sini kita berangkat bareng.
Indri
Iya, Teh, siap.
Nggak keberatan, kan?
Indri
Nggak kok, Teh. Malahan saya seneng.
Oke baiklah.
Kanaya hanya berharap, besok ia bertemu dengan Rifki.
Ciri-ciri jodoh pilihan Allah :
1.Kamu semakin dekat dengan Allah
2. Tidak mengajakmu pacaran atau sekadar berkhalwat sebelum menikah
3. Ada dorongan untuk terus memperbaiki diri
4. Lebih utamakan agama
5. Dimudahkan ke jenjang pernikahan
6. Saling menjaga satu sama lain agar tidak menimbulkan fitnah
Kanaya pernah membaca keterangan itu di i********:.
Dia merasakan dengan nyata poin nomor tiga.
Ada dorongan kuat untuknya untuk terus memperbaiki diri.
Benarkah si jodoh gue itu benar-benar akan menjadi jodohnya?
Argh!!!
Kenapa jodoh terus, sih?!
Kenapa gue juga jadi berharap gini sama dia?!
Padahal awalnya cuma iseng.
04 Desember 2018
26 Rabi'I 1440H
Maaf jika semakin gaje dan merasa yang hilang atau apalah itu
Salam.
#PenulisAmatir