11. Kukejar Jodoh Sampai Ujung Dunia

1352 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠ Selamat membaca Kanaya keluar dari kamar dengan land aurat tertutup. Dia memakai baju berlengan panjang, celana bahan warna krem, dan kerudung pasmina yang warnanya senada dengan celana. Dia juga sudah membawa koper kecil yang ditarik. Penampilannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya yang selalu pendek. Di ruang tengah, dia bertemu dengan sang mama yang sedang menonton gosip di televisi. Beritanya tentang perceraian antara Gading dan Gisel yang sedang panas-panasnya. Susah ya jadi orang terkenal, ribet. Apa-apa digosipin. Apa-apa digosipin. Ternyata pipis di celana pun kayaknya bakal digosipin. Sofia geleng-geleng kepala Saat menontonnya. "Nggak nyangka. Cerai juga mereka." "Itu pasti cowoknya tuh yang nggak bener! Pasti si Gadingnya tuh yang selingkuh. Dasar Gading Gajah!" celetuk Kanaya tanpa rem. "Hust! Jangan sembarangan. Ini masih simpang-siur." Kanaya memanyunkan bibir dua senti. "Semua cewek pasti setia! Emang cowoknya aja tuh yang nggak setia!" "Tapi ada juga kok perempuan yang diam-diam menghanyutkan. Kamu tidak boleh asal ngejatuhin persepsi sebelum tahu apa yang sebenernya terjadi." "Intinya, mereka sama-sama salah! Jadi gitu." "Apa yang mengembalikan?" "Semesra apa pun hubungan, kalau nggak libatin Allah, pasti begitu. Hancur rusak." Kanaya pernah membaca sebuah artikel. Di sana menyebutkan bahwa hubungan tanpa melibatkan Allah itu akan berujung sakit. Kanaya jadi teringat hubungannya dulu bersama Kevan. Apakah gara-gara mereka tidak melibatkan Allah, jadinya seperti itu? Ditikung sahabat sendiri. Sofia bangkit dari duduknya begitu acara gosip dijeda oleh iklan. "Kamu yakin? Kamu udah yakin mau berhijab dan mantap sama keputusan kamu itu?" tanyanya memastikan, mengakhiri argumen mereka tentang Gading-Gisel. "Iya, yakin, Ma. Masa mau ke Surga aja pikir-pikir dulu. Kalau kata neneknya dia, BELEGUG!" Sofia mengernyit mendengar ucapan aneh putrinya. Itu bahasa apaan, sih? Semenjak pulang dari acara liburan itu, sikapnya jadi makin aneh. "Si dia siapa?" "Jodoh." "Ooh sekarang yang dibahas jodoh melulu, ya." Kanaya tersenyum lebar. "Ya udah deh bagus kalau begitu. Mama nggak akan larang kamu untuk berhijab. Cuma, jangan sampai kerudungnya panjang. Ribet liatnya. Jangan kayak Rina Nose, lepas-pasang!" "Iya, semoga. Makasih Mamaa..." "Oh ya, kamu mau ke mana?" "Mau ke Garut." "Haaah??!" Kedua bola mata Sofia membulat. Diliriknya koper yang ada di tangan Kanaya. "Iya, aku mau ke sana selama satu minggu." "Buat apa, Kana? Kok jauh-jauh ke Garut?!" wanita itu masih syok luar biasa. Sebab jarak kota itu dari sini lumayan jauh. "Aku lupa punya hutang sama seseorang." "Siapa?" "Itu, cowok yang udah minjemin uangnya untuk benerin mobil." "Cuma itu? Ya Allah, kamu kan bisa bayar lewat transfer." "Males." "Ke Garut sama transfer uang itu emang jauhan mana?" "Oh iya, ya." Kanaya mirip orang b**o. "Kamu ini." "Enggak, bukan cuma itu. Tapi ada keperluan mendadak juga." "Apa? Bukannya kamu nggak suka ya ngedatengin kota itu? Dulu juga sampe marah-marah waktu Sasha sama Sashi pengin berlibur ke sana." "Iih Mama banyak interogasinya, deh! Pokoknya aku pengin ke sana. Aku mau liburan tanpa si kembar. Bosen ketemu mereka mulu. Aku mau ngrileksin otak. Kali-kali." "Tumben." "Di rumah salah ke luar salah. Serbasalah, deh." Kanaya meniup kerudung bagian atasnya. Emang ya, hidup itu serbasalah. Jadi anak nakal salah, jadi anak alim salah. Jadi jahat salah, jadi baik salah. "Kok harus seminggu, sih?" "Mau ngejemput jodoh. Jadi harus butuh waktu lama untuk bisa ngeluluhin hatinya." Sofia memelotot. Ucapan Kanaya mulai ngaler-ngidul. "Ya udah, Ma, aku berangkat dulu. Dadah Mama..." Kanaya melangkah lagi seraya menarik kopernya, pergi meninggalkan rumah dengan perasaan riang gembira. Sedangkan Sofia mulai mengelus d**a, semakin hari tingkah anaknya itu semakin aneh. "Hati-hati, Kana! Jangan ngebut! Bawa uangnya jangan pas-pasan!" "Siaaapp!!" Perjalanan dari Jakarta ke Garut memang cukup panjang dan akan melelahkan. Tapi ia yakin, jika di sana ia bertemu Rifki, pasti rasa lelahnya akan langsung hilang. Eh, pede banget ya bakalan ketemu Rifki? Katanya Rifki itu bagai air putih dingin dalam botol yang Kanaya temukan di padang pasir. Maka saat ia meneguknya, dahaga hilang dalam sekejap. Begitulah kekuatan cinta. Lebay. Lebay. Lebay. Selama perjalanan, dia mendengarkan musik lewat headseatnya di tengah kesibukannya menyetir mobil. Kanaya mendapat ilmu baru dalam menulis. Ternyata selama ini dia tidak pernah menyisipkan budaya Indonesia dalam tulisannya. Karena latar yang dia ambil di situ-situ saja. Kalau di Jakarta, ya di Jakarta saja, tidak pernah disebutkan nama daerah atau sekadar cafe tempat si tokoh melakukan pertemuan. Dia lupa, di Indonesia ini kaya akan tradisi. Berhubung ada seseorang yang membuat Kanaya ingin bertemu dengannya, jadi ia memutuskan untuk ke Garut dan mendalami kota itu untuk dituangkan ke dalam tulisan. Di sana ia akan membuat jadwal, ke mana saja tempat yang akan dikunjungi. Kanaya searching google tempat yang bagus yang ada di Garut. Dia akan mengunjungi tempat-tempat itu, memakai jasa google maps sebagai petunjuk. Kamojang ✔ Gunung Papandaian ✔ Ngamplang ✔ Situ Bagendit✔ Danau Darija ✔ Darajat✔ (Sudah) Dia pun memutuskan ngekost di daerah Tarogong. Dulu sewaktu ke Darajat bersama si kembar, Kanaya sempat melihat papan bertuliskan 'Menerima Kost Perempuan' di daerah itu. Jadi Kanaya tidak perlu susah-susah mencarinya lagi. Ternyata ada manfaatnya juga mengantar si kembar kemari. Kanaya mulai menyangkut-pautkan apa pun itu dengan Allah. Katanya, Allah juga lah yang telah mempertemukan dia dengan Rifki. Iya, Kanaya mulai percaya itu. Bisa dikatakan, dia mulai berhijrah. Tapi baru selangkah. Kanaya sendiri bingung, harus disebut apakah pertemuannya dengan Rifki waktu itu? Musibah atau anugerah? Anugerahnya, dia bisa merasakan cinta. Tapi musibahnya, dia bisa merasakan sakit karena terlalu lama menahan rindu. Beruntungnya Kanaya, kebetulan ada satu kamar kost yang masih kosong. Rezeki anak saleh, batinnya dalam hati. Setelah bersepakat dengan pemilik kost, Kanaya merebahkan tubuh di atas kasur seraya mengembuskan napas. Akhirnya istirahat juga setelah menyetir selama kurang-lebih lima jam. Kanaya mulai selfie dengan gaya so manisnya. Tapi emang beneran manis. Mirip eonie-eonie Korea. Eh, tapi perempuan Indonesia jauh lebih manis. Walaupun kulitnya didominasi oleh warna kulit sawo matang, tapi perempuan Indonesia lebih manis dari perempuan Korea. Dan pastinya, asli bukan palsu. Lalu tak lama kemudian, diunggahnya hasil fotonya itu ke status w******p dengan caption. 'Akhirnya sampai juga.' Tak lupa ia menyisipkan letak di mana ia berada. Berharap ada komentar nyangkut. Yang pasti, yang komentar itu harus berasal dari pemilik akun JODOH GUE! Siapa tahu saja dia komentar seperti ini : Teteh di Garut? Ngapain? Teteh serius ke Garut? Teteh ke Garut mau ketemu saya, ya? Sini Teh. Jangan ngekost, mahal, nggak kuat. Mending di sini aja. Sama saya. Tapi tidak ada. Iyalah, mana mungkin begitu, Rifki nggak alay juga keles! Itu mah maunya Kanaya doang. Kanaya penasaran, apakah si JODOH GUE! sedang online atau tidak. Ternyata tidak. Huft. Menyebalkan. Bahkan lelaki itu menyembunyikan last sent-nya! Seberapa gregetnya lo?! Kanaya heran, tiap kali ia mengunggah foto selfie, Rifki tak pernah melihatnya. Di situ kadang ia ingin terjun ke jurang yang paling dalam, atau tutup akun w******p supaya ada yang cariin. Kanaya uring-uringan di atas kasur. Entah kenapa dia kesal karena akhir-akhir ini Rifki sudah jarang mengintip statusnya. Dia grasak-grusuk tak menentu di sana. Oke! Gue ke sini mau riset! Bukan ketemu dia! Tapi hati malah berkata lain, dia berteriak bahwa tujuan utama Kanaya datang ke sini adalah bertemu dengan si doi. Padahal kalau untuk riset, cukup lihat google atau youtube. Nggak perlu ribet dateng ke kotanya langsung. Apalagi letaknya jauh. Kanaya tipe orang malas, tapi untuk bertemu dengan di dia, dia tidak akan malas. Jangankan Garut, ke samudra pasifik saja akan Kanaya kejar. Lama-lama dia akan membuat buku berjudul 'Kukejar Kau Ke Ujung Dunia, Wahai Jodoh Gue!' "Bukannya jodoh emang harus dikerjar, ya?!" Kanaya guling-guling sampai membuat kasur beberapa kali melesak. Sumpah dia rela semua kontaknya tidak melihat statusnya, asal si JODOH GUE! melihat, maka dia akan senang tujuh keliling. Begini gilanya orang jatuh cinta. Semua orang dianggap angin lalu kecuali di dia. Pokoknya si dia itu paling spesial. Pokoknya si dia itu ter the best! Pokoknya si dia itu my everything! Iya, si DIA. DIA yang selalu ada di otak, hati, jantung, lambung, usus dua belas jari, usus halus, dan organ dalam lainnya. Tiba-tiba Kanaya teringat lagi dengan pertemuan pertamanya dengan Rifki di minimarket itu. Bahkan senyumnya masih terekam jelas di benak Kanaya. Senyum manis bagai gula yang lama-kelamaan akan menyebabkan diabetes. Bibir Kanaya melekuk senyum. Dia senyum-senyum sendiri. Kapan ya ketemu lagi? "Dih! Udah stres gue kayaknya!" racaunya pada diri sendiri. Bahkan Rifki telah mengalahkan pesona Oppa Korea kebanggaannya selama ini. Begitu dahsyatnya kekuatan si doi. Oppa Korea aja kalah. Gara-gara Rifki, Kanaya sudah tidak bermimpi bersanding dengan Lee Seung Gi, Lee Min Ho, Song Joong Ki, Lee Joong Suk, dan Oppa-Oppa lainnya di Korea lagi. Kejarlah jodoh sampai ke ujung dunia Eh jangan, deh. Karena fitrahnya wanita itu menunggu. Ada cowok kah? Kalau ada, cepet halalin ya si doinya :v Karena menunggu itu tidak enak ✌ Assalamualaikum? Masih nunggu cerita ini? Berhentiin aja atau lanjut sampai END? Wajib komentar. Butuh opini! 02 Desember 2018 24 Rabi'I 1440H
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN