بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Dengan sangat persetujuan, Kanaya harus menghadiri acara resepsi sepupunya. Acara pernikahan diadakan di sebuah gedung. Merasa acara yang dia kunjungi tidak penting, Kanaya hanya memakai baju terusan biasa dengan warna krem, ada hiasan pita di pinggangnya. Kanaya ogah-ogahan kompilasi disuruh pakai kebaya. Emang dia putri jawa apa.
Gadis itu sedang menatap ke arah Pelaminan dengan tampang menyelidik. Dianggap ada segelas minuman. Di atas pelaminan itu terlihat sekali jika sepupunya tak sedikitpun melengkungkan senyum. Berbeda dengan pengantin lelaki yang memang terlihat gagah, tampan, dan selalu menebar senyum. Dia menyalami undangan tamu dengan sangat ramah.
"Kanaya!"
Saat diundangnya. Kanaya mengalihkan pandangan pada asal suara.
"Sini! Sekarang giliran keluarga kita," ucap sang mama yang sudah menuntun si kembar. Sasha dan Sashi terlihat cantik sekali dengan menggunakan baju muslim.
Padahal tadi di rumah, Sofia sudah menyiapkan gaun warna pink khusus si kembar. Tapi mereka menolak, dengan alasan mereka ingin memakai baju muslim yang baru dibeli saat di Senayan City bersama Kanaya tiga minggu lalu.
Mereka menangis kencang karena Sofia menyuruhnya memakai gaun lucu yang telah memesan jauh-jauh hari khusus untuk pernikahan anak dari adiknya.
"Nggak mauuu !! Takut masuk nerakaa !! Nanti dibakaar !! Nggak mauu !!" Air mata mereka berlinangan.
Karena tak kuat mendengar tangis mereka yang nyaris membuat gendang telinga pecah, Sofia menyerah. Dia pun memperbolehkan si kembar menggunakan baju muslim yang terbilang sederhana.
Menganggap dua keinginan keponakannya sepele, Kanaya belum terketuk untuk mengenakan hijab.
Tanpa dia sadari, bahwa setan berbisik padanya : Udah, nanti aja, kiamat masih lama, kok. Sashi sama Sasha kan masih kecil, jadi ketakutan mereka terlalu over. Nanti juga kalau udah besat mereka bakal ngerti, kalau nggak pakek hijab itu lebih cantik.
Kanaya meletakkan gelas di atas meja tempat minuman-minuman disajikan. "Giliran apa?" tanyanya yang kemudian berjalan mendekat.
"Difoto sama pengantin."
"Iih males, ah. Mama aja deh sana."
"Nggak enak kalau nggak, udah ayo."
"Males."
"Kana!" Sofia memelotot.
"Iya, iya Mama bawel!" Mau tak mau Kanaya pun mengikuti Sofia yang berjalan menuju pelaminan dengan raut jemu.
Kini mereka sudah ada di pelaminan, waktunya untuk menyalami.
Ketika Kanaya ingin menyalami si pengantin lelaki, ternyata lelaki itu hanya merapatkan kedua tangan, enggan menyentuh tangan Kanaya, dan malah tersenyum ramah. Dia terlihat tampan dengan balutan kemeja putih, dasi garis-garis yang dipadu jas warna nude.
"Kenapa salam dari gue nggak diterima?" tanya Kanaya yang menahan amarah mati-matian, tentu saja dia merasa tidak dihargai. Terlihat memalukan.
"Bukan mahram. Bukan hanya kamu yang saya tolak salamnya, tapi perempuan lain juga."
"Oh."
Kanaya sudah tahu.
"Tuh kan, lo liat sendiri, suami gue ini aneh banget! Kasian temen-temen gue pada malu! Tiap mau salam, pasti ditolak. Tiap kali gue mau nyalamin temen cowok gue juga, dia selalu halangin gue, bahkan dia pasang wajah serem ke temen cowok gue!" rutuk Nadwa berapi-api---sang sepupu yang sudah didandani dengan sangat cantik di hari spesialnya. Di kepalanya terpasang mahkota cantik. Eh tunggu, sepertinya bukan hari spesial, tapi hari menyebalkan alias kiamat sugra. "Ini lagi, masa baju pengantin gue nutupin rambut indah gue. Gue pasti nggak keliatan cantik di hari pernikahan gue. Ini semua jauh dari angan gue!"
"Kan aurat, Sayang," ucap Arfa, lelaki yang tentunya sudah resmi menjadi suami sah dari Nadwa.
"Aurat aurat apa, nih aurat itu yang ada di bawah perut gue, baru aurat! Jangan panggil gue sayang!"
"Eh iya, yang ada di bawah perut baru aurat ya, Wa." Kanaya menambahkan. Otaknya sama-sama geser.
"Iya! Betul banget, Kana!"
Arfa hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa.
Kanaya meneguk ludah melihat interaksi pengantin baru di depannya ini. Di matanya ini cukup fenomenal. Yang satu alim, yang satu stres. Sebelas dua belas sih sama gue.
"Enggak, lo beruntung kok dapetin dia," ucap Kanaya tiba-tiba. Entah ucapannya itu keluar hanya sebagai bentuk penyemangat atau memang tulus dari hati yang paling dalam.
"Haah? Beruntung?!"
"Gue denger dari tante Selma, lo pilot, kan?" tanya Kanaya pada sang pengantin lelaki so akrab.
Dia hanya mengangguk.
"Tuh, lo itu beruntung banget dapetin ni cowok. Udah ganteng, tajir melintir, pasti baik." Kanaya memuji blak-blakkan. "Kalau lo nggak mau, buat gue aja."
"Coba jelasin letak keberuntungannya di mana?! Coba jelasin ke gue! Gue sih penginnya gitu, tapi nyokap gue maksa-maksa. Pakek ngancem mau bunuh diri segala."
"Aduuh, rempong banget si tante Selma." Kanaya terbahak-bahak.
Otomatis dia mendapatkan pelototan tajam dari sang Tante yang duduk manis di sebelah pihak perempuan. Rupanya mereka tak pernah ditakdirkan untuk bisa akur.
"Dia lelaki soleh pastinya." Kanaya melanjutkan.
Tuh kan, inget Rifki lagi.
Bagi Kanaya, lelaki yang enggan bersentuhan dengan lawan jenis itu mirip Rifki.
Haduh, to bocah kenapa nggak bisa ilang sih dari kepala gue?! Padahal udah lama nggak ketemu.
"Kana, atur posisi, itu mereka udah mau motret," sahut Sofia yang melihat Kanaya malah asyik ngobrol dengan dua pengantin.
Kanaya pun segera berdiri di sebelah kanan bersama Sashi, berdekatan dengan pengantin pria, sedangkan Sofia berdiri di sebelah Sasha, berdekatan dengan pengantin perempuan.
Kanaya tertawa lebar.
Setelah tiga foto diambil, mereka kembali turun.
"Selamat ya, Wa. Semoga selalu bahagia. Doain gue supaya cepet nyusul! Doain gue juga, supaya dapetin yang alim." Setelah membisikan kata-kata itu, Kanaya menyusul Sofia yang sudah turun. Maksud Kanaya yang alim itu ya itu, Rifki.
"Nggak! Gue nggak akan bahagia!"
"Tenang aja, nanti juga bahagia."
Bukan Kanaya yang bicara, tapi makhluk jangkung yang berdiri di sebelahnya.
"Bahagia dari Hongkong!" Nadwa mendorong ujung hidungnya ke atas. "Inget, kita itu cuma dijodohin! Nggak ada acara cinta-cintaan kayak film Titanic."
"Inget kok, masa lupa." Lelaki itu terkekeh.
Nadwa mendengkus kesal.
"Ma, mereka dijodohin, ya," bisik Kanaya sewaktu mereka sudah berada di bawah lagi.
"Emang kenapa? Kamu mau juga? Mama ada kenalan. Kamu mau?"
"Iiiih enggak. Aku punya calon sendiri."
"Serius kamu? Emang siapa? Emang kamu punya kenalan cowok? Emang ada yang mau sama kamu?"
"Ih Mama sama anak sendiri kok tega. Gini-gini juga tenar di i********:! Punya, lah. Dia itu beda dari yang lain."
"Tapi masih sama-sama punya hidung, kan?"
"Ya punya, lah!"
"Siapa?"
"Namanya JODOH GUE!"
Sofia mendelik. Dia menyesal sudah meladeni ucapan Kanaya. Dia pun memilih pergi bersama si kembar yang merengek ingin makan ice cream.
Selama di sana, Kanaya terus ngemil, ke sana-kemari mencari makanan enak. Kanaya bukan tipe perempuan yang suka menjaga
Seperti sekarang ini, dia sedang berada di stand yang menyediakan bakso tahu. Dia melihat penjaga stand itu adalah ibu-ibu berkerudung.
"Bu, nggak gerah?"
"Gerah kenapa, Mbak?"
"Ya itu pakai kerudung. Kan di sini suasananya itu sumpek, banyak orang gitu. Jarang lho yang pakek kerudung."
"Enggak gerah, bagi saya nanti di Neraka lebih panas, Mbak."
Kanaya manggut-manggut. Dia tidak terkejut.
Tiba-tiba saat akan meninggalkan stand itu dengan membawa satu mangkuk kecil bakso tahu, Kanaya dihampiri oleh dua orang lelaki yang menatapnya takjub dan terpesona.
"Eeh ini Kanaya yang tenar di i********: itu, kan? Haduh, kebetulan banget ketemu di sini. Ternyata kenalannya si Nadwa juga, Bro!"
Kanaya malah asyik memakan bakso tahunya sambil berdiri.
"Sendiri aja, Mbak? Nggak sama pasangannya?"
"Gue lagi LDR," jawab Kanaya sekenanya. Sambil terus menyantap bakso tahu tanpa jaim sedikitpun.
"Mumpung sendiri, kita temenin aja. Masa sih cewek kayak gini dianggurin. Kita nikmatin pesta ini sama-sama."
Kanaya belum merespons.
"Ayo, mau nggak?"
"Oke. Tapi ada syaratnya" Kanaya berucap dengan senyum yang mencurigakan. Dia pun meletakkan wadah bakso tahu yang sudah ludes di meja stand, mengusap ujung bibirnya yang barangkali belepotan.
"Apa?"
"Nikahin gue dulu. Sanggup nggak?"
Dua lelaki itu tercengang. Syarat macam apa itu?
Kanaya tersenyum lagi. Mereka masih diam seribu bahasa.
"Kalau lo mau nikmatin pesta ini bareng gue, lo harus nikahin gue dulu. Datengin penghulu dan ucapin ijab kobul. Itu sebagai pembuktian kalau kalian beneran suka sama gue! Kita nikah sekarang juga. Mau yang mana? Lo atau lo?" Kanaya menunjuk satu per satu. Dia memasang tampang layaknya seorang bos yang sedang memberikan pilihan pada bawahan. "Yang bersedia silakan maju duluan. Gue harap udah bawa maharnya."
"Nggak mungkin lah, baru juga kenal. Nanti aja. Mending kita PDKT dulu. Kalau cocok kita bisa pacaran dulu. Baru deh, setelah bener-bener cocok, kita nikah."
"Ooh gitu, ya?"
Mereka menganggukkan kepala serempak.
Kanaya tersenyum kecut. "Nggak, gue nggak mau diajadiin bahan percobaan! Misalnya kalau gue jadi buah, gue itu nggak mau jadi buah yang dijadiin bahan percobaan. Kalau mau dibeli ya beli, kalau enggak ya enggak!" Kanaya meninggikan oktaf suaranya.
"Emmm, kan ini beda sama buah, kan---"
"YA UDAH KALAU NGGAK MAU NGGAK USAH NGOMONG, COEG! JANGAN DEKETIN GUE KALAU NGGAK ADA NIATAN UNTUK NIKAHIN GUE!"
Si Ibu penjaga stand menahan tawa mendengar teriakan membahana Kanaya. Begitupula dengan penjaga stand yang lain. Anak zaman now, ngomongnya suka nggak pakek rem atau di-filter dulu. Tentu saja dua bujang itu ikut terlonjak kaget mendengarnya. Wajah boleh cantik, tapi suaranya jauh dari kata cantik. Kontradiktif seratus persen. Sepertinya mereka salah sasaran. Mereka salah goda cewek. Yang mereka goda bukan cewek cantik, ayu, lemah lembut, tapi cewek turunan paus si anak tuan Crab di film Spongebob yang adegan ngamuknya selalu luar biadab. Kalau teriak aja bikin semua barang-barang terbang, kalau nangis aja bisa bikin tsunami dadakan. Benar-benar paus pembawa musibah.
Bahkan beberapa pasang mata yang berada di pesta pun ikut-ikutan melempar tatapan menyelidik ke arah Kanaya.
"Sana pergi!" bentak Kanaya yang melepaskan hak sepatunya, bersiap melemparkan sepatu itu pada mereka dengan wajah sangar khasnya.
"I---iya, iya kita pergi!" Dua lelaki itu langsung kabur terbirit-b***t.
"Keren, Mbak."
"Jadi perempuan harus tegas, Bu. Jangan mau digodain, jangan mau diboongin, jangan mau dibegoin, jangan mau cuma dijadiin pelampiasan nafsu mereka. Jangan mau dijadiin ajang percobaan! Gue itu MAHAL!" kata Kanaya memuji dirinya sendiri dengan emosi meletup-letup. "GUE MAHAL! Buah mangga di pasar pun ada harganya! MASA GUE ENGGAK?! IKAN MAS YANG JELEK, BIBIRNYA MONYONG AJA ADA HARGANYA, MASA GUE YANG CANTIK ENGGAK?!"
Haha gue hebat banget sih bisa ngomong gitu, batin Kanaya dengan sangat bangga.
"Harusnya Mbak juga lebih menjaga diri Mbak. Supaya nggak diganggu, coba pakai pakaian kayak saya. Pakai kerudung. Cocok, Mbak."
"Iya, Bu. Lagi diusahain, doain ya, Bu. Supaya saya cepet-cepet pakai hijab." Kanaya berkata so manis dan so lemah lembut.
Si ibu itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Keinginan itu selalu ada semenjak ia membaca status yang diupload Rifki. Statusnya lumayan membuat bulu kuduk merinding.
Sehelai rambut yang terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram, akan dimasukkan ke dalam neraka selama 70.000 tahun.
Sudah jelas isi hadis itu benar-benar nyata, tapi entah mengapa Kanaya belum bisa memulainya. Niat sudah tertanam dalam hati, tapi selalu menunggu-nunggu nanti.
Sofia yang kebetulan mendengar teriakan putrinya lantas mendekat dan menarik Kanaya dari tempat itu. Sungguh dia malu.
"Kamu apaan sih teriak-teriak kayak gitu, malu tau diliatin sama orang-orang."
"Ngebela harga diri, Ma. Tadi ada cowok genit, ya udah aku tereakin biar mampus! Biar kapok!"
"Iya tapi nggak usah lebay gitu, kali!" Sofia menyentil kepala Kanaya hingga anak gadisnya itu meringis.
"Tuh! Si kembar ada di kamar mandi."
"Terus?"
"Mereka buang air."
"Terus?"
"Pengin diombehin sama kamu. Kalau kamu nggak mau, mereka nggak mau keluar dari kamat mandi itu. Ayo cepetan."
Haduh ya Allah, Kanaya ingin pingsan saja.
Dasar bocaaaaah!!!
Ombeh aja harus pakai acara ditentuin orangnya.
Kalau harus sama dia ya harus sama dia. Nggak bisa diganggu gugat!
Tiga bulan berlalu setelah acara pernikahan itu.
Kehidupan Kanaya masih monoton.
Selama itu Kanaya terus dirundung rasa resah tiada henti. Dia selalu saja kepikiran Rifki, s**l! Ternyata dia benar-benar menyukainya. Selama itu juga Kanaya menjadi labil. Sempat galau, dia menghapus kontak Rifki. Tapi tak berangsur lama kemudian, dia save kembali nomor lelaki Garut itu. Masih dengan nama 'JODOH GUE!' yang mungkin sebentar lagi akan ganti nama. Mengingat dirinya dan Rifki sudah tidak pernah terlibat percakapan apa-apa lewat chatting.
Akan ada saatnya Kanaya benar-benar menghapus nomor Rifki.
Karena Kanaya merasa tidak cocok bersanding dengan dia. Banyak sekali perbedaan di antara mereka.
Kanaya juga tak kunjung mendapat balasan dari pihak penerbit. Itu artinya penantiannya harus berakhir sia-sia. Harapannya pupus. Air mata Kanaya luruh. Ini untuk ke lima kalinya naskah dia tertolak. Padahal Kanaya sudah menulis cerita itu semaksimal mungkin. Tapi mengapa usahanya selama ini seakan mengkhianati hasil?
Katanya tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Tapi mengapa Kanaya seolah tidak bisa merasakan buah hasil kerja keras itu? Apakah ini adil? Pertanyaan itu kerap terlintas dalam benak Kanaya.
Bagaimana mungkin kamu ingin segera mendapatkan sesuatu sedangkan kamu pun sering melanggar perintah-Nya? Menunda-nunda perintah-Nya?
Meninggalkan rukun-rukunnya.
Meninggalkan salat, cotohnya.
Untuk wanita, enggan menutup aurat misalnya?
Mungkin saja kamu mendapatkan kesulitan gara-gara dosa yang kamu perbuat.
Intropeksi dirilah sejenak.
Telak!
Status itu berhasil membuat Kanaya tersentil.
Kanaya mematut pantulan dirinya di cermin beberapa menit. Dia pun mengambil sehelai kerudung warna abu yang tersimpan di lemari. Ternyata Kanaya sudah membeli beberapa kerudung pashmina, tapi sampai sekarang dia belum kunjung memakainya.
Di depan cermin, Kanaya menarik napas penjang, dan mulai mengenakan kerudung pashmina tersebut di kepalanya. Dia sudah sempat melihat tutorialnya di google.
"Gue cantik nggak sih pakek ini? Apa udah saatnya sekarang gue berhijab? Bukannya hijab itu kewajiban muslimah? Kenapa gue baru nyadar sekarang? Padahal gue tau, rambut itu aurat. Tapi kenapa gue kayak orang tuli, ya?"
Selain karena urusannya dilancarkan, Kanaya menginginkan hal lain.
Jodoh adalah cerminan diri sendiri.
Kanaya pernah melihat kata-kata itu di i********:.
Saat dia dia ingin memantapkan diri untuk berhijab.
Kanaya ingin jodoh yang baik, jadi ia harus mau berubah.
Kanaya ingin menikah. Ya, dia ingin menikah. Dia tidak mau pernikahannya gagal seperti apa yang berhasil almarhumah kakaknya.
Ia ingin menikah, tapi dengan siapa?
28 November 2018
20 Rabi'I 1440H