بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠Ambil buruk, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Setelah menjemput si kembar, Kanaya mengajak mereka ke Senayan City Mall yang berada di Jakarta pusat. Sesuai janji, mereka akan membeli pakaian muslim dan iqra. Mulai hari ini mereka akan pergi mengaji yang diadakan di masjid komplek.
"Awas jangan sampai salah satu dari kalian ada yang ngerengek pengen e'e!" ucap Kanaya Saat dipindahkan Mall.
"Nggak bakalan Ateu. Kita tadi udah e'e kok."
"Di mana?"
"Di sekolah."
"Bagus deh kalau gitu."
Selesai membeli empat baju muslim, Kanaya mampir ke Gramedia untuk membeli buku.
Kanaya isenggiat buku rak buku islam.
Ada satu buku yang menarik perhatian, berjudul. 'Ya Allah Ternyata Dia Bukan Jodohku'!
Kanaya mengerjap. Dia bergidik ngeri. Semoga Rifki memang jodohnya. Eh, kenapa jadi Rifki?
Kenaya mengacak-acak rambutnya. Andai Rifki bukan jodohnya sedangkan dalam kontaknya ia menamai Rifki dengan nama 'JODOH GUE!' apakah nanti ia akan kecewa?
Mudah-mudahan tidak.
Lalu Kanaya pun melihat buku berjudul 'Bersabarlah. Allah Sayang Kamu. '
Apa Allah sayang gue?
Tangannya mendapatkan buku itu, tapi tak lama kemudian Kanaya malah menyimpannya kembali ke tempat semula.
Dia ke sini untuk membeli roman novel, bukan buku Islam.
Gara-gara Rifki, Kanaya jadi seperti ini. Dia yang memulai tidak tertarik dengan hal yang diperbarui islami kini sedang berubah. Dari dulu Kanaya paling anti dengan buku bergenre islami. Nggak seru.
Walaupun agamanya Islam, tapi Kanaya seperti enggan memperdalam ilmunya. Masalah akhirat itu urusan nanti. Sekarang dia sedang di dunia. Dalam benaknya, kiamat itu masih lama. Jadi nanti saja tobatnya.
Saking asyiknya memilih buku dan membaca sinopsis, Kanaya baru sadar kalau si kembar tidak ada. Kanaya mulai mencari mereka di sekitar penjuru toko buku. Tapi tidak ada. Gadis itu pun memutuskan untuk mengakhiri aktivitasnya.
Setelah membeli buku dan membayar di kasir, Kanaya mulai mencari Sashi dan Sasha di luar gramedia dengan wajah panik.
"Aduh di mana si mereka, kok ngilang?!"
Tiba-tiba pandangan Kanaya berhenti pada satu objek. Dia melihat si kembar sedang dituntun seorang cowok. Mereka berjalan ke arahnya. Kanaya bernapas lega.
"Ateuuu!!"
"Eeeh kalian dari mana aja, sih?!" Dengan segera Kanaya menarik lengan keduanya, agar mereka melepas genggaman tangannya pada sosok pria yang sumpah demi apa pun membuat Kanaya muak.
"Mereka siapa? Anak kamu?" tanya lelaki itu.
"Bukan urusan lo!" Sama saja lelaki itu sudah menuduhnya yang tidak-tidak. Mana mungkin Kanaya sudah memiliki anak umur enam tahun di umur 22. Ya kali. Walaupun dia nggak pakek kerudung tapi dia masih bisa menjaga keperawanannya.
"Ooh." Dia mengangguk-anggukan kepala.
"Kalian ke mana, sih? Bukannya Tante udah nyuruh supaya tunggu, kalian juga bisa baca-baca buku anak. Dasar nakal!"
"Namanya juga anak kecil, Na." Si cowok menimpali.
So kenal banget, sih, gerutu Kanaya dalam hati.
"Kita lapar, ya udah tadi keluar eh tahu-tahunya nyasar, terus ketemu deh sama Om ini. Kita makan, deh. Ya, kan, Om?" ujar Sashi.
"Lagian kamu, malah asyik sendiri. Sampai bikin mereka terlantar. Emangnya orang tua mereka ke mana?" tanya cowok itu lagi.
"Sekali lagi gue bilangin, bukan- urusan-lo!"
Bagaimana Kanaya tidak kesal, lelaki yang sedang berdiri so kenal di depannya ini adalah Kevan. Si cowok b******k tujuh turunan.
"Oke, oke." Kevan menyerah.
Kanaya mendelik.
"Bener ya, kalau udah jadi mantan suka kelihatan lebih cantik."
Kanaya mengangkat kedua alis , lalu mengangkat kepalan tangannya, bersiap minunju wajah cowok itu sampai bonyok lebam membiru.
"Eh, Sayang." Seorang perempuan melingkarkan tangan di lengan Kevan. "Kanaya?" tanyanya takjub ketika sadar ada Kanaya, teman sekolahnya sewaktu SMA.
Kanaya tercenung melihat interaksi Dinda dan Kevan yang amat mesra dan nempel.
"Kita baru nikah bulan kemarin." Dinda melanjutkan, seolah mengerti dengan raut yang dipancarkan Kanaya.
"Apa urusannya sama gue? Mau kalian nikah atau kalian mau mati pun nggak ada urusannya sama gue."
Kanaya tidak tahu apa-apa soal pernikahan mereka. Dia benar-benar menjauh dari masa lalunya. Sudah beberapa kali Kanaya dimasukkan ke grup para alumni, tapi Kanaya selalu keluar. Dia malas berurusan dengan mereka.
"Setelah ngeliat ini, gue makin yakin kalau gue termasuk perempuan beruntung karena lepas dari cowok buaya kayak dia. Gue berterimakasih banget sama Tuhan."
"Maksud lo?" Roman Dinda berubah drastis ketika mendengar Kanaya mengatai suaminya.
"Lo mau tau tadi Kevan ngomong apa sama gue?" Kanaya melanjutkan, sengaja memancing-mancing Dinda.
Dinda semakin penasaran.
"Ternyata pas udah jadi mantan, katanya gue kelihatan lebih cantik," jawab Kanaya telak. Dia pun tersenyum penuh kemenangan. Terlihat Kevan yang mati kutu di tempat.
"Ayo kita pulang, makasih banget loh udah nraktir keponakan gue. Baik banget sih para PENGKHIANAT ini." Kanaya pun berlalu meninggalkan pasangan suami-istri yang kini bersuasana tegang. Bahkan mereka tidak sadar Kanaya telah menyebut para 'pengkhianat'. Kalau saja mereka dengar, pasti akan terjadi perang dunia ke tujuh.
"Bener, tadi kamu bilang gitu ke Kanaya?" Dinda mulai menginterogasi sang suami yang kini terlihat lebih kaku dengan nada seram.
"Kevan, jawab!"
"Kamu percaya sama dia?"
"Ya bisa aja kan kamu begitu." Dinda melipat kedua tangannya di bawah d**a, menatap Kevan penuh selidik.
"Sekarang aku tanya, kamu lebih percaya sama dia atau aku? Kamu lebih percaya mantan temen kamu atau aku yang suami kamu?"
Dinda nampak gamang. Namanya juga lelaki. Bisa saja Kevan memang mengatakan itu di belakangnya. Bisa saja Kevan bermain api di belakangnya. Walaupun hanya sebatas menyebut wanita lain cantik, tapi tetap saja Dinda cemburu. Kevan sudah beristri, jadi dia tidak pantas memuji perempuan lain selain dirinya. Bukankah wanita itu pencemburu?
"Percaya sama aku, Sayang. Mana mungkin aku ngomong begitu. Perempuan paling cantik menurut aku itu cuma kamu. Nggak ada yang lain. Apalagi cewek itu Kanaya, perempuan yang udah aku putusin di depan banyak orang. Mana mungkin aku muji dia cantik. Dia cuma masa lalu kita."
Dinda masih diam, matanya pun enggan menatap wajah Kevan.
Kevan memegang kedua bahu Dinda, menatap mata sang istri dengan intens seolah meyakinkan. Dia sendiri sebenarnya takut jikalau Dinda tidak percaya. "Kamu percaya sama aku ya, Sayang. Bisa aja Kanaya itu syirik sama kita, makannya dia ngomong begitu. Dia pengin hubungan kita terpecah belah."
"Beneran, ya? Kamu nggak bohong, kan? Kamu nggak lagi berusaha nutupin sesuatu, kan? Kamu nggak bakal nyakitin aku, kan?"
"Bener, suer. Mana mungkin aku puji wanita lain selain istri aku sendiri? Mana mungkim aku nyakitin kamu?" Kevan berucap tegas.
Perlahan Dinda mulai melengkungkan senyum.
"Hubungan itu harus disertai dengan kepercayaan. Aku pengin kamu selamanya percaya sama aku. Begitupun sebaliknya."
"Iya, aku percaya, Sayang."
Kevan pun mengelus pipi Dinda. "Makasih, Sayang."
"Sama-sama, Sayang."
"Ya udah, kita keliling lagi, yuk."
Mereka pun bergandengan tangan, meninggalkan pijakan sebelumnya. Kevan bernapas lega, untung saja dia berhasil membuat Dinda menghilangkan kecurigaannya. Namun Kevan berani bersumpah, dia tidak sengaja memuji Kanaya. Refleks saja mulut itu melontarkan kata manis, benar-benar di luar kendali. Dan memang tidak bisa dimungkiri, Kanaya terlihat lebih cantik dibanding Dinda.
Aah, Kevan mengerjap-ngerjapkan mata. Bagaimana bisa ini terjadi?! Mengapa kecantikan yang ada dalam diri Dinda perlahan pudar dalam pandangan matanya? Bukankah dulu Dinda jauh lebih cantik dan menarik ketimbang Kanaya yang rusuh itu? Makannya waktu itu Kevan lebih memilih Dinda daripada Kanaya.
Kevan merasa otak dan matanya sedang tidak beres alias korslet.
Istilah wanita yang sudah menjadi mantan akan terlihat lebih cantik itu memang benar adanya.
Kenapa Kevan tidak bisa menyadarinya saat dulu? Andai saja dia sadar bahwa nyatanya Kanaya lebih cantik, ia tak akan pernah menyia-nyiakan Kanaya.
Sesampainya di rumah, Kanaya membanting barang belanjaannya di atas sofa, lalu menghempaskan tubuh di sebelahnya. Dia menyesal datang ke Mall itu. Bisa-bisanya mantan kekasih dan mantan sahabatnya memamerkan kemesraan di depannya. Bahkan mereka juga sudah menikah! Tega sekali. Mereka seperti tidak ingat dengan kisah masa lalu yang amat memalukan.
Mereka sudah menikah.
Teman-teman di sekolahnya pun sepertinya akan segera menikah.
Sepupunya juga akan menikah.
Semuanya menikah!
Lalu dia kapan?!
Kanaya gemas dibuatnya. Tiap keluarganya bertandang, pasti pertanyaan yang mereka lontarkan adalah: Kapan nikah?
Kepo banget, sih! Emang mereka semua mau bayarin gedung, wedding organizer, dan segala t***k bengek acara pernikahan? Nggak, kan?! Nanya doang, kan? Terus faedahnya apa?! Masih mending kalau mau bayarin semuanya. Sekalian cariin jodohnya yang minimal mirip Sandiaga Uno sang cawapres. Cakep lagi pengusaha sukses.
Si kembar sibuk mencoba baju muslim mereka yang indah dan cantik. Mereka juga memakai kerudungnya.
"Ateu liat, kita cantik, kaan?"
"Iyaa. Kenapa Ateu nggak beli? Kata Om kacamata, kalau umurnya udah sembilan tahun, kita itu wajib pakek kerudung. Nanti dosa kalau nggak pakek kerudung. Masuk neraka."
Mereka masih ingat ketika Rifki menjelaskan antara surga dan neraka. Perempuan yang tidak memakai kerudung akan masuk ke neraka yang isinya api panas menyala-nyala. Sedangkan perempuan yang memakai kerudung akan dimasukkan ke surga yang dipenuhi taman indah dan sungai mengalir.
Tentu, si kembar maunya masuk surga. Jadi mereka memutuskan untuk belajar pakai kerudung. Namanya bocah, ditakut-takutin sedikit juga udah takut.
"Anak kecil nggak usah ceramah! Udah, ah! Tante mau istirahat! Kalian kalau mau makan ke bi Darmi aja." Kanaya beranjak dan berlalu ke kamarnya yang berada di lantai atas.
Menghempaskan badan ke atas kasur, Kanaya mengecek w******p-nya. Berharap ada status 'JODOH GUE'.
Tapi tidak.
Tidak ada statusnya yang kadang membuat hati tenang.
"Pelit banget sih jarang bikin status! Kali-kali kek selfie, gue kan kangen pengin liat wajahnya!" Kanaya menggerutu nggak jelas. "Giliran yang punya wajah pas-pasan aja sering selfie, nah ini wajah ganteng diumpetin terus! Heran gue!"
Eh tapi-tapi, tunggu dulu. Sepertinya Rifki mengganti foto profil. Kepo, Kanaya memperbesar foto profil si 'JODOH GUE!'
Ternyata gambarnya gambar lelaki bercelana di atas mata kaki juga berjenggot dengan tulisan 'SESUATU BANGET, anak muda dekat dengan Allah.'

"Iya, yang deket sama Allah itu beda dari yang lain. Mungkin ini alasannya, kenapa Rifki beda sama cowok lain. Karena dia deket sama Allah." Kanaya bergumam seraya membayangkan sosok Rifki yang selalu memakai celana di atas mata kaki.
Aish!!! Kok gue selalu kangen, sih?!
Kanaya pun memutuskan untuk membuka laptop. Ada satu cerita yang baru ia selesaikan setelah mengetik kurang lebih satu tahun dalam jumlah 50 bab. Genre yang ia tulis adalah genre romance, kisah cinta antara dokter berkarakter dingin dan misterius, dengan perempuan anak pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta yang memiliki watak pecicilan dan keras kepala.
Mereka terlibat cinta rumit.
Cerita ini terinspirasi dari salah satu drama Korea yang Kanaya tonton. Dan tentunya, itu drama yang berunsur medis. Sebelum menulis ini, Kanaya sudah menonton beberapa drama Korea yang berbau medis sebagai bentuk riset.
Kanaya mulai mengirim naskah itu ke salah satu penerbit dengan penuh percaya diri.
Biarlah saja mereka menikah, Kanaya ingin fokus berkarya.
Dari penjelasan penerbit, jika penulis sudah mengirimkan naskah lewat online , maka dia diharuskan menunggu kurang dari tiga bulan. Jika pihak penerbit menerima naskahnya, maka mereka akan mengontak si penulis dan memberi tahu mereka siap menerbitkan karyanya dalam bentuk cetak.
Memilih, jika dalam waktu tiga bulan, penerbit tidak menerima kunjungan atau memberi kepastian, maka sudah dipastikan naskah yang Kanaya kirim tidak lolos seleksi.
Semoga ini untuk terakhirnya, naskah buatannya tertolak.
Kanaya lelah.
Aku harap nanti kalian bisa membantah pesan-pesannya Awal-awal memang terkesan bukan cerita spiritual.

27 November 2018
19 Rabi'I 1440H