بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Kanaya mengetik cerita sampai jam lima subuh, lalu dia memutuskan untuk tidur kembali lantaran rasa kantuk yang menyerang tanpa ampun. Sambil ngantuknya, Kanaya tidak sadar kalau dia harus mengantar si kembar ke sekolah. Kanaya lebih sering bangun kesiangan daripada mengantar dua keponakannya ke sekolah.
Kanaya baru keluar dari kamar, dia mendapati tantenya yang sedang duduk di ruang tivi bersama sang Mama. Gadis itu mendelik. Kanaya tidak suka dengan tantenya itu.
"Anak Tante udah kuliah di jurusan kedokteran, katanya sih pengin jadi dokter. Terus yang baru lagi mau melepas status lajang. Terus kamu apa? Ngerem doang di rumah. Gimana mau sukses? Gimana mau dapet jodoh?"
Kanaya menggeram dalam hati.
"Kamu bisanya cuma nyusahin orang tua. Kamu terlalu bergantung sama orang tua kamu. Harus kerja keras doong, jangan cuma andelin usaha Mama kamu."
Kanaya naik pitam, dia segera menghampiri tantenya dan menjambak rambut Selma dengan kasar, tantenya yang satu ini memang sangat menyebalkan dan selalu bisa dicincang. "Tante jangan asal ngomong, nih! Kalau Tante dateng ke sini cuma mau hina gue, udah sana lebih bagus lagi! Gue nggak butuh nasehat Tante!"
"Kanaya lepas! Kamu nggak ada kesopanannya ya sama Tante kamu sendiri!" teriak Sofia panik.
Selma yang kesakitan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Kanaya di rambutnya yang baru dicreambath di salon langganan.
"Dia duluan Ma yang mancing-mancing emosi aku. Terus kenapa kalau anaknya mau jadi dokter sama nikah? Emang ada urusannya sama gue, hah?!" tantang Kanaya yang melepas jenggutannya, lalu kemudian memasang gestur preman kepada sang Tante yang sukanya pamer sana-sini. "Gue mau gimana pun bukan urusan lo, Tante! Ini hidup gue! Gue yang bebas nentuin. Tante nggak perlu ikut campur! Ngerti?!"
Selma merapikan rambutnya yang sering dikeramas. Walaupun sudah tua, tapi dia tetap terlihat modis. Mendadak rambut kesayangannua itu berubah kusut gara-gara kelakuan keponakannya yang mirip orang kesetanan.
"Aduuuh, Kanaya! Kamu ini ya, nggak punya sopan santun sama sekali. Pantas aja sampai sekarang nggak dapet jodoh dan pengangguran. Dasar anak pemalas!" balas Selma tak kalah berang. Suasana semakin keruh. Sofia kelimpungan melihat interaksi anak dan adiknya yang selalu bertengkar.
"Sekali lagi lo ngatain gue, gue pukul tuh mulut lo pakek vas bunga biar ancur!" Kanaya kesal bukan main. Matanya melotot memancarkan kebencinan. "Mulut tuh dijaga makannya! Tante itu udah tua. Cepet tobaaat!"
"Apa kamu bilang?!"
"Udah, udah." Sofia bangkit, mengusap bahu Kanaya, dan menyuruhnya untuk masuk lagi ke kamar. Ia tidak ingin gara-gara ada pertengkaran ini malah akan memecah tali silaturahmi antar saudara.
"Sekali lagi gue denger lo bandingin gue sama anak-anak lo, jangan harap gue anggap lo Tante!" ancam Kanaya yang kemudian berlalu dengan membawa kemarahan yang meledak-ledak.
Cepat-cepat Sofia duduk di sebelah adiknya. "Maafin Kanaya, ya, Sel."
Selma memasang wajah sinis dan judes.
"Dia emang kayak gitu, nggak bisa tahan emosi. Lagiankamu juga, udah tahu Kanaya nggak suka dibanding-bandingin."
"Mbak sih, terlalu manjain dia. Jadi begitu kan, nggak pernah mikir. Tegas sendiri lah Mbak sama anak sendiri. Biar nggak ngelunjak," cibir Selma.
Sofia hanya diam.
"Ya udah nggak pa-pa. Jangan lupa nanti datang ke pernikahan anak aku, Mbak. Bantu-bantu juga nanti."
Sofia menganggukkan kepala tidak enak. "Iya, pasti Mbak dukung pernikahan anak kamu."
Selma pun pamit pulang dengan keadaan yang jauh berbeda dengan saat datang ke sini.
Sofia segera menghampiri Kanaya di kamarnya.
"Kamu ini apa-apaan, sih? Dia Tante kamu! Yang sopan dikit!"
"Dia duluan yang mancing-mancing aku. Kenapa setiap dia dateng ke sini dia selalu banding-bandingin aku sama anaknya yang selalu diangung-agungin itu? Dia dia, aku ya aku!" Kanaya duduk di tepian ranjang, matanya terus mendelik.
"Lagian kamu juga yang salah. Mama udah nggak sanggup ngadepin kamu. Jam segini baru bangun padahal tadi pagi kamu harus ngurusin Sashi sama Sasha. Mama urus semuanya sendirian. Belum lagi Mama harus bolak-balik ke pabrik untuk ngontrol. Kamu ini emangnya mau apa? Kuliah nggak mau, kerja juga nggak mau. Kamu emang pemalas! Bener tuh apa yang dikatain Tante kamu!" Sofia sudah berdiri di hadapan Kanaya.
"Aku males ketemu orang, Ma. Males! Mereka itu semuanya cuma bisa nyakitin. Aku nyaman sama dunia aku!" Kanaya bangkit.
"Dunia yang mana? Dunia khayalan? Dunia oppa Korea kamu itu?!"
Kanaya menggigit bibir bagian bawah.
"Kamu ubah sedikit, dong! Ingat umur, Kana. Kamu udah 22 tahun, masih mau kayak gini? Kekanak-kanakan tau. Mama malu. Harusnya kamu bisa bersikap dewasa. Minimal beres-beres atau apalah itu. Atau kamu cari deh lingkungan baru. Lumayan ada pengalaman. Kamu bisa ceritain ke anak-cucu kamu nanti."
"Aku udah bilang, aku nggak mau berurusan sama orang!"
"Astagfirullah. Mama bener-bener nggak habis pikir."
"Terserah Mama!" Kanaya menyingkir dari hadapan Sofia, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup dan menimbulkan gema keras.
Sofia menggeleng-gelengkan kepala, memijit pelipis. Sungguh dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Kanaya. Setiap malam Sofia kepikuran dengan masa depan putrinya.
Kanaya bersandar di papan pintu.
Kenangan masa lalu berkelebat di kepala.
Dulu sewaktu SMA, Kanaya adalah orang supel dan gampang bergaul. Dia memiliki teman dekat bernama Dinda. Selain satu kelas, mereka juga sebangku.
Kanaya selalu memberikan apa yang dia bawa dari rumah kepada Dinda. Pokoknya mereka adalah sepasang sahabat yang akur dan cocok.
Namun kebersamaan mereka mulai renggang ketika Kanaya menjalin kasih dengan seorang murid most wanted. Cowok itu terbilang cukup terkenal dan menonjol di sekolah. Ketua osis sekaligus kapten tim basket. Hampir semua anak perempuan menyukainya.
Katanya, Kanaya termasuk perempuan beruntung. Tapi bagi Kanaya, itu bukan keberuntungan. Tapi momok.
Setiap istirahat, Kanaya selalu dihampiri oleh pria yang saat itu menjadi pacarnya. Lalu mereka akan ke kantin bersama. Dan meninggalkan Dinda di kelas.
Semenjak berpacaran, Kanaya menjadi sering berduaan dengan Kevan, pacarnya.
Apa sebagai sahabatnya Dinda tidak merasa cemburu? Tentu, dia kadang cemburu. Karena perhatian Kanaya lebih tersalur ke Kevan.
Sampai suatu saat, Kanaya mengunjungi kantin sekolah untuk membeli air mineral karena dia sedang tidak enak badan. Tadinya Kanaya tidak akan masuk sekolah dan sempat menghubungi Dinda di waktu malam, mengatakan padanya bahwa dia tidak akan sekolah. Tapi paginya, Kanaya berubah pikiran. Dia nekat ke sekolah karena ia malas kalau harus melakukan ujian susulan. Yang paling utama, ia tidak bisa menyontek.
Begitu kakinya sampai di lantai kantin, dia melihat pemandangan yang amat mengejutkan. Sekujur tubuh Kanaya berubah tegang dalam sekelebat.
Tega sekali mereka melakukan ini semua.
Kanaya merasa beruntung, berkat nalurinya dia bisa menyaksikan sebuah pengkhianatan telak ini.
Kanaya langsung mendekati Dinda dan Kevan yang saat itu sedang mengobrol bersama dengan sangat mesra. Bahkan mereka melalukan kotak fisik berupa colekan di pipi. Mereka tertawa bersama tanpa beban. Tanpa merasa berdosa.
"Oh, ini yang kalian lakuin di belakang gue," lirih Kanaya dengan sangat parau.
Dinda dan Kevan cepat-cepat bangkit dari duduknya dan saling membangun jarak. Terlihat gugup dan ah sudahlah, tidak perlu dijelaskan lagi. Wajah mereka memerah seperti baru tertangkap basah oleh masa lantaran telah melakukan hal tak senonoh.
"Ini nggak seperti apa---"
PLAK!
Kanaya baru saja menampar pipi Dinda dengan sangat keras. Bahkan suaranya sampai terdengar oleh penjaga maupun murid yang sedang sarapan di kantin. "Sepeti apa? Seperti yang gue liat?"
Suasana berubah hening.
"Gue kurang baik apa sama lo, Din?! Di saat MOS lo nggak punya temen, gue ajak lo. Di saat lo kebingungan cari kelas, gue bantuin lo. Di saat lo nggak punya uang untuk bayar SPP gue selalu ngasih pinjeman. Kurang apa gue sama lo?"
Dinda masih terdiam, kentara sekali kalau dia sedang menahan malu.
"Lo tega banget sama gue, Din. Gue bener-bener nggak nyangka. Sekarang gue tanya, ini semua apa maksudnya?!" Kanaya menaikkan oktaf suaranya.
"Lo pikir pertemanan kita ini sehat, Na? Gue sebenernya tertekan sama sikap lo yang terlalu nora. Lo selalu pamer ini-itu. Ya, lo emang baik ke gue. Tapi kadang gue nggak suka sama sikap lo yang selalu berlebihan itu."
"Apa? Nora kata lo?! Gara-gara nora, lo tega nusuk gue dari belakang? Gila, alasannya klise banget." Kanaya mencibir sarkastis.
Pandangan Kanaya pun beralih pada Kevan. "Lo lagi, Van! Bisa-bisanya lo selingkuh sama sahab ... Nggak, bukan." Kanaya menggeleng-gelengkan kepala, lalu meralat. "Bisa-bisanya lo selingkuh sama ni cewek! Namanya udah ganti jadi PHO. Perusak hubungan orang!"
"Gimana gue nggak selingkuh, Na? Orang sikap lo ke gue terlalu ngekang dan over."
"Karena gue sayang sama lo!"
"Tapi sayang, cinta itu bukan mengekang. Jujur gue lebih nyaman sama Dinda. Dia orangnya lebih kalem dan dia lebih ngertiin gue. Lo terlalu overprotektiv sama gue. Gue nggak suka."
Kanaya tertawa getir. Bisa-bisanya dua orang yang sudah ia anggap sebagai orang paling spesial melakukan pengkhianatan besar ini. Dengan kompak mereka menyakiti dirinya tanpa ampun. Dia ingin bertepuk tangan untuk memberikan selamat.
"Lebih baik kita putus, gue udah nggak tahan lagi sama lo," cetus Kevan langsung.
Kanaya membulatkan kedua bola mata.
"Gue cinta sama Dinda. Gue nyesel pernah ngejalin hubungan sama lo." Kevan melanjutkan.
Kembali Kanaya tertawa. "Lo pikir gue nggak nyesel pacaran sama cowok nggak setia? Mau ditaro di mana muka gue karena pernah pacaran sama lelaki b******k? Gue kayak gini karena ini sifat gue. Lo cuma butuh kesabaran untuk ngadepin gue dan ngubah gue. Dan lo? Lo harusnya mikir, lo itu lebih b***t dari gue."
Kevan terdiam, kedua tangannya mengepal. Ucapan Kanaya sangat menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang lelaki paling populer.
"Dan untuk lo Dinda, sumpah gue kecewa banget sama lo. Dibanding Kevan, lo lebih nyakitin gue. Bahkan berlipat-lipat kali lebih nusuk. Lo nusuk gue dari belakang. Muka dua." Kanaya meraih air minum yang ada di meja, dan dilemparkannya isi air itu tepat di wajah Dinda. "Nah, biar luntur! Biar topeng lo kebuka semua!"
Dinda sudah basah kuyub, mulutnya menganga.
"Sumpah keren banget. Kalian emang keren. Kalian pantes. Sama-sama pengkhianat kelas kakap. Mulai detik ini, kita bukan temen lagi. Lo bukan temen gue." Kanaya berucap dengan penuh penekanan dan sorot mata tajam. Dia pun berlalu meninggalkan mereka, semua murid yang ada di kantin mulai berbisik-bisik.
Kanaya menghapus air mata yang baru saja jatuh di pipinya. Nyeri di hati itu benar-benar terasa perihnya.
Sampai sekarang bahkan masih membekas.
Bukan hanya Dinda, Kanaya pun kerap memergoki teman yang lainnya yang sedang membicarakan dia dari belakang. Namun kali itu Kanaya memilih diam. Hanya cukup menjaga jarak dengan mereka, itu semua sudah cukup.
Percuma memiliki teman, kalau ternyata begitu.
Jika mereka membentuk geng, lalu salah satunya tidak sekolah, maka orang yang tidak sekolah itulah yang akan dibicarakan. Semua kesalahannya digali sampai ke akar-akarnya.
Kanaya yang trauma seperti enggan bertemu manusia yang nantinya akan menjadi seorang teman. Ujung-ujungnya mereka akan menyakiti. Baik masalah asmara, ataupun pertemanan.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Kanaya mengecek ponselnya, membuka w******p.
Kanaya membuka status Rifki.
Salah satu kriteria wanita idaman adalah dia yang tinggal di rumah.
Allah ta'ala berfirman :
"Dan tinggalah kalian di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian berdandan sebagai mana dandan ala jahiliyah dulu." (QS. Al-Ahzab : 33)
Kanaya tidak mengerti maksud kata-kata dan ayat Alquran ini.
Bukannya kalau perempuan tinggal di rumah itu bakal susah dapet kerjaan?
Rifki yang kebetulan sedang online pun membalas
JODOH GUE!
Sebaik-baiknya wanita itu yang tinggal di rumah. Itu termasuk sunnah wanita.
Ya udah gue di rumah aja deh biar jadi wanita idaman
JODOH GUE!
Iya silakan.
Kanaya mendengkus.
Singkat banget, sih!
Ahh Kanaya pusing. Dia tidak mengerti. Kalau perempuan hanya berdiam diri di rumah, lalu bagaimana dengan masa depannya? Sama seperti apa yang dikatakan tantenya. Mereka akan susah mendapatkan pekerjaan dan pertemuan dengan jodoh pun akan terhambat.
Seperti Kanaya sekarang ini. Luntang-lantun tidak jelas. Kanaya berdiam diri di rumah karena ia takut bertemu manusia. Ia takut bertemu orang-orang berwajah munafik. Ia sudah memukul rata semua manusia sejak di bangku SMA. Tidak ada yang berbeda. Semuanya sama. Bahkan Rifki yang baik pun, Kanaya merasa telah disakiti. Padahal Rifki tidak melakukan hal semena-mena.
Hanya sebatas tidak membalas chat atau jawabannya yang terkesan singkat, itu cukup menyakitkan dan membuat hati gelisah. Pikiran pun melanglang dengan membawa segudang pertanyaan.
Ketika Kanaya mengirim pesan berupa guyonan, dia tak balik membalas guyonan. Bahkan emoticon pun dia tidak memakainya.
Rifki tidak pernah memakai panggilan 'Teh' lagi seakan Kanaya memang benar-benar orang asing.
Sewaktu pertama kali dia memanggilnya dengan panggilan 'Teteh', Kanaya membencinya. Tapi sekarang dia malah ingin diaktifkan menggunakan itu.
Kalau gue beneran cinta sama dia, bisa berabe urusannya. Karena gue takut cinta gue bertepuk sebelah tangan. Gue sendiri yang akan kesiksa.
Secepat itu cinta tumbuh, namun butuh waktu bertambah-tahun untuk melayukan.
Kana! Terima si kembar!
Itu obrolan dari Sofia --- mamanya.
Iyaaa !!
Kanaya berlari untuk menjembut Sasha dan Sashi.
Menjemput mereka sudah menjadi tugasnya.
Alasan mang Edi hanya diperuntukkan untuk menjadi sopir pribadi mamanya.
26 November 2018
18 Rabi'I 1440H