بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Mobil telah sampai di rumah pekarangan, Kanaya dan si kembar menyelesaikan rumah, dan mereka langsung ditangani oleh Sofia yang dari kemarin memegang resah lantaran putri dan cucunya tak kunjung pulang.
Kanaya yang buruk-merta melangkahkan kaki menuju kamar, padahal Sofia ingin membrondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Capek, Ma. Mau tidur dulu."
Sofia menggeleng-gelengkan kepala, lalu membawa kedua cucunya untuk segera diterima.
"Gimana liburannya? Seru?"
"Seru banget, Nek. Di sana kita ketemu Om kacamata."
"Om kacamata siapa?"
"Itu, itu baik."
Sofia tidak bertanya lagi. Mungkin yang direkomendasikan mereka adalah lelaki yang menolong mereka dan memberikan tumpangan rumah apa yang diceritakan Kanaya lewat telepon. Kanaya sudah menjelaskan semuanya kemarin.
"Nenek, beliin kami kerudung, ya?" ucap Sashi.
"Haah?" Apa Sofia tidak salah dengar?
"Iya, kita juga pengin belajar ngaji." Sasha menambahkan.
Sofia terdiamentar. Dia benar-benar terkejut sepertinya baru menyadari kesalahan. Dia baru sadar jika selama ini tidak pernah membicarakannya agama karena terlalu fokus pada usaha peninggalan pemikiran.
Baru saja menghempaskan tubuh di kasur aras, notifikasi w******p masuk.
Kanaya mengambil ponselnya yang ada di samping, lalu melihat pesan yang baru masuk.
Ternyata dari Rifki.
Kontan Kanaya jadi deg-degan. Dia menggerutu dalam hati, memaki organ paling sensitif itu dengan sedemikian kasar. Ia ingin bertanya padanya, mengapa berdetak cepat ketika lelaki itu mengerim pesan? Apa istimewanya? Kan sama-sama orang. Kan sama-sama orang Indonesia bukan oppa Korea.
Apa ini yang namanya baper?
Oh jadi begini ya rasanya baper?
Eeh, Kanaya langsung memengusir pikiran menyebalkan itu.
Teh, kenapa tadi nggak pamit dulu?
"Tadi buru-buru, maaf ya. Gue nggak sopan. Oke. Gue makasihnya di sini aia. Makasih udah bantuin gue dan dua keponakan gue. Maaf udah ngerepotin dan ... Em, sempat ngebentak nenek lo."
Oh, iya sama-sama, Teh. Nggak papa kok. Santai aja.
Iya, makasih udah baik sama gue.
Sama-sama
Kanaya ingin membalas lagi, tapi apa? Apakah ada sesuatu yang membuatnya harus membalas pesan itu lagi? Apa harus Kanaya mencari pembahasan lain agar chatting dengan Rifki tidak berakhir sampai di sini?
Sumpah demi apa pun Kanaya kesal, jawaban Rifki terlalu pendek singkat padat jelas. Padahal dia duluan yang mengirim pesan.
Padahal masih banyak pertanyaan yang harus dia tanyakan. Di antaranya seperti berikut:
Gimana? Apa Teteh selamat sampai tujuan?
Apa Teteh baik-baik aja?
Apa mobilnya nggak mogok lagi?
Apa si kembar rewel?
Apa Teteh udah makan?
Apa Teteh nyesel pernah tinggal di sini?
Untuk pertanyaan terakhir, maka Kanaya akan menjawab: Ya! Gue nyesel! Karena lo udah bikin gue jadi orang aneh! Lo aneh, jadi gue ketularan aneh!
Kanaya beralih pada ikon status.
Banyak status unfaedah yang berasal dari teman-teman alumni sekolahnya. Entah emoticon nangis, emoticon lope-lope, atau lain sebagainya. Ada juga yang memosting sepatu doang. Apa? Mau pamer sepatu?! Tak lupa juga dengan status para ibu-ibu dari teman Sashi dan Sasha. Ahh, Kanaya kesal sekali. Seolah dialah yang jadi orang tua si kembar. Kanaya malas mengintip status orang yang selalu mengupload hal tidak penting. Buang-buang kouta dan tenaga. Ditambah, emang sifat dasarnya yang 'males'.
Namun, ada satu kontak yang menarik perhatian.
Itu status Rifki, tapi di kontak Kanaya, dia tidak menamainya dengan nama 'Rifki', melainkan dua kata yang amat bermakna.
Masih rahasia.
Hanya Kanaya yang tahu.
Kanaya mulai mengintip status Rifki yang diunggah sekitar satu jam yang lalu.
Isinya tentang kewajiban muslimah menutup aurat.
Huftt.
Dari dulu Kanaya paling tidak suka dengan status orang semacam ini. Dia juga memiliki teman yang agamis, dan statusnya agamis semua. Tidak pernah lepas dari dakwah. Kanaya memang anti dengan hal-hal seperti itu. Padahal agamanya Islam, tapi entahlah dia tidak peduli.
Muslimah wajib berkerudung?
Apa dirinya juga termasuk muslimah?
"A, mau nggak jadi pacar Kana?"
"Apa untungnya buat saya?"
"Aku cantik lho, A. Orang Jakarta, pokoknya semua lekaki pasti jatuh cinta sama aku."
"Maaf, nggak bisa."
"Kenapa?"
"Saya penginnya nikah, mau nggak?"
"HAH?!"
Kanaya nyaris terjatuh ke lantai yang dingin jika tidak segera bangun dan sadar kalau percakapan tadi hanya mimpi. Pertemuannya kembali dengan Rifki ternyata hanya mimpi. Ya, hanya mimpi. Dan itu membuat Kanaya gondok. Gadis itu mengucek-ngucek matanya, melirik jam yang barangkali sudah menunjukkan pukul sembilan. Karena memang, Kanaya lebih sering bangun jam sembilan siang.
Tapi lain dari dugaan, jam itu ternyata masih menunjukkan pukul tiga pagi.
Aneh, baru kali ini Kanaya terbangun di waktu sepertiga malam. Karena rasa kantuk yang ternyata malah hilang sepenuhnya, Kanaya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Tadi dia memimpikan Rifki, bahkan dia memanggil nama itu dengan panggilan 'Mas'. Rifki juga mengajaknya menikah ketika Kanaya mengajukan diri untuk dijadikan pacar.
Ada apa ini?
Kenapa mimpinya aneh sekali?
Kanaya membuka aplikasi w******p, tiba-tiba dia merindukan lelaki yang tadi mampir di mimpinya. Iseng, Kanaya menstalk profil Rifki, yang sayangnya, dia tidak menggunakan foto sendiri untuk dijadikan foto profil. Eh, tunggu! Betapa terkejutnya Kanaya melihat 'JODOH GUE!' sedang online.
Aduh Kanaya, pede banget namain kontak Rifki pakai sebutan JODOH GUE! Asli lagi pakai capslock. Kalau bukan jodoh gimana? Kan nantinya sakit. Ya, Kanaya menamai kontak itu ketika ia memintanya langsung nomor Rifki.
Lagi apa dia dia malem-malem gini online? Pikir Kanaya bingung bin kepo.
Tapi, dengan beraninya, Kanaya mengirim pesan. Dia kan kenalannya di Garut, jadi buat apa canggung?
Ngapain lo online jam segini?
Kanaya cepat-cepat menarik pesannya kembali. Apaan sih?
Sayangnya, Rifki sudah telanjur membaca.
Huft! Kanaya jadi malu sendiri.
Maaf nggak sengaja ketarik
JODOH GUE!
Ada urusan, Teh.
Saat itu Rifki sudah memantapkan hati untuk mengkhitbah wanita yang ia temui beberapa hari lalu. Dia sedang chatting dengan perempuan bernama Aiza. Rifki sangat berterima kasih pada adik kelasnya sewaktu di SMA, karena telah memperkenalkan dia pada perempuan bercadar bernama Aiza itu. Rifki yakin kalau dialah jodoh yang selama ini ia nanti. Rifki hanya ingin cepat-cepat mendapat pendamping yang mampu menjaga s*****t serta menjaga hatinya. Dia ingin ada wanita yang mau menemaninya baik suka maupun duka, mau berjuang bersama di jalan Allah.
JODOH GUE!
Teteh juga ngapain online jam segini?
Hobi banget sih panggil gue teteh. Mbak aja.
JODOH GUE!
Iya, Mbak. Maaf.
Terus aja minta maaf.
Rifki tidak membalas, dan itu membuat Kanaya galau.
"Ya udah, tidur aja, deh! Dasar cowok!"
Jiwanya resah, kenapa otaknya selalu dipenuhi dengan nama Rifki? Mengapa lelaki itu terus menari-nari dalam benaknya? Kenapa dia jadi marah-marah nggak jelas saat Rifki tidak lagi membalas chat-nya?
Kenapa kenapa kenapa?!
Apa dia punya pacar?!
Ya Tuhan, dasar g****k! Kanaya menggerutu dalam hati. Cowok baik kayak gitu mana mungkin sih jomblo. Pasti dia punya pacar. Dan betapa beruntungnya perempuan itu, memiliki lelaki baik seperti Rifki. Pasti setiap hari dikasih senyum dan diperhatiin.
Apa jangan-jangan Kanaya jatuh cinta beneran?!
Berbagai pertanyaan mengerikan bergentayangan di kepala.
Padahal selama ini dia cuma iseng tertarik pada Rifki. Dia menggoda Rifki hanya untuk menguji. Ternyata dia masih tetap kaku. Rifki sama sekali tidak terpengaruh oleh godaan Kanaya. Andaikan pertemuan itu tidak berlangsung dengan cepat, mungkin Kanaya akan berusaha lebih keras menaklukan Rifki yang sering menempatkan arah mata ke mana saja ketika mereka bicara.
Menurutnya, Rifki berbeda dengan yang lain.
Ketika dia bersikap galak yang ternyata hanya sebagai tameng pelindung, ternyata Rifki tidak membalasnya dengan sama-sama bersikap galak atau lebih galak khas seorang lelaki yang gampang terpancing emosi.
Balasannya berupa senyum.
Senyum yang mengartikan ketulusan dan kewajaran.
Kanaya gundah gulana, air mata jatuh di pelupuknya.
Ada apa? Mengapa dia menangis?
Mengapa dia merindukan Rifki? Perasaan kemarin dia baik-baik saja? Pertemuan itu hanya berlangsung selama dua hari. Singkat sekali. Kanaya takut tidak bisa lupa dengan momen dua hari itu.
Toh, Rifki hanya menganggapnya sebagai orang Jakarta yang menyebalkan.
Kembali ia teringat percakapan Rifki dengan neneknya.
"Kamu ya, ngajak orang asing ke sini. Lihat tuh kelakuan anak ceweknya. Nggak tahu sopan santun. Sama Nenek aja berani apalagi sama orang tuanya?!"
"Nggak pa-pa, Nek. Nggak usah diambil hati. Kita maklumin aja, mungkin dia nggak ngerti apa itu tata krama. Pergaulan di sini dan di sana itu beda. Apalagi jauh dari agama. Maklumin aja."
"Tapi kan itu namanya udah kelewat batas!"
"Udah Nek, nggak enak kalau dia denger."
"Biarin, biar dia mikir! Bener-bener kelewatan."
Padahal kata-katanya biasa, tapi mengapa Kanaya merasa tersinggung? Seolah dia adalah wanita yang tentu saja tidak Rifki anggap sebagai wanita kriteria dan tak ternilai apa-apa di matanya.
Tapi semua ucapan Rifki memang benar adanya. Kanaya sadar. Dia dan Rifki beda dunia. Dan mereka hanya dipertemukan secara sepintas. Jadi wajar Rifki mengatakan itu. Kanaya hanya perempuan yang ia bantu. Tidak kurang ataupun lebih dari itu.
Untuk memanfaatkan waktu, Kanaya membuka laptopnya yang sudah ia ambil dari atas meja.
Dia akan menulis cerita baru.
Tidak ada yang tahu, bahwa selama ini Kanaya gemar sekali menulis. Selain nonton drama Korea juga dia kerap menuangkan ide ke dalam tulisan. Drama Korea adalah tempat ia mencari inspirasi. Itulah mengapa Kanaya sangat menggemari drama buatan negara gingseng itu. Alur dan setting cerita diatur semenarik dan seunik mungkin. Kanaya bisa mengikuti alur cerita drama yang sedang ia tonton. Jika yang ia tonton tentang dokter, maka ia akan menulis tentang dokter. Jika yang ia tonton tentang pengacara dan jaksa, maka Kanaya akan mencoba menulis dengan genre yang sama
Selain menyenangi oppa Korea, Kanaya juga menyenangi para penulis skenario drama Korea, karena mereka begitu pandai menulis cerita apik yang sangat menarik. Antimainstream. Sempat terlintas dalam benak Kanaya, terbuat dari apa sih otak mereka?
Tapi sayangnya, Kanaya tidak mampu menuliskan cerita sampai tamat dengan waktu sangat cepat, godaan dari keponakannya selalu menghambat. Kadang dia gagal karena ide yang tiba-tiba putus dijalan.
Sebenarnya cita-cita terbesarnya adalah menjadi seorang penulis. Ia ingin suatu saat nanti membuktikan pada semua orang kalau dia bisa melahirkan karya. Beberapa tahun ke belakang Kanaya sudah beberapa kali mengirim naskah, tapi tak ada penerbit yang kunjung memberinya harapan untuk bisa mengabulkan mimpinya.
Dari sikapnya memang tidak menunjukkan seorang penulis yang biasanya kalem. Sosok yang Kanaya gunakan selama ini hanya topeng. Dia menyembunyikan kelebihannya dari semua orang.
Bahkan mamanya yang tidak tahu kalau putri bungsu yang selalu marah karena kebo, kelewat malas, dan lain-lain pasti memiliki mimpi besar seperti yang lain. Yang hanya ia tahu Kanaya dapat membawakan novel jika pulang dari mal.
Dia sedang berjuang.
Ya, dia sedang berjuang.
Sendirian.
Kanaya memang pemalas. Tapi tidak untuk satu hal. Yaitu menulis.
25 November 2018
17 Rabi'I 1440