بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Malam ini Rifki sedang mengajari si kembar iqra satu. Kasihan sekali mereka, belum pernah diperkenalkan dengan iqra. Sementara dengan membaca iqra, mereka bisa membaca kalam Allah dalam Alquran. Usia mereka adalah usia yang paling cocok untuk menghafal Alquran. Sebab daya ingan dan pikiran yang kuat ada di masa kecil.
Kanaya yang sedang hape utama sesekali menengok ke Arah mereka. Dia memainkan ponsel bukan sedang mengobrol dengan teman, tetapi sedang membalas komentar para netizen di i********:. Emang artis i********: dia. Di rumah emang ngerem, tapi dia pandai berselancar di i********: terima kasih kebenarannya. Bisa menjawab dia selebgram.
"Minta nomor hape lo, dong. Biar nanti masih bisa ngejalin sulaturahmi. Siapa tahu nanti ada yang butuh kita untuk ketemu lagi." Bohong, padahal mah dia mau mau modus. Biar satu kontak w******p dan bisa saling status lirik.
"Oh, boleh, Teh."
Rifki pun menyebutkan nomor hapenya. "089631 ......"
"Pakek kartu yang jaringannya lola itu?"
"Iya, laksanakan murah."
Kanaya nyengir. Dasar Rifki! Jadi kere.
Sashi menguap. "Udah ngantuk, ah."
Ternyata si kembar emang jenius. Baru satu jam menghafal mereka sudah tahu huruf hijaiyah. Nggak tahu emang cerdas, nggak tahu cuma gampang hafal dan cepet lupa.
Kita tunggu saja hasilnya besok.
Jika mereka berdua masih hafal, itu artinya mereka emang jenius. Atau mungkin Rifki-nya yang terlalu pintar mengajari mereka?
Entahlah siapa yang pintar
Kanaya bodo amat.
"Ya udah, kalian boleh tidur," ucap Rifki menutup iqra-nya.
"Ateu ngantuk, pengin tidur."
"Ya udah, yuk."
"Ajak aja ke kamar yang tadi tempat Teteh tidur," kata Rifki lagi.
Kanaya membawa mereka ke sana. Kasihan sekali si kembar, harus terdampar di tempat ini.
Eh tapi, ambil hikmahnya boleh?
Rifki membuka pintu kamarnya dan menengok ke dalam, melihat kasur yang kini ditempati Kanaya dan dua keponakannya. Terlihat mereka yang sudah tertidur lelap. Sashi dan Sashi saling berpelukan, sedangkan Kanaya tidur tengkurap. Selimutnya hanya dipakai oleh dua keponakannya. Pasti tantenya itu tidak kebagian.
Sebelum tidur Rifki dan Kanaya sempat berdebat mempermasalahkan soal tempat tidur.
"Teteh tidur di kamar saya, saya sama sopir Teteh biar tidur di ruang tivi pakai kasur lantai."
"Ih, nggak enak dong, masa tamu tidur di kamar yang punya rumah? Nggak ah, gue nggak enak."
"Teteh nggak mungkin tidur bareng sopir Teteh, dan nggak mungkin juga Teteh tidur bareng saya."
"Emangnya lo nggak mau tidur sama gue?"
Rifki tercekat. Pertanyaan Kanaya mampu membuat bibirnya bungkam. Itu jenis pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan.
Apa Kanaya sudah salah bicara?
"Kita bukan mahram. Udah, lebih baik Teteh tidur di kamar bareng si kembar, saya di sini."
"Masa di lantai?" tanya Kanaya yang masih memiliki sisi baiknya. Dia hanya galak, bukan jahat seperti tokoh antagonis di sinetron Indonesia.
"Pakai kasur lantai kok, nanti saya ambil di kamar Nenek."
Kanaya manggut-manggut. "Ya udah kalau begitu. Eh, kenapa nggak gue aja yang tidur di sini? Biar lo sama mang Edi yang tidur di kamar. Itu kan kamar lo. Asli, gue nggak enak."
Rifki malah tersenyum. "Dingin, Teh. Kasian kalau Teteh tidur di bawah. Biar saya aja. Saya kan lelaki. Perempuan itu lebih rawan kena penyakit. Teteh tidur di kamar, ya. Nggak usah banyak protes."
Kanaya tersenyum gagu. Baik banget sih ni cowok. Gemesin jadinya.
Kanaya pun mengalah, dia masuk ke kamar, ternyata si kembar sudah tidur di atas kasur dengan nyenyak. Kanaya pun menyelimuti mereka.
Di ruang tivi Rifki menggelar karpet dan kasur lantai untuk tempat tidur dirinya dan mang Edi.
"Nggak papa di bawah ya, Mang? Kamarnya cuma ada dua," ucap Rifki.
"Nggak papa lah, A. Yang penting masih bisa tidur." Mang Edi cengengesan.
Mereka pun nonton bola bersama. Namun sesekali Rifki mengecek ponselnya.
Dia ingin chat seseorang, tapi rasanya canggung.
Rfiki mengambil selimut yang tadi ia pakai, lalu membawanya ke kamar dan menyelimuti Kanaya pelan-pelan supaya tidak menganggu. Lalu, setelah itu dia keluar lagi.
Tanpa Rifki tahu, sebenarnya Kanaya belum benar-benar tidur. Dia kedinginan, ya, kedinginan. Tapi dia datang di waktu yang tepat.
Kanaya bisa melihat kepergian Rifki lewat pantulan kaca ketika ia membuka mata.
Rasa hangat sudah menjalari tubuhnya.
Tindakan Rifki barusan telah membuat tubuh Kanaya menegang.
Baru kali ini dia diperlakukan sedemikian baik oleh lelaki yang menurutnya b***t semua.
Berkat selimut itu, Kanaya tidak kedinginan lagi, dia bisa tertidur dengan nyenyak sampai pagi.
Kanaya terkejut begitu matanya terbuka dan melihat cahaya dari jendela yang sudah cerah, cukup menyilaukan mata. Jam berapa ini?! Pasti sudah siang?!
Setiap kali Kanaya bangun siang, mamanya sering membentak kalau Kanaya harus segera mengubah kebiasaan buruknya itu.
"Kalau nanti kamu bangun siang di rumah mertua, bisa mati dicekik kamu!"
Itulah kata-kata yang selalu Sofia lontarkan. Dan sayangnya, selalu dianggap angin lalu oleh Kanaya.
Ketika Kanaya melihat ke samping, si kembar sudah tidak ada. Cepat-cepat Kanaya turun dari ranjang, dan berjalan keluar.
Dia melihat Sashi dan Sasha sudah bermain di luar. Biasa, anak kecil, main balap lari aja udah seru.
Namun ada satu pemandangan yang membuat Kanaya terkagum-kagum.
Ada Rifki yang sedang menjemur pakaian. Benar-benar anak rajin. Pasti nyuci juga sendiri. Tuh kan, dia aneh. Menurut Kanaya, Rifki adalah cowok aneh sedunia. Namun tanda kutip, aneh di sini mengartikan bahwa anehnya Rifki itu tertuju pada kebaikan.
Rifki membawa kembali embernya yang telah kosong ke dalam, dia pun berpapasan dengan Kanaya.
"Pagii...." Kanaya menyapa so ramah.
"Te---"
"Panggil Mbak."
"Eh iya. Mbak udah bangun?"
Kanaya mengangguk. Dia tahu, keadaannya pasti acak-acakan. Dan itu terlihat sangat memalukan. Tapi, bukankah Kanaya tidak pernah peduli pada pandangan lelaki terhadapnya? Jadi untuk apa malu apalagi canggung?
"Mobilnya udah selesai, katanya kalian bisa pulang sekarang."
Kanaya berubah sedih. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang sebenernya dia belum ingin pulang. Padahal sewaktu datang ke kota ini, Kanaya malasnya minta ampun. Tapi kenapa saat akan pulang rasanya sudah berbeda? Apa Kanaya sudah mulai lelah dengan kehidupannya di Jakarta yang terkesan monoton? Apa ia ingin mengubah hidupnya yang hancur binasa ini?
"Ya udah, saya ke dalam dulu. Sebelum pulang Mbak sarapan dulu aja, tadi kita udah sarapan, tinggal Mbak yang belum. Saya beli lontong sayur keliling tadi, kebetulan itu lontong paling enak di perumahan ini."
Kanaya garuk-garuk kepala, malu sendiri lantaran bangun siang. Dia pun mengangguk. Rifki juga pakai siapin sarapan segala, kan jadi baper. "Makasih."
Rifki berlalu ke dalam.
Tiba-tiba Kanaya dihampiri oleh mang Edi yang berwajah gelisah dan cemas. Seperti orang yang baru saja melakukan kejahatan besar.
"Mbak Kana udah bangun? Yuk lebih baik kita cepet-cepet pulang. Saya nggak enak lama-lama di sini."
"Emang kenapa harus cepet-cepet?"
"Nggak enak kalau lama-lama di sini, Mbak. Kita udah nyusahin."
"Biarin aja, merekanya juga baik-baik aja."
"Mbak nggak inget kejadian Subuh tadi, ya?"
Kanaya mengernyitkan kening. "Subuh?"
"Iya, waktu Subuh mbak Kana ngebentak neneknya a Rifki."
"Haah??!" Bola mata Kanaya membulat.
"Iya. Mbak nggak inget? Coba inget-inget deh, Mbak."
Kanaya mencoba berpikir. Ingatannya kembali membawanya ke fragmen Subuh. Ada apa saat itu? Memang apa yang terjadi?
Oh iya, tadi Subuh dia merasa ada yang memaksanya bangun untuk melaksanakan salat Subuh. Padahal saat itu Kanaya benar-benar sedang ngantuk tinggat dewa. Kanaya paling kesal kalau ada orang yang membangunkannya ketika tidur. Itu namanya merusak ketenangan orang.
"Nenek salat aja sendiri! Nggak usah bangunin saya! Yang masuk Neraka nanti juga saya, kok! Nenek nggak perlu repot-repot! Udah sana, Nek! Saya masih ngantuk! Ribet banget Nenek. Yang bakal cepet mati itu Nenek! Jadi Nenek aja yang salat!"
Rifki yang kebetulan melewati kamarnya tak pelak mendengar bentakan Kanaya yang memaki neneknya.
"Sentakan mbak Kana kedenger sama cucunya," bisik mang Edi hati-hati.
Kanaya memicingkan mata. b**o! b**o! b**o!
"Tadi Subuh saya kepancing emosi, Mang. Saya nggak biasa dibangunin waktu Subuh. Saya paling nggak suka dibangunin jam empat. Mama saya juga nggak pernah ngebangunin."
"Lebih baik Mbak minta maaf gih sama neneknya. Tadi dia kayak yang ngambek dan kecewa gitu. Nggak enak juga sama si Aa nya."
Kembali Kanaya tersentak. Kalau Rifki tahu dirinya sudah membentak neneknya, mengapa dia masih bersikap baik? Bahkan sangat-sangat baik.
"Ya udah, Mbak siap-siap dulu aja. Mang Edi mau manasin mobil. Tadi juga si kembar udah dimandiin sama a Rifki."
Rifki baik sama keponakan gue, padahal mereka nyebelin. Tapi kok gue malah nyakitin neneknya?
Kanaya mengusap wajahnya kesal. Ya, dia kesal pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia berbuat semena-mena di rumah orang lain.
Kanaya pun masuk lagi dengan perasaan bersalah. Sepertinya dia memang harus meminta maaf.
Langkahnya tercekat ketika berada di depan sebuah kamar yang dekat dengan jalan menuju dapur.
Sayup-sayup dia mendengar percakapan antara Rifki dan neneknya.
Kanaya tergemap.
Apa yang terlontar dari mulut Rifki memang tidak kasar, tidak menjelek-jelekkan, dan memang fakta. Tapi entah mengapa perkataan itu begitu menghunjam dadanya hingga menembus bagian ulu hati.
Dia Rifki, kan? Orang lain? Orang asing? Orang yang baru dikenalnya?
Tapi kenapa rasanya sakit?
Kanaya tidak jadi makan. Tidak jadi mandi. Dia harus segera keluar dari sini. Dia harus segera keluar dari rumah ini. Dia harus segera pergi dari kota ini.
Kanaya pun langsung keluar. Dia langsung membawa si kembar yang kebingungan karena secara paksa dibawa supaya masuk ke mobil.
"Ateu nanti dulu, kan mau beli kerudung."
"Di Jakarta banyak!"
"Cilok!"
"Nanti beli pakek online!"
Si kembar memorotkan bibir.
"Mang, ayo kita berangkat."
"Loh loh, Mbak? Nggak mandi dulu? Bau, lho."
"Berangkat sekarang, Mang!"
"Pamit dulu sama yang punya rumah."
"BERANGKAT SEKARANG, MANG!" Sisi jahat Kanaya kembali tergambar, matanya berkilat, dan itu berhasil membuat mang Edi bergidik dan nyaris terjungkal ke belakang.
Mau tidak mau mang Edi pun masuk ke mobil. Padahal dia ingin mengucapkan pamit dan berterimakasih sebesar-besarnya. Pasalnya ia tidak enak, karena Rifki sudah berbaik hati membiarkan mereka menginap satu malam. Rasanya tidak sopan kalau main pergi begitu saja. Tidak tahu tanda terima kasih namanya. Tidak sopan. Tidak menghargai.
"Kita belum mau pulang. Ateu!" rengek Sashi saat sudah berada dalam mobil.
"Diem kalian! Berisik, tau! Udah waktunya kita pulang. Mobilnya udah selesai. Kalian juga besok harus sekolah lagi."
Sashi dan Sasha cemberut.
"Terus nanti yang ngajarin ngaji siapa?"
"Kalian bisa ngaji di rumah. Ada pengajian, nanti Tante daftarin."
"Tapi gurunya pengin Om kacamata."
"Iya, baik ya, Sha?"
Sasha mengangguk.
Terserah!
Untuk pertama kalinya, Kanaya seperti menjadi manusia yang berguna.
Kanaya menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
Setelah mobil pulang, Rifki dan keluarnya, lalu pulanglah. Mobilnya pun sudah tak nampak di halaman.
"Tuh, kan. Emang nggak tahu tanda terima kasih. Udah numpang, main kembali terima aja. Dasar, kamu sih jadi orang terlalu baik, A! Te bener pisan! Tah b***k awewena pikasebelen kacida. Te sopan! (1) Kidz zaman sekarang ! "Nenek Ani terus meracau dan melenggang masuk ke rumah.
Sementara Rifki hanya diam di tempat.
Ket.
(1) Nggak bener sama sekali. Tuh anak perempuannya nyebelin banget. Nggak sopan.
Benci Kanaya?
Maaf, respons peran: v
24 November 2018
16 Rabi'I 1440H