5. Rebutan Kerudung

2045 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠ Selamat membaca Begitu Kanaya akan masuk lagi ke kamar, seorang nenek-nenek masuk ke rumah dan pindah Langkah Kanaya. "Eh, Neng udah bangun?" "Siapa, ya?" "Yang punya rumah ini. Pasti Rifki udah ke Masjid. Ayo atuh, Neng. Kita salat jamaah di rumah." "Salat?" Kanaya seperti mendengar kata itu. "Iya. Yuk." "Nggak mau, ah, laki-laki." Mata si nenek membulat. Ada, ya orang yang terang-terangan ngomong jantan waktu diajak salat? "Kok nggak mau?" "Laki-laki." Kanaya mengulangi jawaban yang sama. "Eh, salat itu wajib umat muslim, Neng. Dosa kalau nggak salat. Ayo, ah salat! Lawan kata malesnya! Ayo salat!" Si Nenek berubah ganas dalam waktu seperkian detik. "Masa orang islam laki-laki disuruh salat, nggak biasa namanya! Gila namanya! Sinting! Belegug !" "Saya waraas, Neek !!" Kanaya memprotes dengan nada sewot. Dia mendelik marah. Bisa-bisanya nenek tua ini mengatainya orang sinting! Dasar nenek tua! Berani amat! Rasanya ingin sekali mencakar wajah keriputnya hingga berdarah. Tanpa meminta persetujuan, Kanaya meminta si nenek ke toilet untuk segera berwudu. Tangannya ditarik-tarik tak terbantahkan. "Ayo, Neng dulu yang wudu. Cepetan!" titah sang nenek sudah di kamar mandi. Gayanya sudah seperti bos yang meminta bawahan. "Saya udah bilang, Nek! Saya males salat. Kok maksa, sih?! Kalau Nenek mau salat, ya salat aja sendiri!" Nenek itu melotot tajam. Kepala Kanaya tertarik ke belakang, menghindari pelototan tajam setajam silet dari sang nenek. "Udah, cepetan! Udah numpang di sini, masa disuruh salat aja nggak mau?! Kalau nggak mau kamu keluar!" Kanaya merengut. Mengepalkan tangan gemas. Mau tidak mau Kanaya harus menuruti permintaannya. Oke, dia malas berdebat. Tapi, sumpah demi apa pun Kanaya tidak ikhlas. Gadis itu mulai berwudu, samar-samar dia masih ingat cara wudu yang benar. Sedikit kaku, karena sudah lama sekali dia tidak melakukan wudu. Baiklah, hanya untuk hari ini. Ingat, hanya untuk hari ini Kanaya mau berwudu. Nenek yang menjadi imam salat, Kanaya salat di belakangnya. Suer, Kanaya lupa bacaan salat, jadi dia hanya menggunakan bacaan bismillah di setiap gerakan, kecuali rukuk dengan sujud, dia masih hafal karena dulu sempat sekolah agama waktu SD. Sekolah agama juga karena ikut-ikutan temen dan disuruh mama. Karena faktor MALAS, salatnya jadi bolong-bolong, dan sampai sekarang tidak pernah salat sama sekali. Toh, mamanya tidak pernah menyuruhnya untuk salat, jadi kenapa harus salat? Kanaya tahu salat adalah kewajiban umat muslim, tapi ... Ah. Namanya juga males. "Nek, cucu  Nenek kok nggak pulang-pulang lagi?" Kanaya melihat jam yang menunjukkan pukul setengah tujuh. "Emangnya kenapa kalau nggak pulang-pulang?" "Kangen." "Astagfirullah! Dia bukan mahram kamu, jangan dikangenin!" "Mahram itu apa, sih? Terus kenapa nggak boleh dikangenin? Emang ngelanggar undang-undang, Nek? Terus nanti saya dipenjara, gitu?" "Bukan cuma melanggar undang-undang, tapi melanggar perintah Allah. Makannya kamu jangan terlalu terpaku sama hukum undang-undang doang, hukum Allah tuh utamain dan patuhin! Itu lebih penting. Dunia akherat, Neng!" Kanaya acuh tak acuh. Dia tahu Allah itu ada. Dia juga tahu Allah-lah yang menciptakan langit, bumi beserta manusianya. Tapi entah mengapa, setiapkali membicarakan soal Allah, ia tidak pernah tertarik. Menganggap Allah itu hanya angin lalu. Tidak sadar bahwa Allah-lah yang telah memberikan dia napas. Pokoknya Kanaya itu orangnya lempeng. Allah kan baik, jadi Dia tidak mungkin memasukkan dirinya ke neraka. Dih, pede banget Kanaya. "Oh iya, ya, keponakan saya di mana, Nek?!" tanya Kanaya yang baru ngeh kalau si kembar tidak ada. Tadi waktu Magrib dia dipaksa lagi oleh nenek Ani untuk melaksanakan salat Magrib. "Keponakan saya di mana, Nek?!" Kanaya kembali bertanya lantaran si nenek tak kunjung memberi jawaban. Dia malah fokus nonton berita. "Iih, Nenek!" "Nggak sopan lho bentak-bentak orang tua!" jawab Nenek Ani setengah membentak. "Biarin, dong! Orang Nenek ditanya nggak jawab-jawab!" balas Kanaya sengit. "Itu, mereka ikut sama cucu saya." "Astaga!! Jadi cucu Nenek itu beneran penculik, ya?! Tuh kan prediksi saya yang kemarin itu beneran!" "Ya Allah, Neng. Main tuduh-tuduh aja. Cucu Nenek orangnya baik. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Deuh, nenek sama cucu sama aja bahasanya. "Ya itu buktinya keponakan saya diambil." "Bukan diambil, Neng. Itu, mereka ikut ke pengajian. Manfaat!" "Pengajian apa? Emang ada acara tujuh bulanan?" "Pengajian anak-anak di Masjid, Neng. Kok malah nyasar ke acara tujuh bulan?" "Masjidnya letaknya di mana, Nek?" "Deket kok dari sini, cari aja ke sebelah kanan." Cepat-cepat Kanaya keluar dari rumah, di luar dia mendapati mang Edi yang sedang merokok, asapnya mengepul bersamaan dengan angin malam. "Duh, dingin banget, sih!" gerutunya tidak suka. "Beda banget sama di Jakarta! Kalau gue tinggal di sini mungkin mendadak gue jadi ratu Elsa." "Mang, gimana mobilnya? Udah bisa dipakai kan besok?" tanya Kanaya. "Udah, Mbak. Besok kita cus pulang." "Awas ya kalau sampai tu mobil mogok lagi, gue bakal balik lagi ke sini dan ngebunuh tukang bengkelnya pakek godam!" geram Kanaya dendam. "Waduh." Mang Edi menelan liur. Kanaya pun melanjutkan niatnya untuk ke Masjid. Begitu tiba di depan Masjid, Kanaya melihat Rifki yang sedang jadi guru ngaji di dalam masjid lewat jendela. Terlihat dia begitu sabar menghadapi anak-anak yang nakal. Tidak membentak, hanya cukup menasehati untuk menghentikan kenakalan mereka yang naudzubillah. Pakai ada yang main kuda-kudaan segala. Kalau Kanaya yang ada di posisi itu, ia akan membentak mereka semua supaya diam. Kalau perlu, memukul bibir mereka sampai bisu. Rifki memang guru ngaji anak-anak komplek setiap selesai Magrib hingga menjelang waktu Isya. Dia mengajar mereka secara sukarela tanpa berharap imbalan. Semata-mata hanya ingin mendapatkan rida dan pahala dari Allah. Di zaman sekarang ini, kebaikan yang ditebar manusia sangat minim sekali. Kalau ingin berbuat baik tidak tulus dari hati, selalu ingin dapat imbalan berupa uang. Padahal balasan yang Allah beri nanti di akhirat akan lebih dahsyat. Hanya orang yang memiliki iman yang mampu melakukan kebaikan tanpa berharap pamrih. Sedangkan orang yang terlalu cinta dunia akan merasa dimanfaatkan ketika melakukan kebaikan. Padahal Rifki bisa kuliah di luar negeri berkat hafalannya yang sudah tamat. Tapi Rifki tidak mau meninggalkan neneknya sendirian. Di sini dia bertekad untuk bekerja keras membangun usaha. "Cowok alim dia ternyata." "Om, kenapa mereka pakek itu?" Sashi menunjuk salah satu anak perempuan yang memakai kerudung, dia sedang cekikikan bersama teman yang lain. "Itu namanya kerudung, untuk menutupi rambut." "Kenapa harus pakek yang kayak gitu? Kenapa harus ditutupin rambutnya?" Tangan Sashi terangkat untuk menyentuh rambut kritingnya. "Kan sekarang lagi ngaji, jadi harus pakai kerudung supaya auratnya tertutup. Emang nggak ada yang pernah ngasih tahu kalian?" "Aurat itu apa? Ngaji itu apa?" Sasha menimpali. Kompak keduanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Rifki tadi. "Aurat itu anggota tubuh yang wajib ditutupi. Meskipun umur kalian masih kecil, tapi kalian harus mulai belajar supaya nanti jadi kebiasaan. Dan itu lebih bagus." Keduanya pun manggut-manggut, entah apa makna anggukkan kepala itu. Antara mengerti asli atau memang malas membahas lagi. "Umur kalian berapa tahun?" "Enam!" jawab mereka serempak. "Nah, umat Islam yang berjenis kelamin seperti kalian wajib menggunakan kerudung saat umur sembilan tahun nanti." Keduanya sama-sama bengong. Rifki mengusap kepala si kembar sekilas sambil mengulas senyum. Sepertinya mereka memang tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Sashi mulai fokus memandang teman sebayanya yang sedang main pok ame-ame, nyanyi-nyanyian, dan lain sebagainya. Dia memegang kepalanya yang tidak tertutupi seperti yang lain. Ini aneh. Bocah itu beranjak dari tempatnya, lalu berhenti di dekat tiga anak yang sedang bermain mejikuhibiniu alias merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Suasana di sana sungguh tidak terkontrol, semua kubu menyuarakan teriakan, membuyarkan konsentrasi Rifki yang sedang mengajari salah satu muridnya membaca iqra. Kebetulan murid satu ini lolanya minta ampun. Udah dikatain itu tuh huruf 'tsa', tapi yang keluar dari mulutnya 'ta' lagi 'ta' lagi. Udah dibilangin huruf itu tuh 'ta', tapi yang keluar dari mulutnya 'ba' lagi 'ba' lagi. Hadeuh parah. Padahal anaknya cantik, tapi kenapa daya ingatnya nol persen? Barangkali ada kelainan. Namun karena Rifki memiliki tingkat kesabaran luar bisa, dia tetap melaunkan suara. Walaupun sudah dari dua minggu yang lalu dia mengajari anak ini, tetap saja Rifki sabar mengajarinya supaya bisa. Entah hasilnya akan sia-sia atau tidak, yang jelas dengan sukarela dia akan mengajarinya. Belum lagi Sasha yang ingin cepat-cepat diajari mengaji. Rifki semakin keliyengan. Untung mereka anak kecil. Wajar. Sabar. Suasana malah semakin kacau begitu Sashi menarik paksa kerudung salah satu anak perempuan secara paksa. Kontan si anak yang ditarik kerudungnya mencoba menahan kerudungnya agar tidak terlepas dari kepalanya. "Minjem iih, Sashi juga pengin pakai ini!! Sinii minjeem!!" "Nggak mau!!! Iih lepasin!" "Minjem, dong! Sebentar aja. Kok pelit, siih?!" Sashi berusaha merebut kerudung warna ungu muda tersebut. "Cuma sebentar doang, iih!! Jangan pelit-pelitt!! Nanti kuburannya sempit!" "Emang udah pernah dikubur? Ceritain dong gimana rasanya!" dia masih sempat-sempatnya bertanya demikian. "Minjeeem!!" "Nggak mauu!!!" Yang lain ikut teriak-teriak nggak jelas. Dan malah bersorak gembira memicu kegaduhan yang lebih besar. Melihat saudari kembarnya sedang berebut kerudung, Sasha ikut-ikutan. Dia membantu sang kakak. Rifki tidak tinggal diam, dia langsung menghampiri mereka untuk segera melerai, mengabaikan bocah yang masih berusaha mengingat kalau itu tuh huruf 'ta'. "Udah, udah, lepasin, kasian rambutnya ikut ketarik." Rifki memegang tangan Sashi, berusaha melepas cengkeramannya pada kerudung Zahra, anak yang sedang menjadi bahan kemarahan si kembar. "Tapi kita pengin pakek itu, Om!" Badan mereka boleh kecil, tapi tenaganya luar biadab. Kanaya aja pernah nangis kejer gara-gara dijambak rambutnya. "Iya, tapi kan kerudungnya lagi dipakai orang lain. Mintanya pelan-pelan, kalau Zahra ngizinin kalian boleh coba, kalu nggak ngizinin...." "Nggak mau, pengin cobain sekarang!" Sashi dengan cepat memotong ucapan Rifki pakai nada melengking. "Om diam, jangan ngomong!" Zahra mulai menangis. Rifki kalang-kabut. Tangis Zahra semakin kencang. Si kembar ikut-ikutan menangis. Kanaya yang melihat itu semua tertawa cekikikan. Sekarang Rifki ikut-ikutan ngerasain gimana repotnya ngadepin si kembar. Nggak kebayang kalau dia jadi Om-nya beneran, eh. "Ateu!" Tanpa sengaja Sashi melihat keberadaan Kanaya, dia langsung menghampiri tantenya yang berada di luar Masjid. "Ateu Sashi pengin pakek yang kayak mereka!!! Ayoo beliin! Ayooo!! Kata Om kacamata kalau umurnya udah sembilan tahun harus pakai itu. Tapi kenapa Ateu nggak? Pokoknya Sashi pengin pakek itu!" Kanaya tertegun. Iya juga, ya? Kenapa males banget pakek kerudung? Sepulang dari Masjid, Nenek Ani  mengajak tamu-tamunya makan malam di meja makan. Di meja itu sudah tersedia udang, tahu, tempe goreng dan telur dadar Dia meminta maaf karena hanya bisa masak seadanya, karena dia tidak tahu akan kedatangan tamu tidak dikenal. Di saat semuanya makan dengan menggunakan tangan, justru Kanaya memilih menggunakan sendok. "Nggak usah pakai sendok, Neng. Makanannya kering. Lagian makan itu lebih sehat pakak jari," Nenek Ani memprotes. "Males." "Males kenapa?" "Males cuci tangan nantinya." Uhukk!!! Rifki tersedak. Adakah orang semalas itu? Cuci tangan aja males, apalagi yang lainnya? "Eh kamu kenapa? Keselek? Sini aku kasih minum, ya." Kanaya berubah baik kepada  Rifki. Kesamber apa tu anak? Dia bahkan menggunakan kata 'aku' bukan 'gue' lagi. Kanaya mencicikan air dari dalam teko ke gelas, dan diberikannya kepada Rifki. Hal itu membuat neneknya melongo. "Berarti ... Mandi juga males, dong?" tanya Rifki polos. Kanaya melotot. Rifki tersenyum seraya menggeleng. Pelototan Kanaya berangsur hilang begitu melihat senyum manis itu. Benar-benar mengalihkan dunianya. "Sama aja, nanti juga kamu harus cuci sendoknya," sahut nenek Ani. "Saya nggak bakal cuci sendoknya. Cuci sama Nenek aja. Asal Nenek tahu ya, seumur hidup saya nggak pernah megang spon." "Kenapa?" "Jijik megang gituan, nanti tangan gue jadi bau." Mang Edi menahan tawa agar tidak membuldak. Majikannya itu emang malu-maluin. Si kembar sibuk melahap udang goreng. "Om, nanti ajarin aku ngaji, ya?" pinta Sasha pada Rifki. "In syaa Allah." "In syaa Allah itu apa?" "Kalau Allah kasih izin." "Pasti kasih izin, kok! Kan Allah baik." Sangat disayangkan, besok juga mereka pulang, jadi Rifki hanya bisa mengajarinya malam ini. Semoga mereka tetap memiliki keinginan mengaji saat kembali ke Jakarta. "Gimana nanti kalau udah berkeluarga Neng kalau cuci piring aja nggak mau." "Kan ada pembantu. Pakai aja pembantu. Ribet banget." Dasar. Sofia sering memarahi Kanaya karena dia malasnya kebangetan. Dulu pembantu di rumah sedang pulang kampung, jadi semua pekerjaan rumah harus dikerjakan oleh Sofia. Bukannya membantu, Kanaya malah sibuk nonton drama Korea, ngerem di kamar sambil ketawa sama nangis. "Kana, gimana nanti kalau kamu berumah tangga? Cuci baju nggak bisa, cuci piring nggak bisa. Apa-apa nggak bisa. Bahkan kamar juga Mama yang beresin." "Kan bisa pakek jasa pembantu kayak Mama?" "Itu karena sekarang Mama udah sukses, dulu nggak kayak gini, Kana. Dulu Mama sama Papa juga susah. Kita membangun ini semua dari nol. Kamu tinggal terima enaknya aja." "Pokoknya harus pakai pembantu!" Kanaya tetap bersiskukuh. "Mending kalau nanti suami kamu kaya, kalau nggak?! Sengsara tuh hidup kamu!" "Ih kok Mama doain gitu, sih? Mama ngedoain aku supaya dapet suami kere? Doannya yang baik-baik dong, Ma." "Bukan begitu, tapi Mama pengin kamu jaga-jaga. Lagian kamu kepedean bakalan dapet suami kaya. Jangan kaget ternyata nanti suami kamu itu orang plosokan di kampung cisurupan! Nanti kalau mau nyuci harus mepet ke sungai, kalau mau mandi harus ngantri sama penduduk lain, iih." Sofia bergidik. Kanaya terlonjak mendengar ucapan mamanya sendiri. "Mama jahat, deh!" "Lagian kepedean banget, sih." "Harus pede, dong! Pokoknya suami Kana nanti harus ganteng sama punya duit. Udah itu doang. Pokoknya dia wajib beli drama Korea setiap hari. Mahar juga bisa pakek drama Korea serarus judul. Asal bulan madu-nya ke Korea." Sumpah Sofia ingin menjedotkan dipindahkan ke tembok. Ya Allah, punya anak gini-gini amat. 23 November 2018 15 Rabi'ul 14 40H
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN