بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Mau tidak mau Kanaya harus turun, percuma diam di dalam, mobil tidak akan pernah maju. Si kembar turun dengan ceria dan bersemangat, lambung mereka siap menerima cilok andalan. Mereka berseru, akhirnya bisa makan cilok yang kemarin.
"Mang, coba dong benerin sama mang Edi, siapa tahu nanti nyala!" Kanaya berkacak pinggang, dia benar-benar menyesali kesialan yang dialami. Wajah gadis itu merengut, mana hari mulai panas, bisa-bisa kulinya gosong. Setelah sekian lama diam di rumah hanya untuk meminta kulit putihnya, harus lumer dalam satu hari.
"Ateu ayo beli cilok, kita nunggu yang berdagang di sana." Sashi menunjuk minimarket yang ada di seberang. "Pasti nanti yang jualannya lewat."
Sashi ikut-ikutan ikut. Kanaya mendorong tujuh keliling. Bagaimana ini? Bagaimana jika mereka tidak akan pernah bisa pulang ke Jakarta? Bagaimana jika mereka selamanya akan tinggal di sini? Bagaimana jika mereka dipindahkan jadi gembel? Bagaimana jika meminta mereka untuk meminta izin di tempat rekreasi?
Bagaimana Bagaimana Bagaimana
Kata itu terus berkeliaran di kepala Kanaya. Tanpa menggubris ajakan si kembar yang menginginkam cilok, Kanaya malah berjongkok dengan wajah nelangsa. Harapan untuk tiduran di kasur sambil nonton drama Korea dan ngemil harus dikubur dalam-dalam.
Si kembar mulai kesal, tantenya tak kunjung menuruti permintaan mereka.
Akhirnya Kanaya menengok ke samping, dia menemukan bengkel tempat mobilnya diperbaiki. Kebetulan ada pegawai yang sedang memperbaiki sepeda motor. Sontak hidung Kanaya mengembang-kempis. "Pasti dia nggak bener nih benerin mobil gue! Oke, gue mau minta ganti rugi! Dia udah nipu gue! Gue nggak bisa diginiin!"
Kanaya beranjak, si kembar mendongkak menjangkau kepergian tantenya yang entah akan ke mana.
Namun, tak lama kemudian, sepasang mata mereka membulat, di sana sedang terjadi konfrontasi sengit antara Tante dengan pegawai bengkel. Terdengar suara Kanaya yang melengking dan menggelegar.
"HEH! LO BISA NGGAK SIH BENERIN MOBIL GUE?! KENAPA SEKARANG RUSAK LAGI?! PASTI LO CUMA PENGIN DUITNYA DOANG, KAN? KEMBALIIN DUIT GUE! KEMBALIIN! INI NAMANYA NGGAK ADIL! INI NAMANYA PENIPUAN KELAS KAKAP!" Kanaya menarik-narik kerah baju si lelaki berumur lebih tua darinya yang menggunakan kaus hitam itu dengan emosi menggebu. Mirip orang yang kerasukan jin tomang. Tanduk delusi warna merah sudah muncul di atas kepala, hidungnya mengeluarkan asap. "KEMBALIIN DUIT GUE!!! KEMBALIIN, PAK! BUAT APA GUE BAYAR KALAU UJUNG-UJUNGNYA MASIH RUSAK, HAH? KEMBALIIN DUIT GUE PAAAK!! DASAR TUKANG TIPU! UANG MAU TAPI KERJANYA NGGAK BENER!"
Si tukang bengkel gagu, hari apa ini? Siang atau malam? Mengapa bisa-bisanya dia diserang nenek lampir?
Mang Edi berusaha melerai, dia menjauhkan Kanaya yang masih berontak dari tukang bengkel itu dengan sekuat tenaga. "Mbak istigfar, Mbak, istigfar, ya Allah mbak Kana."
"GUE NGGAK BISA DIGINIIN!"
Sambil menahan Kanaya, mang Edi berupaya meminta maaf pada tukang bengkel itu.
"MANG NGAPAIN MINTA MAAF SAMA DIA?! DIA YANG HARUSNYA MINTA MAAF! DIA YANG UDAH BIKIN KITA RUGI!"
"Ateu ayo beli ciloooook!!" Tahu-tahu Sashi sudah ada si sebelah Kanaya, merengek sambil menyebut nama cilok yang mungkin tidak akan pernah kelar. Suasana semakin keruh, gaduh, kacau, rusuh, gempar. "Ateu pengin ciloooook, ih! Ayoo buruaaan!! Kami lapaar. Cilok mana ciloook."
Tak tahan dengan kelakuan dua keponakannya, juga masalah mobil butut yang kerjanya mogok, Kanaya pingsan di tempat.
Refleks kedua keponakannya terkejut. Mulut mereka menganga sempurna. Mata besar mereka semakin besar, nyaris keluar dan menggelinding ke bawah.
Gara-gara ulah Kanaya, orang yang sedang lewat di sekitar itu memilih untuk menonton drama singkat menegangkan itu dengan ekspresi luar biasa keren. Mereka yang ada dibengkel sukses menjadi bintang film dadakan.
Salah satunya Rifki, dia yang mendengar keributan mengikuti arah suara. Dia berdiri bersama yang lain, melihat bagaimana ributnya Kanaya, dan itu semua berhasil membuatnya diam seribu bahasa. Mulutnya sedikit terbuka mementuk huruf 'o' kecil.
"Ya Allah gimana ini, mbak Kana pingsan." Mang Edi mulai belingsatan.
Tak tega melihat ekspresi mang Edi yang kalut dan gelisah menghadapi majikannya yang aneh dan lumayan menyebalkan, Rifki menghampiri. "Bawa ke rumah saya aja, Pak."
"Beneran, nih, A?" Mang Edi seakan mendapatkan malaikat penolong yang datang tepat waktu.
Rifki menganggukkan kepala. Bagaimanapun dia pernah mengajak mang Edi mampir ke rumah, mungkin ini saatnya untuk menepati janji.
"Ateu jangan mati!!! Ateu jangan tinggalin kami, kami janji nggak akan nakal lagi. Ateuuu buka matanya, jangan matiii." Si kembar menangis sejadi-jadinya, membuat suasana semakin geger parah. Orang-orang mulai bubar meninggalkan pijakan sambil misuh-misuh.
"Tapi kan harus jalan dulu, A? Pasti berat banget, saya nggak bakal kuat. Di mobil aja nggak papa."
"Deket kok, Pak. Rumah saya ada di perumahan Ragency, paling depan. Jadi nggak perlu jalan jauh. Kasian kalau di dalam mobil, nggak bakal enak."
"Oh iya, ayo. Makasih banyak, A."
Rifki pun mencoba menenangkan si kembar, dia memberikan iming-iming berupa cilok. Mata keduanya langsung berbinar, dan buliran bening masih menggantung di pelupuk mata mereka.
"Nanti juga Mang ciloknya ngelewat di depan rumah. Nanti kalian bisa beli sepuasnya."
"Tapi tante Kana baik-baik aja, kan? Ateu nggak bakal mati kayak orang tua kami?"
Apa? Orang tua mereka sudah meninggal?
Rifki menggelengkan kepala sambil tersenyum seolah menenangkan. Senyumnya itu berhasil membuat mereka berhenti menangis. Mau tidak mau Rifki membatalkan rencananya untuk latihan panahan di Islamic Centre.
Rifki tidak tahu, mengapa dirinya harus bertemu dengan mereka lagi?
Ah, baru kali ini Rifki melihat perempuan seberani dan sekasar itu. Kirain cuma di sinetron. Di dunia nyata pun ada, dan itu terjadi di DEPAN MATA. Sungguh LUAR BIASA.
Membuka mata dengan berat, Kanaya mendengar dering telepon di atas nakas. Dengan terpaksa dia bangun dari rebahan, melirik ponsel yang menyala. Diraihnya ponsel itu, yang ternyata panggilan dari 'Mama'. Kanaya yang masih merasa pening, memijit pelipis dengan wajah super malas.
"Halo, Kana, kamu di mana? Kalian udah ada dalam perjalanan pulang, kan?"
Kanaya berusaha memperjelas pandangan dan menghilangkan denyut di kepala. "Belum, Ma. Kita masih ada di Garut," lirihnya lesu, lemas, lapar.
"Lho? Kenapa? Bukannya kamu bilang sekarang udah mau pulang?"
"Mobil mogok, Ma. Gimana, dong? Aku nggak bawa uang lebih."
"Astagfirullah. Kenapa bisa mogok? Bukannya kemarin udah Mama kasih uang lebih? Ya udah tinggal bawa ke bengkel. Pasti di sana juga ada bengkel. Masa nggak ada."
"Iya si, Ma. Bengkel banyak, duitnya nggak ada. Dan ini mobilnya mogok dua kali. Jadi double. Sekarang mobil ada di bengkel, sebelum ada uang kita nggak bakal bisa benerin."
"Lah terus nanti kamu tidur di mana?"
"Di Afrika!"
"Hah? Di Afrika? Kok jauh banget, Kana? Bukannya kamu liburan ke Garut? Kenapa jadi ke Arfika? Ah kamu ngaco, deh!"
Kanaya menghela napas, sebisa mungkin menahan kekesalan yang mendadak naik ke permukaan. Sumpah dia menyesal telah mengeluarkan guyonan itu pada sang Mama.
"Emang kamu berani ke luar negeri? Emang kamu punya paspor? Harusnya ngajak Mama, dong!"
"Ah! Mama nggak bisa diajak becanda."
"Ini waktunya lagi genting, nggak ada waktu buat becanda. Makannya Mama anggap serius. Kebiasaan kamu, ditanya sama orang tua selalu begitu. Nggak sopan tau. Lagian kamu pakek becanda segala. Apa kamu bisa serius, Kanaya Putri Wardana?!"
Begitulah Sofia, kalau sedang marah level lima pada putri bungsunya yang selalu ingin dimirip-miripkan dengan Park Shin Hye, pasti memanggil nama panjangnya dengan gamblang.
"Iya-iya, maaf, Ma. Khilaf."
"Ya udah sekarang jawab Mama, kamu nanti tidur di mana?"
"Di rumah siapa ini ya, nggak tau." Kanaya mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang menurutnya kecil dan asing. "Nggak tau ini di mana, alam lain kali."
"Ya Allah, Kana! Ngomongnya jangan sembarangan. Kamu sekarang di mana?"
"Ya Allah, Mama. Ini di mana, ya?" Kanaya mulai histeris.
"Astagfirullah, malah balik nanya."
"Anjir ini di mana gue!" Otak Kanaya baru connect setelah sekian lama lola alias loading lama kayak signal three. Tiba-tiba dia memutuskan sambungan telepon secara sepihak padahal saat itu Sofia masih bertanya dengan nada tak kalah heboh.
"Ih, ini gue ada di mana?! Jangan-jangan, gue diculik lagi. Emang dasar ya, cewek cantik banyak yang ngincer."
Cepat-cepat Kanaya melompat dari atas ranjang, lalu keluar dari kamar. Kalau dia emang beneran diculik, maka Kanaya akan menghajar si penculik itu sampai babak belur dan berakhir di tanah merah.
Sepi. Ruangan yang dipijaknya sekarang kosong melompong, hanya ada tivi mati dan kursi yang tidak diduduki siapa pun.
Kanaya pun melangkah ke ruangan lain, dia melihat seseorang, ya, dia melihat seseorang! Dia sedang melangkah ke arah dapur, mungkin.
Kanaya pun mengambil tindakan, dia yakin betul, pasti lelaki itulah yang telah menculiknya. Dengan berang Kanaya menarik kerah baju itu dari belakang tanpa pikir panjang. "Ehhh lo mau culik gue, ya?! Nggak akan gue biarin lo berkeliaran di dunia ini!!"
Tubuh cowok itu tertarik ke belakang.
Kanaya memekik.
BRUK!
GUBRAK!
Dua pasang mata berserobok.
Keduanya terjatuh. Posisi Kanaya berada di atas tubuh lelaki yang tadi ia tarik kerah bajunya. Otomatis pandangan mereka bertemu, amarah yang tadi menyelubungi lumer berganti bunga-bunga yang beterbangan tertiup angin asmara. Kanaya merasa sedang ada di taman, dan di sana ia bertemu dengan jodohnya. Kanaya meneguk saliva dengan susah payah. Lebih baik diteguk, daripada dikeluarin, kan bahaya, karena saat ini Kanaya benar-benar tidak tahan melihat ketampanan cowok di bawahnya ini. Mirip pangeran hedonis. Ia pikir Indonesia sudah kehabisan stok cowok ganteng, eh ternyata nyelip di kota Garut. Geraham Kanaya mengetat, seperti menahan sesuatu agar tidak meledak-ledak.
Gila, ganteng banget ternyata. Beda jauh sama dua cowok yang deketin gue waktu di Darajat. Kalau diculiknya sama dia, gue rela, kok. Kan ujungnya bisa jadi cinta kayak cerita novel.
Walaupun nggak seganteng oppa Korea, tapi dia nyata ada di depan gue.
Fix, dia ganteng. Gue meleleh. Gue meleleh. Papa, Mama, mungkin inilah calon mantu kalian.
Cepat-cepat lelaki yang tak lain dan tak bukan Rifiki itu menyingkir seraya beristigfar beribu kali, praktis Kanaya terguling ke samping. Dia meringis, sebab sikunya terbentur dengan lantai. "Ish, kasar banget, sih!" Kanaya berusaha berdiri.
Wajah Rifki memerah seperti tomat. "Maaf, nggak sengaja, Teh."
"Seneng banget sih manggil gue Teteh! Gue bukan Teteh lo!"
"Emang umur Teteh berapa tahun?" Rifki mencoba basa-basi, untuk menghilangkan kegugupan atas insiden tadi. Sungguh dia benar-benar menyesal, karena telah bersentuhan dengan yang bukan mahram. Gestur tubuh lelaki itu berubah kaku. Salah tingkah dan gemetar. Selama ini dia belum pernah berinteraksi sangat dekat dengan lawan jenis, tapi tadi, Ya Tuhan, Rifki merasa berdosa. Semoga Allah memaafkan. Semua itu terjadi di luar kendali.
"Umur gue baru 22. Inget, baru 22, OKEY?!"
"Umur saya 21, jadi pantes manggil Teteh, biar sopan."
"Dih masih brondong ternyata, Hahahaha...." Kanaya terbahak-bahak. Rifki bengong melihat reaksi si cewek Jakarta yang terlihat berlebihan dan eneh itu Tanpa dia sadari, bahwa Kanaya sedang berusaha menahan debaran di jantungnya yang melebihi batasan normal. Bisa bahaya kalau dia kelihatan gugup.
Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?
Nyata adanya.
Apa yang mustahil menurut Kanaya ternyata salah. Dia selalu berpikir, mana ada namanya cinta pada pandangan pertama? Bukankah semuanya harus melalui proses panjang baru cinta itu tumbuh?
Tapi hari ini, detik ini, ia mengalaminya sendiri.
"Bisa nggak manggilnya yang lebih elit dikit, misalnya Kakak. Kakak syantik." Kanaya menatap Rifki lebih dekat, lalu mengedipkan sebelah mata dengan centilnya.
Cantik-cantik kok alay, ya? Itulah ekspresi yang terpancar di wajah Rifki. Cepat-cepat Rifki membuang muka.
"Eeh, nggak usah, deh. Cuma beda setahun ini, panggil gue Mbak aja. Lagian wajah gue kayak umur 15 tahunan," katanya dengan percaya diri.
Rifki pun menganggukkan kepala. "Iya, saya minta maaf kalau panggilan saya menyinggung. Iya, Mbak." Rifki berusaha menjaga pandangan, beberapa kali dia mengucapkan istigfar karena matanya selalu bertemu dengan wajah Kanaya yang memang mengundang s*****t. Benar, wanita adalah ujian terberat untuk kaum lelaki. Tahan. Tahan. Tahan. Labuhkan mata itu pada sesuatu yang halal.
Kanaya memerhatikan lelaki di depannya yang terlihat kaku itu. "Lo jijik ya sama gue? Tiap ngomong sama gue pasti nggak liat wajah. Iya gue tau gue galak, tapi gue nggak bakal gigit, kok. Wajah gue juga enak dipandang. Sayang kalau nggak diliat."
"Justru karena enak dipandang, jadi saya ngerasa nggak berhak."
"Maksudnya?"
"Oh ya, sopir Mbak ada di bengkel. Saya udah minjemin uang biar bisa bayar. Untuk sementara kalian bisa nginep di sini sampai mobilnya berhasil dibenerin."
Kembali Kanaya menelan liur. Jadi sekarang ini dia ada di rumah lelaki yang sudah ia anggap penculik ini? Dan dengan berbaik hati dia mau menampungnya? Oh, mengapa ia baru menyadari sekarang? Apa yang terjadi tadi? Ke mana si kembar?!
"Keponakan Mbak lagi nungguin tukang cilok di depan minimarket itu, ditemenin sopir Mbak. Mereka keukeuh pengin beli cilok yang kemarin."
Kanaya menangkup wajah dengan kedua telapak tangan. Demi cilok mereka rela menunggu?
"Ya udah, permisi, Mbak. Saya mau ke Masjid."
"Ngapain? Ini bukan hari jum'at, ngapain ke Masjid?"
"Salat Zuhur. Mbak juga belum mau salat, kan?"
Terdengar kumandang azan. Tadinya Rifki yang akan mengumandangkan azan, tapi keduluan gara-gara harus meladeni Kanaya dulu.
"Belum, sejak lahir gue belum pernah salat," jawab Kanaya dengan lempengnya. Entah itu jujur atau bohong. Hanya Kanaya dan Allah-lah yang tahu.
Rifki tercengang luar biasa.
"Agama ....?" Rifki bertanya dengan sangat diplomatis. Salah meminta dan meminta sebaliknya menyinggung. Jika tidak salat, artinya sebaiknya bukan Islam.
"Agama gue Islam."
"Ya udah salat dulu, Mbak."
"Laki-laki."
Astagfirullah .
Maafin Kanaya yang alay
Masih mau baca?
20 November 2018
12 Rabi'l 1440H