3. Gara-Gara Cilok

2010 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠ Selamat membaca "Ateu nggak foto-foto? Bisa setiap kali Ateu jalan-jalan pasti difoto," tanya Sashi yang sudah mengenal tantenya sejak dulu. Ke mana pun mereka pergi, pasti si kembar melihat tante centilnya berselfie ria dengan berbagai macam gaya. Ada yang menjulurkan lidah, memanyunkan bibir, mengedipkan sebelah mata entah apa maksudnya, entah perih atau memang bintitan sebelah. Dan yang paling membuat mereka bergidik ngeri, tantenya pernah bergaya menyerupai valak. Kanaya tidak menjawab pertanyaan mereka. Ya kali udah mau Magrib begini selfie . Dia juga tahu waktu. Malam ini mereka akan menginap di penginapan yang terletak di Darajat Pass. Begitu mobil sudah mulai sampai pada tujuan, si kembar jatuh tertidur. Kanaya menghela napas, mereka selalu saja membuat ubun-ubun mendidih. Sabar Kana, sabar. Orang sabar pantatnya besar, eh. Pagi-paginya, si kembar telah berada di kawasan taman air dengan raut bahagia dan senang luar biasa. Akhirnya setelah sekian lama, mereka bisa berenang bersama wahana waterboom yang menhasyikan. Sementara Kanaya cemberut, sumpah dia paling malas yang disebut berenang, diminta jika sudah mulai proses bilas, harus mengantre dengan yang lain, udara untuk mandinya panas pula. Air dingin shalat. Air panas salah. Maunya apa? Di sana, banyak sekali pengunjung, kolam pun terlihat sangat ramai, anak-anak dengan riangnya bermain perosotan. Mentang-mentang hari libur, pagi-pagi udah bejibun. "Ateu, ayo!" Si kembar menarik tangan tantenya menuju kolam yang ember tumbahnya sedang berhambur ke bawah. "Nggak mau, ah! Kalian aja berdua!" Otomatis mereka memasang wajah sendu, dan membuat Kanaya tidak tega. Nanti kalau mereka ilang kan bisa repot. Walaupun Kanaya tidak pernah menutup aurat dengan sempurna, tapi dia tidak pernah mau memakai baju seksi macam bikini, termasuk renang, dia masih tetap berpakaian sopan. Kaus pendek warna putih, juga celana yang menutupi setengah paha, warna pink. Oke, abaikan warna kesukaan Kanaya yang terbilang alay. Ketika Sashi akan menaiki wahana perosotan yang cukup tinggi, dia memaksa Kanaya untuk menaikinya juga. "Enggak mau, ih, enggak! Tante takut, jangan naik itu." "Kalau Tante nggak mau kita bakalan nangis, semua orang bakal nyangka Ateu udah jahat sama kami. Emangnya Ateu mau? Ayo Ateu, ikut." "Nggak mau, ih!" "Sekali aja." Dengan sangat terpaksa, Kanaya naik dan siap terjun ke bawah. Di belakang sudah banyak anak yang mengantre, juga kesal karena yang berada di posisi paling depan belum juga meluncur. Ya ampun, s**l banget hidup gue, dikelilingin sama bocah-bocah yang nyebelinnya nggak ketulungan. Kanaya tergelincir di perosotan, menjerit dengan suara seperti kejepit pintu, jantungnya berdetak abnormal, dan byur! Tubuhnya tercebur ke bawah, gelembung air masuk ke mata, telinga, dan hidungnya. Kanaya batuk-batuk. Rasanya ingin berkata kasar! Beruntungnya air terbilang dangkal karena memang kolam dikhususkan untuk anak-anak. Di atas, si kembar cekikikan melihat keadaan tantenya yang basah kuyub dan memprihatinkan. "Aku nggak berani, ah. Kamu aja," ucap Sashi ngeri. "Aku juga nggak berani." "Ya udah, nggak jadi turun, balik aja lagi, yuk. Ini kan perosotan paling tinggi, dari dulu kita nggak pernah berani naik." Keduanya memasang ekspresi ngeri. Sasha mengangguk-anggukkan kepala. Mereka pun kembali turun dengan raut watado (wajah tanpa dosa). Mereka yang memaksa tantenya untuk meluncur di perosotan itu, tapi merekanya sendiri yang takut dan mundur. Dari dulu Kanaya paling anti naik perosotan di kolam renang, itu bisa membuat jantungnya loncat-loncatan dan ikut tergelincir ke bawah. Kan bahaya. Setelah mengusap-ngusap wajah yang dibaluri bulir air, Kanaya melihat ke atas, dia tak melihat si kembar meluncur. Ke mana mereka? Tahu-tahu, mereka sudah berada di bawah, menghampiri Kanaya dengan rambut yang masih kering. "Gimana rasanya Ateu? Seru, nggak?" Kanaya tercenung. "Tadi kita udah liat reaksi Ateu, kelihatan takut gitu. Ya udah kita nggak jadi turun." Keduanya cengengesan, salah satu dari mereka ada yang ompong. Kanaya menggeram, buku-buku jarinya sampai terlihat dengan jelas. Di kepalanya seperti tumbuh dua tanduk yang mengepulkan asap. Si kembar yang paham dengan raut wajah sang tante langsung kabur. Mereka saling mengejar dalam kolam, dan pada akhirnya ketiganya tertawa bahagia bersama cipratan air, air dalam ember di atas pun beberapa kali mengguyur kolam. Kebahagiaan sederhana. Kanaya senang, bisa membuat mereka tertawa tanpa beban. Setelah puas berenang, mereka memakan pop mi bersama, mengisi perut yang sebelumnya kosong. Sampai pada waktunya tiba untuk pulang, mereka kembali duduk di mobil. Sepertinya pemandangan di kawasan Darajat ini memang sangat indah, menawan sejauh mata memandang. Lahan hijau terhampar luas, langit biru membingkai hingga menimbulkan pemandangan perpaduan dua warna. Awan putih ikut bergelayut, menyempurnakan panorama. Ketika kaca mobil dibuka, angin segar berembus, menyapu wajah, dan menerbangkan rambut. Kemarin mungkin karena keadaannya gelap, jadi Kanaya tidak bisa melihat keindahan itu. Tapi sekarang, di siang hari yang cerah ini, dia bisa melihat semuanya dengan sangat jelas, bak permadani taman Surga. Pemandangan seperti ini tidak pernah ia lihat di Jakarta. Udara di sini sangat sejuk, berbeda dengan di kota yang sudah kotor akibat tercemar asap kendaraan dan limbah pabrik. Sepertinya kalau foto-foto hasilnya bisa bagus. Baiklah, Kanaya akui, suasana di kampung lebih menyejukkan dan menenteramkan hati. "Mang, berhenti dulu, saya pengin foto-foto." "Kita juga mau, kita juga mau!!" sorak si kembar tak mau ketinggalan. Mang Edi pun menepikan mobil, tepat di tempat yang menyuguhkan pemandangan paling sempurna, tampak gunung besar terlihat dari kejauhan. Angin sepoi menggoyangkan dedaunan. Benar-benar segar, bersih, dan asri. Kanaya mulai memotret foto selfie-nya. Setiap ada pengguna motor yang lewat, terutama kaum adam, pasti menyempatkan mata untuk menengok ke samping, ke tempat di mana Kanaya berfoto-foto dengan gaya alaynya. Bukan, bukan karena itu mereka melihat Kanaya dengan begitu antusias, tapi karena mereka terpesona dengan kecantikan yang gadis kota itu miliki. Sebab baru kali ini ada perempuan berwajah secantik Kanaya mampir ke tempat ini. Kanaya sering memosting foto-fotonya itu ke i********:, followers-nya sudah mencapai 100K. Lumayan banyak. Kanaya benar-benar eksis di dunia maya, dia mengekspor wajah cantik dan imutnya itu ke orang banyak. Dia juga senang ketika jumlah likes pada fotonya selalu mencapai ribuan. Pujian-pujian beruntun pun kadang memenuhi kolom komentar, yang semakin membuat Kanaya yakin kalau wajahnya emang kelewat cantik mirip Park Shin Hye. Tapi sebenernya beda jauh. Tahu Amanda Rawles? Iya, Kanaya lebih mirip aktris itu. Wajahnya imut-imut gimanaa gitu. Hidungnya mancung, dagunya terbelah dua, matanya tidak besar tidak juga sipit. Warna kulitnya kuning langsat. Beda sama Park Shin Hye. Haluan Kanaya memang ketinggian. Lelaki memang tak pernah bisa menahan nafsu ketika melihat perempuan, terutama kalau perempuannya memiliki paras yang sangat cantik dan elok. Lagi-lagi fisik menjadi penilaian utama para kaum Adam. Itulah mengapa, wanita suka sekali mempercantik diri agar dilirik oleh pria yang disukainya. Bahkan ada yang sampai mengeluarkan banyak biaya hanya demi melakukan operasi. Yang pesek dimancungin, yang mancung dipesekin. Yang hitam diputihin, yang putih dihitamin. Nggak bersyukur. Sekalian aja dimerah-putihin biar kayak bendera pusaka. Diakui negara dan seluruh bangsa Indonesia. Kan laku jadinya. Atau hitam-putih biar kayak monokorobo yang imut. Eh omong-omong, monokorobo udah nggak laku, ya? Ya udah putih-merah aja biar dikenang sepanjang masa. Di antara kaum lelaki yang lewat, ada yang hanya menyapa, ada juga yang nekat mendekat. Barangkali mereka memiliki mental kuat. Seperti sekarang ini, dua orang cowok nekat turun dari motor hanya untuk menyapa Kanaya. Emang terniat mereka. Kalau lihat yang cakep pasti langsung diembat. Pede amat lagi. Mang Edi dan si kembar sedang membeli cilok yang kebetulan ada di sekitar jalan itu. "Eh, mau ngapain kalian?!" hardik Kanaya yang merasa kesal karena aktifitas selfie rianya terganggu gara-gara dua cowok itu tiba-tiba menghampiri. "Kenalan, dong." Kanaya membulatkan kedua bola mata. Kenalan? Apa dia nggak salah denger? "Kenapa?" "Berdiri di sana! Jangan deket-deket. Lagian siapa juga yang mau kenalan sama cowok orang sini? Iih itu bukan level gue. Tuh, level gue ada di Korea Selatan. Udah ah sana-sana! Ganggu banget, sih!" "Dih, gayanya Korea. Belagu banget." "Gue yang belagu emang masalah buat lo?! Hah?! Terserah gue, dong. Masalah buat lo?!" Kanaya nyaris melepas sepatunya untuk dilempar ke wajah mereka yang item itu. "Uuuh dasar cewek sombong! Belagu amat, Neng! Dasar orang Jakarta! Jiga nu pang geulisna we! Awewe mah loba, Neng!" (1) Kanaya mengernyit mendengar ucapan mereka yang terakhir lantaran terdengar aneh dan janggal di telinga. Ngomong apaan, sih? Gaje banget. "Dasar orang kampung! Kamseupay, iyyuh udik payah!" balas Kanaya tak kalah sengit. "Woy! Jakarta lebih keren woy! Garut cuma punya gunung putri aja belagu!" Serta-merta Kanaya menutup mulut ketika menyadari sesuatu. "Eh kok gue ngikutin omongan geng alay di sinetron jadul itu, sih? Ih kan gue anti sinetron Indoensia," protes dirinya sendiri. Kanaya kembali meralat. "Paboooo!!! Paboooo!! Paboo!!" (2) Dia melipat tangan di atas d**a, merasa keren karena menggunakan bahasa Korea untuk menghina. Kan lebih berbobot dan terdengar elegan. Sebenarnya Kanaya ingin bicara lebih, tapi hanya itulah umapatan bahasa Korea yang ia tahu. Dua lelaki itu masih mengumpat seraya naik kembali ke atas motor. Kanaya tidak peduli disebut cewek galak, s***p, atau apalah itu. Asalkan dia selamat. Sebab itulah cara dia menolak interaksi dengan lawan jenis yang menurutnya buaya darat. "Udah foto-fotonya, mbak Kana?" tanya mang Edi yang ternyata ikut-ikutan beli cilok juga. Aduh kayak bocah aja. Enak ya, Mang? Pasti gurih-gurih nyoi. "Mbak mau ciloknya? Enak lho, Mbak." Terlihat mang Edi begitu menikmati ciloknya yang hanya dibaluri kecap hitam. "Semenjak pindah ke Jakarta, saya sudah jarang beli cilok dengan rasa seperti ini. Isinya ada abon, enak." Kanaya mendelik. Plis, mereka datang ke sini hanya untuk berenang, bukan untuk membeli cilok dan memujinya setinggi langit. Orang bentuknya cuma bulet doang, apa istimewanya coba. "Wihh mantep ini ciloknya, ya nggak neng Sashi?" "Enggak, Mang. Nggak enak, beda sama yang Om kacamata beliin kemarin. Ya kan, Sha?" tanya Sashi pada saudari kembarnya. Dia menganggukkan kepala setuju. "Iya, beda, ah. Nggak kayak yang kemarin. Nih, buat mang Edi aja." Sasha memberikan ciloknya ke mang Edi, begitupun dengan Sashi. "Asyiik, rezeki nomplok." Mang Edi kegirangan. "Ya elah Mang cuma cilok." "Kan saya jarang makan, Mbak." Sashi dan Sasha memasang wajah sebal, mereka gagal makan cilok yang enak. "Terus maunya gimana?" tanya Kanaya frstrasi, si kembar terus saja mengeluh. Ya Allah, masalah cilok aja dipermasalahin. "Kita mampir ke tempat kemarin! Pasti tukang ciloknya bakal lewat, Ateu. Pokoknya harus ke sana. Pokoknya harus ke sana. Mumpung masih ada di Garut. Kalau belum beli cilok yang itu, kita nggak mau pulang." Keduanya kompak menggelengkan kepala tak terbantahkan. Kanaya mengembuskan napasnya lewat mulut, ingin berteriak sekencangnya pada langit. Hentikan semua ini ya Tuhaan! Eh, lebay, ya. Tak lama kemudian, tanpa menjawab permintaan si kembar, mereka sudah berada di mobil kembali, melanjutkan perjalanan yang sempat terputus. Kanaya sudah tidak sabar untuk sampai ke rumah dan menghempaskan tubuh di atas kasur yang empuk. Kembali nonton drama Korea dan melihat oppa-oppa yang gantengnya melebihi batas normal. Mungkin sewaktu melihat oppa Korea, kepenatan yang ia rasakan bisa hilang. Semacam moodboaster. Banyak sekali hal menyebalkan yang ia alami di kota Garut ini. Kanaya tidak menyangka, ternyata di kota ini memiliki cowok ganteng dan sopan. Ia pikir tidak ada. Wajahnya setara dengan artis Indonesia, walaupun sebenarnya masih jauh dengan oppa Korea. Sedari tadi Sasha dan Sashi memokuskan pandangan ke jendela, mereka akan menghentikan mang Edi jika mobil berada di kawasan minimarket kemarin. Benar-benar kelewat teliti. Biasanya mereka hanya akan bersiteru tentang laju kecepatan antara mobil dan motor, manakah yang lebih cepat, mobil atau motor, sekarang beda lagi. Semuanya demi cilok. "Di sini, Sasha! Di minimarket yang ini." "Bukan, masih jauh!" "Atau di sebelah sana." Sashi menunjuk ke arah kiri. "Minimarketnya ada di sebelah kanan, Sashi! Di sebelahnya ada tukang bakso yang jualannya nenek-nenek uban putih." Kanaya melirik Sasha, dih kok detail banget tu bocah? Kedua sejoli itu terus terlibat cekcok selama perjalanan, mulutnya terus bicara tanpa jeda. Sampai membuat Kanaya memohon agar tak ada satu pun yang ngeh dengan minimarket itu. "Nah! Mang Edi, berhenti. Itu minimarketnya!" Sashi menunjuk ke pinggir jalan. Dia yakin betul bahwa itulah minimarket yang kemarin ia kunjungi untuk membersihkan kotoran. Kanaya mendecakkan lidah. Yang lebih parah, mang Edi malah mengikuti perintah si kembar. Kanaya semakin dibuat murka tingkat dewa. "Mang jangan berhenti, Mang! Jangan, Mang!!" "Duh, Mbak, nggak berhenti disengaja, cuma kayaknya mogok lagi, deh." "Jangan becanda, Mang! Masa mogok di tempat yang sama, sih?! Nggak masuk akal, nggak lucu ini. Sumpah nggak lucu." "Asli, Mbak. Nih potong kuping saya kalau nggak percaya." "Apaan sih, Mang. Nggak nyambung." "Serius, Mbak." "Pasti nggak bener ini, pasti nggak bener. Kita nggak ada uang, Mang buat ke bengkel. Aaah, Mang Ediiii !!" "Asyiiiikkkk !!" Si kembar senang bukan kepalang. Ket. (1) Kayak yang paling cantik aja. Perempuan itu banyak. (2) Bodoh / Idiot - Pelan-pelan aja, ini alurnya akan lambat. Semoga sabar menunggu. Yang nanyain ke mana Indri dan Aisyah yang tak kalian temui di DBN 2, di syaa Allah mereka akan muncul di cerita ini. Yang kangen Aiza juga boleeh. Tapi nggak akan lama. Cilok cilok cilokk Gara-gara Rifki beliin cilok jadi beli meleber. 18 November 2018 10 Rabi'l 1440H
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN