بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠
⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠
Selamat membaca
Dengan sangat melepaskan Kanaya keluar dari mobil, membawa Sasha yang sudah membuang kotoran mahabau di celananya. Beruntungnya mobil berhenti di depan minimarket, Kanaya akan membersihkan celana Sashi yang baunya seperti jurig. Tau jurig? Itu loh sebutan untuk setan versi orang Sunda. Kenapa sih setiap pergi ke mana-mana Sasha atau Sashi pergi buang air melulu? Apa itu sudah menjadi hukum alam? Kanaya menggerutu tak henti-hentinya dalam hati. Dua keponakannya selalu merepotkan.
Anak kandung masih membaik, karena itu memang memerlukan. Tapi keponakan? Haruskah saya belajar ikhlas seikhlas ikhlasnya?
Kanaya memohon pada Tuhan agar penjaga kasir tidak mencium bau tidak sedap yang diambil dari keponakannya ini. Dalam pelukannya ganti baju milik Sashi yang sengaja dilakukan untuk ganti baju selama satu hari. Karena niatnya mereka akan menginap selama satu malam di hotel.
Setelah mereka ada di toilet, Kanaya menyuruh Sashi untuk diam di dalam jangan pergi ke mana-mana, sedangkan dia akan keluar untuk membeli sabun.
Kanaya berdiri di depan meja kasir, ia hanya membeli sabun cair membeli kecil. Dan bisa dipastikan, sabun itu akan langsung habis.
"Mbak, boleh minta plastik yang besar?"
"Oh, boleh, Mbak."
Sedangkan di luar, sang sopir yang bernama mang Edi berhasil menyalakan mobilnya, tapi ia tak yakin mobil akan kuat sampai ke tempat tujuan. Sebab perjalanan masih jauh, saat ini mereka masih ada di daerah Samarang. Kebetulan di seberang minimarket ada bengkel. Dia pun membawa mobilnya ke sana.
"Neng Sashi tunggu, ya? Mang Edi mau keluar sebentar. Pesan mang Edi pada Sashi yang duduk di jok belakang. Dia menganggukkan kepala.
Saat mang Edi sedang mengobrol dengan tukang bengkel, Sashi keluar dari mobil tanpa sepengetahuan mang Edi. Habis dia kesal berlama-lama ada di dalam mobil. Panas.
"Tante sama Sasha kok lama banget, sih?!" bocah itu garuk-garuk kepala. Dia yang ingat kalau tante dan kakaknya masuk ke minmarket di seberang, nekat menyeberangi jalan.
Beruntungnya Sashi, dia berhasil menyeberangi jalan, walau banyak dari pengendara motor yang protes lantaran jalan Sashi yang lemot dan membahayakan.
Tiba di minimarket, dia celangak-celinguk, karena tak menemukan tante dan saudara kembarnya. Sashi memasang wajah nelangsa, air matanya nyaris merembes mirip anak ilang yang tersesat di swalayan.
Seorang pria yang baru selesai melakukan pembayaran di meja kasir, menghampiri anak kecil yang berdiri bengong di depan pintu tanpa tahu kalau di toilet sang tante sedang berjuang mati-matian melawan baunya kotoran Sasha yang melebihi e'e kuda yang sering ditemui di jalan.
"Kamu lagi cari siapa, Dek?"
"Ateu sama Sasha."
"Tapi tadi Om nggak liat siapa-siapa."
"Oh iya, Mas, mungkin yang dimaskud anak ini perempuan yang ada di toilet." Si mbak kasir berkerudung hitam dengan bibir merah merona menyahut. Ternyata dia diam-diam selalu curi-curi pandang pada cowok berkacamata minus itu. Tipe perempuan yang tidak bisa menjaga pandangan. Ganjen.
"Ya udah, kita tunggu aja di luar, ya. Nanti sebentar lagi juga keluar."
"Om temenin Sashi di luar ya, Om. Sashi takut."
Dia menganggukkan kepala, mengajak Sashi keluar dari minimarket seraya tersenyum. Anak perempuan itu sangat lucu dengan rambut keriting hitam legam. Kulitnya putih, juga matanya besar.
Ternyata oh ternyata, si mbak kasir masih menjangkau kepergian lelaki itu sampai tak berkedip. Dia cekikikan dengan teman satunya lagi.
Bagaimana tidak suka, hampir setiap hari lelaki itu mampir di minimarketnya. Lama kelamaan dia juga jadi tahu siapa namanya: Aa Rifki. Dia selalu bersikap ramah pada sesama.
"Ini buat siapa, Mas?"
"Buat Nenek saya."
"Ini buat siapa, Mas?"
"Buat Nenek saya."
Dasar kasir kepo!
Sepertinya setiapkali dia datang ke minimarket, pasti tujuan utamanya membelikan sesuatu untuk neneknya. Entah itu makanan atau kebutuhan lain. Benar-benar cucu idaman. Eh ralat, calon suami idaman.
Tak lama kemudian, Kanaya sudah keluar dengan wajah tak berbentuk. Seperti habis keluar dari tempat pembuangan sampah yang banyak lalat. Buru-buru dia memasukkan baju bekas Sasha ke dalam tong sampah yang tersedia. Sungguh demi apa pun Kanaya tidak sudi mencuci celana itu. Keadaan Kanaya sudah mirip orang yang sedang ngidam akut. Nyaris muntah-muntah tapi ia berusaha untuk tahan.
"Om, tuh Ateu-nya Sashi."
Pandangan Kanaya beralih pada sosok Sashi yang sedang bersanding dengan cowok asing. Kanaya mengerjapkan mata, lalu melotot, dia pun langsung menghampiri mereka. Ditariknya lengan Sashi dengan mimik waswas. Dia bersikap seolah makhluk yang ada di sebelah Sashi adalah gorila yang siap menerkam keponakannya yang mungil bin imut.
"Eh! Lo mau nyulik, ya?! Gue sih alhamdulillah aja kalau ada yang mau nyulik dua bocah ini. Tapi tetep aja, masalahnya bisa jadi berabe kalau sampai si kembar ini ilang."
Rifki hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Untung aja gue keburu keluar. Kalau nggak pasti lo bakal berhasil ngelarin misi lo. Secara, sekarang kan banyak berita tentang penculikan anak."
Rifki masih diam.
"Gue nggak bisa ngebiarin lo nyulik lagi. Ayo, ikut gue ke kantor polisi! Biar lo kapok dan nggak ngelakuin lagi ke anak yang lain. Lo harusnya kasian sama anak kecil, bukannya nyulik, terus dimutilasi, dijual deh ke luar negeri." Kanaya hendak membawa tangan Rifki, tapi dengan cepat Rifki mundur dengan hati-hati.
"Maaf saya bukan penculik, Teh." Rifki mengangkat kedua telapak tangannya, mirip tersangka yang diminta angkat tangan oleh polisi.
"Terus gue harus percaya, gitu? Mana ada sih maling yang mau ngaku?!" Kanaya berubah sewot.
Sedangkan si kembar malah asyik melihat tontonan di depannya.
"Oh, tangan gue habis bersihin e'enya Sasha, noh masih bau." Kanaya mencium bau tangannya dengan tampang masam. "Gue bisa aja nyentuh tangan lo sekarang juga biar nular baunya." Kanaya berusaha memegang tangan Rifki tapi Rifki tetap menghindar. Kanaya mengerling.
"Bukan mahram, Teh. Jangan sentuh-sentuh."
"Bohong, mana ada sih cowok yang nggak mau disentuh sama cewek cantik kayak gue. Udah nggak usah jaim gitu, deh. Sini gue pegang, nggak bau, kok. Ayo ikut gue ke polres!"
"Teh, istigfar, Teh. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan."
Gerakan Kanaya terhenti, lalu kemudian dia mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum kecut. Hari gini masih percaya dengan ancaman seperti itu? Haha rasanya Kanaya ingin tertawa ngakak. "Siapa yang fitnah? Gue ngomong fakta tau! Nggak usah bawa dalil-dalil gitu lah, nggak akan mempan! Yang ada lo yang dosa gara-gara udah bohong."
Rifki hanya tersenyum ngeri. Baru kali ini dia bertemu dengan perempuan songong seperti itu. Pasti orang Jakarta. Pikirnya.
"Loh, kenapa malah senyum? Gila, ya lo?"
"Saya cuma nggak mau membalas kejahatan dengan kejahatan lagi."
Kanaya cengo. Ni orang ngomongnya udah mirip kayak tokoh protagonis yang naifnya kebangetan di sinetron Indonesia.
"Barusan lo sama aja bilang kalau gue jahat. Harusnya lo ngaca siapa yang jahat. Jangan asal dong kalau ngomong. Emang gue jahatin lo apa? Gue cuma mau laporin lo karena lo emang salah."
"Hey, apa betul tadi saya nyulik kamu?" Rifki bertanya pada Sashi. Bocah itu langsung menggelengkan kepala. Rifki tersenyum, ternyata anak itu jujur seratus persen. "Nggak kok, Ateu. Om ini nggak nyulik Sashi."
"Hah?" Kanaya terperangah.
Rifki kembali memokuskan atensi pada Kanaya, tapi dia tak berani menatap wajahnya langsung, mata itu ia biarkan ke mana saja.
"Sekarang Teteh tahu kan? Kalau saya bukan penculik?"
"Iya, Ateu, Om ini bukan penculik. Dia yang udah nemenin Sashi di sini. Om ini juga udah ngebeliin Sashi ini. Enak, Tante, namanya cilok. Om, nanti beliin lagi, ya!"
"Aku minta, dong," ujar Sasha ilut-ikutan. "Ateu pengin yang kayak Sashi!" rengeknya kemudian pada Kanaya.
"Pasti kamu kena hipnotis, deh!" Kanaya menunjuk Sashi.
Rifki menggeleng-gelengkan kepala. Benar-benar ngeyel.
"Gimana, Teh? Masih nggak percaya? Anak kecil itu kalau ngomong jujur, masa Teteh nggak percaya?"
"Jangan panggil gue Teteh! Emang gue Teteh lo apa?! Gue bukan orang Sunda jadi lo jangan panggil gue Teteh!"
"Terus mau dipanggil eneng aja?"
Kanaya menggeram. Jemarinya terkepal. "Muka gue yang mirip artis ini nggak cocok dipanggil eneng."
Kanaya yang malu untuk mengakui kesalahannya karena telah memfitnah Rifki tetap saja berlaku seolah dia benar. Pokoknya mau Rifki membela diri bagaimanapun Kanaya akan tetap menyalahkannya.
"YA ALLAH MBAK, NENG SASHI HILANG, MBAK! BAGAIMANA INI MBAK?! NENG SASHI HILANG." Mang Edi kelimpungan sendiri, dia memegang kepalanya dengan kedua tangan bagai orang stres stadium akhir. Bagaimana tidak, tadi saat dia melihat ke dalam mobil, Sashi tidak ada. Mang Edi pontang-panting di depan Kanaya yang bengong seribu bahasa. "BAGAIMANA INI MBAK KANA? SAYA BENAR-BENAR MINTA MAAF. SAYA TADI BUANG AIR KECIL DULU DI SANA."
"Mang, malu-maluin, ih! Matanya pakek dong, Mang. Pakek! Ini yang berdiri di sebelah saya itu siapa?" Kanaya berujar dengan suara keras.
"Bukannya itu neng Sasha?"
"Ini Sashi, Mang!! Liat nih ada dua-duanya." Kanaya merangkul kedua keponakannya dengan wajah kesal luar biasa. Fix! Hari ini adalah hari tersialnya sepanjang sejarah.
"Ya Allah." Mang Edi akhirnya bisa bernapas dengan lega. "Ya Allah terima kasih ternyata neng Sashi tidak jadi hilang."
"Sinting sinting sinting!!" Kanaya mendumal.
"Tuh, kamu dengar sendiri kan, saya bukan penculik. Sekarang masalahnya udah selesai," ucap Rifki yang tidak ingin memperpanjang masalah.
"Emang udah selesai. Kata siapa belum?!" sambar Kanaya. Rifki menelan liur, suara perempuan cerewet di depannya ini benar-benar melengking.
"Aduh si Aa ganteng pisan. Ternyata di Garut masih ada pemuda ganteng. Orang sini, A? Saya juga aslinya orang Garut, A. Rumah saya dulu di Bayongbong." Mang Edi sempat-sempatnya curhat. Dan yang lebih mencengangkan, Rifki meladeni curhatannya.
"Mampir ke rumah atuh, Pak. Bapak pasti kangen sama suasana Garut."
"Emang boleh, A?"
"Oh boleh atuh, Pak. Nanti saya suguhin makanan." Rifki menawarkan iming-imingnya.
Mata mang Edi berbinar. Jujur perutnya sedang keroncongan. Majikannya tidak peka, kalau sang sopir juga butuh isi bensin, bukan cuma mobilnya.
"Om rumahnya di mana?" tanya Sashi kepo.
"Di sana." Rifki menunjuk seberang, ada sebuah perumahan, di sampingnya terdapat beberapa ruko.
Sashi menganggukkan-anggukkan kepala layaknya orang dewasa.
Kanaya menggaruk-garukkan kepalanya, kenapa semuanya jadi kepo sama cowok ini, sih?! Niat mereka ke Garut mau renang atau mau jadi wartawan?
"Beneran mau disuguhin makanan, A?"
"Beneran, Pak."
"Eh, Mang, kok malah ngobrol? Ayo cepetan, keburu Magrib! Iya-iya! Nanti saya beliin nasi pecel di jalan!" Kanaya menegur tak sabaran dengan suara super kesal.
"Ya Allah, akhirnya mbak Kana peka juga."
"Mang Edi, cepetan." Kanaya tersenyum dengan sangat terpaksa, tapi sorot matanya siap menyemburkan api amarah.
"Eh iya, Mbak. Ya sudah, A, kami pamit dulu, ini si kembar pengin ke Darajat."
Rifki tersenyum sambil mengangguk. "Mangga, Pak. Semoga lancar perjalanannya, nggak ada hambatan sama sekali, dan selalu berada dalam lindungan Allah." Lelaki itu berkata ramah dan sopan. "Jagain Tante sama dua keponakannya, Pak. Untuk Teteh, maaf ya, udah bikin Teteh takut. Saya tahu, itu cuma bentuk kekhawatiran Teteh sama keponakannya."
"Jangan panggil gue Te-teh!" Kanaya gemas dibuatnya. Rifki hanya terkekeh sebagai balasan.
"Dadah Om baik ganteeeng...." pamit si kembar.
Rifki melambaikan tangan pada mereka sambil mengulas senyum.
Sebelum pergi, Kanaya sempat mendelik ke arah Rifki. Dasar cowok aneh! Udah digalakin tetep aja senyum, ketawa lagi. Dasar aneh! Dasar aneh! Biasanya kalau Kanaya bersikap kasar, mereka akan sama-sama membalasnya dengan bahasa tak kalah kasar. Tapi ini beda.
Ya, dengan sangat terpaksa Kanaya mengakui kalau lelaki itu baik.
Seraya menatap kepergian mereka, Rifki mengelus d**a seraya mengucapkan istigfar beberapa kali. Mimpi apa dia semalam sampai harus dipertemukan dengan mereka yang anehnya luar biasa?
Apa orang Jakarta memang seperti itu?
Berbeda jauh dengan perempuan bercadar bernama Aiza, gadis yang kemarin ia temui di Masjid Islamic Cantre. Ya Allah, semoga dia memang jodohnya. Dia perempuan akhir zaman jarang di temui di antara hikuk-pikuk dunia.
Itu perbedaan orang yang pandai agama dan tidak.
Ada yang memuji, ada juga yang memamerkan terang-terangan.
Ada yang sopan, ada juga yang songong.
Astagfirullah , Kenapa Rifki malah kepikiran Aiza? Apakah memilih sudah untuk makan yang dibuat pendamping hidup?
"Ateu nanti ke sana lagi, ya? Sasha juga pengin beli cilok yang tadi. Enak, Ateu."
Tidak, tidak, Kanaya tidak mau mengizinkan niatnya cuma bohongan. Jangan sampai kata 'iya' terlontar dari mulutnya.
Bisa gawat darurat.
Kanaya kapok.
17 November 2018
09 Rabi'I 1440H