Alsan Mengapa Zen Menghilang
'ZEN, CALON AHLI WARIS PERUSAHAAN NEXT IN, MENGHILANG'
Begitulah kira-kira yang banyak dibicarakan orang-orang pagi ini. William Zen, calon pewaris tahta perusahaan software ternama di Negara Z, Next In, menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak. Terakhir terlihat di acara pesta pertunangan rekan bisnis, dua hari yang lalu, tapi sampai saat ini belum juga kembali ke rumahnya.
Semua orang membicarakannya mengingat keluarga William adalah salah satu keluarga terkaya di negara Z. Keberadaan mereka selalu membuat penasaran. Keberadaan mereka begitu mencolok, hingga media pun sering menyorot mereka, meski Zen sendiri sama sekali tidak suka kehidupan pribadinya dikonsumsi publik.
Zen yang tampan dan suka menghindari wartawan itu memiliki kesan misterius. Low profile tapi diburu 'calon mertua' dan media. Kini, sosok Zen menghilang secara tiba-tiba yang mengakibatkan rugi milyaran akibat penandatanganan proyek yang tak ia hadiri.
Lalu, dimanakah keberadaan Zen?
.
.
.
FLASHBACK
Malam ini udara cukup dingin, angin berhembus lembut, tapi mampu membuat permukaan kulit membeku. Seorang wanita turun dari mobilnya. Berjalan anggun memasuki sebuah vila gaya Eropa gotik.
Suara langkah kaki dari high heels miliknya terdengar menggema di dalam vila mewah itu. Sudah pukul sepuluh malam, tentulah terdengar jelas karena betapa sepinya vila seharga 2 juta dollar itu.
Wanita itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Sebuh kamar lebih tepatnya.
Ia melepaskan setelan atas jas kerja miliknya. Kemudian, ia juga melepaskan kaca mata hitamnya.
Wanita itu tersenyum menatap sosok laki-laki yang tengah berbaring di atas ranjang dengan kedua tangan yang terikat.
"Hmmmpphh..?" Suara mulut tertutup lakban laki-laki itu terdengar memberontak. Tahu jika seseorang sedang memasuki kamar.
Tak hanya mulutnya yang tertutup lakban, tapi matanya pun juga tertutup kain hitam yang pekat, sehingga membuat laki-laki itu tidak bisa melihat.
"Selamat malam, Sayang..." Wanita itu tersenyum manis dan membuka lakban yang menutupi mulut laki-laki itu dengan lembut.
"SIAPA KAU?" Seperti sudah bertahun-tahun dilarang berbicara, suara laki-laki itu bertanya dengan sangat kerasnya.
"Sudah sadar? Sepertinya obat biusnya tidak terlalu bekerja. Haruskah aku menambahkan dosisnya?"
Wanita, itu adalah suara seorang wanita. Laki-laki itu tidak salah dengar. Apa yang dilakukan wanita ini terhadapnya? Menculik? Lalu apa ini, kenapa dirinya bisa telanjang?
"JANGAN MENYENTUHKU!" Teriak laki-laki itu karena si wanita menyentuh pipi kirinya.
"William Zen, kau tampan juga. Ayo kita bersenang-senang malam ini! Aku akan memberikanmu pelayanan yang terbaik." Bisik seduktif wanita itu.
"LEPASKAN AKU!"
Wanita itu diam saja, ia malah melepaskan semua pakaiannya beranjak naik ke ranjang. Ia duduk di perut laki-laki pemilik nama Zen itu.
"APA YANG AKAN KAU LAKUKAN KEPADAKU? MENYINGKIRKAN DARI ATAS TUBUHKU!" Zen berontak karena risih.
"Ah, suaramu sangat lantang. Kau pasti laki-laki yang amat perkasa. Jika ditambah ini, maka akan semakin mantap..." Wanita itu mencondongkan badannya ke depan, lebih dekat ke telinga Zen. "... Ini sedikit pahit, tahanlah..." Tambahnya.
Wanita itu mengambil botol air mineral yang sebelumnya sudah ia campur dengan obat perangsang. Ia memasukannya ke dalam mulutnya sendiri, lalu memindahkannya ke dalam mulut Zen dengan cara berciuman.
Dalam posisi seperti itu, Zen tak bisa melawan wanita ini. Ia menelan semua air mineral yang tercampur dengan obat perangsang.
Tak ada pembicaraan dalam beberapa saat usai Zen meminum air mineral yang tercampur dengan obat perangsang.
Wanita itu menunggu obat perangsang itu bereaksi di tubuh Zen.
"APA YANG KAU MASUKAN KE DALAM MULUTKU, HAH?"
Ketika wanita itu menyentuh d**a bidang Zen, Zen nampak gelisah.
Perasaan apa ini?
Seketika itu si wanita tahu jika Zen sedang menahan hasrat yang membuncah. Pipi putih mulus Zen bahkan memerah. Apa lagi ketika ia menggerakkan tubuhnya di atas perut Zen, Zen semakin panas.
"Kerja bagus, Sayang... Jika sudah begini, ayo kita mulai!" Seringai wanita itu.
Ia mulai menggerayangi tubuh atletis milik Zen. Menyentuhnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
"SEBAIKNYA KAU BERHENTI KALAU TIDAK MAU AKU... Ahh~~"
"Lebih baik kita nikmati saja permainan ini. Bukankah di bawah sana sudah sangat tidak nyaman? Zen..."
Dan mereka sungguh melakukannya. Lebih tepatnya sang wanita yang memaksa untuk bersetubuh dengan Zen.
Zen sama sekali tak kuasa, ia tak bisa melarikan diri atau pun melawan. Efek obat perangsang itu menguasai dirinya. Membuatnya sangat panas dan bernafsu.
Rangsangan dari wanita itu membuatnya menggila. Desahan demi desahan terdengar di seluruh penjuru kamar. Menciptakan suasana b*******h yang menggelora.
Berkali-kali, semakin menggila, hingga akhirnya terkulai lemas.
Wanita yang tak diketahui oleh Zen itu pun ambruk di d**a bidang milik Zen. Mengatur nafas kelelahan yang menderu.
Detak jantung mereka terus beradu satu sama lain. Keringat peluh membasahi tubuh.
"Malam ini sudah cukup, uhh.. sakit juga rasanya, tapi nikmatnya lebih banyak." Wanita itu menyingkir dari atas tubuh Zen.
"SEBAIKNYA KAU SEMBUNYI. JIKA AKU SAMPAI MENEMUKANMU, KAU AKAN TAMAT!" Marah Zen yang baru saja diperkosa.
"Hoo, kau masih punya tenaga rupanya? Mau lanjut lagi? Tubuhku masih kuat melayanimu untuk beberapa ronde ke depan..."
"..." Zen tidak mau.
"Aku tak akan bersembunyi kemanapun. Aku malah menantikan pertemuan kita yang selanjutnya."
"..." Zen terdiam. Itu artinya ia dan wanita gila ini akan bertemu lagi?
"Ah, aku harus segera pergi. Bekas sentuhan sangat sakit, aku harus mengobatinya."
"I'M GOING TO SUE YOU!"
"Haha, aku siap menceritakan kepada dunia pemerkosaan yang sudah aku lakukan kepada calon pewaris tahta Next In."
Wanita itu yakin, Zen pasti tidak akan pernah menceritakan aib ini kepada siapa pun. Pasti!
"Aku meletakan sebuah pisau di meja sebelah kirimu. Gunakan itu untuk memotong tali ikat tanganmu... Ingat, jangan sampai jatuh. Akan sangat sulit bagimu untuk melepaskan diri nantinya." Lanjutnya.
"..."
"Ah, berhubungan ini di pegunungan yang sepi, aku kembalikan juga ponselmu. Ada di sebelah pisau..."
"..."
"Bye-bye Sayang, malam yang indah..." Wanita itu lantas pergi meninggalkan kamar bercinta mereka.
"f**k YOU OFF, DAMN! Aku akan membuatmu membayar mahal soal ini!"
END OF FLASHBACK
.
.
.
NORMAL TIME
Seorang wanita ayu sedang memperhatikan tubuhnya di depan cermin. Ia tersenyum menyeringai beberapa kali ketika mengingat bagaimana panasnya pengalaman bercinta semalam dengan William Zen.
"Pengalaman pertama yang worth it. William Zen, kau tak akan bisa lari dariku."
Beberapa saat kemudian, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia merintih karena ngilu di sekitar selangkangannya.
"Ini sakit, tapi tak ada apa-apanya dengan sakit yang aku rasakan. Kali ini, aku pasti akan menghukum mereka semua! Aku Ellaine Diva, aku akan menjadi malaikat kematian untuk kalian semua yang sudah menyakitiku!"
.
.
.
Aku bukan penutur bahasa Inggris, jadi maafkan aku jika bahasa Inggrisku kacau. Tolong bantu follow cerita ini. Terima kasih. Love you.