Bab. 5 Pria Dingin Itu Suamiku

2135 Kata
Sudah dua kali Mela tinggal di rumah orang yang baru dikenal. Memang rumah dan kamar ini jauh lebih bagus dan mewah dari kediaman Reno. Namun, entah kenapa Mela merasa takut. Mungkin itu karena sikap Kevin yang dingin, tidak seramah Reno ketika menyambut kedatang gadis itu. Mela tampak menelisik sekeliling kamar itu. Terdapat sebuah lemari pakaian jati berukuran sedang, tempat tidur dan meja rias dengan ukiran asli Jepara. Di sudut kamar ada dispenser tanpa galon dan sebuah televisi flat yang nempel di dinding. "Bagus sekali kamar ini, benarkah aku akan tidur di sini?" tanya Mela pada dirinya sendiri. Ia masih tidak percaya akan tinggal di rumah semewah ini. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Mela segera membukanya, seorang perempuan berusia sekitar 45 tahunan tersenyum kepada gadis itu dengan Ramah. "Boleh saya masuk?" tanya wanita itu dengan sopan. Mela pun tampak mengangguk seraya berkata, "Silahkan Bu." Wanita paruh baya itu menarik sebuah troli galon air dan memasangnya di dispenser dengan mudah tanpa diangkat. Setelah itu ia memperkenalkan dirinya kepada Mela. "Nama saya Ningrum, biasa dipanggil Mbak Ning. Mulai sekarang saya yang akan melayani Nona," ujar wanita itu sambil menyodorkan tangannya. Mela menyambutnya dengan hangat dan menyebutkan namanya, "Saya Mela baru kerja di rumah ini. Tugas saya apa ya Mbak Ning?" tanya gadis itu kemudian. "Sepertinya belum ada tugas buat Nona," sahut Mbak Ning yang membuat Mela jadi bingung. "Boleh saya minta nomor ponsel?" tanya wanita itu kemudian. Mela dan Mbak Ning saling bertukar nomor handphone. "Kalau Nona perlu sesuatu silahkan chat atau telepon saya! Anggap saja ini rumah sendiri ya!" pesan Mbak Ning sebelum meninggalkan kamar Mela. "Baik Mbak," sahut Mela sambil mengangguk kecil. Kini Mela kembali sendirian tanpa teman. Gadis itu pun merebahkan dirinya di kasur yang empuk dan membal. Di mana ia belum pernah merasakan sebelumnya. Dari pada iseng Mela mengotak-atik menu ponsel barunya yang dibelikan oleh Reno. Setelah jenuh kemudian ia menonton televisi. Hingga tanpa sadar dirinya tertidur pulas karena sejuknya udara AC di kamar itu. Mela tampak terjaga ketika mendengar sayup-sayup suara azan berkumandang. Gadis itu ingin salat, tetapi mukena dan bajunya belum diantar oleh Reno. Ia pun teringat dengan pesan Mbak Ning. Dirinya segera mengirim pesan kepada asisten itu. [Mbak, boleh saya pinjam mukena?] Tidak lama kemudian Mela mendapat pesan balasan, [Nanti saya antarkan, Nona.] Tidak lama kemudian terdengar pintu kamar diketuk. Mela segera membukakan dan melihat Mbak Ning membawa troli food dan sebuah kantung yang berisi mukena. "Ini makan siang dan mukena pesanan Nona," ujar wanita itu sambil melangkah masuk. Ia segera menata makanan yang di atas sebuah meja kecil di sebelah dispenser. "Terima kasih Mbak," ucap Mela. "Sama-sama, kalau Nona jenuh di dalam kamar keluar saja! Di belakang dan di depan rumah ada taman atau mau ngobrol sama Mbak juga boleh," saran Mbak Ning memberitahu. Mendengar itu Mela hanya diam terpaku. Ia takut bertemu dengan Bos Kevin. Tatapan seolah menghujam jantungnya, begitu tajam dan dingin. "Nona pasti takut sama Tuan Kevin ya? Tenang saja, Tuan jarang pulang ke rumah ini, hanya hari libur saja," ujar Mbak Ning yang seolah tahu jalan pikiran Mela. Mela tampak lega mendengarnya dan sekaligus bingung. Buat apa Bos Kevin menikahinya kalau jarang pulang ke rumah. Akan tetapi itu bagus bukan, mereka akan jarang bertemu. Semoga saja pernikahan itu berjalan lancar dan cepat berlalu. *** Waktu terus bergulir sudah seminggu Mela tinggal di rumah Kevin. Dari sekian banyak yang bekerja di rumah mewah ini. Hanya Mbak Ning satu-satunya asisten wanita yang melayani dan menemani gadis itu. Selebihnya pria termasuk yang membersihkan rumah. Tugas utama Mbak Ning adalah menjadi koki dan mencuci baju Tuan Kevin. Sementara pekerjaan Mela membantu Mbak Ning di dapur sekalian belajar memasak. Benar kata asisten itu, Kevin baru terlihat batang hidungnya pada hari weekend, begitupun dengan Reno yang baru saja selesai mengurus pernikahan bosnya. Dalam waktu seminggu Mela sudah mendapatkan kartu identitas penduduk yang baru dan besoknya pernikahan itu akan dilakukan. Tentunya dengan uang semua akan mudah di atur. Sungguh semua di luar rencana Mela untuk merantau ke Ibukota. Bukan pekerjaan yang didapat melainkan menjadi istri sementara. Di mana Kevin akan menjamin semua kebutuhan wanita itu kecuali nafkah batin. Hari ini pernikahan itu akan digelar secara privasi di rumah Kevin. Tanpa undangan dan keluarga dari kedua belah pihak. Hanya ada penghulu, saksi dan mempelai. Reno yang mengatur semuanya. Dari administrasi sampai urusan merias wajah untuk Mela. Di tangan seorang MUA profesional, Mela disulap menjadi mempelai wanita yang sangat cantik. Apalagi ketika memakai kebaya pengantin. Gadis itu tampak elegan dan anggun. Sementara itu Kevin terlihat tampan dengan setelan jasnya. "Saudara Kevin Prayoga, saya nikahkan kamu dengan Melati binti Alm. Asep. Dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai," ijab penghulu yang menjadi wali hakim untuk Mela. "Saya terima nikah dan kawinnya Melati binti Alm. Bapak Asep. Dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," qabul Kevin dengan lancar. "Bagaimana saksi sah?" tanya penghulu. "Sah!" jawab yang menyaksikan pernikahan itu. Mela tampak berkaca-kaca, entah pernikahan macam apa ini. Tanpa kehadiran keluarganya. Namun, kini dirinya telah sah menjadi istri dari Kevin Prayoga. Jujur gadis itu terpaksa menerima perkawinan ini. Semua ia lakukan demi membiayai sekolah kedua adiknya. [Ya Allah, maafkan aku,] ucap Mela di dalam hati. Ia merasa telah mempermainkan sebuah pernikahan. "Beruntung banget nasib Mela. Tahu gitu gue pelet saja Bos Kevin," ujar Sovi yang turut hadir jadi saksi dari pihak mempelai wanita. "Jangan ngehalu lu!" sahut Reno asal ceplos. Mendengar itu Sovi tampak tersungut, "Biarin suka-suka. Jangan lupa jatah gue!" tagihnya kemudian. Reno memoles kepala Sovi seraya bertanya, "Kurang puas lu makan duit sogokan dari Bos Kevin? Cepat bayar hutang sini!" serunya. Sovi kemudian mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyerahkannya kepada Reno seraya berkata. "Lunas utang gue ya!" Ia sudah mempersiapkan dari rumah karena sudah menduga Reno pasti akan menagihnya. Reno segera membuka amplop itu dan menghitung jumlah uangnya. "Kurang gope ini Sov," ujarnya sambil menoleh, tetapi Sovi sudah pergi entah ke mana. "Dasar bunglon sudah hilang saja lu," gerutu pria itu dengan kesal. Reno tidak mungkin mengejar Sovi karena tugasnya belum selesai. Ia segera mengawasi pengambilan gambar dan vidio yang dilakukan oleh seorang fotografer handal. "Diamlah!" seru Kevin ketika akan pengambilan foto dan vidio kissing. Mela merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik. Ketika mulut Kevin menyentuh dan menyesap bibir gadis itu untuk pertama kalinya. Sementara itu Reno tampak membuang mukanya. Tidak berapa lama kemudian acara pernikahan itu pun selesai. Setelah semua orang yang berkaitan segera meninggalkan rumah itu, Kevin mengirim foto dan vidio pernikahannya kepada seseorang nan jauh di sana. Tidak lama kemudian ia menerima panggilan telepon. [Congratulation and thanks sudah mengabulkan permintaanku,] ucap seseorang dari seberang sana dengan senangnya. [Kumohon jangan cari alasan lagi untuk menundanya!] sahut Kevin dengan penuh harap. [Oke, Mom sudah siap. Bila nanti terjadi apa-apa, aku sudah tenang karena kamu telah menikah.] [Please, aku tidak mau mendengarnya!] pinta Kevin dengan serius. [I love you my son,] ungkap orang itu dan panggilan itu pun berakhir. Kevin terlihat lega masalahnya telah selesai satu. Kini ia bisa menjalankan aktivitasnya dengan tenang. Pria itu segera meninggalkan rumah untuk kembali bekerja. Tentu Reno pun ikut serta ke mana pun bosnya pergi. Sementara itu Mela mulai menjalani harinya sebagai burung dalam sangkar emas. *** Hari demi hari berlalu, Mela benar-benar merasa bagaikan Rapunzel. Di dalam rumah suaminya yang mewah. Hanya Reno dan Mbak Ning yang terkadang menemui wanita itu untuk menemani atau memberikan sesuatu. Kevin memang memberikan wewenang kepada kedua asistennya itu untuk melayani Mela. "Mel, ini buku tabungan dan ATM. Bos Kevin sudah mengisinya sebesar dua puluh juta untukmu," ujar Reno sambil menyerahkan rekening dan kartu itu ke tangan Mela. "Aku juga sudah mendownload mobile di ponselmu. Jadi kalau mau beli sesuatu lewat online saja! Atau bilang sama Mas, nanti diantar!" Mela tampak tertegun ketika mendengar Reno menyebut nominal dalam ATM itu. Baginya jumlah itu cukup besar dan butuh waktu dua tahun untuk mendapatkan uang sebanyak itu sebagai pemetik teh di kampung. Reno heran melihat Mela yang diam saja. Sehingga ia pun bertanya, "Mel, kamu kenapa?" "Iya Mas, terima kasih," ucap Mela sambil tertunduk. Entah ia harus senang atau tidak mendapat uang dengan cara seperti ini. Reno tampak mengangguk seraya bertanya, "Bagaimana kamu sudah mulai betah tinggal di sini?" "Saya jenuh Mas, setiap hari hanya nonton televisi dan main ponsel," jawab Mela yang mulai merasa bosan. "Saya boleh minta libur bareng sama Mbak Ning, nggak Mas?" pinta Mela yang ingin cuci mata. "Ya sudah nanti saya atur dulu. Sekarang kamu nikmati saja sebagai istri Bos Kevin! Mas pulang dulu ya sudah sore," sahut Reno kemudian. Sambil mengangguk Mela pun bertanya kembali, "Oh ya Mas, tugas saya apa ya di rumah ini?" Reno tampak berpikir karena dirinya juga tidak tahu tugas Mela apa. Sehingga ia menjawab yang terlintas di benaknya saja, "Tugas kamu adalah sebagai asisten Mbak Ning. Jadi Mela harus banyak belajar ya!" Ia segera meninggalkan Mela yang tampak mengangguk kecil. "Baik Mas, hati-hati di jalan ya!" pesan Mela kemudian. Berbeda dengan Reno yang supel, Kevin sangat pendiam. Bahkan hampir tidak pernah bicara kepada Mela. Apalagi mereka tidur terpisah dan tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Pria itu sangat acuh tak acuh dan dingin. Kevin bila sudah masuk kamar tidak akan keluar lagi. Bahkan untuk makan malam diantar ke kamar pribadinya. Sampai sekarang Mela tidak pernah tahu apa alasan Kevin menikahinya hanya setahun dan buat apa. Pernah sekali ia tanyakan kepada Reno, tetapi pria itu tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan menyuruhnya agar tidak memikirkan hal itu. "Selamat malam Nyonya," ucap Mbak Ning sambil membawakan makan malam untuk Mela. Mela pun tersenyum dan berucap, "Terima kasih, Mbak jangan panggil saya Nyonya. Saya juga kerja di rumah ini!" seru Mela yang merasa pantas dengan sebutan itu. "Baik, kalau begitu saya panggil Nona saja ya?" sahut Mbak Ning sambil bertanya. Mela pun tersenyum dan menjawab, "Boleh, Mbak temani saya ya!" pintanya kemudian." Asisten itu tampak mengangguk dan segera duduk di samping Mela. Akhirnya mereka mulai berbincang-bincang seputar kerjaan. Hal ini juga dimanfaatkan oleh Mela untuk mengetahui siapa Kevin sebenarnya. "Jadi semua asisten boleh libur bergantian di hari kerja, kecuali hari weekend. Bila ada keperluan penting baru boleh libur sabtu atau minggu," ujar Mbak Ning memberitahu. Mela tampak mengangguk, ternyata asisten di rumah ini sudah seperti karyawan toko jam kerjanya. Wanita itu mulai mengorek info seputar kehidupan suaminya. Ia masih belum percaya jika Kevin yang tampan dan kaya belum punya pendamping hidup. Dirinya takut dijadikan wanita simpanan. "Jadi benar, kalau Bos Kevin belum punya istri selain saya?" tanya Mela ingin tahu. Mbak Ning kemudian menggeleng dan menjawab, "Setahu saya belum, tetapi tidak tahu juga karena Tuan Kevin tidak terbuka. Jika tidak penting beliau jarang sekali bicara. Seandainya ada keperluan mendesak kami akan bilang ke Mas Reno, begitupun sebaliknya." Mela tampak mengangguk, sepertinya Kevin sosok yang sangat misterius. Setelah dipikir-pikir benar juga kata Reno. Buat apa mengenal Kevin lebih jauh. Anggap saja ia sedang bekerja, setelah cerai pun tidak rugi karena ada perjanjian yang sangat menguntungkan bagi Mela. Mbak Ning dan Mela mengobrol cukup lama. Hingga tanpa terasa malam kian merambat jauh. "Saya balik ke kamar ya Non, sudah mengantuk," pamit Ning sambil membereskan bekas makan malam Mela. Mela mengangguk kecil seraya berucap, "Terima kasih Mbak Ning, sudah mau menemani saya." Gadis itu pun tampak menguap dan segera merebahkan dirinya di atas kasur. "Siapa pun kamu aku tidak perduli," lirih Mela yang mulai terbuai mimpi. *** Mela sudah bangun dari subuh, sebuah kebiasaan yang tidak pernah berubah. Setelah melalukan salat dua rakaat gadis itu ke luar dari kamarnya. Gadis itu segera menuju ke dapur untuk Mbak Ning. "Mbak Ning, sedang buat apa?" tanya Mela dengan ramah. "Roti dadar gulung dan salad sandwich," jawab Ning sambil mengolah bahan-bahan yang sudah dipersiapkan. Mela memperhatikan cara masak Ning yang sangat cekatan sekali. Ia pun jadi penasaran dan kembali bertanya, "Mbak Ning seorang chef ya?" "Iya dulu sebelum menikah," jawab Ning yang mulai menceritakan karirnya sebagai seorang chef. Mbak Ning mengajarkan Mela banyak hal terutama memasak. Dari mengenal bahan-bahan sampai bumbu ala restoran. Ia juga tidak segan untuk memberitahu jika gadis itu bertanya. Akhirnya mereka selesai juga membuat sarapan. Mela langsung mencuci piring, sehingga pekerjaan di dapur rampung sudah. "Sekarang kita cari udara segar yuk ke taman!" aja Mbak Ning kemudian. Mela dan Ning jalan-jalan ke taman yang ada di belakang rumah. Terlihat bunga-bunga yang bermekaran dengan cantik. Sisa-sia embun pun masih ada di setiap kelopaknya. Mela menghampiri sekuntum mawar juliet dan mencium bunga itu yang menebarkan keharuman. Tanpa di sengaja ia melihat Kevin yang sedang melakukan pemanasan sebelum berenang. Tubuh pria itu terlihat atletis dengan otot perutnya yang six pack. Mela menatap suaminya dengan perasaan berdebar-debar. Bahkan ketika pandangan mereka hampir bertemu. Mela segera bersembunyi dengan jantung yang berdetak dangat kencang dan cepat. Dirinya masih belum percaya mempunyai suami yang sangat rupawan dan sempurna. Gadis itu pun tampak menggigit bibir untuk meredam perasaannya yang bergejolak hebat. "Benarkah pria dingin itu suamiku, macho sekali dia," lirih Mela sambil menepuk-nepuk pipinya takut semua hanyalah mimpi. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN