Bab. 6 Gadis Cupu

2031 Kata
Kevin tampak acuh tak acuh melihat Mela yang menatapnya sambil sembunyi-sembunyi. Mungkin gadis itu berpikir Kevin tidak melihatnya. Belum tahu dia, kalau pria itu mempunyai tatapan yang tajam. Bagi Kevin semua mata wanita itu seperti lalat. Tidak boleh lihat cowok macho dan cakep. Pasti pada ngeces atas bawah. Sementara itu melihat tuannya sedang berolahraga, Mbak Ning segera pergi untuk menyiapkan sarapan, sedangkan Mela masih berdiri di taman melihat bunga. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah kolam renang. Setelah beberapa kali putaran, Kevin naik kepermukaan. Terlihat air mengalir di otot tubuh Kevin yang kekar. Sehingga membuat pandangan Mela kembali teralihkan. Gadis itu pun menggigit bibirnya berusaha meredam naluri kewanitaannya. Ternodai sudah mata sucinya. Kevin segera memakai bathrobe dan berjalan ke arah Mela. Gadis itu pun jadi grogi dan salah tingkah. Sehingga kakinya tersandung batu dan hampir saja jatuh. Untung ia segera berpegangan pada sebatang pohon dan pura-pura tidak melihat ke arah Kevin. Pria itu menatap Mela dengan saksama dari ujung kaki sampai kepala. Di mana gadis itu memakai kaos dengan lengang tiga perempat dan rok payung di bawah dengkul. Sungguh sangat memalukan apa kata dunia. Istri Kevin Prayoga cupu habis. Kevin kemudian berseru dengan dinginnya, "Tundukkan kepalamu!" Kemudian ia segera berlalu. Mendengar itu Mella jadi malu dan segera menundukkan kepalanya. Padahal di perjanjian pernikahan tidak ada peraturan seperti itu. "Maaf Pak," ucap Mela sambil meremas bajunya dengan takut. Kevin menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ia kembali berseru, "Jangan panggil saya bapak! Ingat kamu di sini kerja, jadi panggil saya tuan!" Ia kemudian meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan perasaan Mela. Perkataan Kevin, menyadarkan Mela akan siapa dirinya di rumah ini. Ingin sekali ia melempar kepala Kevin dengan kerikil yang ada di dekatnya. "Dasar es batu, sombong banget sih, tidak bisa kah dia ramah sedikit saja seperti Mas Reno," lirih Mela yang merasa terabaikan. Gadis itu kemudian menghembuskan napas dengan kasar. Mela yang tersinggung segera meninggalkan taman itu dan menuju ke kamarnya. Namun, di tengah jalan ia berpapasan dengan Mbak Ning yang membawakan sarapan. Ning yang melihat wajah Mela ditekuk segera bertanya, "Nona kenapa? Pasti dimarahin sama Tuan ya?" tebaknya kemudian. "Jangan diambil hati! Tuan memang begitu, dingin kepada setiap wanita. Nanti juga lama-lama akan terbiasa," sarannya kemudian. "Iya Mbak," sahut Mela yang mencoba untuk mengerti. "Ya sudah, sekarang antarkan sarapan Tuan ke taman ya!" seru Mbak Ning yang ingin mengajarkan Mela untuk melayani suami. Sambil menggeleng Mela pun menolaknya, "Mbak saja!" "Mulai sekarang yang mengantar sarapan dan makan buat Tuan adalah tugas Nona," ujar Mbak Ning sehingga membuat Mela tidak bisa menolaknya. Dengan ditemani Mbak Ning Mela mengantarkan sarapan ke bangku taman. Di mana Kevin sedang duduk di sambil menjemur dirinya. "Tuan ini sarapannya," ucap Mela sambil meletakan bawaannya di samping Kevin. Hening tidak ada jawaban, baru saja Mela hendak berbalik arah ia kesandung dan jatuh tepat di atas tubuh Kevin. Bughk ...! "Aduh!" pekik Kevin ketika ularnya tertindih tubuh Mela. "Maaf Tuan saya tidak sengaja," ucap Mela ketika melihat Kevin menyeringai kesakitan. Gadis itu mencoba bangkit dengan bertumpu di badan suaminya. Namun, Kevin mencekal kedua bahu Mela dengan geram. Pria itu menatap istrinya dengan mata yang hendak keluar. "Kamu ..., cepat pergi!" seru Kevin yang mulai terlihat marah. Mela terlihat ketakutan dan menyahuti, "Saya tidak bisa bangun Tuan." Kevin segera melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Mela. Sambil menepis bathtrobe yang dikenakannya. Seolah Mela adalah kuman penyakit. Kevin tidak tahu gadis itu akan menjadi virus yang berbahaya. Sementara itu Jeki dan Mbak Ning tampak tersenyum melihat adegan yang cukup romantis itu. "Saya yakin, tidak sampai sebulan Tuan dan Nyonya Mela akan kikuk ... kikuk," ujar Jeki sambil manggut-manggut. "Ngapain itu?" tanya Mbak Ning dengan heran. Jeki tampak menggeleng dan menyahuti, "Main kuda-kudaan Mbak." Ia kemudian berlalu meninggalkan Mbak Ning yang masih bergeming. Sementara itu Mela tampak kesal ketika sampai di kamarnya. Entah mengapa ia merasa sial sekali hari ini. Dua kali dirinya kena semprot oleh Kevin yang sombong. Mela mengakui terlalu terbawa perasaan. Seharusnya ia tidak menganggap sikap Kevin dengan serius. Gadis itu menyadari jika pernikahan itu karena keterpaksaan. Kevin membutuhkan status dan Mela memerlukan uang, tidak lebih dari itu. "Aku harus sabar menghadapi pria sombong itu," lirih Mela yang tidak mau terbawa perasaan lagi. Baru saja Mela selesai mandi dan sarapan, tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya gadis itu mendapat panggilan masuk dari Reno. [Halo, Mas Reno. Ada apa?] ucap Mela membuka percakapan. [Hai ... cantik, sudah mandi dan sarapan belum?"] sahut Reno sambil bertanya. Mela tampak tersenyum dan menyahuti, [Sudah, Mas sendiri?] gadis itu balik bertanya. [Sudah ganteng dong, oh ya katanya mau jalan. Bos Kevin sudah memberi izin. Sekarang kita pergi yuk! Mas tunggu di teras,] ajak Kevin dengan serius. [Oke, tunggu sebentar ya Mas!] ujar Mela yang segera bersiap-siap. Gadis itu segera mengganti bajunya. Ia memakai celana bahan panjang model cutbray dan kaos dengan rambut dikuncir kuda. Sepatu tanpa hak membalut telapak kakinya. Sehingga penampilan gadis itu terlihat sederhana. Kemudian Mela keluar kamar dan segera menemui Reno. Reno tampak tersenyum melihat kedatangan Mela. Pria itu juga sudah keren dan modis, mengenakan celana kargo yang dipadu dengan kaos serta jaket bahan. "Kita mau ke mana Mas?' tanya Mela dengan antusiasnya. "Mas, akan ajak kamu keliling Jakarta sambil shoping dan jalan-jalan," sahut Reno yang membuat Mela terlihat sangat antusias. *** Mela terlihat senang sekali ketika Reno mengajaknya keliling Ibukota. Mulai dari Taman Mini sampai Monas, walupun cuma sebentar itu sudah cukup bagi Mela yang belum mengenal kota Jakarta. Bahkan gadis itu mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan melalui ponselnya. Banyak yang mengira Reno dan Mela adalah pasangan pengantin baru karena melihat cincin pernikahan di jari manis kanan gadis itu. Akan tetapi, mereka sama-sama tahu batasan. Reno memang b******k, tetapi tidak berani menyentuh Mela sedikit pun. Setelah puas jalan-jalan, Reno mengajak Mela ke salah satu mall untuk makan dan shoping. Mereka tampak memasuki sebuah restoran di tempat itu. "Terima kasih ya Mas Reno, sudah ajak Mela jalan-jalan hari ini," ucap Mela sambil tersenyum riang. Reno tampak mengangguk dengan seulas senyum yang mengembang dan menyahuti, "Sama-sama, kamu senang?" Mela pun mengangguk dan menjawab, "Saya senang sekali." Seorang waiters datang sambil membawa list menu. Lalu memberikannya kepada Reno dan Mela. "Udang asam manis, iga bakar lada hitam dan capcay. Minumnya orange jus," pesan Reno sambil memberikan daftar menu itu. "Kalau saya ayam bakar sama air putih saja," ujar Mela. Reno tampak mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Kenapa kamu cuma pesan itu saja, takut Mas suruh bayar?" "Dari gambarnya Mbak Ning pernah masak lauk seperti itu. Jadi saya mau coba menu lainnya," jawab Mela apa adanya. Sambil menatap Mela dengan saksama, Reno kemudian menebak, "Pasti enak ya jadi istri Bos Kevin, kamu tidak cape mengerjakan semuanya sendiri. Tidak seperti ketika tinggal di rumah Mas?" "Kalau disuruh pilih saya lebih nyaman tinggal di rumah Mas Reno. Bos Kevin jutek, tadi pagi saya cuma lihat dia berenang saja dimarahin. Katanya saya harus menunduk. Terus memanggilnya dengan sebutan Tuan," jawab Mela kesal. Reno tampak menghela napas panjang dan menyahuti, "Kamu jangan baper kalau lihat Bos Kevin. Dia paling tidak suka dilihatin sama wanita yang mengaguminya. Satu hal lagi kamu jangan sampai jatuh cinta sama Bos Kevin ya!" pesan pria itu kemudian. Mela tampak mengangguk dan berjanji, "Saya tidak akan pernah suka orang angkuh seperti itu." Entah mengapa Reno terlihat lega mendengar Mela berkata demikian. Pria itu ingin rasanya memutar waktu agar cepat berlalu. Jujur ia takut jika suatu saat Mela jatuh cinta kepada Kevin yang sangat sempurna dari segi apa pun. Akhirnya pesanan mereka pun tiba, Reno dan Mela terlihat bersantap dengan lahapnya. Setelah makan siang, Reno menemani Mela untuk shoping. Gadis itu memilah beberapa potong baju untuk pakaian sehari-hari seperti kaos, celana pendek dan panjang, dress dan baju pergi. Namun, ketika melihat bandrol harganya yang lumayan mahal. Mela terlihat ragu untuk membelinya. Padahal ia suka dengan baju itu. "Kenapa tidak diambil?" tanya Reno ketika melihat Mela menaruh baju itu kembali. "Sa-saya tidak suka sama modelnya, Mas kita cari ke pasar Tanah Abang saja yuk! Katanya model baju di sana bagus-bagus," ajak Mela yang ingin diantar ke tempat itu. Reno tampak menghela napas panjang, seolah dia tahu jalan pikiran wanita. Pria itu menatap Mela dengan saksama dan berseru, "Dengar baik-baik ya! Kamu itu istri Bos Kevin Prayoga. Seorang pengusaha sukses di Ibukota ini. Jadi tidak usah lihat harga, pilih saja apa yang kamu suka! Manfaatkan posisimu sekarang ini." "Jadi saya boleh beli apa saja dan berapa pun harganya. Nanti Tuan Kevin yang bayar?" tegas Mela yang dijawab anggukan oleh Kevin. Mela akhirnya memilih barang-barang yang ia suka tanpa memikirkan harganya. Seperti baju, tas dan sepatu. Bahkan Reno membelikannya beberapa gaun. Buat jaga-jaga kalau Kevin ingin mengajak Mela pergi, meskipun tidak mungkin. Sebenarnya Mela ingin mencari under wear, tetapi malu karena ditemani oleh Reno. Gadis itu pun berpikir akan membelinya di online saja. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang sedang memilih pakaian dalam wanita. "Mbak Sovi," panggil Mela sehingga membuat wanita itu menoleh. Sovi segera menghampiri seraya bertanya "Hai ... Mela, kamu sama siapa ke sini?" "Sama Mas Reno," jawab Mela sambil menoleh ke arah pria itu. "Mbak Sovi, belanja apa?" tanya Mela ingin tahu. "Ini aku milih under wear. Kamu mau beli juga?" jawab Sovi balik bertanya yang dijawab anggukan oleh Mela. Akhirnya Sovi membantu Mela untuk membeli beberapa under wear dan baju tidur. Sementara itu Reno hanya memperhatikan dari jauh. Dirinya pusing kalau melihat pakaian dalam wanita karena otaknya selalu traveling. Setelah mendapatkan apa yang dicari. Mela dan Sovi segera menghampiri. Reno. "Mbak Sovi bayarnya sekalian saja sama belanjaan saya, boleh kan Mas Reno?" Mela meminta persetujuan pria itu. Reno tampak mengangguk kecil sambil melirik ke arah teman dekatnya itu. Ketika Mela sedang menunggu kasir menghitung semua belanjaan, pria itu memepet tubuh Sovi. "Jangan aji mumpung lu!" bisik Reno. Tanpa menoleh Sovi pun berlirih, "Ya elah, cuma pakaian dalam doang. Bra gue udah pada kendor Ren, kan sering lu tarikin. Lagi pula yang bayar Bos Kevin. Jangan pelit-pelit lu sama gue!" Reno yang takut Mela mendengar segera berseru, "Pelan-pelan lu, kalau ngomong!" "Lu habis dari mana sama Mela?" tanya Sovi ingin tahu setengah berbisik. "Jalan-jalan ke Taman Mini dan Monas," jawab Reno memberitahu. Mendengar itu Sovi tampak merajuk seraya bertanya, "Kok gue ngga diajak Ren?" "Ngapain ngajak tukang modus kayak lu," sahut Reno dengan santai. Sovi tampak memutar matanya dan menyahuti, "Bilang aja lu ngga mau diganggu. Sadar Ren, Mela itu istri orang." "Iya gue tahu," sahut Reno yang segera menghampiri Mela ketika kasir menyebutkan nominal belanjaan yang harus dibayar. Setelah selesai membayar belanjaan, mereka segera meninggalkan Mall itu. "Kita mau pergi ke mana lagi Mas Reno?" tanya Mela yang masih bersemangat untuk jalan-jalan. Sambil fokus menyetir Reno pun menjawab, "Sekarang kita pulang ya sudah sore! Nanti minggu depan kita baru pergi lagi." "Mbak Sovi nanti ikut ya biar seru!" sahut Mela yang disambut anggukan oleh wanita itu. *** Baru saja mereka sampai di rumah, Kevin menyambut kepulangan Mela dan Reno dengan tatapan yang tajam dari atas balkon. "Reno!" panggil Kevin dengan serius yang dijawab anggukan oleh asisten pribadinya itu. "Terima kasih Mas Reno untuk hari ini," ucap Mela dengan seulas senyum mengembang. Reno tampak membalas senyum Mela dan menyahuti, "Sama-sama." Mela segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara itu Reno segera menemui Kevin yang sudah menunggu di ruang tengah. "Nanti malam aku ada dinner dengan Mr Sam, kamu atur semuanya!" seru Kevin memberitahu ketika Reno baru saja sampai. "Baik, Bos mau jalan dengan siapa?" tanya Reno memastikan. "Terserah yang penting harus cantik dan smart," sahut Kevin dengan serius. Reno segera menghubungi Laura, seorang model cantik dan seksi. Namun, sayang wanita itu sedang ada pemotretan di luar negeri. Ia kemudian mencari artis yang lainnya, tetapi mereka sedang ada job dengan agensi masing-masing. "Maaf Bos, para model dan artis yang biasa kita sewa tidak bisa kalau mendadak seperti ini, kecuali jika bos mau siapa saja yang menemani," lapor Reno sambil memberikan masukan. Kevin tampak mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Siapa?" "Bagaimana kalau Mela, dia juga cukup cantik," usul Reno yang membuat Kevin tampak terkejut. "No, mana mungkin aku jalan sama gadis cupu seperti itu. Nanti yang ada malu-maluin," tolak Kevin dengan tegas. Aku tidak mau tahu pokoknya kamu harus cari pasangan untukku!" serunya kemudian. Terpaksa Reno harus memutar otaknya lagi. [Mau makan malam saja ribet banget cari pasangan,] gerutu pria itu di dalam hati. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN