Bab.7 Dia Bukan Istriku

2051 Kata
Reno terlihat sibuk terus mencari pasangan kencan buat Bos Kevin. Sampai selesai magrib ia belum dapat juga, sedangkan waktu semakin mepet. Akhirnya pria itu merekomendasikan Sovi, tetapi Kevin menolaknya. "Saya nyerah, Bos datang sendiri saja ya!" saran Reno yang sudah buntu. Mau dicekik Kevin pun dirinya pasrah. Kevin juga tidak bisa menyalahkan Reno. Akhirnya dengan terpaksa ia menerima saran asisten pribadinya itu. "Ya sudah, cepat kamu persiapkan Mela!" Sementara itu Mela terlihat kesal sekali karena pakaiannya yang dibawa dari kampung dibuang oleh Mbak Ning atas perintah Kevin. Gadis itu pun mengerti kenapa hari ini Reno membelikannya baju yang cukup banyak. Tidak lama kemudian terdengar ketukkan. Tok ..! Tok ...! Mela segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Setelah melihat Reno, wanita itu pun mengadu, "Mas Reno, baju saya yang lama dibuang sama Tuan Kevin." "Biarkan saja, kan sudah ada gantinya. Oh ya, Bos Kevin mau mengajak kamu dinner nanti malam. Sekarang kamu dandan yang cantik dan pakai gaun yang tadi kita beli ya!" sahut Reno memberitahu. Mela tampak mengangguk dan menjawab, " Baik Mas." "Ya sudah Mas pulang dulu," pamit Reno sambil berlalu dari hadapan Mela. Mela kemudian menabur bedak bayi di telapak tangan. Lalu memoles wajahnya sampai merata. Bibir merah muda itu ditimpa lip gloss biar tidak kering. Gadis itu kemudian memakai gaun berwarna putih, sepatu dan tas yang baru saja dibelinya. Buat orang, biasa sudah kece habis, entah bagi seorang Kevin Prayoga yang biasa kencan dengan artis dan model. Setelah selesai berdandan, Mela menemui Kevin yang sudah menunggunya. Kevin tampak menghembuskan napasnya ketika melihat penampilan Mela yang sangat sederhana. Apalagi ketika ia mencium baby powder. Membuat pria itu memijit pangkal hidungnya. Sementara itu Mela tampak tertunduk tidak berani menatap Kevin yang sangat tampan sekali dengan setelan jas hitam. "Ikut aku!" seru Kevin sambil berlalu menuju ke teras yang diikuti oleh Mela. Jeki yang menjadi supir sekaligus merangkap bodyguard, segera membukakan pintu mobil untuk majikannya. Kevin menghentikan langkahnya dan mempersilahkan Mela untuk masuk terlebih dahulu. Setelah Kevin sudah masuk, supir itu segera menutup pintu. Tidak lama kemudian mobil mewah itu meluncur membelah jalan. Kevin kemudian melirik ke arah jam tangan rolex yang dikenakan dan segera berseru kepada supir pribadinya. "Jek, kita ke mampir ke salon Mr Lee!" "Baik Tuan," sahut Jek dengan patuh. Padahal nama aslinya Jeki biar keren dikit. Jek segera mengemudikan mobil ke tempat yang dituju. Tidak berapa lama kemudian, kendaraan mewah itu berbelok ke salah satu salon terkenal di Ibukota. Di mana hanya artis dan model saja yang jadi pelanggannya. Kevin dan Mela segera turun dari mobil dan masuk ke tempat itu. "Selamat malam Tuan Kevin. Lama tidak datang," ucap seorang pria berpakaian modis. "Malam Mr Lee, aku ingin kamu merubah penampilannya dalam waktu sepuluh menit!" pinta Kevin sambil menoleh ke arah Mela. Mr Lee tampak tersenyum ramah dan segera memanggil anak buahnya. "Ladies, kalian cepat ke sini, tolong buat Nona ini jadi Cinderella!" "Siap Mr," sahut seorang wanita yang berpenampilan modis. Mela tampak menurut ketika dirinya di bawa ke salah satu ruangan untuk di rias. Seorang wanita segera make over wajah gadis itu dengan cekatan. Rambut Mela yang tergerai segera digulung ke atas. Setelah dirias, seorang stylist segera mengganti gaun Mela dengan yang lebih berkelas dan anggun. Sebuah busana malam berwarna unggu menjadi pilihan. Di mana bagian dadanya terlihat rendah dengan belahan paha yang tinggi. "Sudah lebih lima menit," ujar Kevin sambil berdiri. "Sabar Tuan, Nah itu dia," sahut Mr Lee sambil tersenyum ke arah anak buahnya yang membawa Mela. Kevin tampak tercengang melihat Mela dengan penampilan barunya. Ia seperti melihat seorang model kecantikan. Jantung pria itu berdetak lebih cepat ketika Mela berhenti di hadapannya. [Beautiful Women,] puji Kevin di dalam hati. Sementara itu Mela hanya tertunduk dan malu dengan penampilan barunya. "Bagaimana Tuan, apakah anda suka?" tanya pria itu sambil tersenyum melihat expresi Kevin. "Kirim tagihannya nanti kutransfer!" seru Kevin sambil meninggalkan tempat itu yang diikuti oleh Mela. Di dalam mobil Mela dan Kevin kembali saling terdiam. Mereka tidak bicara apa pun. Kevin terus menepis perasaannya yang mulai bergetar dan Mela semakin merasa canggung dengan pakaian seperti itu. Sesekali tangannya menarik gaun itu agar ke atas, tetapi tetap saja melorot lagi. Sehingga Dua apel puji gadis itu tampak mengintip dengan cantik. Akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Jeki segera membukakan pintu buat majikannya. "Kita akan dinner dengan relasi bisnisku, jadi jaga sikapmu dengan baik!" pesan Kevin ketika berjalan beriringan dengan Mela, "Tegakkan pandanganmu dan gandeng tanganku sekarang juga!" serunya kemudian. Mela tampak mengangguk dan mulai memasukan tangannya di lengan Kevin. Mereka kemudian berjalan menuju meja yang sudah dibooking. Gadis itu benar-benar grogi ketika semua orang mulai melirik ke arah mereka. "Tenang dan santai lah!" seru Kevin sambil merangkul pinggul Mela. Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang. Mereka segera menuju ke arah salah satu meja. Seorang pria berpakaian rapi segera berdiri menyambut kedatangan tamunya. "Hallo Mr Kevin, senang sekali anda mau hadir untuk dinner bersama saya malam ini," ucap Mr Sam sambil menjabat tangan Kevin dengan erat. "Maaf sedikit telat Mr Sam, suatu kehormatan menerima undangan dari anda," balas Kevin sambil tersenyum. "No problem kami juga baru sampai. Kenalkan ini Rita," ujar Mr Sam sambil menoleh ke arah seorang wanita cantik di sebelahnya. Rita segera menyalami secara bergantian. "Mr Kevin siapa wanita cantik ini?" tanya Mr Sam sambil menatap Mela yang good looking. Kevin terlihat grogi dan menjawab, "Dia adalah ...." "Pasti istri Mr Kevin, cincin pernikahan yang bagus," tebak Mr Sam sambil melihat ke arah jari manis kanan Mela. Kevin terlihat mati kutu, bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau Mela mengenakan cincin pernikahan. Pria itu tampak berpikir apa pun caranya orang-orang tidak boleh tahu jika dirinya sudah menikah. "No, kami baru bertunangan dan cincin itu kebesaran di jari manis kiri. Jadi dipakai di kanan, iya kan beb?" jelas Kevin sambil menatap Mela dengan seulas senyum. "Iya, saya tunangannya," sahut Mela membenarkan perkataan Kevin. "Oke, silahkan duduk! Kita mulai dinner nya," ucap Mr Sam yang segera duduk di bangku. Mela mengikuti cara makan Kevin dan yang lainnya dengan saksama. Ia tidak mau membuat suaminya malu. Gadis itu bahkan pelan-pelan sekali ketika menggunakan pisau dan garpu untuk menyantap makanannya. Setelah makan malam selesai dilanjut dengan ramah tamah. "Mr Kevin, tunangan anda cantik sekali. Apakah kamu sudah pindah ke lain hati?" tanya Mr Sam sambil memperhatikan Mela yang sedang berbincang dengan Rita. "No, hatiku masih untuknya," sahut Kevin yang melihat Mela dengan dingin. Mr Sam tampak tersenyum dan menyahuti, "Saya melihat chemistry yang kuat di antara kalian. Sepertinya wanita itu yang akan menjadi jodoh anda." Kevin yang sedang meneguk minumannya tampak terbatuk-batuk mendengar pendapat Mr Sam. Uhuk ... uhuk ...! "Ha ... ha .., relax Mr Kevin! Cinta itu bisa tumbuh seiring dengan waktu." Mr Sam menepuk bahu Kevin yang tampak gugup. "Ayo kita dansa!" ajaknya kemudian. Mr Sam segera menghampiri kekasihnya. Mereka mulai berdansa mengikuti musik yang mengalun. Kevin tidak tahu jika malam ini ada acara berdansa. Kalau tahu begitu tadi mending ajak rekan bisnisnya saja. Mau tidak mau ia harus melakukannya dengan Mela. Pria itu mendekati istrinya dan segera meraih tangan gadis itu untuk melingkarkan di lehernya. "Saya tidak bisa berdansa Tuan," ujar Mela memberanikan diri. "Ikuti saya saja!" sahut Kevin sambil menatap gadis itu dengan saksama. Kevin segera melingkarkan tangannya di pinggul Mela. Kemudian ia merapatkan tubuh gadis itu ke d**a bidangnya dan mulai mengikuti alunan musik dengan perlahan. Mela merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Sentuhan tangan Kevin membuatnya jadi panas dingin. Apalagi tubuh mereka saling berhimpitan. Beberapa kali wanita itu menginjak kaki Kevin, tetapi lelaki itu sepertinya memaklumi dan tidak marah. Aroma parfum maskulin yang tercium dari tubuh Kevin. Membuat Mela jadi terbuai oleh pesona pria itu. Ia bahkan harus beberapa kali menundukkan pandangannya. Sampai tanpa sadar gadis itu merebahkan kepalanya di d**a bidang Kevin. Akhirnya dinner itu pun selesai, setelah berpamitan dengan Mr Sam, Kevin dan Mela segera meninggalkan tempat itu. Di sepanjang perjalanan pulang mereka kembali saling terdiam. Entah mengapa Mela merasa tidak nyaman jalan dengan Kevin. Pakaian yang dikenakannya terlalu terbuka. Gadis itu merasa risih ketika Mr Sam dan para pria menatapnya tadi. Beda sekali ketika pergi dengan Reno yang tidak mengharuskan dirinya berpakaian seksi. Sehingga wanita itu merasa aman dan menjadi dirinya sendiri. Tanpa terasa mobil itu sudah sampai di rumah Kevin yang mewah. "Silahkan!" ucap Jeki ketika membuka kan pintu untuk Mela, "Tuan Nyonya tidur," ujar pria itu memberitahu Kevin. Kevin mendengus kesal dan mengguncang bahu gadis itu seraya berseru, "Mela bangun sudah sampai! Mel!" Mungkin karena kecapean, gadis itu terlelap dengan pulas sekali. Sehingga Kevin segera turun dari mobil dan membopong tubuh istrinya. Tanpa di suruh Jeki membukakan pintu rumah dan kamar untuk majikannya. Kevin segera merebahkan tubuh Mela di atas kasur. Tanpa disengaja wajahnya mereka berdekatan, nyaris tanpa jarak. Pria itu pun terkesima melihat istrinya ketika sedang tidur. Dirinya pun tidak dapat memungkiri jika Mela sangat cantik sekali malam ini. Darah Kevin pun berdesir. Dengan spontan pria itu mengelus pipi Mela dan mengecup bibir ranum itu dengan lembut. *** Mela tampak menggeliat ketika azan subuh berkumandang. Gadis itu pun terkejut ketika menyadari sudah berada di dalam kamarnya. Ia mulai mengingat apa yang semalam telah dilakukannya bersama Kevin. "Siapa yang membawaku ke sini ya. Apa Es batu itu?" tanya Mela dengan heran. Gadis itu segera menyibak selimut dan mendapati dirinya masih memakai gaun yang utuh. Ia tampak lega karena takut Kevin akan berbuat senonoh kepadanya. Gadis itu pun tampak tersenyum mengingat acara dansa semalam. "Tuan Kevin tampan sekali, andai dia mencintaiku," lirih Mela sambil berangan. Ia segera menepis lamunannya yang sangat mustahil. Setelah melakukan kewajibannya, seperti biasa Mela selalu pergi ke dapur untuk membantu Mbak Ning membuat sarapan. Asisten itu tampak tersenyum melihat kedatangan Mela. "Mbak Ning, bikin apa?" tanya Mela ingin tahu. "Egg roll cheese dan sandwich tuna bakar," jawab Ning sambil melihat ke arah leher Mela yang tampak merah. "Tuan sudah baik sama Nona ya?" tanya asisten itu tersenyum. Mela tampak menghela napas panjang dan menyahuti, "Tuan tidak berubah Mbak. Semalam saja dia tidak mengakui saya sebagaia istrinya." "Sabar, saya yakin suatu saat nanti Tuan akan jatuh cinta kepada Nona!" ujar Mbak Ning seolah memberikan asa. "Kami tidak mungkin saling mencintai Mbak!" sahut Mela yang tidak mau mempunyai perasaan kepada Kevin. Wanita itu segera menuju wastafel dan mulai mencuci piring. Setelah selesai Mela segera mengelap tangannya. Lalu ia pergi untuk menikmati udara pagi yang sejuk. Kali ini ia menuju taman depan rumah. Terlihat beberapa penjaga tampak menunduk melihat ke arahnya. Gadis itu bagaikan kupu-kupu cantik yang sedang bergelayut manja pada tangkai bunga. Baru saja Mela duduk di bangku taman, tiba-tiba Kevin yang sedang lari pagi bersama bodyguardnya datang. Ia melihat tidak senang ke arah istrinya. Kevin segera menyuruh pengawalnya untuk pergi. Kemudian pria itu segera menghampiri Mela dan menatap dengan saksama. "Masuk!" seru Kevin dengan tatapan yang dingin. Sambil menundukkan kepalanya Mela kemudian menyahuti, "Saya cuma mau melihat bunga Tuan." "Cepat masuk!" seru Kevin kembali dengan ketus. Entah apa maksud Kevin melarang Mela. Sehingga membuat gadis itu jadi badmood. Ia segera meninggalkan Kevin yang masih menatapnya sambil membatin, "Sabar Mela kamu harus kuat jangan ladeni es batu!" Dengan tergesa Mela menaiki anak tangga dan menuju ke pintu utama. Akibat kurang hati-hati dirinya tersungkur ke lantai. Bugkh ...! "Aduh!" pekik Mela sambil menyeringai kesakitan. "Mela!" panggil seseorang yang berlari ke arah gadis itu dengan cemasnya. Ia segera membantu gadis itu untuk berdiri. "Lain kali hati-hati ya!" pesan Reno yang dijawab anggukan oleh Mela. Sementara itu Kevin tampak acuh tak acuh melihat Mela jatuh. Bahkan dengan santainya ia masuk ke rumah dan menuju ke mini bar untuk beristirahat. Mbak Ning sudah menyiapkan minuman dan sarapan buat Kevin di tempat itu. Tidak lama kemudian Reno datang menghadap. "Kenapa Mela semalam memakai gaun dengan model lama dan wangi bedak bayi?" tanya Kevin yang baru kali ini bicara panjang kali lebar. "Maaf Bos, saya yang salah. Saya janji akan mengajari Mela untuk lebih mengenal dunia fashion dan make up," ucap Reno sambil memutar otaknya kembali. "Oke, saya hari ini mau main golf di tempat biasa," ujar Kevin memberitahu. Reno tampak mengangguk dan segera berlalu untuk mengatur acara Bosnya untuk main golf. Sementara itu di dalam kamar Mela tampak berkaca-kaca. Ia merasa benar-benar tidak dianggap sebagai istri oleh Kevin. Padahal tadi dia jatuh di depan mata suaminya. Akan tetapi, pria itu diam saja. Justru Reno yang baru datang langsung membantunya untuk berdiri. Sikap Kevin tadi menyadarkan Mela, jika dirinya bukanlah siapa-siapa. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN