Malam mulai merambat jauh, di salah satu apartemen yang dihuni oleh golongan menengah ke bawah. Sovi tampak tampak gusar dan badmood. Sudah beberapa minggu lebih wanita itu jadi uring-uringan. Tepatnya semenjak kehadiran Mela. Reno sudah tidak pernah nongkrong di klub atau kencan dengan Sovi lagi.
Sovi merasa hari-harinya sepi, tidak ada lagi teman yang selalu menghabiskan malam bersamanya untuk bersenang-senang. Sebenarnya bukan itu yang dirisaukan, melainkan sebuah rasa takut akan kehilangan.
Ting ... Nong ...!
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, dengan malas wanita itu melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu. Seulas senyum pun tampak mengembang. Melihat seraut wajah yang telah dirindukan.
"Reno, tumben lu ke sini. Kangen ya ma gue?" tanya Sovi dengan senangnya.
"Jangan basa-basi! Mau bisnis ga lu?" sahut pria itu sambil melangkah masuk ke kamar apartemen Sovi.
Reno menuju ke sofa yang disusul oleh Sovi. Mereka kemudian saling duduk berhadapan.
"Mau kasih job apa lu?" tanya Sovi dengan serius.
"Besok lu datang ke rumah Bos Kevin, terus ajarin Mela dandan dan pilihkan gaun yang modis, tetapi tidak seksi!" ujar Reno dengan serius.
Sovi tampak mengangguk kecil dan menegaskan, "Terus gue dibayar berapa?"
Reno tempak menggeleng seraya menyahuti, "Kerja juga belum udah nanyain gaji. Matre banget sih lu."
"Gue bukan matre, tetapi realistis," sahut Sovi dengan sengit.
"Kalau Mela sudah bisa dandan sendiri, baru lu dapat bayaran yang sesuai." Reno memberikan kepastian upah yang akan Sovi terima.
Sovi tampak mengangguk seperti burung pelatuk. "Oke, besok jemput gue ya! Lu udah makan lom?" tanyanya kemudian.
"Sudah, gue mau pulang. Cape banget hari ini," sahut Reno yang segera berdiri.
Sebenarnya Reno takut khilaf lagi karena ia sedang berusaha jadi pria baik-baik. Apalagi penampilan Sovi sangat menggodanya. Dadaa dan paha wanita itu membuat Reno jadi gerah sehingga juniornya jadi menegang.
Melihat Reno yang hendak berlalu, Sovi segera mencegahnya dengan berdiri di hadapan pria itu dan bertanya, "Lu mau ke mana sih Ren, buru-buru pulang? Santai saja kali!" Wanita itu mendorong tubuh Reno hingga kembali duduk di sofa.
Reno menghela napas panjang, niatnya yang mau berubah jadi pria baik-baik sepertinya akan tertunda. Ia tahu Sovi sedang memasang badan untuk menggodanya. Tiba-tiba wajah Mela terlintas di benaknya sehingga membuat pria itu jadi bimbang.
"Sov, gue lagi nggak mood." Reno berusaha menolak rayuan wanita itu.
Sovi tidak menghiraukan penolakan Reno. Ia segera duduk di pangkuan sambil merapatkan tubuhnya ke d**a pria itu, hingga wajah mereka dekat sekali.
Sekuat-kuatnya iman lelaki akan goyah juga. Apalagi Reno yang sudah merasakan nikmatnya bercinta dengan wanita. Seperti kucing garong, kalau dikasih ikan asin pasti dicaplok.
"Free Ren," desis Sovia sambil mengelus d**a pria itu.
Mendapat sentuhan seperti itu iman Reno rontok sudah. Ia segera mencumbu Sovi dengan memburu. Mereka saling memagut satu sama lain. Udara kamar kian terasa panas meskipun sudah memakai AC. Niat Reno untuk kembali ke jalan yang benar berguguran. Pria itu berpikir tobatnya besok-besok saja.
Dua insan itu pun kemudian tampak bergelut di atas sofa yang sempit.
Bunyi televisi menyamarkan suara-suara yang keluar dari mulut Reno dan Sovi. Mereka terlihat berpacu dengan waktu untuk mencapai puncak terlebih dahulu.
***
Reno tampak terbangun dari tidur nyenyaknya ketika mendengar suara panggilan ponsel yang terus berdering. Pria itu pun sangat terkejut ketika melihat jam dinding yang telah menunjukan pukul 7.30 WIB.
"Sial, bisa telat ni gue," umpat Reno sambil menyingkirkan tangan Sovi dari tubuhnya. Ia segera mencari ponselnya sambil berpikir.
"Ada apa sih Ren, berisik banget? Gue masih ngantuk ni," tanya Sovi sambil mengucek matanya yang jadi ikut terbangun.
"Gara-gara lu godain semalam, gue jadi telat kerja. Baju gue ada di sini kan?" jawab Reno sambil bertanya.
Sovi pun mengangguk dan memberikan jawaban, "Celana dalam lu juga ada Ren. Semalam kan gue sudah bilang, cukup. Lu minta nambah terus." Wanita itu pun tersenyum.
"Mumpung free, kapan lagi," sahut Reno apa adanya.
Tiba-tiba sebuah ide terbesit dibenak Reno. Ia segera menghubungi Kevin untuk memberikan alasan.
[Halo, Bos, maaf hari ini saya langsung ke kantor. Tiba-tiba mobil mogok di tempat yang jauh dari bengkel,] ujar Reno ketika panggilannya terhubung.
[Oke,] sahut Kevin singkat dan panggilan itu pun terputus.
"Lu berangkat sendiri ke rumah Bos Kevin ya! Nanti gue hubungi penjaga dan Mela," ujar Reno sambil menoleh ke arah Sovi.
Wanita itu pun mengangguk dan berseru, "Iya, lu mandi sana! Gue siapkan baju dan kosmetik buat ajarin Mela." Ia kemudian mengambil celana dan tantop lalu memakainya.
Reno dan Sovi adalah pasangan kencan atas dasar suka sama suka. Bahkan terkadang wanita itu melakukannya untuk membayar hutang kepada Reno. Otak m***m keduanya sebelas dua belas.
Tidak lama kemudian Reno sudah selesai membasuh diri. Setelah berpakaian, pria itu tampak menyulut sebatang rokok dengan menikmati secangkir kopi. Ia mulai sibuk mengecek jadwal Kevin hari ini dan semua sepertinya aman terkendali.
"Bagus, hari ini Bos Kevin tidak ada jadwal ke luar," ujar Reno yang kemudian segera menghubungi Mela. Rasanya tidak tenang jika belum bertegur sapa dengan gadis itu.
[Hai cantik, sedang apa?"] sapa Reno ketika panggilannya terhubung.
[Halo Mas Reno, biasa aku sedang duduk di taman belakang. Sambil sarapan bersama Mbak Ning,] sahut Mela dari seberang sana.
[Oh ya, hari ini Sovi main ke sana! Dia mau mengajarimu banyak hal nanti.] Reno memberitahu akan kedatangan Sovi ke rumah Bos Kevin.
[Oke, Mas Saya tunggu ya!] Mela senang sekali mendengarnya.
Sementara itu Sovi sudah terlihat rapi dengan rok span jeans dan baju atasan kerah yang rendah. Ia mendengar percakapan Reno dan Mela tanpa disadari oleh pria itu.
[Gue tahu Reno suka sama Mela. Dengan job ini gue akan buat gadis itu jatuh cinta sama Bos Kevin,] tekad Sovi di dalam hati.
***
Tentu sebagai pengusaha kaya raya, tidak boleh sembarangan orang yang keluar masuk ke rumah Kevin Prayoga. Maka dari pada itu, Reno harus melobi penjaga terlebih dahulu. Baru setelah itu ia bergegas menyusul Bosnya ke kantor.
Mela tampak menyambut kedatangan Sovi di teras. Mereka saling berpelukan dengan erat. Ia kemudian mengajak Sovi untuk masuk ke kamar pribadinya.
"Kamar kamu bagus dan luas ya Mel," kagum Sovi sambil menelisik sekeliling tempat itu yang hampir seluas apartemennya.
Setelah mengangguk Mela pun bertanya, "Oh ya mbak mau mengajariku apa hari ini?"
"Banyak, kamu akan kuajari dandan, fashion style dan merawat tubuh biar tambah cantik," jawab Sovi sambil mengeluarkan kosmetik dari tas kecil.
Sovi mulai mengajari Mela cara merias wajah dengan sabar dan telaten. Ia juga memberitahu jenis kosmetik dan fungsinya agar aman dan cocok saat di pakai.
"Seperti ini Mbak?" tanya Mela sambil menunjukan hasil blus on dan eye shadow yang dipakainya sendiri.
Sovi tampak mengangguk kecil sambil mengacungkan jempolnya seraya memuji, "Pinter, iya betul seperti itu cukup tipis dan tidak usah berlebihan!"
"Sebenarnya buat apa dan siapa saya belajar dandan?" tanya Mela yang merasa tidak ada gunanya merias diri.
"Ya buat menyenangkan suami, biar Bos Kevin semakin cinta sama kamu," sahut Sovi sambil tersenyum.
Mela memandangi wajahnya di cermin. Ia pesimis jika Tuan Kevin menaruh hati kepadanya. Bertatapan saja buang muka.
Sovi tahu jika Mela tidak percaya diri. Ia kemudian mendekati gadis itu seraya berkata, "Sebagai Nyonya Kevin, kamu harus selalu tampil cantik jika ada suami di rumah! Sekarang kita belajar tentang dunia fashion ya!" Wanita itu kemudian mengeluarkan ponsel dan memberitahu toko busana khusus wanita yang branded.
"Saya tidak mau pakai gaun yang seksi Mbak," pinta Mela yang risih jika mengenakan busana dengan mengumbar auratnya.
"Oke, kalau begitu kamu pilih yang ini saja!" saran Sovi sambil menunjukan beberapa gaun malam yang sopan, tetapi terlihat anggun elegan.
Mela tampak mengangguk dan menyahuti, "Iya Mbak yang itu aku suka sama modelnya."
Gadis itu kemudian membeli beberapa dress dan gaun malam yang sesuai dengan keinginannya, tetapi tetap elegan dan anggun.
Seharian ini Sovi mengajarkan banyak hal kepada Mela. Mulai dari berdandan, memilih busana dan kosmetik. Untung Mela cepat tanggap dan paham. Selain itu Sovi juga memotong rambut Mela yang panjang lurus dengan model segi sebahu.
Jika Reno selalu menekankan untuk tidak boleh jatuh cinta kepada Kevin, Sovi justru mengajarkan sebaliknya. Harus memberikan pelayanan kepada suami, walaupun hanya sekedar merias diri.
"Maaf ya Mel, saya tahu kamu cuma istri sementara Bos Kevin. Tapi selama itu, dia mencukupi semua kebutuhanmu. Terus apa yang kamu berikan? Kerja saja kita harus menjaga penampilan bukan?" ujar Sovi yang membuat Mela berpikir.
[Benar apa yang dikatakan Mbak, Sovi aku tidak boleh aji mumpung. Tuan Kevin sudah menafkahi. Jadi sudah sepatutnya diriku melayani dengan tampil cantik di hadapannya,] batin Mela yang tidak mau istilahnya makan gaji buta. "Baik lah Mbak, mulai hari ini Saya akan mencoba berdandan bila ada Tuan Kevin di rumah," sahut wanita itu yang disambut anggukan oleh Sovi.
"Merias diri dan berpenampilan seksi di depan suami itu akan mendapat pahala," bisik Sovi sambil menyisir rambut Mela yang terlihat lebih modis.
***
Sore harinya Bos Kevin dan asisten pribadinya itu pulang. Kevin segera menuju ke kamar pribadinya, sedangkan Reno menemui Mela.
"Sudah dapat ilmu apa dari Sovi?" tanya Reno basa basi.
"Banyak Mas, pokoknya seputar kehidupan wanita," sahut Mela yang membuat Reno mengangguk kecil.
Sambil tersenyum Sovi pun berpesan sekalian berpamitan, "Kalau ada yang mau ditanya, telepon saja. Saya pulang dulu ya, sudah sore."
"Baik Mbak, terima kasih ya sudah ajarkan saya banyak hal hari ini," ucap Mela dengan senangnya.
"Sama-sama, jangan lupa dipraktekan, mumpung ada Bos Kevin!" bisik Sovi yang dijawab anggukan oleh Mela.
Setelan Reno dan Sovi pulang, Mela segera membersihkan dirinya. S,elesai membasuh tubuh, gadis itu kemudian mempraktekan apa yang tadi telah diajarkan oleh Sovi. Ia mengoleskan serum wajah dan bibir. Alhasil muka Mela terlihat fresh dengan segar.
Mela membuka jendela kamarnya, ia tampak menikmati senja yang terlihat indah. Angin membelai rambut gadis itu yang tergerai. Hingga menari-nari di pelupuk matanya.
Sementara itu Kevin yang baru saja selesai mandi, tampak tertegun ketika melihat Mela yang terlihat cantik dan modis dengan dress bermotif bunga. Dari balik tirai pria itu menatap istrinya tanpa berkedip sedikit pun.
"Sial, gadis cupu itu semakin cantik saja," lirih Kevin sambil menatap istrinya dengan dingin.
Namun, sekuat apa pun pria itu menepis pesona Mela. Kali ini hatinya bergetar melihat penampilan gadis itu.
"Oke, kita lihat siapa yang lebih kuat," lirih Kevin sambil menatap dengan sinis.
Pria itu segera membuka lemari dan memilih baju santai. Sebuah celana pendek dan kaos press body menjadi pilihannya. Ia kemudian menuju balkon yang berhadapan dengan kamar Mela.
Kevin pura-pura tidak melihat istrinya dengan tetap memandang ke langit. Di mana lembayung tampak merona.
Mela jadi menggigit bibirnya ketika melihat Kevin yang tampak macho dan tampan. Wanita itu pun jadi salah tingkah dengan sibuk merapikan rambutnya yang dimainkan oleh angin. Jelas sekali ia mencuri pandang dari sudut netranya.
Langit mulai gelap, Kevin memutuskan untuk masuk ke dalam, begitupun dengan gadis itu yang hendak menutup daun jendela. Namun, pria itu sempat menoleh ke arah Mela yang tampak tersipu malu. Sehingga menimbulkan getaran di hati gadis itu.
"Kenapa jantungku berdetak cepat sekali," ujar lirih Mela sambil memegang dadanya.
Tidak lama kemudian terdengar suara azan magrib. Mela segera menutup jendela kamar dengan rapat.
Sementara itu di dalam kamarnya Kevin terlihat gusar. Pria itu menepis setiap getar yang muncul ketika melihat Mela tadi.
"Sial, kenapa aku yang jadi tergoda," lirih pria itu sambil menghembuskan napasnya dengan kasar
Malam mulai merambat ketika Mela mengantarkan makan malam buat Kevin. Gadis itu terlihat mendorong troli food dan berhenti di depan kamar suaminya dan mengetuk pintu.
Tok ...! Tok ...!
Tidak lama kemudian pintu kamar itu terbuka.
"Makan malam Tuan, permisi" ujar Mela sambil pamit undur diri.
Kevin tertegun melihat penampilan Mela yang lebih modis dan cantik. Apalagi ketika gadis itu melenggang sangat menggoda sekali. Sehingga menantang jiwa pejantannya. Rasanya ia ingin menarik gadis itu masuk ke kamar. Menjadikannya teman dalam selimut.
"Sial," lirih Kevin yang teringat perjanjian untuk tidak menyentuh Mela.
Mela segera ke dapur untuk makan malam bersama Mbak Ning.
"Tadi Tuan masa lihatin aku aneh begitu Mbak, " ujar Mela sambil mencocol lalap dengan sambel.
Mendengar itu Mbak Ning tampak terkejut dan dengan spontan bertanya, "Tuan bilang apa?"
"Tidak bilang apa-apa, tetapi menatap saya seperti mau menerkam," jawab Mela yang jadi ketakutan.
Mbak Ning tampak mengangguk, "Tuan itu naif, dia sebenarnya tertarik sama Nona."
"Jadi maksud Mbak, Tuan suka sama saya?" tanya Mela yang dijawab anggukan oleh Mbak Ning. Ia tidak yakin Kevin diam-diam mulai tergoda oleh seorang gadis biasa. Entah kenapa jantung Mela jadi berdebar-debar.
Tidak lama kemudian ponsel Mela berdering. Ia menerima pesan dari Kevin yang berbunyi, [Jangan harap bisa menggodaku!]
BERSAMBUNG