Kevin Prayoga adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang ekspor-import. Ia terkenal dengan sebutan bos dingin. Pria itu paling tidak suka ditatap, terutama oleh wanita. Maka dari pada itu, setiap karyawan yang berpapasan dengannya harus menundukkan kepala
Namun, pesona Kevin yang dingin menjadi daya tarik sendiri bagi kaum hawa. Banyak wanita yang tergila-gila oleh ketampanan pria itu. Mulai dari karyawan, relasi bisnis bahkan sampai artis dan model yang pernah disewanya untuk berkencan. Bahkan mereka rela tidur dengan Kevin, tanpa dibayar sekalipun.
Akan tetapi, tidak sembarangan wanita bisa dekat dengan Kevin. Mungkin Mela adalah satu-satunya wanita yang paling beruntung saat ini. Seorang kembang desa yang dipilih untuk menjadi seorang istri, meskipun hanya sementara. Sampai sekarang orang-orang tidak ada yang tahu. Jika Kevin telah beristri karena pernikahannya masih dirahasiakan, entah karena apa.
Di salah satu gedung pencakar langit, Kevin melangkah dengan gagah memasuki kantornya. Di sebelah kanan pria itu tampak seorang bodyguard dengan tubuh tinggi besar dan di kirinya asisten pribadi. Mereka menuju ke lift khusus untuk jajaran direksi.
Kevin segera memasuki ruang kerjanya, sedangkan Jeki dan Reno stand by di sebelah tempat itu. Seorang sekretaris pria berpakaian rapi segera menemui Kevin untuk memberi tahu jadwal kerja bosnya hari ini.
"Selamat pagi Pak, nanti jam sepuluh ada pertemuan dengan klien dari Korea di Relax resto. Berikutnya undangan lunch dari Miss Linda. Setelah itu rapat dengan jajaran direksi," ujar Edy memberitahu.
"Tolak lunch dengan Miss Linda dan siapkan berkas untuk pertemuan itu. Jam 9.30 kita berangkat ke sana!" seru Kevin dengan serius.
"Baik Pak!" sahut sekretaris itu dengan patuh.
Kevin tidak suka sekretaris wanita karena selalu cari perhatian kepadanya. Sehingga membuat pria itu jadi gerah dan risih. Tanpa banyak omong langsung dipecat, padahal sangat bagus dalam bekerja. Entah sudah berapa kali ganti, akhirnya Reno mencari seorang pria untuk menempati posisi itu.
"Bos Kevin aneh, masa diajak lunch sama Miss Linda yang semok dan cantik nggak mau. Coba kalau pria pasti langsung diterima," ujar Edy ketika kembali ke ruangannya.
"Kayak ngga kenal Bos Kevin saja. Miss Linda kan ganjen," sahut Reno yang berada di ruangan itu juga.
Jeki yang sedang sarapan pun ikut menimpali, "Kalian gibah saja masih pagi mending makan!"
"Siapa gibah, kenyataannya begitu. Seperti Bang Jek badan boleh gede, tetapi takut istri," ujar Edy sambil berlalu sebelum dipiting sama Jeki.
"Dasar, terong layu," sungut Jeki dengan kesal.
Reno hanya menggeleng sambil mentertawakan kedua rekan kerjanya itu dengan geli.
***
Setelah pertemuan dengan klien dan maka siang, Kevin segera kembali ke kantor. Sambil menunggu waktu rapat direksi yang belum dimulai. Pria itu terlihat bersantai di kursi kebesarannya.
Tiba-tiba pria itu teringat Mela dan memikirkannya. Iseng-iseng Kevin membuka rekaman CCTV rumahnya yang tersambung ke ponsel. Ia ingin tahu apa yang dilakukan Mela ketika berada di rumah.
Pria itu jadi heran ketika tidak menemukan Mela di semua ruangan.
"Ke mana dia?" tanya Kevin sambil memantau kamera CCTV. Sampai akhirnya ia mengklik kamera di kamar Mela. Sebenarnya itu melanggar kode etik, tetapi karena istrinya sah-sah saja.
Kevin tampak terbelalak ketika melihat Mela tidak memakai apa pun ketika habis mandi. Semua bagian tubuh wanita itu terlihat dengan jelas. Ular kobra pria itu pun seketika berdiri menatap kemolekan badan istrinya yang mulus.
"Sial, dia sangat menggoda," umpat Kevin yang segera mematikan CCTV itu dari ponselnya.
Pria itu tidak kuat lama-lama menatap tubuh Mela yang membuat hasratnya terpancing. Ia ingin sekali pulang untuk menuntut pelampiasan, tetapi itu tidak mungkin. Apalagi Mela sedang menjaga jarak karena sikap Kevin yang sok jaim.
Waktu meeting pun tiba, Kevin segera memimpin rapat direksi. Ketika sedang mendengarkan laporan yang sedang disampaikan oleh bawahannya. Pria itu terlihat tidak fokus, pikirannya seolah entah berada di mana.
Biasanya pria itu selalu menyampaikan pendapat atau memberikan kritik. Namun, rapat kali ini Kevin terlihat lebih banyak diam dan tidak berkomentar apa pun. Sehingga membuat bawahannya jadi heran.
"Apakah Bapak baik-baik saja?" tanya wakil direktur kepada Kevin.
"Yes, tolong pimpin untuk menutup rapat ini! Tiba-tiba kepala sayang pusing," seru Kevin yang segera ke luar dari ruang meeting.
"Baik Pak," sahut wakil direktur dengan heran.
Kevin segera masuk ke ruang kerjanya. Ia melepas dasi dan membuka beberapa kancing kemeja. Pria itu tampak menghembuskan napas dengan kasar. Sungguh hari ini sosok Mela telah mengacaukan pikirannya.
"Aku tidak mencintainya," lirih Kevin yang mulai jadi eror sambil membayangkan tubuh Mela.
Tiba-tiba ponsel pria itu berdering, Kevin tampak mengernyitkan dahinya ketika melihat nama seseorang menghubungi.
[Ada apa Rin?] tanya Kevin dengan heran.
[Operasi Mami Rose berhasil dan sekarang Tuan Muda diminta datang bersama menantu Prayoga!] ujar seorang wanita dari seberang sana memberitahu.
Kevin tampak terkejut sekali mendengarnya karena belum lama ini baru dari Singapura. [Sampaikan kepada mami aku sedang sibuk!]
[Baiklah, kata mami vidio call saja Tuan!] sahut wanita itu kembali.
Kevin tampak menarik napas panjang dan menyahuti [Oke, nanti pulang kerja aku telepon.] Pria itu terpaksa harus pulang ke rumah untuk memenuhi permintaan ibunya. Padahal hari ini jadwalnya kembali ke apartemen.
***
Jam pulang kerja tiba, semua ruas jalan terlihat macet oleh kendaraan. Sebuah pemandangan yang sudah biasa
di Ibukota. Itu lah alasan Kevin terkadang memilih pulang ke apartemennya yang dekat dari kantor.
Namun, hari ini pria itu memutuskan untuk pulang ke rumah. Sehingga membuat Reno jadi heran, tetapi pria itu tidak berani bertanya. Setelah melewati kemacetan, mobil mewah yang ditumpangi oleh Kevin sampai di kediamannya.
Mela yang baru bangun tidur tampak terkejut ketika mendengar suara mobil Kevin. Wanita itu segera melihat dari balik jendela. Ia tampak mengernyitkan dahi karena Kevin pulang ke rumah pada hari kerja.
Setelah Kevin sudah menaiki tangga dan tidak terlihat lagi, Mela segera ke luar dari kamar dan menghampiri Reno dan bertanya, "Tuan Kevin hari kerja kok pulang ke rumah Mas?"
"Kurang tahu, tetapi hati-hati ya! Aku curiga Bos Kevin pulang karena ada niat tertentu sama kamu," pesan Reno yang membuat Mela jadi berpikir.
"Iya Mas, tetapi kita tidak boleh souzon. Saya mau membantu Mbak Ning masak buat Tuan," sahut Mela yang berpikiran positif.
Reno menatap Mela dengan heran dan balik bertanya, "Terus kamu tidak mau menemani saya ngobrol, kalau masak kan ada Mbak Ning."
"Ya sudah, tetapi sebentar saja ya," sahut Mela yang dijawab anggukan oleh Reno.
Baru mereka bicara empat mata, tiba-tiba Mbak Ning datang.
"Mas Reno sebaiknya pulang, kami mau masak!" seru Mbak Ning dengan ketus.
Reno merasa Mbak Ning mengusirnya secara tidak langsung." Mas pulang dulu ya Mel," pamitnya dengan sedikit kesal.
"Iya Mas hati-hati," sahut Mela,"kita mau bikin apa Mbak hari ini?" tanya gadis itu yang siap untuk belajar masak lagi bersama Mbak Ning.
Mbak Ning tidak langsung menjawab. Setelah mobil Reno pergi baru ia memberitahu, "Tuan menunggu di ruang tengah. Sekarang Nona mandi dan dandan yang cantik ya!"
"Tuan mau apa Mbak sama saya?" tanya Mela dengan sedikit takut. Apalagi tadi Reno berkata seperti itu.
"Mbak tidak tahu, katanya penting ayo cepat mandi!" jawab Mbak Ning sambil mendorong tubuh gadis itu masuk ke kamarnya.
Mela segera masuk ke dalam toilet, tidak berapa lama kemudian gadis itu sudah selesai membasuh diri. Setelah malaksanakan salat ashar, Mela langsung menemui Kevin di ruang tengah tanpa dandan. Ia tidak mau dibilang penggoda lagi oleh Kevin yang sok kegantengan itu.
Ketika sampai di ruang tengah, Mela melihat Kevin sedang duduk di Sofa menunggunya. Pria itu terlihat cool dengan kaos dan celana jeans. Sungguh sangat mempesona, membuat jantung Mela berdetak jadi tidak karuan.
Kevin menatap penampilan Mela dengan saksama dan bertanya, "Kenapa kamu tidak merias diri?"
"Maaf Tuan, saya tidak mau menggoda," sahut Mela menyindir.
"Sekarang dandanlah dan pakai perhiasan yang aku berikan!" seru Kevin dengan serius.
[Apa sih maunya dia, kemarin aku dibilang penggoda. Sekarang disuruh dandan. Dasar es batu aneh,] batin Mela
yang segera kembali ke kamar.
Mela segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih bagus. Terus merias wajahnya sesuai yang diajarkan Sovi. Setelah itu memakai perhiasan yang telah Kevin berikan sebagai mahar. Tidak lupa dirinya menyemprotkan parfum white lily. Lalu ia kembali menemui Kevin lagi.
Kevin tampak terpukau melihat Mela yang terlihat lebih cantik. Ia segera mengeluarkan ponselnya seraya berseru, "Duduk di sebelahku dan jadilah istri yang baik!"
Dengan grogi Mela duduk di samping suaminya. Kevin merangkul Mela, hingga tubuh sedikit merebah di d**a pria itu. Tidak lama kemudian panggilan itu pun terhubung.
"Hallo Mi, how are you?" ucap Kevin sambil tersenyum.
Seorang wanita paruh baya tampak senang melihat anak dan menantunya menghubungi. Dengan suara yang lemah ia pun menjawab, "I'm fine, she is beautiful. Siapa namamu sayang?" tanyanya kemudian.
"Melati Bu," jawab gadis itu sambil tersenyum ramah.
"Namaku Rose dan panggil saya mami! Kamu berasal dari mana sayang dan apa pekerjaanmu?" seru Mami Rose sambil bertanya.
Kevin segera mengambil alih pembicaraan karena ia tidak mau ibunnya tahu siapa Mela sebenarnya.
"Mela berasal dari Bogor, dia adalah putri rekan bisnisku," jelas Kevin sedikit berbohong.
"Bagi Mami tidak masalah siapa istrimu yang penting kalian saling mencintai," potong Mami Rose yang tidak mau tahu latar belakang menantunya lagi.
Mela tampak tersenyum, andai apa yang dikatakan mertuanya itu benar adanya. Akan tetapi sayang, dia hanyalah istri sementara.
"Tentu Mi, bukan kah begitu sayang?" sahut Kevin sambil menatap istrinya yang tampak mengangguk dengan seulas senyum mengembang.
Kevin yang selalu bersikap dingin seperti baru es batu, kini terlihat hangat bagaikan teh manis panas. Melihat itu Rose tampak senang sekali.
"Mami mau beristirahat, sekarang berikan ciuman terbaik kalian! " pinta Mami Rose yang baru saja selesai menjalani operasi jantung di Singapura.
"Baik lah," sahut Kevin sambil mendekatkan wajahnya ke bibir Mela. Lalu ia mencium istrinya dengan mesra.
Mami Rose tersenyum melihat itu, rumor putranya seorang gay terpatahkan sudah. Ia kini percaya anaknya seorang lelaki normal.
"Not bad, sepertinya dia masih perlu banyak belajar. Thanks sudah menghubungi ku!" ujar Mami Rose dan panggilan itu pun berakhir.
"Bye Mom," ucap Kevin sambil mematikan ponselnya. Ia kemudian menoleh ke arah Mela dan berseru, "Jangan pergi dulu. Balas apa seperti yang kulakukan!
Mela tampak bergeming menunggu apa yang akan suaminya perbuat. Ternyata Kevin menciumnya kembali, tetapi tiba-tiba pria itu menggigit bibir Mela dengan gemas.
"Auw ..." pekik Mela kesakitan.
"Lain kali balas, jangan diam saja!" seru Kevin karena menurutnya ciuman Mela sangat buruk.
Sambil menahan tangisnya Mela pun menjawab, "Saya belum pernah melakukannya dengan siapa pun." Ia segera berlari meninggalkan Kevin.
Kevin tampak tertegun mendengar apa yang baru saja Mela katakan. Entah mengapa ia merasa bersalah setelah apa yang telah dilakukannya. Namun, pria itu tidak mungkin meminta maaf. Harga dirinya terlalu gengsi mengakui kesalahan.
Mela segera kembali ke kamarnya dan melihat bibirnya yang sedikit berdarah. Gadis itu pun terisak karena perih sekali. Baru beberapa minggu Mela menjadi istri, pria itu mulai menyakitinya. Dari sikap, perkataan dan perbuatan. Entah kejutan apalagi yang akan Mela terima sebagai istri sementara.
Gadis itu mengurung dirinya di dalam kamar sampai menjelang makan malam. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk disertai suara Mba Ning.
Tok ... tok ...!
Mbak Ning memanggil dari luar pintu, "Nona."
"Masuk Mbak! Tidak dikunci," sahut Mela.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Mbak Ning datang sambil membawa makan malam. Wanita itu tampak terkejut melihat bibir Mela yang bengkak.
"Bibir Nona kenapa?" tanya Mbak Ning sambil mendekati Mela.
Dengan mata yang sedih gadis itu menjawab, "Kegigit Mbak, lagi makan tadi."
"Loh kapan. Mbak Ning baru antarkan makanannya?" tanya wanita itu dengan curiga.
Mela tidak menjawab, tetapi matanya tampak berkaca-kaca.
"Apa Tuan Kevin yang melakukannya?" tebak Mbak Ning yang dijawab anggukan oleh Mela.
Gadis itu memeluk Mbak Ning sambil terisak, "Tuan Kevin jahat karena saya diam saja ketika dicium."
Mbak Ning menghela napas panjang sambil mengelus punggung Mela seraya berkata, "Nona yang sabar ya! Mungkin Tuan gemas karena menganggap tidak dilayani dengan baik."
Tanpa mereka sadari Kevin mendengarkan percakapan Mela dan Mbak Ning dari kamera CCTV dan pria itu menyapu mukanya dengan kedua tangan.
BERSAMBUNG