Bab. 10 Aku Pulang

1781 Kata
Waktu terus berlalu semenjak Kevin menggigit bibir istrinya, Mela mulai menjaga jarak dengan pria itu. Ia memilih tetap berada di kamarnya jika ada Kevin di rumah. Namun, bila suaminya sedang bekerja. Mela bersikap biasa saja, seperti memasak bersama Mbak Ning dan terkadang ngobrol dengan Reno. "Mas, saya boleh ambil libur?" tanya Mela dengan serius. Reno mengangguk sambil menjawab, "Tentu boleh, kamu mau libur hari apa?" tanya pria itu. "Besok Mas, saya mau pulang kampung," jawab Mela yang sudah kangen dengan kedua adiknya. Sebulan lebih sudah dirinya merantau di Jakarta. "Baiklah, nanti Mas bilang sama Bos Kevin dulu karena posisi kamu di rumah ini sebagai seorang istri bukan asisten biasa. Jadi Mas tidak berani lansung mengizinkan," sahut Reno yang disambut anggukan oleh Mela. Reno segera menemui Kevin dan menyampaikan keinginan Mela. "Bos, Mela ingin ambil libur besok. Dia mau pulang kampung," ujar Reno memberitahu. "Temani dan pastikan dia kembali lagi ke rumah ini!" seru Kevin memberikan izin untuk menebus rasa bersalahnya. Sebenarnya pria itu tahu Mela sedang menjaga jarak dengannya. "Baik Bos, permisi," sahut Reno yang segera meninggalkan Kevin dan kembali menemui Mela. Mela sangat senang sekali mendapat izin untuk pulang kampung. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jaka dan Bayu. Pasti kedua adiknya akan terkejut akan kepulangan kakak mereka yang tiba-tiba. Setelah berpamitan dengan Mbak Ning, Mela dan Reno segera meluncur ke Bogor. "Mas Reno, apakah saya boleh memakai uang yang ada di tabunganku?" tanya Mela takut melakukan kesalahan. Sambil fokus menyetir Reno pun menjawab, "Tentu saja Mel, uang itu milikmu." "Kalau begitu, nanti kita mampir ke ATM sebentar ya?" pinta Mela kemudian yang dijawab anggukan oleh Reno. Ketika sampai di kota Bogor, Reno mengajak Mela ke salah satu mall yang terdapat di kota itu. Sebelum mengambil uang, Mela berinisiatif untuk membeli sembako dan ponsel untuk kedua adiknya. "Masih ada yang ingin dibeli lagi?" tanya Reno yang siap untuk mengantar Mela. "Saya rasa sudah cukup Mas," jawab Mela sambil melihat belanjaannya yang lumayan banyak. Reno kemudian mengawal Mela mengambil uang di ATM. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. "Sayang di sini mendung, kalau cerah pasti dapat melihat pemandangan yang indah," ujar Reno sambil melihat ke langit yang tampak gelap. "Bagaimana, kalau kita pulang besok Mas. Saya akan tunjukan tempat yang indah," saran Mela dengan antusiasnya. Reno menoleh ke arah Mela dan menyahuti, "Kita lihat nanti ya, soalnya tadi Bos Kevin berpesan agar kita cepat pulang." Mela tampak menghela napas panjang. Andai Kevin adalah Reno pasti dia akan minta tinggal beberapa hari di Bogor. Namun, itu tidaklah mungkin. Mana mau orang kaya seperti Kevin menginap di kampung. Berpesan hati-hati di jalan saja tidak. "Kamu sedang marahan sama Bos Kevin ya?" tanya Reno ingin tahu. Mela pun mengangguk dan menjawab dengan jujur, "Iya, dia itu sangat menyebalkan Mas. Bibir saya waktu itu digigit sama Tuan Kevin. Dia kesal saya diam saja ketika dicium saat kami vidio call sama Mami Rose." Reno hanya menghela napa panjang, sayang Mela sudah jadi istri Kevin. Jika belum pasti sudah dia ajarkan cara b******u yang baik dan benar. Mela bertanya kembali, "Oh ya, Tuan Kevin menikahi saya agar ibunya mau dioperasi ya Mas?" "Iya, Mami Rose takut operasi jantungnya gagal. Jadi beliau meminta Bos Kevin untuk segera menikah secepatnya," jawab Reno menjelaskan. Gadis itu tampak mengangguk dan bertanya kembali, "Operasi jantung Mami Rose berhasil, terus kenapa pernikahan itu harus setahun ?" Tanpa berpikir lagi Reno segera menjawab, "Kalau soal itu saya tidak tahu. Bos Kevin tidak terlalu terbuka soal asmaranya. Rumahmu, masih jauh?" tanya pria itu mengalihkan pembicaraan. Mela melihat ke depan jalan dan menjawab, "Belok ke perkebunan teh itu Mas, nanti di ujung jalan rumah saya!" Reno mengikuti rute yang ditunjukan oleh Mela. "Di perkebunan teh ini lah saya mencari nafkah Mas. Juragan Karta melamar untuk menjadi istri ke empat. Saya menolak dan dipecat." Mela menceritakan sepenggal kisahnya. "Kamu kembang desa ya?" tebak Reno yang dijawab anggukan oleh Mela. Wajar saja karena gadis itu mempunyai kecantikan alami. "Sudah punya kekasih di sini?" tanya pria itu kemudian. Mela tampak menggeleng dan menjawab, "Saya belum pernah pacaran Mas." Reno pun mengangguk kecil dan bertanya kembali, "Kalau boleh tahu, memangnya kriteria calon kekasih atau suami kamu idaman seperti apa?" "Saya cuma ingin seorang lelaki yang soleh dan baik. Serta mau menerima diri saya yang cuma seorang gadis kampung," jawab Mela yang membuat Reno mengangguk. "Contohnya seperti siapa?" tanya Reno ingin tahu. Mela tampak berpikir sesaat dan menjawab, "Mungkin seperti Mas Reno." Reno serasa terbang di udara mendengarnya. Ia tersenyum malu-malu mau, kalau begini pria itu jadi tidak sabar untuk menunggu Mela dan Kevin berpisah. [Aku harus bisa berubah menjadi seorang lelaki yang lebih baik lagi. Kutunggu jandamu Mel,] tekad Reno di dalam hati. Mela berharap suatu saat nanti mempunyai suami sebaik Reno dan sederajat dengannya. Namun, entah kenapa justru wajah dingin Kevin yang terlintas di benaknya. Sehingga membuat jantungnya berdebar. [Aku tidak boleh mencintai Tuan Kevin, kami terlalu jauh berbeda,] lirih gadis itu yang merasa tidak pantas bersanding dengan suaminya. Namun, tanpa gadis itu sadari perasaannya kepada Kevin terus bersemi. Sementara itu di sebuah rumah sederhana, dua orang anak laki-laki sedang memakan singkong rebus untuk menggantikan nasi. Mereka terlihat lahap sekali dan tidak mengeluh sedikit pun. "Sudah sebulan Teh Mela tidak ada kabarnya. Bagaimana nanti kita bayaran sekolah?" tanya Jaka sambil mengunyah potongan terakhir singkong di tangannya. "Sabar atuh, Teteh pasti pulang! Nanti kalau sudah lulus sekolah, biar kita saja yang cari uang di kota. Saya tidak tega melihat Teteh harus mencari nafkah sendiri," sahut Bayu yang sangat menyayangi kakaknya. Tiba-tiba terdengar ucapan salam sehingga percakapan adik kakak itu terhenti. "Assalamualaikum ..., Bayu, Jaka." "Waalaikumsalam ...," jawab kedua remaja itu dengan kompak. Jaka segera membuka kan pintu yang disusul oleh Bayu. "Teteh Mela," panggil Bayu dan Jaka dengan girangnya menyambut kepulangan kakak mereka. Mela memeluk kedua adiknya dengan erat. Rasanya rindu itu terbayar sudah. "Kalian apa kabar?" tanya Mela sambil melangkah masuk. "Alhamdulillah ... kami baik-baik saja, Teteh sendiri bagaimana?" jawab Jaka sambil balik bertanya. "Seperti yang kalian lihat, oh ya kenalkan ini Mas Reno teman kerja Teteh di kota," jawab Mela sambil memperkenalkan pria itu. Tanpa disuruh Jaka dan Bayu segera menyalami Reno dengan sopan. "Kalian makan singkong?" tanya Mela ketika melihat sepiring ketela rebus. "Iya, Teteh sudah makan belum, silahkan masih hangat," jawab Bayu sambil menyajikan makanan itu, sedangkan Jaka langsung membuatkan teh panas. Mela terlihat sedih sekali melihat kedua adiknya hanya makan singkong. Sementara dirinya selalu makan dengan lauk enak di rumah Kevin. Namun, apa pun rejeki yang didapat itu harus disyukuri. Gadis itu kemudian menata belanjaannya di dapur, sedangkan Reno terlihat menikmati ketela rebus itu dengan ditemani Jaka dan Bayu. Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Seolah langit menumpahkan seluruh tangisnya. Sampai malam hujan belum juga reda. Reno dan Mela tampak bercakap-cakap di ruang tamu. Sementara itu Jaka dan Bayu sedang sibuk mempelajari ponsel baru yang dibelikan. "Jadi mulai sekarang kalian bisa menghubungi Teteh kalau ada apa-apa," ujar Mela sambil memperhatikan kedua adiknya. "Iya Teh, terima kasih. Kami juga perlu buat belajar," ucap Jaka dengan senangnya. "Ya sudah, sekarang kalian tidur. Biar besok tidak kesiangan sekolah!" seru Mela yang dipatuhi oleh Jaka dan Bayu. Reno tampak terkagum dengan kedua adik Mela. "Mereka sangat mandiri sekali," puji pria itu. "Hanya mereka harta yang kumiliki Mas. Sebenarnya saya belum siap menikah, sampai Jaka dan Bayu lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan," sahut Mela menimpali. Mendengar itu Reno kemudian menceritakan keluarganya."Kita sama-sama menjadi tulang punggung. Cuma adikku lebih banyak dan masih kecil-kecil. Paling besar kelas tiga SLTP." "Memangnya Mas Reno berapa bersaudara?" tanya Mela ingin tahu. "Sembilan, tambah mbok dan bapak pas jadi kesebelasan, kalau sedang tidur persis seperti ikan cue pada berjejer," jawab Reno apa adanya. Mela tersenyum mendengarnya dan memberikan komentar, "Banyak anak banyak rejeki Mas." "Iya sih, tetapi banyak juga modalnya, kalau kaya raya seperti Bos Kevin sih tidak masalah," sahut Reno yang jadi pusing kalau memikirkan keluarganya di kampung. "Mas, tolong bilang sama Tuan Kevin kalau saya minta menginap malam ini," pinta Mela yang masih rindu dengan kedua adiknya. Reno menghempaskan badannya di sandaran bangku kayu dan menyahuti, "Kamu tenang saja! Nanti kalau ada sinyal saya akan bilang." "Terima kasih ya Mas," ucap Mela yang dijawab anggukan oleh Reno. Malam kian larut, hujan masih turun, meskipun sudah tidak sederas tadi. Mela sudah tidur di kamarnya, sedangkan Reno di bangku ruang tamu. Namun, pria itu tidak bisa tidur nyenyak karena banyak nyamuk yang menggigitnya. Beberapa kali pria itu terjaga dan jadi kesal sendiri. "Nyamuk sialan," umpat Reno yang jadi terbangun. Tiba-tiba ponsel Reno berdering, ia segera menerima panggilan itu. [Kenapa belum pulang?] tanya Kevin dari seberang sana. [Di sini hujan deras Bos, sepertinya kalau malam ini harus kembali ke Jakarta. akan sampai dini hari. Tadi ruas jalan ke Bogor juga lumayan macet,] jelas Reno agar Mela bisa menginap semalam. Ia segera membuka jendela dan mengambil foto keadaan di luar rumah. Lalu mengirimnya kepada Kevin. [Oke, besok pagi kalian harus pulang!] seru Kevin dan panggilan itu pun berakhir. Reno terlihat lega karena dia capek juga bila harus bolak-balik Jakarta-Bogor. Apalagi kalau hujan, macetnya parah. Di mana kampung Mela melewati jalur puncak. Pria itu kembali memejamkan matanya. Samar-samar Reno melihat Mela ke luar dari kamar. "Mas Reno, kedinginan ya? Sini tidur sama Mela di kamar!" ajak wanita itu sambil tersenyum dari pintu. Reno segera bangun dan menatap Mela dengan saksama. Ia kemudian berdiri dan berjalan mendekati gadis itu. "Kamu yakin mau tidur sama Mas Reno?" tanya pria itu menegaskan. Mela tampak mengangguk dan segera menarik tangan Reno untuk masuk ke kamar. Tentu pria itu tidak menolak, meskipun mereka bukan muhrim. Ia tidak peduli dan masa bodoh dengan status Mela sebagai istri Kevin. "Mas Reno boleh peluk?" tanya pria itu yang dijawab anggukan oleh Mela seolah memberi lampu hijau. "Mau mimi s**u juga boleh." "Terserah," jawab Mela sambil tersenyum yang membuat rontok iman Reno. Reno seperti mendapat durian runtuh. Lumayan dingin-dingin empuk, tanpa berpikir lagi pria itu segera memeluk Mela dan mencumbunya dengan memburu. Bugkh ..! Reno nyungsep dari bangku sehingga pria itu terjaga seketika. Tidak lama kemudian Mela yang masih mengenakan mukena keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi. "Mas Reno kenapa jatuh, mimpi ya?" tanya Mela dengan cemas. Sambil memegangi jidatnya yang sakit, Reno menjawab dengan anggukan. Ia malu sekali jadinya melihat Mela yang habis melakukan salat tahajud, sedangkan dirinya mimpi m***m. Otak Reno perlu steame sepertinya. Sementara itu Mela segera masuk kembali ke kamar sambil tersenyum. "Nasib, nasib," lirih Reno yang memilih tidur di lantai karena takut jatuh lagi. Tidak lama kemudian Mela keluar sambil membawa selimut dan bantal yang tadi lupa diberikan. "Mas Reno, kok tidur di lantai sih?" tanya Mela dengan heran. Ia segera menyelimuti Reno dan mengganjal kepala pria itu dengan bantal. [Lumayan, diselimutin sama calon istri,] batin Reno yang pura-pura tidur. BERRSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN