Bab. 11 Siapa Suamiku?

1118 Kata
Setelah meninggalkan sejumlah uang untuk kedua adiknya, Mela berpesan sebelum kembali ke Jakarta. "Kalian bayar uang sekolah untuk beberapa bulan ke depan. Sisanya gunakan buat keperluan sehari-hari!" "Iya Teh," jawab Jaka dan Bayu bersamaan. "Kalian harus belajar yang rajin ya! Teteh harus kembali ke kota." Mela memeluk kedua adiknya sebelum masuk ke mobil. Bayu dan Jaka tampak mengangguk patuh. Mereka pun melepas kepergian Mela dengan haru. Kedua remaja itu memandangi kendaraan yang membawa Mela sampai hilang oleh jarak. Mobil itu membelah dan menerobos untaian kabut yang masih turun di sepanjang jalan. Meluncur seolah mengejar waktu sebelum mentari tersembul dari balik bukit. "Indah sekali pemandangan di sini, kita jalan-jalan yuk sebentar!" ajak Reno yang jadi tidak ingin buru-buru pulang. "Boleh, sekalian kita beli sayuran ya!' sahut Mela menyetujui. Baru saja Reno menepikan mobil, tiba-tiba ia mendapat pesan dari Kevin. Pria itu pun segera membacanya. [Kalau jam 08.00 belum sampai rumah, kau kupecat!] "Lain kali saja ya Mel, Bos Kevin sudah menunggu kita," ujar Reno yang segera mengemudikan kendaraannya kembali. Sambil mengangguk Mela pun menjawab, "Iya Mas." Ketik mentari telah meninggi, mobil yang dikendarai Reno sudah memasuki tol arah Jakarta. Tepat pukul 07.50 WIB mereka sudah sampai di kediaman Kevin. "Alhamdulillah ... kita sudah sampai. Mas Reno langsung kerja?" ucap Mela sambil menoleh ke arah pria itu. "Iya, tetapi saya mau ganti baju dulu," sahut Reno sambil turun dari kendaraan itu dan segera menuju ke samping rumah. Biar cepat sampai ke kamarnya yang angker. Baru saja Mela hendak membuka pintu, tiba-tiba Kevin ke luar dengan memakai setelan kerja. Terlihat gagah dengan rambut yang tersisir rapi. Mereka saling bertatapan sejenak. Tercium aroma maskulin yang membuat Mela jadi terpesona. "Selamat pagi Tuan," sapa Mela sambil menundukkan kepalanya. "Hemm ...." Kevin hanya melirik sekilas ke arah istrinya tanpa sepatah kata pun. Tidak lama kemudian Reno datang dengan tergesa-gesa. Pria itu sempat tersenyum ke arah Mela seolah berpamitan. Ia segera masuk ke mobil Kevin, sedangkan kendaraannya ditinggal. Setelah mobil mewah itu meluncur pergi, Mela segera menuju dapur untuk membantu Mbak Ning. Rasanya tidak afdol kalau bertegur sapa dengan asisten itu. Mela melihat Mbak Ning akan mencuci dengan raut wajah yang sedih sekali. Gadis itu pun mendekati seraya bertanya,."Mbak Ning, kenapa?" "Ibu saya hari ini meninggal Nona. Mbak Ning mau pulang kampung. Tadi sudah pamit sama tuan dan diberi cuti seminggu," jawab wanita itu memberitahu. Mendengar itu Mela pun kembali bertanya, "Saya turut berduka cita, terus kapan Mbak akan pulang?" "Nanti Nona, setelah pekerjaan ini selesai," sahut Mbak Ning sambil menyeka air matanya yang hendak tumpah. "Mbak Ning pulang saja, biar tugas mencuci saya yang mengerjakan!" saran Mela yang ingin membantu asisten itu. Mbak Ning tampak mengangguk dan segera masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Tidak lama kemudian wanita itu sudah ke luar sambil membawa tas dan sebuah buku catatan. "Ini resep cara membuat sarapan dan masakan untuk tuan, kalau ada yang mau ditanyakan. Nona telepon saya saja! Di buku ini juga ada nomor ponsel Tuan Kevin, Mas Reno dan tempat belanja," jelas Mbak Ning sambil memberikan buku itu. Mela segera menerimanya seraya berucap, "Terima kasih Mbak." Mbak Ning kemudian segera memesan taksi online untuk pulang kampung. Mela mengantar asisten itu sampai depan teras. Ia membuka dompet dan menarik beberapa uang merah lalu memberikannya. "Saya tidak bisa kasih apa-apa, ini ada sedikit rezeki untuk Mbak," ujar Mela sambil mengepalkan uang ke tangan Mbak Ning. Mbak Ning terlihat haru mendapat kebaikan dari Mela seraya berkata, "Tidak usah Nona, Tuan Kevin sudah kasih tadi." "Tidak apa-apa, itu dari saya," sahut Mela yang ingin berbagi. Mbak Ning kemudian berucap, "Terima kasih Nona, maaf saya tidak menyelesaikan pekerjaan." Mela pun mengangguk kecil dan menyahuti, "Mbak jangan pikirkan itu ya!" Tidak lama kemudian kendaraan yang dipesan tiba. Mela kemudian mengantar Mbak Ning sampai pintu gerbang. Mereka saling berpelukan dengan erat dan haru. "Saya pulang dulu, jaga diri Nona baik-baik!" pesan Mbak Ning setelah pelukan mereka terlepas. "Hati-hati Mbak!" ucap Mela sambil melambai. Gadis itu menatap mobil yang membawa Mbak Ning sampai hilang oleh jarak. Entah mengapa ia merasa sedih. Seolah akan kehilangan seorang teman yang sudah dianggap kakak seperti kakaknya sendiri. Mela segera kembali masuk ke rumah untuk mulai mencuci baju. Ia memilah pakaian Kevin satu persatu. Parfum maskulin masih tercium dari pakaian pria itu. Mela tampak menyesap aroma itu hingga membuat jantungnya jadi berdebar. Apalagi kalau dipeluk pasti bisa langsung pingsan. "Sadar Mel, kamu siapa!" ujar wanita itu yang kembali mencuci. Tidak butuh waktu lama pekerjaan itu rampung juga. Setelah mencuci baju Kevin, Mela mulai mempelajari buku catatan yang tadi diberikan kepadanya. Selama Mbak Ning tidak ada, otomatis semua tugasnya dipegang oleh Mela. Namun, ia berharap asisten itu cepat pulang karena takut Kevin tidak menyukai masakannya. Dari buku catatan Mela jadi tahu makanan dan minuman favorit Kevin yaitu aneka masakan seafood dan orange jus. Dari daftar hampir setiap ada menu itu hanya beda pengolahannya saja. Gadis itu pun segera mengecek bahan-bahan dan bumbu di dapur. "Yah, semua sudah mau habis," lirih Mela ketika melihat isi kulkas dan kitchen set. Ia kemudian berpikir sejenak dan segera menghubungi Reno. [Halo Mel, ada apa?] tanya Reno dari seberang sana. [Halo Mas, bahan-bahan untuk masak sudah pada habis. Saya belanja di mana?] lapor Mela sambil bertanya. [Oke nanti sore, Mas temani kamu belanja. Sekarang tidak usah masak! Mungkin Tuan Kevin pulang ke apartemen, kalau kamu mau makan pesan saja atau kita makan di luar nanti!] sahut Reno sambil berpesan. [Iya Mas,] balas Mela dan panggilan itu pun berakhir. Mentari mulai meninggi, Mela segera mengangkat jemuran dan lansung menggosoknya dengan rapi. Sebelum azan zuhur berkumandang, pekerjaannya telah selesai. Mela tampak bingung mau ditaruh di mana pakaian Kevin. "Sebaiknya aku susun di tempat gosok saja. Nanti biar Mas Reno yang memasukan ke kamar tuan," ujar Mela sambil meninggalkan tempat itu. Mela kemudian menuju ke dapur untuk mengganjal perutnya. Ia mengambil beberapa butir telur dan memasaknya. Alhasil telor mata sapi saus tiram pun jadi. "Enak juga." Mela mencicipi masakan itu. Baru saja Mela mau makan, tiba-tiba seorang pengawal datang dan membawakannya nasi box dari salah satu restauran. "Ada paket makan siang dari Nyonya," ujar pria itu sambil memberikan bawaannya. "Saya sudah masak, buat kamu saja!" tolak Mela dengan halus. Penjaga itu menggaruk kepalanya dan meminta, "Kalau boleh saya makan masakan Nyonya saja." Mela tampak mengangguk dan segera mengambil nasi yang sudah di masak oleh Mbak Ning. Dengan lauk sederhana, ia memberikannya kepada penjaga itu. "Terima kasih Nyonya, saya numpang makan di dapur ya. Takut yang lain minta," ucap penjaga itu yang dijawab anggukan oleh Mela. Mela tersenyum dan segera membuka nasi box itu. Ia sudah bisa menebak pasti Reno yang mengirimkan makan siang. Kevin memang menafkahi istrinya secara materil, tetapi Renolah yang memberikan perhatian dan mengantar wanita itu ke mana-mana. Kadang Mela merasa entah siapa suaminya. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN