Mela sedang duduk sendirian di bangku taman. Sambil menikmati senja yang tampak merona di ufuk barat. Selama tinggal di kediaman Kevin, ia tidak pernah pergi, kecuali bersama Reno. Sebenarnya tidak masalah karena di kampung setelah memetik teh, dirinya memang jarang ke luar rumah.
Namun, suasana alam yang asri dan indah di Bogor, membuat Mela tidak jemu. Sementara itu bila di kota entah mengapa susananya membosankan. Apalagi setelah Mbak Ning pulang kampung. Waktu terasa lama seolah berhenti berputar.
Tanpa Mela sadari Reno sudah sampai di rumah Kevin, sedangkan bosnya itu pulang ke apartemen.
"Boleh ditemani?" tanya Reno sambil duduk di samping Mela.
Sambil menoleh Mela pun menyahuti, "Mas Reno sudah pulang, kirain saya langsung ke rumah."
"Katanya mau dianterin belanja," sahut Reno yang membuat Mela teringat.
"Oh iya, kita jalan kapan Mas?" tanya wanita itu.
"Sekarang yuk! Sekalian jalan-jalan sore," ajak Reno yang aji mumpung. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
Mela tampak mengangguk dan berkata, "Oke, sebentar saya ganti baju dulu
Oh ya Mas, tadi saya menyetrika baju Tuan. Terus saya taruh di tempat gosok."
"Ya sudah, nanti Mas yang akan bereskan," jawab Reno yang segera menuju ke tempat menyetrika.
Mela segera berlalu ke kamarnya. Tidak lama kemudian, ia sudah siap untuk pergi shoping bersama Reno.
Pertama-tama Reno mengajak Mela jalan-jalan sore ke kota tua. Di sana mereka menikmati senja yang sebentar lagi akan dipeluk oleh Sang malam. Gadis itu terlihat senang sekali. Banyak pasangan muda-mudi yang berfoto atau pun sekedar kongko di tempat itu.
Kota Tuan memang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Jakarta. Mela yang baru pertama kali ke tempat itu sangat kagum dengan bangunan peninggalan jaman kolonial Belanda. Terlihat sangat klasik dan penuh histori.
"Saya tahu Kota Tua dari buku pelajaran di sekolah. Begitu pun dengan Taman Mini dan Monas," ujar Mela sambil memandangi bangunan itu.
Reno yang duduk di sebelahnya pun menyahuti, "Pasti kamu tidak menyangka bisa ke tempat ini dan mengenal Ibukota."
"Iya, semua ini berkat Mas Reno. Tuan Kevin tidak pernah jalan-jalan ya Mas?" timpal Mela sambil bertanya.
"Nggak, Bos Kevin itu cari hiburannya di klub. Paling main golf, pokoknya dia nyaman dengan kehidupannya sendiri," jawab Reno apa adanya.
Mela tampak mengangguk kecil seraya berkata, "Pantas Tuan Kevin jarang ke luar kamar."
Reno menghela napas panjang lalu bertanya, "Mas boleh tanya sesuatu yang pribadi? Akan tetapi kamu jawab dengan jujur ya!' tanya pria itu dengan serius yang dijawab anggukan oleh Mela.
"Iya, memang Mas mau tanya apa?" sahut Mela yang jadi penasaran.
Sambil menatap Mela dengan saksama Reno mulai bertanya, "Kalau kamu sudah bercerai nanti dan ada seorang pria biasa yang tidak sekaya Bos Kevin. Apa kamu mau menikah dengannya?"
"Kenapa tidak, tetapi saya tidak pernah tahu berjodoh dengan siapa," jawab Mela tanpa ragu.
Reno tersenyum mendengarnya dan membatin, [Semoga dirimu adalah jodohku Mel, aaminn ....] "Kita foto yuk buat kenang-kenangan. Nanti kamu juga bisa kirim ke Jaka dan Bayu."
Mela tampak mengangguk dan segera mengambil posisi. Reno beberapa kali mengambil gambar gadis dan ada juga foto selfi mereka berdua.
Tidak lama kemudian terdengar suara azan magrib yang mengalun dengan syahdu. Seolah menandakan jika hari telah berganti malam. Reno mengajak Mela ke Istiqlal. Gadis itu pun kembali terpukau bisa salat di mesjid terbesar di Asia tenggara dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.
Setelah selesai salat, Reno segera melajukan mobilnya ke salah satu mall terdekat. Mereka membeli semua keperluan dapur dan kamar mandi. Memang sudah waktunya belanja bulanan.
"Kamu nggak sekalian beli keperluan pribadi?" tanya Reno dengan perhatiannya.
"Masih ada Mas." Mela menjawab dengan jujur.
Entah mengapa Reno merasa senang sekali hari ini. Ia terlihat sebagai suami yang sayang istri. Dengan mengantar Mela jalan-jalan sore dan belanja bulanan karena selama ini Mbak Ning selalu pesan lewat online. Aji mumpung pikirnya kapan lagi bisa pergi berduaan dengan Mela seperti ini.
"Apa lagi yang harus dibeli?" tanya Reno memastikan tidak ada barang yang terlewat.
Mela tampak berpikir sesaat dan menjawabnya, "Udang, cumi dan sayuran belum dapat Mas, di sini sudah habis."
"Oke, saya tahu harus beli di mana," sahut Reno yang segera meninggalkan tempat itu.
Mereka kemudian meluncur menuju ke pasar ikan yang tidak terlalu jauh dari mall itu. Mela tampak terpukau melihat gemerlap lampu yang menghiasi Ibukota di malam hari. Cukup indah apalagi jika dilihat dari ketinggian jalan layang.
"Jakarta indah juga ya Mas," ujar Mela sambil menatap lampu-lampu yang bertaburan di bawah sana.
"Jakarta itu kota penuh cerita, banyak kisah yang berawal dari sini dan berakhir dengan sejuta kenangan," ujar Reno yang sok puitis seperti penulis novel.
Mela sependapat dengan Reno, sepertinya kota ini juga akan menjadi saksi perjuangan hidupnya dalam mencari pekerjaan. Mungkin sepenggal kisah asmara yang akan tergores dalam lembaran hidupnya.
Mobil yang dikemudikan Reno memasuki pasar ikan. Aneka janis hewan laut terlihat menghampar di meja. Mela dan Reno mulai mencari tempat yang tidak terlalu ramai. Tidak tanggung-tanggung, pria itu segera membeli stokan untuk seminggu.
"Mas, ini kita beli semua?" tanya Mela yang dijawab anggukan oleh Reno.
Mereka membeli ikan kakap, tuna, tongkol, undang dan cumi.
"Sekarang kita ke pasar Waru untuk beli sayuran yang kurang," ujar Reno kemudian.
Mela hanya mengikuti saja ke mana Reno mengajaknya. Setelah sudah membeli semua, Reno dan Mela mampir untuk makan malam di resto seafood di pinggir pantai. Coba saja bersama Kevin pasti dunia serasa milik berdua. Sayang itu cuma khayalan yang tidak mungkin terwujud.
"Udang asam manis, cumi lada hitam dan cah kangkung. Minumnya es teh tawar, " pesan Reno yang langsung dicatat oleh pelayan.
Setelah memilah Mela pun memesan, "Ikan kakap bakar, capcay kering, dan jeruk panas Mbak." Ia kemudian menyerahkan list menu itu.
Sambil menunggu pesanan, Mela dan Reno bercakap-cakap.
"Mas Reno, tidak capek pulang kerja langsung antar saya belanja?" tanya wanita itu yang jadi tidak enak hati.
"Sudah biasa, sebagai asisten pribadi Bos Kevin. Jadwal kerja Mas tidak tentu, terkadang hari libur pun suka masuk," jawab Reno apa adanya.
Mela tampak berpikir sejenak dan bertanya kembali, "Kenapa hanya Mbak Ning satu-satunya asisten wanita?"
Reno tersenyum dan segera menjawab, "Bos Kevin tidak suka karena asisten perempuan itu ganjen. Cuma Mbak Ning yang tidak caper. Selain itu sudah cocok dengan masakannya."
Mela tampak mengangguk kecil ia mulai paham kalau Tuan Kevin tidak suka dengan perempuan yang cari perhatian kepadanya. Jujur ia juga tidak mau tebar pesona, tetapi ada rasa yang membuatnya ingin selalu memperhatikan pria itu karena Tuan Kevin sangatlah mempesona. Sebagai seorang istri apakah salah bila mengagumi suaminya sendiri?
"Pasti sedang mikirin Bos Kevin," tebak Reno ketika melihat Mela termangu.
Mela tampak terperangah dan segera menyanggahnya, "Apaan sih Mas Reno, oh ya terima kasih makan siangnya tadi," ucapnya kembali.
Reno tersenyum dengan heran karena dia tidak merasa membelikan Mela nasi box. Pria itu menduga pasti Kevin yang melakukannya. Pantas saja bosnya itu tidak ke luar makan siang. Reno tidak akan membiarkan Kevin merebut simpati Mela.
Akhirnya waiters menyajikan pesanan. Mela dan Reno kemudian menyantap hidangan seafood dengan lahap.
"Diam sebentar!" seru Reno sambil mengelap sisa makanan di dagu Mela dengan tisue.
Mela jadi tersipu malu karena beberapa orang tampak tersenyum ke arahnya. Sementara Reno semakin gencar mendekati gadis itu agar jatuh cinta kepadanya. Kevin boleh menang secara pisik dan kantong, tetapi kalau soal perhatian Reno merasa jauh lebih unggul.
Tanpa mereka sadari, seorang pria sedang mengamati dari tempat parkiran.
"Itu kan cewek tempo hari, sepertinya dia jalan sama orang kaya. Aji mumpung ketemu di sini, gue nggak akan biarin lolos lagi," lirih pria bertampang garang itu. Ia kemudian segera memanggil temannya, entah untuk apa.
BERSAMBUNG