PROLOG

863 Kata
*** "Kak... " panggilku pada kakaknya yang sedang mengendarai motor. Menyalip-nyalipkan motor di tengah kemacetan lampu merah. "Kak Bima." aku mengeraskan suaranya supaya tak kalah dengan suara kendaraan yang melaju dari arah berlawanan karena lampu hijau mempersilakan mereka melaju. "Iya, Chi?" tanya Kak Bima setelah motor yang dikendarai Kak Bima tidak bisa lagi menyalip. Dia membuka kaca helmnya, menoleh sejenak. "Kenapa?" "Emm...." aku memilin jari jemari, tanganku berkeringat. Merasa ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam kepalaku. "Mau ngomong apa?" tanya Kak Bima tak sabar. Dia menoleh. "Kenapa ragu-ragu gitu?" "Mmmm..." aku benar-benar ragu saat ini. aku merasa ini adalah hal tersulit yang ingin ia katakan pada kakaknya. Lebih sulit dari ketika aku mengatakan pada ayah bahwa aku mau ikut club angkat besi. "Oh ya Chi." ujar Kak Bima. "Apa kak?" aku memajukan kepala agar bisa mendengar suara kakak lebih jelas. "Cowok yang kemaren katanya ngasih kamu coklat siapa?" tanya Kak Bima. Aku mematung. "Kok Kak Bima tahu?" Kak Bima malah tertawa. "Gimana kakak gak tahu, orang Haruku bilang ke kakak." Haruku.... Masih aja dia suka ngadu sama Kak Bima. Padahal udah dilarang dengan keras. Aku menjadi kesal. Aku merengut, amat menyayangkan kenapa teman sebang sekaligus sahabatku harus suka sama kakak kedua yang juga guru olahraganya di sekolah. Kak Bima memang ganteng. Namun, dia punya sifat yang ngeselin sebagai seorang kakak. Sok galak. Sok suka ngelarang-larang. Sok berkuasa. Intinya Kak Bima adalah orang terakhir yang akan Chiara puji baik di dunia ini. Sayangnya Haruku tak pandang bulu suka sama seseorang. Kenapa harus Kak Bima? Diantara semua cowok keren di SMA Bumi Nusantara, kenapa harus Kak Bima? Kenapa Haruku harus suka sama om om sok berkuasa ini? Dan kenapa bentuk rasa suka Haruku ke Kak Bima harus dengan cara menceritakan apapun yang terjadi padanya di sekolah. Kak Bima kan makin seneng karena punya mata-mata gratis untuk mengawasiku. "Kok gak di jawab?" tanya Kak Bima. "Bukan siapa-siapa. Dia cuma Toro." jawabku. Tak sadar bibirku manyun dan tak mau menatap kakak. "Kamu katanya dikasih surat cinta." ujar kak Bima lagi. "Ihhh... bukan urusan kakak." sergahku kesal. "Kenapa harus ikut campur sih. Kepo banget urusan orang." Kak Bima berdecak. "Kakak bukannya ikut campur atau kepo, Chi. Kakak cuma jaga kamu." Selalu aja itu yang dia bilang. "Jagain gak perlu kaya gini juga." protesku. "Chi," panggil Kak Bima. Aku hanya menyahut setengah hati. "Toro itu cowok nakal." ujarnya. "Kata siapa?" "Ehhh...." dibilangin. Pasti begini, sifat sok tuanya keluar. "Kakak udah berpengalaman berhadapan sama murid-murid macem Toro." "Emang Toro murid macem apa?" tanyaku ketus. "Jangan suka menilai orang dari luarnya aja Kak Bima. Heran deh jadi orang suudzon terus." "Kakak bukannya suudzon, Chi." bantah Kak Bima. Heran deh kenapa Kak Bima selalu punya alasan untuk mematahkan apa yang aku bilang. Nasehatku kan bukan cuma nasehat sok sok-an. Emang semua orang suka pada bilang begitu. Kak Bima suka menilai orang tanpa mengenal orang itu dengan baik dulu. Bisa jadi kebiasaan kalau dibiarin. Sayangnya Kak Bima gak pernah mendengarkan dan selalu merasa benar. Kalimat andalannya adalah Chi, kakak udah berpengalaman ngadepin orang kaya gitu atau Chi, kakak kenal orang yang sifatnya kaya gitu atau Chi, kakak ini guru, tahu banget siapa murid-murid kakak. Dan berbagai alasan sok tuanya yang lain. Intinya Kak Bima itu orang paling nyebelin. "Kalau Toro bukan anak nakal, gak mungkin dong kemarin dia dipanggil ke ruang BK gara-gara ketangkep basah on*ni di toilet." Mataku melebar. Benarkah? "Jangan ngarang deh kak." aku masih berusaha tak percaya. "Ya ampun Chi, masih aja gak percaya sama kakak. Sana kamu besok tanya Bu Dian. Bener gak Toro masuk BK gara-gara ketahuan on*ni di toilet." "Ihhhh... kenapa harus on*ni sih." dumel Chiara, jijik sendiri. "Pokoknya Toro itu cowok nakal, Chi." ujar Kak Bima. Dia kembali melajukan motor karena lampu sudah kembali menjadi Biru. "Kakak dan ayah gak bakal ngizinin kamu pacaran sama Toro." "Orang aku juga gak mau sama dia." dumelku. Lagian diantara banyak cowok di SMA Bumi Nusantara masih banyak cowok yang lebih keren daripada Toro. Sayang aja kalau aku sama dia. Kalau mungkin di dunia cuma tinggal Toro, aku pun akan mau karena sangaaattttt terpaksa. Pokoknya, No! untuk Toro. "Bagus." puji Kak Bima "Kalau pacarannya sama orang lain gimana kak?" tanyaku penasaran. Akhirnya pertanyaan itu kelur juga dari mulutku. Kak Bima menggeleng tegas. "Gak boleh." "Orangnya baik banget. Misalnya...." aku menelan ludah. Mendadak panas dingin. "Misalnya Kak Farran gitu kak? Yang alim, baik, pinter, dan ganteng." "Pokoknya, tetep gak boleh!" ucapnya lebih tegas. "Balita kaya kamu kok udah mikir pengen pacaran sih." dumelnya. "For your information, aku udah 16 tahun." ucapku siapa tahu Kak Bima lupa kalau tahun ini aku sudah 16 tahun. Yang artinya satu tahun lagi aku akan wara wiri pamer KTP elektronik ke temen sekelas. "Tetep gak boleh Chi. Berapapun umur kamu. Selama kamu masih sekolah kakak-kakak sama ayah gak bakal izinin kamu pacaran. Titik." tegasnya tanpa bisa dibantah. "Kalau kamu ketahuan pacaran, awas aja..." ancamnya. Aku lihat wajah Kak Bima dari kacar spion, terlihat bengis seolah siap menghajar siapapun cowok yang menjadi pacarku. "Kakak gak akan berbelas kasih sama cowok nekat itu." Aku menangis dalam hati. Sepertinya masa SMA-ku hanya akan dipenuhi dengan belajar, latihan angkat besi, mengerjakan tugas, berangkat-pulang sekolah bersama Kak Bima. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN