(Chiara Aylin)
***
Aku segera berlari meninggalkan parkiran selepas turun dari motor Kak Bima. Membiarkan Kak Bima mengurus motornya sendirian. Gak perlu cium tangan terlebih dahulu. Aku kesal karena tadi malam Kak Bima ngadu ke ayah tentang aku yang tanya boleh punya pacara atau enggak. Ayah yang galaknya minta ampun langsung melotot dan melarang aku dengan keras agar gak pacaran. Gak hanya itu, Kak Baskara juga mengancam akan menyiksa pacar aku ala-ala militer. Kak Barli tak mengatakan apapun, namun dari sorot matanya dia seperti bilang kalau dia bisa menyantet pacarku secara online.
Diantara semua kakakku cuma Kak Bastian aja yang bilang kalau dia gak melarang atau mendukung aku punya pacar. Katanya, wajar kalau aku sudah suka sama lawan jenis. Lagi pula aku udah haid sejak satu tahun yang lalu katanya. Seorang gadis normal suka sama lawan jenisnya apalagi di usiaku saat ini. Dia juga menjelaskan tentang hormon di meja makan. Mahasiswa kedokteran memang beda. Aku senang ada Kak Bastian sebagai kakak ke empatku. Kakak yang selalu mendukungku apapun.
"Chi." Haruku merangkulku memberikan kantong bekalku. "Lagi ngambek sama Kak Bima?" Menatap heran kenapa aku mengabaikan Kak Bima yang memanggil-manggil karena bekalku ketinggalan. Jadinya Kak Bima menitipkan pada Haruku.
"Orang lain pun bakal cepet ngambek dan kesel sama sifatnya Kak Bima." aku melepaskan rangkulan tangan Haruku karena berat.
"Tapi gue enggak tuh, Chi." Haruku mesem-mesem sampai-sampai mata sipitnya tertutup sempurna. Aku pernah penasaran dan bertanya pada Haruku ketika dia tersenyum apakah dia masih bisa melihat dunia. Ajaibnya dia bilang bisa.
Dan reaksiku.
Bagaimana bisa? Kaya lihat dunia dari lubang jarum apa gimana?
"Gak pernah gue kesel sama sifatnya Kak Bima." Aku heran apa yang Kak Bima punya sampai cewek blasteran Indonesia, China dan Jepang ini suka sekali sama Kak Bima.
"Gak cuma mata lo yang sempit ketika senyum, Haru." aku geleng-geleng kepala. Kayanya ini apa yang aku katakan selanjutnya adalah opini paling benar dari penyebab sikap Haruku selalu seperti ini setiap membicarakan kak Bima. "Tapi hati lo juga ikutan sempit pas suka sama seseorang."
Haruku merangkulku lagi. "Paham kok gue kenapa lo bisa berpikiran kaya gitu tentang Kak Bima. Karena lo adeknya, jadi lo gak bakal bisa melihat sekeren apa Kak Bima di mata gue."
"Sebaliknya." kataku. "Lo pun gak bisa melihat sengeselin apa Kak Bima karena lo bukan adeknya."
"Whatever." Haruku tak peduli sama sekali dengan apa yang aku ucapkan. "Sejelek apapun lo bilang tengan kak Bima, perasaan gue gak bakal goyah cuma karena itu." Dia mendadak drama, akting penuh tekad yang malah kelihatan ngeselin dan memalukan. "Gue bisa melewati badai itu, Chi."
Kayanya bukan cuma sempit hatinya, tapi memang buta dia. Buta mata hati.
Dari kejauhan aku dan Haruku melihat tiga orang, satu cewek dan dua cowok berjalan ke arah kami. Mereka bertiga adalah anak kelas 12. Yang cewek, Kaline Nafeesa, Srikandinya SMA Bumi Nusantara. Ya, dia adalah atlet panahan. Disamping kanannya ada Jonathan, Arjunanya SMA Bumi Nusantara, selain karena terkenal tampan, dia juga atlet panahan seperti Kak Kaline. Dan disampingnya adalah cowok yang aku suka, Kak Farran Hafaza. Siswa cerdas, juara umum SMA Bumi Nusantara selama dua tahun berturut-turut. Kebanggan SMA Bumi Nusantara karena selalu membawa nama baik sekolah menjuarai berbagai olimpiade, Sains, Matetika, pokoknya dia itu jenius. Selain itu dia juga ganteng. Definisi sempurna versi novel kayanya ada di dia semua. Pinter, ganteng, tinggi, baik, ramah.
Sempurna aja.
Sayangnya banyak yang bilang kalau Kak Farran itu tipe cowok yang gak bakal bisa di gapai seberusaha apapun. Bukan tipe cowok yang akan jatuh cinta sembarangan. Kaka Farran cowok yang bakal nyari cewek yang sama jeniusnya dengan dia, katanya biar bisa di ajak diskusi. Bakal gak nyambung banget katanya kalau Kak Farran pacaran sama cewek yang punya otak berkapasitas rata-rata. Minimal harus ranking satu di kelas dari SD sampai SMA katanya.
Siapa mereka mengira Kak Farran seperti itu?
"Hai cewek strong!" sapa Kak Jonathan sambil mengangkat kedua tangannya seperti sedang menunjukan otot-ototnya. Aku tersenyum.
Kak Jonathan bukannya meledek aku yang seorang atlit angkat besi. Dia cuma punya cara unik untuk mengakrabkan diri dengan orang lain. Yaitu... dengan memberikan julukan-julukan.
"Hai juga JKT48." giliran Haruku yang disapa Kak Jonathan. Berbeda dengan aku yang biasa aja dipanggil cewek strong, Haruku tak pernah menunjukan rasa sukanya dipanggil seperti itu.
"Itu Haruka Kak, Haruka." katanya penuh penekanan. Dia menunjuk nametag di d**a kirinya. "Baca." perintahnya.
Kak Jonathan lucunya menurut. Mencondongkan tubunya untuk mengeja nama Haruku. "Haruka." katanya. Lalu nyengir tanpa dosa.
"Ihhhh...." kesal Haruku. "Haruku kak Haruku!" tegasnya.
"Bohong ah lu, orang gue baca Haruka kok." ucap Kak Jonathan tanpa dosa. Wajah tanpa dosanya malah terlihat imut.
"Bodo ah!" Haruku memalingkan wajah sambil mengentakan kakinya.
"Oh ya Chi." Kak Kaline menyerahkan sebotol minuman kaleng padaku. Tanpa diketahui Haruku dia mengerling jahil pada Kak Farran. Aku tersenyum sambil menerimanya.
"Kangen..." ucap Kaline dengan nada bicara dimanja-manjakan.
Lagi-lagi aku tersenyum. Kak Farran memalingkan wajah ke arah lain. Tangan kanannya menutupi mulutnya. Dia berusaha menyembunyikan senyum, namun gagal karena aku masih bisa melihat lesung pipitnya terbentuk.
"Kangen Kakak juga." jawabku.
"Yaudah yuk." Kak Kaline merangkul Jonathan dan Farran. "Udah mau masuk nih. Telat mampus kita bertiga."
Tiga sahabat itu sudah berjarak beberapa meter dari aku dan Haru. "Kak!" teriaku. "Makasih ya."
Sambil berjalan Kaline melambaikan tangannya.
"Kok dia cuma ngasih satu sih." Haruku mengomel. "Buat gue aja ya." pintanya.
"Enak aja." aku segera memasukan minuman kaleng itu ke dalam tas. "Minuman spesial ini."
***
Sial.
Aku mengumpat dalam hati. Kenapa hari ini ada jadwal pelajaran olahraga. Bukan karena aku gak suka pelajarannya. Lagipula mana ada atlet yang gak suka olahraga sih. Aku cuma gak suka karena guru olahragaku adalah Pak Bima. Ya, Pak Bima a.k.a Kak Bima, kakak keduaku.
Selama memimpin pemanasan Kak Bima berkali-kali melirikku. Alamat aku dijadikan bulan-bulana selama jam olahraga gara-gara perbuatanku tadi pagi. Selain sok berkuasa, Kak Bima juga pendendam. Aku berdiri di barisan belakang. Beda dengan Haruku yang sejak ke lapangan sudah bersemangat berdiri di barisan belakang. Konon, Haru baru suka pelajaran olahraga setelah masuk ke SMA Bumi Nusantara. Untuk alasannya sepertinya gak perlu aku jelaskan. Sudah jelas kan?
Tiupan peluit Kak Bima menandakan bahwa semua siswa X IPS 2 harus berlari keliling lapangan masing-masing 2 putaran sebelum memulai pelajaran olahraga. Mungkin sepele, banyak teman sekelasnya yang suka mengeluh setiaop kali Kak Bima menyuruh mereka lari. Namun, lari adalah upaya terbaik agar tak cidera.
"Lari Chi, lari! bukan jalan." teriak Kak Bima ketika aku melewatinya.
Tuh kan, aku lari saja dibilang jalan. "Ini udah lari, Pak." ketusku. Di sekolah, untuk menghormatinya sebagai guru, aku memang memanggil Kak Bima dengan sebutan Pak Bima.
"Ayo Chi." tepukan pelan pada punggungku membuat aku terhenti sesaat. Lihat saja secaper apa Haruku sekarang. Yang katanya gak suka olahraga sedang berlari dengan semangat.
Waktu itu pernah Kak Bima sakit dan gak bisa mengajar, sehingga pelajaran olahraga di gantikan oleh Pak Hartono yang guru olahraga kelas IPA. Dan... aslinya Haruku keluar. Dia tak bersemangat sama sekali. Dia juga mengeluh. Katanya, kenapa harus ada pelajaran olahraga sih di sekolah?
Pengen sungkem aku lihat Haruku semangat seperti sekarang.
"Ayo cewek strong! Semangat! Semangat!" teriakan heboh yang disertai julukan itu membuat aku menoleh di tengah trek. Di lantai dua Kak Jonathan, Kak Kaline, dan Kak Farran sedang berdiri menatap ke lapangan. Menonton yang sedang olahraga. Senang sekali mereka ada jam kosong sekarang.
Aku tersenyum. Bukan karena semangat yang diberikan Kak Jonathan, tapi karena melihat Kak Farran diantara dua orang itu.
"Haruka! Weehhh!! Semangat banget!" Jonathan menunjuk Haruka. Saat itu aku tahu bahwa Haruka berlari di belakangku. Cepat sekali dia sudah mau menyusulku lagi. Aku bahkan belum sampai satu putaran.
"Haruka Haruka!" Haruku mendumel. "Ganti nama orang sembarangan!"
Jonathan tak peduli.
"Rasain tuh!" ucap Haruku puas karena Kak Jonathan kena pukul kepalanya oleh Kak Kaline.
Saat itu aku melihat Kak Farran tersenyum. Lesung pipinya yang dalam itu buat aku gak nahan. Ganteng dan manis dalam waktu bersamaan. Rasanya kaya lihat Kim Seon Ho versi live. Cowok manis itu tersenyum sama aku. Bibir Kak Farran bergerak samar. Namun gue tahu apa yang diucapkannya.
"Semangat ya."
Aku mengangguk pelan.
"Chiara! Ayo! Ayo! Jangan malah tebar pesona ke kakak kelas!" teriak Kak Bima.
Pengacau.
***
"Tadi Kak Farran senyum sama gue." laporku pada Haruku ketika kami berdua sedang mengantri di depan toilet untuk mengganti seragam olahraga dengan seragam putih abu.
Senyuman serta ucapan penyemangat Kak Farran dari lantai dua tadi tak bisa aku lupakan satu detik pun. Terlalu indah untuk dilupakan begitu saja. Dan aku merasa bahwa aku tak bisa bahagia sendirian. Tak tahan untuk menyimpan rasa senangku tanpa memberi tahu Haru.
"Iya." jawab Haru tanpa minat. "Kak Farran kan emang murah senyum."
"Tapi beda, Haru." aku mencoba meyakinkannya.
"Beda apanya, Chi." tukas Haruku. "Udah deh. Stop menghalunya."
"Siapa juga yang halu."
Haruku menunjuk dadaku. "Elo lah."
"Gue gak halu, Har." aku berbisik. "Gue sama Kak Farran emang punya hubungan."
Haruku memutar bola mata. "Maaf ya gue harus bilang ini sama lo. Sebagai sahabat gue cuma gak mau lo semakin terlarut dalam kesalah fahaman besar. Gue peduli sama lo." Harusku mengangguk mencoba membuat aku mengerti.
"Gue harus bilang ini sama lo. Jangan anggap gue jahat karena bilang ini ya." Haruku mencoba memberikan pengertian.
Aku menghela napas. Sia-sia saja selama ini aku berbusa-busa menjelaskan bahwa aku dan Kak Farran memang punya hubungan yang seperti itu. Hubungan yang katanya mustahil. Maksudnya mustahil cowok sepintar Kak Farran pacaran sama aku, cewek yang punya prestasi biasa-biasa aja di kelas. Udah beda level dengan Kak Farran yang kepintarannya sudah diakui secara nasional.
"Kak Farran itu baik ke semua orang. Ke gue, ke elo, dan ke yang lain. Dia baik ke cewek maupun cowok. Dia cowok yang gak pelit senyum, sama siapapun di senyum, bahkan sama bibi-bibi tukan cireng aja di senyumin. Lo harus nyadar kalau kehaluan lo itu bakal buat lo makin tersesat, Chi."
Haru ngomong apa sih? Tersesat apaan coba.
"Gue ngerti, semudah apa Kak Farran buat dicintai. Mana ada sih cewek yang gak suka sama cowok pinter, ganteng, plus baik kayak dia. Dia itu versi nyata dari kesempurnaan cowok-cowok di novel. Dengan kaya gitu aja udah jadi alasan kalau dia gak bakal nyari cewek yang main-main buat dijadiin pacar."
"Maksud lo gue cewek main-main itu." aku kesal. Dia bilang kalau aku gak pantas untuk bersama dengan Kak Farran yang sempurna itu.
Haruku mengehela napas. "Lo gak semain-main itu emang. Lo punya keluarga yang berada, punya kakak-kakak yang peduli dan sayang sama lo. Cuma... dari penglihatan gue, Kak Farran itu punya selera yang tinggi. Sekelas Maudy Ayunda lah."
Mampus... Haruku memang gak mengenal Kak Farran. Dia cuma melihat dari kulit luar saja. Dia gak tahu aja kalau kak Farran yang ngajak aku pacaran lebih dulu. Nyatanya penilaian Haruku dan cewek-cewek lain tentang selera cewek Kak Farran meleset jauh. Orang dia suka sama gue.
"Dan bukan cuma itu, Kak Farran itu tipe cowok yang ambisius kalau gue lihat. Gue yakin dia gak bakalan pacaran dalam waktu dekat. Tipe cowok kaya dia itu bakal pacaran ketika dia udah mapan. Dan balik lagi, bukan dengan cewek-cewek kaya kita." Haruku mengibas-ngibaskan tangan di depan leher. Seperti gerakan memotong. "Gak level."
"Awas lo mati jantungan kalau sampai hubungan gue dan kak Farran terekspos." kataku penuh peringatan.
Haruku tertawa keras. Meledek peringatan dariku. "Ancaman kosong dari seorang tukang halu."
"Ngeselin banget sih lo."
Saking ngeselinnya gue sampai berdoa supaya Kak Bima cepat-cepat punya pacar agar Haruku patah hati. Plis, Kak Bima, cepet punya pacar.
"Lagian ya, cowok kaya Kak Farran itu gak bakal ngambil resiko pacaran sama cewek yang dijaga superketat 24 jam kaya lo. Cari mati aja. Kak Bima aja udah serem kalau udah menyangkut lo. Ditambah Kak Baskara yang TNI itu, Kak Barly juga gak kalah serem walaupun ketus-ketus cuek gitu, gue juga yakin kalau Kak Bastian yang suka dukung lo bakal galaknya ngalahin bapak lo kalau sampai tahu lo ketahuan pacaran." Haruku menepuk bahu gue sok prihatin. "Yang sabar ya princess. Suatu saat nanti lo pasti akan pacaran kok. Tunggu sampai punya KTP yaa baru bilang pengen punya pacar ke penjaga-penjaga lo."
"s****n lo, Haruka!"
***