BAB 17

2576 Kata
(Chiara Aylin) Diamnya Haruku membuat aku menahan napas. Senyum di wajahku pun sudah pudar sejak tadi. Aku gak mau melangkahkan kakiku menuju kelas yang sebenarnya tinggal berjarak beberapa meter sebelum aku mendengar jawaban Haru. Bel berbunyi dan aku masih diam di tempat. Haruku menatap aku dengan keningnya yang berkerut. Gak tahu apakah itu karena pertanyaanku atau karena bel baru saja berbunyi bersamaan dengan kemunculan seorang guru dari balik dinding. “Ayo.” Tanpa memperdulikan aku yang mendadak muram, dia menarik tanganku menuju kelas. Ikut bergabung dengan keributan dan grasak-grusuk buru-buru teman sekelas menuju mejanya masing-masing. Harusnya aku datang lebih pagi tadi. Aku ingin mendengar jawaban Haruku. Namun aku takut jawabannya malah membuat pradugaku terbukti benar. Karena itu bisa membuktikan kenapa selama ini Haruku gak pernah percaya ketika aku bilang kalau aku pacarnya Kak Farran. Dia suka Kak Farran dan gak mau mengakui siapapun yang mengaku pacarnya. Aku mendadak ingat Kak Bima juga. Praduga lain pun muncul. Bisa jadi Kak Bima selama ini hanya pengalihan, agar dia gak terlalu terlihat memuja cowok yang paling diminati se-SMA Bumi Nusantara. Bahkan itu masuk akal dengan dirinya yang selalu terlihat kesal ketika di ejek atau dijahili Kak Jonathan. Seolah-olah kegaduhannya ditujukan dengan maksud untuk menarik perhatian sahabat Kak Jonathan, Kak Farran. Aku gak sanggup kalau nanti harus memiliki hubungan yang canggung dengan Haru. Dia satu-satunya teman yang betah temenan dengan aku, disaat semua orang males dengan aku yang gak pernah bisa ikut main. Ya, cuma Haru yang gak menganggap aku lebay karena selalu bilang gak bakal diizinin ayah pergi. Biasanya kan kaya gitu. Dua sahabat bisa jadi jauh karena seorang cowok. Apa aku dan Haru akan kaya gitu? “Chi… Chi… Kak Yudis!” Haru berjingkat-jingkat sambil menunjuk mantan ketua OSIS periode sebelumnya yang tengah berjalan di trek. Menyugar poninya yang hampir menutupi alis. Gayanya itu seketika membuat wajahnya yang tegas terlihat lebih segar. Responku hanya sebatas senyum terpaksa. Mana bisa aku fokus untuk memberikan komentar atas kegantengan Kak Yudis yang gak main-main itu. “Ya ampun! Ya ampun Chiara!” Haru semakin menggila. Tanpa sadar dia mencakar pangkal lenganku. “Ada apa dengan hari ini.” Katanya heboh. Aku hanya menghela napas. Gak tertarik sama sekali dengan kegilaan Haru siang ini. “Kenapa cowok-cowok ganteng Bumi Nusantara pada kumpul semua di lapangan.” Tatapan Haru terarah pada cowok-cowok di tengah lapangan. Kak Yudis baru saja bergabung dengan mereka. Di beberapa titik cewek-cewek lain juga tengah terkena sindrom yang sama seperti Haru. “Mereka bukan boyband kan?” Ha? Aku mengernyit. Imajinasi Haru kadang memang gak main-main. “Ya ampun Chiara! Masa lo biasa aja kaya gitu sih?” dia menatapku penuh protesan. Haru yang selalu gila ketika lihat cowok ganteng selalu saja berusaha untuk mengajak aku pada kegilaannya. Sayangnya aku gak pernah tertarik. Maksudnya gak pernah tertarik buat mengagumi kegantengan cowok lain sementara aku punya cowok yang tiap hari aku puji-puji kegantengannya. Jangan lupakan juga Kak Bastian yang gantengnya bahkan melebihi semua cowok keren di Bumi Nusantara. Ya, bagi aku Kak Bastian seorang yang paling ganteng diantara yang ganteng. Ter… pokonya. “Jangan lebay deh, Ru.” Aku berdecak. “Jarang banget tahu Pak Giandra kumpulin cowok-cowok ganteng Bumi Nusantara.” Haru memegangi kepalanya. “Aduh… gue gak bisa fokus nih. Bingung harus pilih yang mana. Semuanya ganteng-ganteng. Gue bingung, Ru.” Tapi sikap Haru yang kelewat lebay ini nyatanya buat aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Dia seperti sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Seolah cowok-cowok ganteng, plus keren itu sedang berlomba-lomba menunjukan pesonanya agar Haru pilih. Padahal kan gak seperti itu. “Kapan sih lo biasa aja lihat cowok ganteng, Ru.” Aku geleng-geleng kepala sok kesal, padahal sebenernya masih geli melihat tingkahnya. “Gak bisa biasa aja, Chi!” katanya kekeh. “Gue gak bisa biasa aja kalau lihat cowok ganteng.” Tak lama kemudian dua orang cowok yang aku kenal mendekat juga ke lapangan, dua sahabat itu mendekat sambil tertawa-tawa. Yang satu bersikap seperti cacing kepanasan sementara satunya menanggapi dengan tawa cool. Aku menunjuk mereka berdua. “Kalau Kak Farran sama Kak Jonathan ganteng banget juga gak?” Haruku memutar bola mata. “Ya ganteng lah Chi. Lo tuh ya nanyanya.” Pertanyaanku mungkin ditafsirkannya kesalahan. Pertanyaan yang seharusnya gak pernah aku tanyakan, karena Kak Farran dan Kak Jonathan sama-sama ganteng. Punya fitur wajah yang menarik dan gak bikin bosen. Kak Jonathan dengan muka kaya anak pengajian namun aslinya bertolak belakang. Dan Kak Farran bermuka tegas namun lembut. Bener-bener gambaran nyata dari tokoh-tokoh cerita remaja yang banyak aku baca. Kegantengan mereka bahkan gak harus di katakan dan gak perlu dibuktikan. Dengan ada orang yang noleh dua kali pun jadi bukti. “Tapi Kak Jonathan jauh lah di bawah Kak Farran. Sikap usilnya bikin gue gak suka. Kalau Kak Farran kan baik, kalem juga orangnya. Lihat dia itu bikin adem.” Haru menatap penuh pemujaan pada Kak Farran. Aku semakin tak suka dan semakin curiga. “Diantara mereka berdua mana yang bakal lo jadiin pacar?” Haru memutar bola mata lagi. “Ya jelas Kak Farran lah.” Jawabnya tanpa ragu. Aku mengerjap. “Lo suka sama Kak Farran.” “Suka lah.” Lagi-lagi Haru mengatakannya tanpa ragu. “Siapa sih yang gak bakal milih Kak Farran. Kalau missal nih Kak Farran suka sama gue dan nembak gue, gue bakal genggam dia erat-erat. Gak bakal pernah gue lepasin. Dengan segala cara gue akan mempertahankan dia.” “Segitunya?” “Hm.” Haru mengangguk yakin. “Mana ada sih cewek yang berani sia-siain Kak Farran. Aduh… dia itu udah terterawang bakal punya masa depan yang cerah banget.” “Sok tahu lo.” “Kelihatan banget lah. Dia itu cowok pekerja keras. Cowok yang gue yakin gak bakalan biarin cewek yang dia contain gak makan McD.” “McD?” aku mengernyit gak mengerti kenapa dia tiba-tiba bilang itu. Kesan serius dari ucapannya mendadak hilang akibat kata random yang keluar dari mulutnya. “Iya McD. Makanan terbaik menurut gue.” “Oke, gue faham.” Aku mengangguk-angguk. “Maksudnya cowok yang gak bakal biarin cewek yang dia cintai makan-makanan yang gak enak kan?” “Tapi…” tiba-tiba Haruku terlihat murung. Aku menunggu dengan alis mengernyit, hampir menyatu. Ada sebuah pertentangan dari semua hal-hal baik yang keluar dari mulutnya. Haruku menggeleng. “Dia gak suka sama gue.” “Dari mana lo tahu?” “Dia yang bilang sendiri dua hari lalu.” “Kok?” aku menangkap ketidak beresan dari ucapannya. Mataku membulat. “Lo nembak Kak Farran?” tanyaku hampir memekik. Haru segera menutupi mulutku menyuruhku untuk diam. “Jangan kenceng-kenceng.” “Ru… lo…” aku gak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa dia nembak cowokku. Ya… meskipun Haru gak tahu… maksudnya gak percaya kalau aku pacarnya Kak Farran, tapi apakah dia harus menyatakan perasaannya lebih dulu. “Gue juga kemarin nembak Kak Jonathan.” Ujar Haru. Mulutku terbuka lebar. “Tadi pagi gue juga nembak Shaun anak IPA itu. Gue juga pernah nembak Kak Arsa. Bahkan rencananya besok gue mau nembak Kak Yudis.” Aku cuma mengerjap. Apa yang terjadi sama Haru? Dan aku gak tahu harus bereaksi seperti apa. Haru terlalu berani dan nekad. “Gue juga berencana rebut Kak Kai dari Kak Fay.” Jawab Haru tanpa dosa. Aku meringis. Dan memukul punggungnya keras-keras membuat Haru memekik tak terima. “Aww… kenapa sih?” Haru berdecak. “Gue emang berusaha buat dapetin salah satu cowok keren di sekolah ini.” “t***l!” Aku ingin menangis. Cewek t***l dan gak tahu diri ini sayangnya temanku. Gimana bisa dia kepikiran untuk nembak semua cowok. “Lo kenapa sih?” Aku mendadak ingin menyembunyikan diri dari semua orang, biar gak ada yang tahu kalau aku temen cewek gila ini. Haru hampir menyebutkan semua cowok yang saat ini berada di tengah lapangan. Kemungkinan besar mereka semua masih mengingat dengan jelas Haru. Ya, siapa juga sih yang akan lupa sama cewek kelewat pemberani dan punya nyali besar serta tebal muka menyatakan perasaan sama cowok yang bahkan gak dikenal dengan baik. Jangan salah, tadi Haru menyebut Kak Arsa yang notabenenya ketua club voli yang hanya muncul di waktu-waktu tertentu saja. Seorang siswa yang keberadaannya kelewat misterius tapi Haru bisa menemukannya dan menyatakan perasaan yang kelewat konyol buat dimengerti. Karena gak ada yang mengenal Kak Arsa dengan baik. Pasti mengejutkan sekali ada cewek kelas 10 yang tiba-tiba nyamperin dia dan bilang suka. Aku gak mau melihat Haru sebenernya. Kelewat malu. Dan apa? Dia juga berencana merebuk Kak Kai dari Kak Fay. Mereka itu pasangan legendaris di Bumi Nusantara. Kisah mereka jadian pun kaya sebuah keajaiban. Ya… karena Kak Kai punya sepupu yang amat sangat posesif sama dia, Kak Aruna. “Kok gue bisa temenan sama lo sih.” Aku menatapnya seolah ingin menangis. “Yaa kan gue lagi patah hati, Chi.” Jawab Haru tanpa dosa. Memilin jari-jarinya seperti anak kecil yang gak mau disalahkan. “Pengen aja gitu gue nunjukin sama Kak Bima kalau gue di tolak dia bisa dapetin cowok yang lebih keren daripada dia.” “Biar Kak Bima nyesel?” Haru mengangguk tanpa ragu. Dan selanjutnya yang aku lakukan hanya menatap dia prihatin sekaligus bingung. Kak Bima pakai pelet ya? Lalu tak ada lagi pembicaraan diantara aku dan Haru, karena kami berdua sibuk melihat ke tengah lapangan. Pak Giandra memang mengumpulkan semua cowok ganteng di sekolah ini ke tengah lapangan. Semua orang menatap penuh tanda tanya. Mempertanyakan alasan Pak Giandra memanggil mereka semua seolah hendak melakukan kontes kegantengan. Dari sini aku gak bisa denger dengan jelas apa yang dikatakan Pak Giandra sama cowok-cowok itu. Kak Farran mengedarkan pandangannya saat tatapannya berhenti karena menemukan aku dia tersenyum. Bukan membalas senyuman dia, aku malah tersipu. Dasar betina. Tak lama kemudian setelah Pak Giandra melakukan gestur seolah dia sedang melakukan pidato penting, mengangguk-angguk, bahkan berjalan-jalan kekiri kenanan, akhirnya barisan dibubarkan. Cowok-cowok di tengah lapangan pun berhamburan ke beberapa sisi. Hanya Kak Farran dan Kak Jonathan yang tampak berjalan ke arah aku dan Haru. “Pasti pada penasaran?” tembak Kak Jonathan. “Iya, kenapa pada dikumpulin?” aku menatap Kak Farran. “Mau ada kunjungan Walikota.” Jawabnya. “Ha? Kapan?” “Minggu depan.” Kak Jonathan yang menjawab. Haru perlahan mundur ke belakang tubuhku. Aneh sekali dengan sahabatku yang mendadak gak punya nyali. Kak Jonathan yang melihat tangkah Haru pun tersenyum geli, mengejek Haru dengan tatapannya. “Terus?” tanya Haru dari balik punggungku. Dia mengintip dua cowok di hadapanku. “Kita diminta buat jadi penyambut walikota.” Jelas Kak Farran. Aku mengangguk-angguk. “Cieee yang gak punya muka habis nembak kita berdua.” Ejek Kak Jonathan sambil menunjuk Haru. Beda dengan Haru yang manyun, aku justru tersenyum lega. Aku pikir Haru beneran suka sama Kak Farran, ternyata… aku tersenyum pada cowokku. Kak Farran mengeluarkan HPnya. Mengetikan sesuatu. Sepersekian detik kemudian HPku berbunyi. Ternyata pesan dari Kak Farran. Kak Farran Udah tahu Haru nembak aku? Aku mengulum senyum. Chiara Aylin Tahu. Tadi dia cerita. Bukan cuma kamu sama Kak Jonathan yang dia tembak. Dia nembak hampir semua cowok ganteng di sekolah. Kak Farran :D :D ***  Meskipun Kak Farran bilang kalau kedekatannya sama Kak Dara agar membuat cemburu Kak Yudis. Nyatanya dia juga membuat aku cemburu sama kedekatan mereka. Motor Kak Farran berhenti di lampu merah. Beda dengan dua hari lalu dimana aku yang ada di boncengannya bercanda mesra dengan dia. Membuat beberapa siswi yang melihat kami menatap iri. Sekarang giliran aku yang menatap iri hal itu. Kak Farran boncengan lagi dengan Kak Dara. Terlihat akrab dan yaman satu sama lain. Kak Farran sepertinya tak menyadari kalau aku ada di boncengan motor Kak Bima, terhalang dua motor di belakangnya. Inilah kenapa banyak istri yang lebih memilih pura-pura gak tahu kalau suaminya selingkuh dengan perempuan lain. Aku yang masih pacaran sama dia pun rasanya merasa lebih baik gak tahu kalau dia suka jalan sama cewek lain. Terlepas dari alasan apapun. Tidak. Sekarang aku kembali meragukan dia. Jangan-jangan dia cuma ngarang alasan aja agar aku gak curiga lebih lanjut sama dia. Bilang kalau Kak Dara sebenernya suka sama Kak Yudis. Dan Kak Dara sama dia itu buat bikin Kak Yudis cemburu. Masalahnya kenapa harus Kak Farran. Enggak, kenapa Kak Farran mau-mau aja dijadiin pancingan sama Kak Dara. Lihat langsung ternyata lebih nyakitin. Kak Farran mendadak serasa jauh sama seperti laju motornya yang sudah lebih dulu menembus perempatan. “Kak Bima.” Panggilku. “Aku suka sama cowok di sekolah.” Ujarku. Mendadak aku merasa punggung Kak Bima menegang. “Aku suka sama seseorang di sekolah.” Ulangku dengan suara yang lebih keras dan lebih ngotot. Aku yang selama ini dianggap anak kecil ingin menunjukan bahwa aku sudah besar. “Chi, jangan aneh-aneh. Sekolah ya sekolah aja, jangan aneh-aneh.” “Apa sih yang aneh-aneh?” bantahku. “Ya tugas kamu sekolah ya belajar aja. Bukan meleng sana sini.” “Tapi kan aku udah gede.” Aku lebih ngotot. “Gak mungkin Kak Bima, kakak yang lain sama ayah terus anggap aku anak kecil. Makin hari akum akin gede lho. Suatu saat aku juga bakal ngenalin seseorang sebagai pacar aku.” “Tapi sekarang kan kamu masih kecil, Chi. Belum pantes main cinta-cintaan.” Kak Bima memang meremehkan aku. “Anak SD jaman sekarang aja udah pada pacarana. Masa aku kalah sama mereka.” “Ya… kok kamu mau saingan sama anak SD sih?” protesnya. Aku memutar bola mata, bukan maksudnya aku pengen saingan. Cuma pengen Kak Bima faham kalau aku yang udah SMA ini sudah pantas kalau suka sama cowok bahkan pacaran. Aku memang nekad. Bilang pengen pacaran sama Kak Bima seolah aku minta dibeliin permen sama dia. Akhirnya ketika sampai rumah Kak Bima mengadukan rengekan aku selama di jalan ke ayah. “Chiara.” Panggil ayah. Aku mengintip dari balik tembok. Beberapa menit lalu ayah memanggilku untuk bicara dengannya. Berdua. Aku bakal dimarahin ini. Fix. Pasti dimarahin. “Ayah tahu kamu ada disana.” Ayah mendongak. Menatap dinding tempatku bersembunyi. Walhasil aku menyerah dan menunjukan diri padanya. Kepalaku menunduk. Ayah gak pernah buat aku baik-baik aja kalau disuruh menghadap sama dia. Selalu buat gugup dan takut. “Kak Bima pasti ngadu ke ayah.” Aku manyun. “Kakak kamu bukannya ngadu, dia ngasih tahu ayah.” Katanya tegas. “Apa bedannya?” protesku. Di kepalaku itu sama artinya dengan Kak Bima ngadu. “Gak ada pacarana, oke!” nada bicaranya tak seperti pernyataan. Melainkan seperti perintah. “Tapi aku udah gede ayah.” Ayah menggeleng tegas. “Gak ada!” “Tapi…” “Pokoknya kamu gak ayah bolehin pacarana sebelum lulus kuliah!” “Kok gitu!” “Ini aturan ayah buat kamu.” Ayah tak pernah mau dibantah sama sekali. “Cuma aku yang dapet aturan itu?” “Ya, cuma kamu.” “Kok cuma aku?” tanyaku tak terima. “Kak Bima, Kak Bastian, Kak Barly, bahkan Kak Baskara mereka pernah punya pacar pas kuliah. Kok cuma aku yang gak boleh pacarana sampai lulus kuliah. Kelamaan ayah.” Aku menawar. Namun percuma. Ayah sudah membalik badannya itu artinya dia gak mau mendengar aku menawar apapun lagi padanya. Hingga kemudian yang aku lakukan adalah berbalik badan dan meninggalkan ruangan ayah dengan kaki menghentak-hentak. Padahal aku pikir dengan aku mengakui aku pacarana dengan Kak Farran dan buat semua orang di sekolah tahu, itu bisa menghilangkan gosip tentang dia dan Kak Dara. Juga bisa membuat Kak Dara gak berani lagi minta tolong sama cowoku. Kalau kaya gini… itu artinya aku harus rela mendengar gosip Kak Farran dan Kak Dara semakin gede. Ayah nyebelin. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN