BAB 16

1453 Kata
(Chiara Aylin) “Yakin?” tanyaku menatap cemas Kak Farran yang sudah duduk di motornya. Aku belum memakai helm. Talinya masih aku pegangi. “Kalau nanti ketemu salah satu kakak aku gimana? Atau kalau ketemu ayah aku gimana?” “Kamu bakal lebih dimarahin kalau aku anterin atau ketahuan naek ojol?” tanya Kak Farran. Dia menatapku santai dari motornya. Aku melihat ke dalam matanya, berusaha menerka apakah dia sebenarnya gugup. Dia terlalu tenang. Aku diam, berpikir. Keduanya aku cemaskan. Ayah dan kakak-kakaku selalu mewanti-wanti aku agar berhati-hati. Biasanya kalau Kak Bima gak antar jemput aku, sesekali Kak Bastian, atau ayah. Yang paling jarang Kak Barly. Kalau Kak Baskara dia sibuk di markasnya, mana bisa dia keluar masuk seenaknya. Ayah juga pernah bilang kalau aku gak boleh menerima tawaran orang lain begitu aja. Dia memang selalu curiga ke semua orang. Menjengkelkan. Ayah juga melarang keras aku untuk naik ojek online. Katanya bahaya banget anak gadis naik angkutan yang gak jelas siapa supirnya. Protektif sekali. Tapi kali ini beda. Kak Bima tadi bilang gak bisa ngantar aku pulang karena dia ada acara di sekolah. Gak akan cukup waktunya kalau harus antar aku pulang dulu. Kak Bima menyarankan aku untuk minta dijemput Kak Bastian, tapi aku tahu dia sedang mempersiapkan ujian. Gak enak aku kalau harus mengganggunya. Kak Bastian kebanggaan ayah dan kebanggaanku juga. Dia harus berhasil menjadi dokter seperti cita-citanya sejak kecil. Dan ayah, dia sedang keluar kota. Walhasil aku tadi menguatkan nyali untuk menelpon Kak Barly. Yang tentunya gak akan dia angkat. Dia paling anti angkat telepon. Lalu aku kirimi dia pesan di w******p. Langsung centang biru dan langsung di tolak. Kak Farran yang melihat aku berdiri kebingungan di depan loby menghentikan motornya. Dan bertanya. Jadinya begini, aku masih berdiri di samping motornya penuh keraguan. “Dua-duanya sama-sama ngeri.” Aku meringis. “Kalau ketemu salah satu kakak kamu atau ayah kamu, aku bisa jelasin baik-baik.” Bujuk Kak Farran. “Aku bisa ngarang alasan klasik kalau rumah aku searah sama rumah kamu.” Aku menyipitkan mata. Masalahnya kakak-kakak dan ayahku gak gampang percaya sama orang baru. Tapi sepertinya bukan ide buruk. “Yaudah.” Jawabku. Seberkas senyum tercetak di wajah cowok berlesung pipi ini. Aku pun mengulum senyum sambil memakai helm. Akhirnya… Aku gak akan terlalu iri lagi lihat pasangan anak SMA berboncengan di lampu merah. “Ayo.” Kak Farran mengangguk. Sudah siap sekali di atas motornya. Akupun naik ke boncengannya dengan hati-hati. Oh, astaga… ternyata segugup ini boncengan sama cowok yang disuka. Aku mengulum bibir lalu menelan ludah. Menarik napas panjang berusaha untuk menormalkan debaran jantungku. Benar-benar luar biasa. Luar biasa senangnya. Aku gak bisa menahan diri untuk gak tersenyum. Melalui kaca spion Kak Farran tertawa. Aku segera memalingkan muka ke arah lain. Gak mau tertangkap basah tengah salah tingkah. “Sana jalan.” Dia lalu melajukan motornya. Biasanya aku gak segan-segan meluk Kak Bima, Kak Bastian, atau ayah saat dibonceng. Namun sekarang untuk pegangan pun aku bingung. Kalau pegangan ke belakang, aku malah takut terjungkal. Kalau gak pegangan takut jatuh juga. “Pegang baju aku aja.” Ujar Kak Farran seolah tahu kalau aku dibelakangnya tengah kebingungan. Pelan-pelan aku menggerakan jemari, mencubit ujung jaketnya. Berpegangan kecil pada jaketnya aja udah buat aku gak baik-baik aja. Apalagi kalau sampai meluk. Aku mengigit bibir membayangkan betapa menyenangkannya kalau itu terjadi. Aku menatap tengkuknya yang mengintip dari antara ujung jaket dan helmnya. Tersenyum lagi. Anehnya, kami sedang berada di jalan. Keangin-angin, kena debu, dan dia juga belum mandi tapi wangi tubuhnya menguar sangat tajam. Wangi jam sepuluh yang selalu aku cium dari bajunya. “Kamu pake parfum apa sih?” tanyaku. “Kenapa? Bau ya?” “Enggak.” Aku menggeleng seolah dia bisa melihat gelengan kepalaku. “Suka aja. Enak dihidung.” “Mau aku kasih tahu gak?” “Ha?” “Parfum aku.” Jelasnya. “Siapa tahu nanti kamu pengen cium wanginya karena kangen orangnya.” Aku mendorong pundaknya. “Hihh dasar.” “Ya… kan siapa tahu kamu tiba-tiba kangen aku tapi susah ketemu.” Ujarnya. Sumpah, dia lagi ngegombal dan aku merona karena gombalannya. “Yaudah apa?” aku pun meladeninya. “Parfum apa emang yang kamu pake?” “Ntar iklan ah, gak dibayar.” “Ih.” Aku mendorong lagi pundaknya. “Niat mau ngasih tahu gak sih.” Aku tertawa gemas. “Aku pake Kahf yang ijo.” “Kahf?” “Hm.” Kak Farran mengangguk. “Barangkali aja nanti kamu kangen banget. Walaupun aku jamin bakal nekad buat nemuin kamu kalau kaya gitu.” “Ih ngaco.” Aku memukul pelan punggungnya. Kak Farran tertawa. “Ketahuan ayah aku tahu rasa kamu.” “Ih, ngeri bawa-bawa ayah.” Kak Farran bergidik. “Tenang aja, nanti aku bisa kok luluhin ayah kamu. Cuma sekarang belum punya nyali aja.” “Emang kapan kamu punya nyalinya?” “Ya… nanti.” Jawabnya tak jelas. “Nanti, kalau aku udah mapan.” Jawab Kak Farran dengan suara yang dikeraskan. “Kalau aku udah mapan aku bakal dengan percaya diri datengin ayah sama kakak-kakak kamu yang galak itu.” Apa coba. Kenapa bawa-bawa hal kaya gitu. Serem tapi kok bayanginnya romantis gitu ya. Seolah Kak Farran pahlawan yang rela melakukan apapun untuk menyelamatkan dunia. “Apa coba.” Aku benar-benar salah tingkah. Apalagi ketika Kak Farran menarik tangan kiriku untuk dia lingkarkan di pinggangnya. “Pegangan yang bener, ntar jatuh aku ditembak ayah kamu.” *** Ternyata aku salah. Kejadian kemarin saat aku kena smash bola voli membuat telingaku panas di pagi hari. Banyak yang membicarakan aku. Bukan karena kejadian lucu or memalukannya. Tapi karena aku yang digendong oleh cowok paling diminati namun sulit di gapai se-SMA Bumi Nusantara. Apalagi kejadian itu terjadi ketika rumor Kak Farran dan Kak Dara dekat. Sekarang gosip tentang Kak Farran ada dua di sekolah ini. Pertama kedekatannya sama Kak Dara. Dan yang kedua tentang aku yang digendong olehnya. Memang pantas mereka merasa heran, pasalnya lapangan saat itu sedang sangat ramai. Sedang terjadi duel bola voli senior dan junior kelas IPS. Banyak juga laki-laki selain Kak Farran disana, namun kenapa… kenapa malah Kak Farran yang gendong aku ke UKS. Entah kenapa terlihat berlebihan dan manis juga. Cewek-cewek iri karena bukan mereka yang pingsan di pinggir lapangan saat itu. Aku memutar bola mata. Yaudah sana rasain gimana pusingnya ke-smash bola voli. Kalau aja kejadiannya aku di gendong cowok lain, misalnya salah satu dari pemain di lapangan. Mungkin kejadian itu gak akan serame ini. “Lo tenar, Chi.” Haruku datang dan nyengir lebar. Dia mepet padaku, mungkin berusaha pansos saat namaku sedang jadi perbincangan hangat. “Jangan dibahas, gue malu.” Aku menutupi wajah dengan kedua tangan ketika melewati gerombolan siswi yang tengah gosip di depan kelasnya. Menatapku sambil bisik-bisik. “Jangan-jangan lo gak bohong waktu bilang pacaran sama Kak Farran.” Kebingungan Haruku entah kenapa malah terdengar kaya tuduhan di telingaku. Aku memutar bola mata. Emang gak bohong. Lo aja yang gak pernah percaya sama gue. Namun, keadaannya sekarang berbeda. Aku sedang menjadi perbincangan hangat satu sekolah. Aku gak pernah suka digosipkan. Apalagi digosipkan dengan Kak Farran. Kalau ada yang memperhatikan sikap Kak Farran kemarin itu ganjil. Bagaimana bisa dia berlari kencang dan langsung menggendongku ke UKS. Tanpa memperdulikan anak lain yang juga hendak menolongku. Ya, faktanya banyak yang menghampiriku cemas kemarin. Aku pun mendengar seorang cowok ingin menggendong aku ke UKS. Tapi yang lebih cepat malah Kak Farran. Membawaku begitu saja keluar dari kerumunan. Tapi syukurlah gak ada yang menggosipkan hal lain. Bisa bahaya kalau gosipnya aku dan Kak Farran ada hubungan. Ingat, gosip cowok itu yang sedang panas adalah kedekatannya dengan Kak Dara. Bisa-bisa aku dituduh pepakor a.k.a perebut pacar orang. Ngeri. “Plis!” Haruku memotong langkahku. Dia berdiri menatapku dengan tatapan memohon. “Bilang sama gue kalau lo emang bohong.” Apa? Tanyaku lewat kernyitan di dahi dan alis. “Bilang kalau lo bohong waktu bilang pacarana sama Kak Farran.” “Ya.” Aku menghela napas. “Gue bohong.” Untuk saat ini itu yang terbaik. Jangan bersikeras lagi bilang sama Haru kalau aku ada hubungan special sama Kak Farran. Gak baik terus meyakinkan Haruku sementara gosip tentangku sedang hangat. Meskipun sebenarnya aku gak mau bohong. Aku cewek biasa yang sebenernya pengen menunjukan rasa cemburu dan rasa memilikiku atas Kak Farran. Untungnya Haruku gak tahu kalau kemarin aku juga diantar pulang Kak Farran. Memikirkan kemarin buat pipiku seketika memanas. “Syukurlah.” Haruku menghembuskan napas. “Sayang banget cowok kaya dia kalau gak pacarana sama yang gak sekelas.” Hellow! Dia udah melakukannya tahu. Kak Farran gak peduli apa itu kelas. “Jangan-jangan lo ya yang suka sama Kak Farran?” entah darimana asalnya pertanyaan itu. Niatku hanya bercanda. Namun ternyata Haruku diam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN