BAB 10

2582 Kata
(Chiara Aylin) Kedatangan Kak Farran dan Kak Jonathan secara tiba-tiba ke 10 IPS 3 seketika membuat cewek sekelas ribut. Sesuatu yang luar biasa kelas kami dikunjungi dua cowok yang keberadaannya selalu menarik perhatian se SMA Bumi Nusantara. Yang satu siswa berprestasi dan yang satu lagi atlet panahan cowok satu-satunya. Ditambah mereka punya paras yang mampu buat orang noleh dua kali. “Yang mencinta fortune cookies! Masa depan tidak akan seburuk itu. Heheyyy…” Kak Jonathan langsung menari di depan kelas. Untuk apa lagi? Tentu saja untuk meledek Haru. Seketika Haru bangkit dari tempat duduk dan menerjang Kak Jonathan. Adu mulut seperti biasa terjadi. Sementara itu aku ditinggalkan sendirian di kursi dengan Kak Farran yang berjalan menghampiriku. Adegan seperti ini di novel remaja biasanya mendebarkan. Dimana aku di samperin cowok ganteng yang aku suka. Tapi ini beda, aku harus bangun dari dunia khayalan, kembali pada kenyataan. Alih-alih senang, aku malah khawatir sampai tidak sadar menarik tangan Kak Farran keluar dari kelas. Keberanianku mungkin di luar batas dan bisa saja membuat orang-orang bertanya-tanya. Terlebih aku harus menyeret dia melewati koridor yang sedang ramai oleh siswa-siswi. Karena ini masih jam istirahat sudah pasti hal ini membuat semua orang melihat ke arah kami. Anehnya aku gak memikirkan hal itu. Yang terpikirkan hanya bagaimana caranya membawa Kak Farran pergi sejauh mungkin dari kelas. Setelah berada di tempat yang cukup sepi aku melepaskan tangannya. Sesaat celingukan takut ada yang melihat. Bahaya banget kalau ada orang yang melihat dan menyebarkan gosip yang tidak-tidak. Bahaya karena Kak Bima akan dengar gosip itu. Galak-galak gitu Kak Bima gak pernah ketinggalan berita apapun tentang sekolah ini. Bahkan berita tentang kucing yang suka main ke kelas 11 IPA 5 yang melahirkan di Gudang pun dia tahu. Kak Bima seperti punya mata dan telinga dimana-mana. “Kamu ngapain ke kelas aku?” tanyaku bisik-bisik. Khawatir sekali ketahuan. “Kenapa kamu bisik-bisik?” Kak Farran terkekeh. Dia menoleh ke kiri dan kekanan. “Ngobrol kaya biasa aja. Cuma ada kita berdua kok disini.” “Siapa yang tahu kak. Mata-mata Kak Bima kan ada dimana-mana.” Aku tak bisa menyembunyikan rasa khawatirku sama sekali. Tindakan nekad Kak Farran bisa saja membahayakan dirinya sendiri. Kak Farran memutar bola mata. Lalu menghela napas. “Kenapa kamu bisa senekad itu sih kak?” “Maksudnya?” “Kenapa kamu berani ke kelas aku. Kalau orang lain ngira yang macem-macem dan nyampe ke telinga Kak Bima aku harus ngomong apa sama dia?” “Aku khawatir sama kamu.” Jawab Kak Farran. “Ayah kamu ngomong apa kemarin?” Rupanya itu yang membuat Kak Farran sampai nekad nyamperin aku ke kelas di jam istirahat. Dia cemas karena sudah berbuat kesalahan dengan keceplosan sedang lihat pacarnya latihan. Kak Farran tak menyebut siapa pacarnya ke ayah. Namun, aku tahu dia takut ayah lebih peka dan tahu kalau cowok yang kemarin ngobrol bersamanya di bangku adalah pacarku. Bisa di goreng dia kalau ayah sampai tahu. “Ayah udah aku tanganin dengan baik.” Ujarku. “Kenapa juga kamu harus keceplosan lagi nungguin pacar kamu sih kak?” “Ya… aku kan gak tahu kalau itu ayah kamu.” Kak Farran gak salah memang. Tapi tetap saja membayangkan ayahnya semalam menanyakan apakah Kak Farran pacarnya rasanya menyebalkan sekali. Aku hampir mati berdiri takut ayah tahu dan memarahiku atau nekad mendatangi Kak Farran. “Ayah kamu nanya yang aneh-aneh gak?” tanyanya. “Jelas lah. Dia nanya apa Kakak pacar aku.” “Terus kamu jawab apa?” Aneh kenapa Kak Farran malah tersenyum di saat seperti ini. Padahal aku kan paniknya gak main-main. Aku gak tahu kenapa dia seperti ini? Situasinya gak lucu sama sekali. “Kenapa malah senyum-senyum gitu sih.” Protesku. “Lucu aja ngebayanginnya. Aku bilang ke ayah cewek aku yang galaknya minta ampun kalau lagi nungguin anaknya latihan.” “Bisa mati kalau sampai dia tahu kak. Untungnya aku bilang kalau kamu pacarnya Riska.” Senyum di wajahnya seketika pudar. Aku menyadari hal itu namun memilih untuk abai. Memangnya apa yang salah dengan aku bilang kalau dia pacar Riska. Kalau aku bilang dia pacar Kak Melayu, ayah gak akan percaya. Kak Eko kan nempel terus sama Kak Melayu tiap latihan. “Dan dia percaya?” tanyanya lagi. “Ya, dia percaya. Ayah emang selalu percaya apapun yang aku bilang.” Kak Farran menghela napas. “Kamu takut banget yah kalau ketahuan?” “Jelas takut lah kak. Ayah itu orang paling kejam yang aku tahu.” Aku menggeleng ngeri. “Aku khawatir aja sama kamu.” Kak Farran tersenyum. Aku begitu terpana dengan senyum cowok berlesung pipi ini sampai gak sadar kalau tangan Kak Farran sudah terulur untuk menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Tubuhku seketika kaku. Kejutan di umur 16 tahun yang diluar dugaan sama sekali. Kedua tanganku mengepal kuat saking gugupnya beda dengan tangannya yang menepuk-nepuk punggungku. Aku sering deg-degan sendiri saat baca adegan pelukan atau ciuman di novel romantic membayangkan seolah itu aku. Namun, merasakannya secara langsung beda sekali rasanya. Aku tahu sekarang kenapa banyak penulis yang menuliskan deskripsi kaki melayang, atau perut penuh kepakan kupu-kupu, atau kaki serasa jelly yang gak bisa menopang berat tubuh sendiri, atau kata-kata berlebihan lainnya. Karena memang rasanya seperti itu. Bahkan yang aku rasakan gabungan dari semua itu. Aku gak pernah sedekat ini sama cowok. Maksudnya berjarak yang sedekat ini sampai bagian depan tubuh kami saling menempel. Aku mendengarkan debaran jantungnya. Tangan Kak Farran mungkin menepuk-nepuk pundaku namun aku tahu debaran jantungnya sama memburunya dengan jantungku. Anehnya suara jantung kami yang seperti saling berlomba ini seolah menjadi nyanyian yang paling menenangkan di dunia. Aku suka suara detak jantung Kak Farran. Aku suka dengan wangi baju putihnya yang menguarkan aroma manis dan maskulin dalam waktu bersamaan. Aromanya mahal. Entah apa dia pakai parfum apa. Gak terlalu menyengat seperti parfum Gatsby yang menjadi andalan Kak Baskara dan gak terlalu kuat juga seperti parfum kopi yang Kak Barly suka. “Tenang ya.” Ucap Kak Farran. “Maafin aku juga.” “Kenapa minta maaf?” tanyaku tanpa sadar makin membenamkan kepalaku di dadanya. Kenapa nyaman sekali? Bahkan lebih nyaman dari pelukan Kak Bastian. “Karena kecerobohan aku, hubungan kita hampir ketahuan.” Ucapnya. *** “Darimana aja?” Haru menatapku yang baru masuk ke kelas dengan tatapan heran. “Kenapa mesem-mesem sih lo?” Nyatanya sisa sensasi dipeluk Kak Farran gak hilang meskipun sudah berlalu beberapa saat lalu. Pelukannya pun tak lama. Tak terhitung menit. Kak Farran melepaskannya setelah dia menenangkan kepanikanku. Setelah itu dia pamitan ke kelasnya. Aku tahu, tingkahku saat ini mirip sekali dengan orang gila. Mesem-mesem tak jelas, menenggelamkan kepala tumpukan buku dan teriak-teriak kecil. Mana ada sih cewek yang akan waras setelah dipeluk oleh cowok yang disukanya? Mana? Coba sini, datang kesini kalau dia masih bisa waras. “Lo tadi kemana sama Kak Farran?” Haru memang sedang adu jotos lewat omongan dengan Kak Jonathan di depan kelas. Namun, dia menyadari aku yang menarik Kak Farran keluar kelas. “Kemana lagi? Pacaran lah.” Jawabku. Mau aku bilang pacaran pun Haru gak pernah percaya. “Halu lo!” tuhkan, baru juga aku bilang. Haru memang gak akan percaya kalau aku pacaran dengan Kak Farran. “Kecuali lo kasih undangan nikahan ke gue baru gue percaya.” “Ya elah… jauh banget sih mikirnya. Lagian kenapa gak percaya banget sih kalau gue pacarana sama Kak Farran?” Biasanya aku akan bertanya dengan kesal. Namun kali ini pertanyaanku diselingi oleh senyuman tak jelas yang membuat Haru menatapku jijik. “Jangan senyum-senyum gak jelas gitu deh. Jijik gue lihatnya.” “Yaaa habis gimana. Gak bisa ditahan Haru.” Aku menutupi wajahku. Menghela napas lalu memegangi pipiku. “Pipi gue pasti merah kan?” “Ngaco.” Sinis Haru. “Orang biasa aja.” “Ih masa.” Aku menutup mata sambil menggerak-gerakan kaki tak karuan. “Padahal gue ngerasa sekarang wajah gue panas banget.” Tangan Haruku terulur, bukannya menyentuh pipiku, Haru malah menyentuh keningku. “Kening lo sih iya, Chi.” Dia manggut-manggut. “Buru ke rumah sakit gila.” “Ihhh… gak percayaan banget sih jadi orang.” “Gini deh.” Haru menatapku serius. “Kalau lo beneran pacaran sama Kak Farran. Tunjukin sama gue room chat kalian berdua. Gak mungkin kan kalian pacarana tanpa pernah chat-an?” Senyum di wajahku seketika pudar. “Chat?” Haru mengangguk dengan wajah yakin. Tangannya menengadah minta aku meletakan smartphone-ku di tangannya. “Sini HP lo.” Aku mengerjap. Mengingat kapan terakhir kali aku dan Kak Farran saling berkirim chat. Seminggu lalu? Dua minggu yang lalu? “Atau kasih tunjuk gue log panggilan lo. Kak Farran pasti pernah telpon lo dong! Kalau bener, cowok biasanya pengen ngobrol lama sama pacarnya.” “Telpon?” aku tahu sikapku saat ini malah membuat aku seolah mengada-ngada sekali. Chat saja jarang. Apalagi telpon. Aku gak pernah mengizinkan dia untuk menelponku ketika di rumah. Dan aku pun gak pernah berani menelpon dia karena takut ketahuan ayah atau kakak-kakak. Haru semakin terlihat malas menatapku. “Udah gue duga.” Katanya. “Buktinya tadi dia nyamperin kesini Haru. Nyamperin gue.” Haru geleng-geleng. “Itu kan karena Kak Jonathan tengil yang lagi mood gangguin gue.” “Kurang kerjaan banget Kak Jonathan kesini cuma buat usilin lo.” Haru menatap gue dengan tampang protes. Tak setuju dengan apa yang aku bilang. “Dia emang orangnya segak-jelas itu ya, Chi. Jangan pura-pura amnesia.” “Tapi beneran tadi mereka kesini karena Kak Farran pengen ketemu sama gue.” Haru menggeleng. Bahkan jari telunjuknya ikut bergerak kekiri dan kekanan. “Kak Farran kesini karena ngikutin sohibnya.” “Ih… tahu ah. Cape gue meyakinkan lo.” Aku lalu menenggelamkan kepala di atas lipatan tangan. Kepala aku arahkan ke arah berlawanan. Gak mau melihat Haru. Haru terlalu nyebelin. *** “Kak Bima mau kemana lagi?” tanyaku pada Kak Bima yang memutar balik motornya setelah mengantarkanku sampai depan gerbang rumah. “Ketemu temen.” Jawabnya. “Oh ya, gimana kemaren? Keki gak di nikahan mantan?” ledeku. Dia sebenernya gak bilang kalau acara nikahan yang dihadirinya adalah pernikahan mantannya. Tapi siapapun yang melihat ekspresi wajah Kak Bima saat itu akan bisa langsung tahu kalau yang menikah mantannya. “Mantan apaan?” Kak Bima mengacak-ngacak rambutku. “Orang putusnya juga udah lama.” Aku menatap jahil Kak Bima. “Tuh kan bener nikahan mantan. Pantes kemaren mawa mercy punya ayah. Ada yang pengen kelihatan keren di nikahan mantan nih?” sindirku. “Apaan sih anak kecil. Mantan-mantan, belajar dari siapa.” “Yang kaya gini gak perlu belajar dari siapapun kali Kak Bima. Orang temen-temen aku banyak yang pada pacaran.” “Apa maksud nih bilang kaya gitu?” Kak Bima menatapku galak. “Mau nih kakak bilangin ayah kalau kamu udah bilang pacar-pacaran terus.” “Jangan dong! Kan cuma ngecengin Kak Bima doang.” “Yaudah.” Kak Bima memegangi bahuku, memutar tubuhku lalu mendorongku. “Sana masuk.” “Yaks!” Setelah kepergian Kak Bima aku merogoh ponsel. Membuka aplikasi w******p dan mencari nomor Kak Farran. Deretan nomor itu tak aku beri nama. Namun, efek jatuh cinta membuat aku bisa menghafal nomor yang tak cantik ini. Aku dan Kak Farran jarang sekali kontekan. Chat terakhir yang dikirimkan pun satu minggu yang lalu. Hanya chat dari Kak Farran apa aku sudah sampai rumah atau belum. Setelah aku balas sudah, dia gak kirim pesan lagi. Selama dua bulan pacarana gak banyak pesan. Gak kaya kebanyakan orang yang baru jadian. Dimana chatnya kalau di scroll kaya gak ada ujungnya. Room chat aku dan Kak Farran cuma butuh dua kali scroll sampai akhirnya mentok pada chat teratas. Pesan pertama yang dikirim Kak Farran. Ini aku, Farran. Kak Farran gak memasang foto profil. Dibiaskan polos saja tanpa foto. Nomornya bahkan gak aku simpen. Aku remaja biasa yang pernah penasaran kontaku dinamai apa di ponselnya. Tentu saja dia menyimpan kontaku, dengan nama Cewek ketiga. Sempat aku curiga kenapa dia menyimpan nomor ku dengan nama itu, namun jawabannya membuat aku tertegun. “Ya gak bisa lah aku simpen nomer kamu cewek pertama.” “Kenapa?” tanyaku kesal. “Kamu punya cewek lain ya? Aku tahu kok pacaran sama aku pasti sulit buat kamu.” Kak Farran tertawa. “Aku gak selingkuh kok.” “Ya terus kenapa nama kontak aku cewek ketiga.” “Sini deh.” Kak Farran meminta aku mendekat kesisinya. Aku menggeser kursi lebih dekat. Kak Farran menunjukan kontak di HPnya padaku. Yang dia tunjukan pertama adalah room chat dengan nama cewek pertama. “Ini mama aku.” Lalu dia menunjukan room chat dengan cewek kedua. “Ini sama kakak perempuan aku. Namanya Karrani. Kalau ketemu panggil Kak Rani aja.” Kak Farran mematikan daya ponselnya. Meletakannya di atas meja. Lalu dia menatapku. “Meskipun aku punya pacar aku gak akan bisa buat dia jadi prioritas aku. Karena prioritas pertama sudah aku jatuhkan buat mama. Dan cewek kedua kakak perempuan aku. Dengan kamu jadi cewek ketiga aja udah nunjukin kalau kamu punya tempat yang special juga, Chi.” Mengingat hal itu membuat aku merasa sedikit bersalah karena sampai detik ini belum menamai kontaknya. Maka yang aku lakukan saat ini adalah menyimpan kontaknya dan menamainya Kak Farran. Suara klackson motor membuat aku melonjak. Aku mendongak. Ternyata itu Kak Barly yang baru pulang naik ninja merah yang baru dibelinya beberapa bulan lalu. Kak Barly mengangkat kaca helm full face nya. “Bukain gerbangnya.” Tak lama sebuah mobil berhenti di belakang motor Kak Barly. Seorang perempuan buru-buru melepaskan sabuk pengamannya. “Cepet bukain!” Kak Barly menaikan intonasi suaranya. Terlonjak kaget oleh teriakannya membuat aku tersadar. Segera aku membukakan pintu gerbang untuk Kak Barly. Seketika saja Kak Barly melesat masuk. “Barly! Dengerin aku dulu! Aku bisa jelasin! ”Perempuan di mobil itu baru turun. Terengah-engah melihat arah kepergian Kak Barly. Wajahnya terliaht frustasi. Namun, bukan wajah frustasi perempuan ini yang buat aku tetap diam di tempat. Melainkan hal baru yang baru saja aku saksikan. Kak Barly gak pernah kelihatan dekat dengan seorang perempuan. Bahkan aku ngira Kak Barly anti perempuan. Sama aku aja dia ketusnya minta ampun. Melihat perempuan ini mengejar Kak Barly dengan wajah serius dan punya wajah syarat konflik ini buat aku tersenyum. Kak Barly ternyata gak seperti yang diperlihatkannya di rumah. “Pacarnya Kak Barly ya?” tanyaku. Perempuan itu menatapku penuh pertanyaan selama beberapa detik sebelum dia menunjukan wajah cerah. “Chiara ya? Adiknya Barly?” tanyanya memastikan. Aku tersenyum. “Iya. Kok kakak tahu aku.” “Barly sering cerita tentang kamu.” Jawabnya. Dan hey, siapa yang akan sangka kalau Kak Barly yang dirumah ketus sekali padaku. Kak Barly yang di rumah selalu tampak tak peduli padaku ternyata menceritakan tentang aku ke temen ceweknya. “Kakak siapanya Kak Barly?” tanyaku. Perempuan itu mengulurkan tangannya. Senyumnya mengembang. “Aku Renata. Aku pacarnya Barly.” Dia memperkenalkan dirinya. “Chiara.” Balasku. “Ternyata kamu sama lucunya persis yang sering Barly ceritain.” “Lagi ada masalah ya sama Kak Barly?” tanyaku sambil meringis. Memang gak sopan menanyakannya, tapi aku penasaran sekali. “Ya.” Jawabnya. “Masalah kecil sebenernya.” “Tapi kenapa Kak Barly bisa sampai semarah itu?” Kak Renata menghela napas. “Dia salah faham.” “Salah faham kenapa?” “Rumit.” Jawabnya. Aku faham, dia cuma gak mau menjelaskan apapun. Aku pun memilih untuk tak bertanya lagi. Tak enak juga banyak tanya ke orang baru. Ya… meskipun Kak Renata ngaku pacarnya Kak Barly, tapi kan Kak Barly belum kenalin secara resmi. “Boleh minta tolong gak?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN