BAB 9

3597 Kata
*** (Farran Hafaza) “Kak Farran, anter ke tempat les.” Sepupu gue yang judesnya minta ampun berdiri di balik konter. Menatap gue yang lagi baca buku dengan tatapan malas. Seperti biasa jam siang menjelang sore sampai isya gue menjaga toko papa. “Tempat les lo kan tinggal jalan dikit. Lewat g**g samping masjid nyampe.” Jawab gue lalu kembali fokus buku yang sedang gue baca. Dia les di Gunadharma. Jaraknya gak jauh dari toko papa. Kalau pakai motor memang harus memutar karena jalan di depan toko jalan satu arah. Tapi untuk pejalan kaki ada jalan rahasia. g**g samping masjid besar itu bisa mengantarkan Jihan langsung ke samping tempat les. Bangunan Mesjid besar dan Gunadharma memang saling berpunggungan satu sama lain. “Gue udah gak les lagi disana.” Beritahunya. “Sejak kapan? Om sama tante kan semangat banget daftarin lo buat les disana.” “Sejak hari ini.” Jawabnya kesal. “Ayolah, gue nanti telat nih.” Karena gue gak beranjak sama sekali dari balik konter dia sampai menerobos masuk. Menarik tangan gue dengan kasar. Dengan tangannya yang lain dia menyambar kunci motor yang selalu gue cantolkan ke paku samping kotak rokok. Dia benar-benar gak berperasaan. Kaos kesayangan gue akan molor karena tarikannya. “Emang lo les dimana mulai hari ini?” tanya gue. Gak biasanya Jihan serusuh ini hanya untuk diantarkan ke tempat les. “Ganesha.” Jawabnya. Ganesha. Ganesha. Ganesha. Ah iya, seketika gue ingat pada bangunan yang berdiri di seberangnya. Pusat latihan angkat besi Pemuda Bangsa. Tempat cewek gue latihan setiap Selasa dan Jumat. “Tunggu.” Gue melepaskan tangan Jihan. Melihat kalender sesaat dan sadar kalau ini hari Selasa. Untung-untung gue bisa ketemu Chiara disana. “Ngapain sih?” tanyanya kelewat jengkel. “Gue masuk setengah jam lagi nih.” Menghiraukan rengekan Jihan, gue melirik jam dinding. Baru jam setengah 4. Ngomong-ngomong Chiara pernah bilang kalau dia latihan setiap Selasa dan Jumat jam 4 sore sampai jam 6. “Tapi gue gak bisa ninggalin toko tanpa penjagaan. Gak bisa gue tutup juga.” Seperti biasa jam segini papa pergi entah kemana. Biasanya baru kembali sehabis Isya. Sedangkan mama ada di rumah. Jarak rumah dan toko cukup jauh. Akan memakan waktu kalau harus ke rumah dulu minta mama yang jaga toko. Itu pun belum tentu mama lagi free. Mama pasti sibuk ngurus bisnis bajunya di rumah. Packing buat dikirimlah, apa lah. Pokoknya mama jarang sekali terlihat senggang. Dan gue pun gak berani buat minta mama untuk jaga toko karena udah kesepakatan keluarga kalau setiap pulang sekolah gue harus jaga toko sampai isya. “Bentar.” Jihan pergi sebentar. Gue hanya menatap kepergiannya. Beberapa saat kemudian dia menarik seorang cowok berjaket merah ke hadapan gue. “Gino bisa jaga toko sebentar.” Ujar Jihan. Dari wajah Gino gue tahu Jihan tak membicarakan tentang hal itu sama sekali padanya. Gino memang sering terlihat main di depan tokonya. Duduk di kursi berjam-jam untuk nyolong wifi gratis dari toko. “Apaan sih? Tiba-tiba aja.” Gino hendak memprotes. Namun sebelum sempat dia melakukan itu gue sudah lebih dulu melepaskan seragam toko dan menyerahkan padanya. “Titip toko bentar ya.” Dia kebingungan di tempatnya. Sedang main dan tiba-tiba di todong untuk menanggung tanggung jawab menjaga toko orang pasti amat sangat mengejutkan. “Jangan berani-berani kabur lo.” Ancam Jihan. Beda dengan namanya yang menampakan kesan halus, sopan, lembut, aslinya Jihan itu singa betina di daerah ini. “Udah untung lo selama ini gak ditendang Kak Farran gara-gara nyolong wifi dari toko ini.” “Siapa suruh ngasih tahu passwordnya ke gue pas gue belanja.” Gino meletakan seragam toko di atas konter. Dia masih enggan untuk mengemban tugas menjaga toko. “Dia ngasih tahu karena gak nyangka aja lo bakal ke kesini tiap hari nyolong wifinya. Gak tahu diri banget sih lo.” Umpat Jihan. Gino tak bisa berkata-kata. “Kalau gue jadi Kak Farran udah sejak lama lo gue seret menjauh dari toko dan gak gue izinin mendekat lebih dari 15 meter. Gue bahkan bakal ganti password wifi gue seminggu sekali. Buat menghindari lintah wifi macem lo dateng terus-terusan.” Ancaman Jihan serem juga. Gue yang kadang suka nyolong wifi sekolah pun akan takut dengar ancamannya. Lintah? Boleh juga Jihan menganalogikannya. Lintah wifi. “Gimana! Mau gak!” suara Jihan meninggi. “Kalau gak mau gue gak bakalan segan-segan seret lo pulang nih! Biar bapak lo tahu kerjaan lo selama gak di rumah ngapain aja.” Gue bertepuk tangan dalam diam. Gak salah emang orang daerah sin menjuluki Jihan singa betina. Galak, kejam, dan punya mulut yang kalau ngata-ngatain suka  bener. Aura bringasnya buat gue pun takut kalau udah berhadapan dengan dia. Gino menatap gue, seperti minta dibebaskan. Namun gue menggeleng tegas. Alih-alih gak keberatan mau ngantar Jihan, sepupu gue yang hobbynya marah-marah ini, gue pun bersedia karena punya maksud lain. Apa lagi kalau bukan berharap ketemu dengan pacar gue yang latihan di gedung yang letaknya bersebrangan dengan Ganesha. “Udah. Gin. Minta tolong sekali ini aja ya.” Gue menyerahkan kembali seragam toko padanya, gue merasa harus minta tolong dengan benar. Dia yang tak bergerak sama sekali, membuat gue dengan lembutm memakaikan seragam toko yang tentu kebesaran dipakai Gino. Cowok yang lebih tua empat tahun dari gue tak memprotes. “Tugas lo cuma jaga toko aja. Kalau ada yang bayar dan ngasih uang lebih tinggal kasih kembalian. Kalau ada yang nanya barang. Lo tinggal cari koordinatnya di komputer. Gampang kok.” Pesan gue. Harusnya dia gak bingung harus ngapain. Kalau gue lihat Gino ini pintar, cuma kelihatannya terlalu suka main aja. Gino menghela napas. “Satu lagi!” Jihan maju selangkah membuat Gino mundur karena takut. Dia bahkan sampai menyilangkan tangannya di depan wajah mengira Jihan akan memukulnya. “Jangan berani-berani lo nilep uang dari toko ini.” Jihan menunjuk CCTV yang diam membatu di sudut ruangan. “Lo dipantau 24 jam! Ketahuan ada seratus perak pun kurang… gue libas leher lo.” Gino bergidik ngeri. “Ngerti gak!” “Ya.” Jawab Gino malas. Mendapat jawaban malas membuat Jihan malah semakin menunjukan taringnya. “Gue tanya lagi, ngerti gak! Jangan iya-iya aja!” Gino melompat kaget karena diteriaki tiba-tiba. “Iya… iya… ngerti. Tugas gue jaga kasir, ambil uang dari pembeli terus kasih kembalian. Kalau ada yang tanya barang tinggal nyari aja di komputer. Gue gak akan nilep uang, karena ada CCTV yang pantau gue.” “Bagus.” Jihan menepuk pundak Gino. Saking takutnya Gino bahkan sampai mundur. Gue cuma tertawa-tawa aja melihatnya. Lucu yaa kalau nanti Jihan dan Gino pacaran. Gino bisa sawan tiap hari kayanya. “Habis anter Jihan lo balik lagi kan?” Gino menatap gue yang sedang memakai jaket. “Mmmm… iya gue balik lagi nanti.” Jawab gue tak yakin. Kalau keadaan memungkinkan gue pengen keliling-keliling atau mungkin lihat Chiara latihan. Maklum gue merasa kebersamaan gue dan dia di sekolah kurang. Kami juga jarang kontekan. “Ayo.” Jihan menarik ujung jaket gue. Baru dia lepaskan setelah berada disamping motor matic hitam kesayangan gue. “Takut macet nih.” Katanya cemas. “Iya.. iya…” gue naik ke atas motor dan memakai helm. Jihan mengambil helmnya yang tadi dia letakan di meja depan toko. Setelah memakainya dia naik ke atas boncengan. “Ngomong-ngomong kenapa lo pindah dari Gunadharma?” “Mahal!” jawab Jihan ketus. Gue tahu dia bukan itu alasannya. “Orang tua lo kaya kalau lo lupa.” Memang, masalah biaya gak pernah jadi masalah untuk Om dan Tante. Untuk anak semata wayang mereka apa sih yang enggak. Apapun yang Jihan mau selalu dituruti dan selalu diberikan yang terbaik. “Temen deket gue pindah ke Ganesha.” Jawab Jihan. “Gunadharma cuma tempat les kaku yang gak seru sama sekali tanpa dia.” Gue cuma mengangguk-angguk kemudian mulai melajukan motor. Pernah beberapa kali gue jalan-jalan ke sekitar sentra pelatihan angkat besi Pemuda Bangsa. Sering juga gue lihat Chiara baru turun dari motor Kak Bima. Pernah juga gue lihat dia masuk jeep putih milih ayahnya. Sesayang apa gue sama dia, gue gak tahu. Gue cuma jatuh cinta aja sama dia. Gak tahu kapan dan gak tahu kenapa. Hingga gue gak akan punya jawaban kalau sewaktu-waktu Chiara nanya kenapa gue bisa suka sama dia. Kalau gue mengatakan satu alasan, gue akan merasa kalau gue mengada-ngada. Seseorang gak butuh alasan untuk jatuh cinta sama orang lain. Perasaan ada begitu aja dalam hati seseorang tanpa bisa di atur kapan dan tanpa bisa di stimulasi dengan cara apapun. Kalau udah suka ya suka. Mau disangkal atau gak disangkal sekalipun, tetap suka. Begitu juga dengan menghilangkannnya, sekeras apapun usaha untuk menghilangkannya gak akan bisa begitu aja. Jatuh cinta bagi gue hal yang luar biasa. Ini perasaan ajaib yang kalau gue ibaratkan kaya jelangkung. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Dan gue menikmati dengan cara gue yang jatuh cinta secara tiba-tiba sama cewek yang punya banyak bodyguard itu. “Nanti lo gak usah jemput.” Jihan mengeteki helm yang baru saja di lepasnya. Tak terasa gue sudah menghentikan motor di depan Ganesha dan Jihan sudah turun dari boncengan. “Gak, nanti gue jemput.” “Tumben lo mau jemput?” Jihan menatap gue curiga. “Ada urusan disekitar sini.” Jawab gue. Sambil melirik ke bangunan seberang. Senyum gue tercetak. Gue meantap bangunan tempat les baru Jihan. Kalau dibandingkan dengan Gunadharma, Ganesha terlihat sedikit kuno dan kurang mencolok. Berbeda dengan Gunadharma yang punya arsitektur keeropa-eropaan dan memiliki warna bangunan putih dengan atap biru. Kesan dunia pendidikan dan seni terpampang dari bangunan itu. Konon pemilik Gunadharma seorang arsitek. Gue gak pernah cari tahu siapa itu. Biaya masuk dan biaya bulanan Gunadharma selangit masuk akal dengan banyak sekali tutor yang berpengalaman, bahkan katanya ada guru yang berasal dari Belanda. Gunadharma punya teknik pengajaran yang modern dan mutakhir. Beda dari yang lain. Itu yang membuat Gunadharma berani mematok biaya les sebulan hampir 2 kali lipat SPP Bumi Nusantara. “Disini sebulan berapa?” tanya gue. Sebetulnya heran kenapa om dan tante mengizinkan anak semata wayangnya pindah tempat les. Dari yang gue tahu dari papa dan mama, om dan tante gue punya gengsi selangit. Dia pasti menempatkan anaknya di tempat terbaik dan termahal. Ditambah mereka memang mampu. SMA Jihan saja di SMA elit yang biaya bangunannya 5 kali lipat dari sekolah gue. Sekolah terkenal yang juga menjadi incaran anak-anak pengusaha, pejabat, bahkan anak-anak artis banyak yang sekolah disana. “Gak nyampe setengah dari Gunadharma.” Jihan melihat Ganesha dengan tatapan tak yakin. “Lo kayanya gak rela masuk ke Ganesha?” “Aneh aja gue tiba-tiba terdampar di tempat orang miskin kaya gini.” Sebagai informasi aja, selain Jihan galaknya minta ampun, dia juga punya mulut yang gak bisa di filter. Terbiasa dimanjakan sejak kecil, dan minim dimarahi membuat Jihan tak segan-segan mengatakan hal itu. “Awas nanti lo bilang kaya gitu di dalem.” Gue cuma bisa memperingatkannya. Akan bahaya kalau sampai Jihan keceplosan bicara seperti itu di dalam. “Gak semua hal yang menurut lo jelek, jelek juga buat orang lain.” “Siapa juga yang bilang miskin itu jelek, ha!” Jihan memukul kepala gue. “Temen-temen gue aja banyak yang miskin. Gue gak masalah tuh.” “Pokoknya nanti jangan sampai lo bilang kaya gitu ya di dalem. Sama temen-temen lo atau sama guru-guru lo.” Gue memperingatkanya sekali lagi. Takut nanti malah jadi boomerang buat Jihan sendiri. “Mulai sekarang lo harus mulai belajar cara ngerem omongan lo, Ji. Terlalu blak-blakan gak jamin baik buat masa depan lo. Blak-blakan di saat yang tepat aja, oke?” Jihan mengangguk-angguk. Dia memang tak pernah membantah ketika gue menasehatinya. Dibandingkan papanya, dia lebih mendengarkan omongan gue. Jihan lebih menghormati gue. “Oh ya, nanti gue pulang jam 5.” Jihan memberitahu. “Jangan telat, gue gak suka nunggu. Buat gue kaya anak ilang kalau nunggu.” “Iya, ntar gue jemput tepat waktu.” Gue menoleh lagi ke bangunan seberang jalan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kayanya gue emang lagi berjodoh hari ini dengan Chiara. Dia dan Pak Bima baru sampai di depan pemuda bangsa. Lagi-lagi gue tersenyum. “Itu tempat apaan sih?” tanya Jihan. Dia memang anak baru di daerah ini, wajar dia gak tahu kalau bangunan di seberang Ganesha adalah sentra pelatihan angkat besi. Jihan sepertinya menyadari bahwa sejak tadi gue sesekali menatap kesana. “Tempat latihan atlet-atlet angkat besi.” Gue lalu menunjuk Chiara yang tengah menarik-narik jaket Pak Bima. “Itu cewek gue.” Senyum gue menguar begitu saja. “What?” “Itu pacar gue, Ji.” Gue tersenyum semakin lebar. “Cantik gak?” Jihan sedang menatap gue jijik saat gue kembali menoleh padanya. Alis gue naik. Bertanya kenapa reaksinya seperti itu. “Serem ya selera cewek lo.” Komentarnya. Gue tertawa. “Dia gak serem kok.” Jihan menunjuk bangunan Pemuda Bangsa. “Serem lah, kerjaannya angkat beban terus dibanting. Salah-salah lo yang diangkat terus dibanting sama dia.” “Ada-ada aja lo.” Jihan mundur. “Udah sana pulang lo. Pengen muntah gue lihat muka lo mesem-mesem kaya gitu.” Usirnya lalu tanpa melihat gue pergi, dia sudah lebih dulu masuk ke dalam bangunan. Seseorang menyambutnya di loby. Jihan saling berangkulan dengan orang itu. Gue kira alasan dia pindah adalah temen cewek. Senyum gue pudar. Berganti dengan tatapan prihatin pada cowok yang baru saja di pukul Jihan karena menepuk-nepuk kepala Jihan. Gue lebih khawatir sama cowok itu daripada hidup gue sendiri. Setelah Jihan masuk, gue gak langsung pergi dari sana. Melainkan tetap duduk di atas motor dan melihat interaksi Chiara dengan kakaknya. Chiara memang sering sekali bilang kalau dia gak suka Pak Bima karena dia sangat posesif, galak dan selalu mencemaskannya secara berlebihan. Bahkan dia juga bilang kalau diantara saudara laki-lakinya dia paling tak suka pada Pak Bima. Tapi dari yang gue lihat, mereka berdua punya ikatan yang sangat erat. Tak peduli seberapa sering dan seberapa keras Chiara menyangkalnya, interaksi diantara mereka berdua menunjukannya pada gue. Tak lama kemudian Pak Bima menyalakan motornya dan pergi dari hadapan Chiara. Segera gue menyalakan motor dan menyebrang jalan. “Chi… Chiara…” Sesaat Chiara kelihatan bingung dengan keberadaan gue saat ini. Dia bahkan tanpa sadar celingukan ke jalan raya. Seperti memastikan apakah Pak Bima masih ada di sekitar sana atau tidak. Keberadaan gue saat ini pasti mengancam keselamatannya. Gue sadar itu, namun gue gak bisa menahan diri buat gak nyamperin dia. Setelah dia memastikan kalau Pak Bima sudah pergi barulah dia tersenyum sumringah. Sama kaya gue yang sesenang itu lihat dia saat ini. Gue emang sebucin ini sama Chiara. Gak tahu kenapa. Eh, sebelumnya kan gue bilang kalau gue jatuh cinta sama dia begitu aja. Yang artinya gak ada alasan apapun. Rasa suka gue udah cukup untuk buat gue tersenyum lebar saat ini. “Kak Farran.” Tegurnya. Dia gak sadar sama sekali kalau suaranya hampir menyerupai teriakan. Sesenang itu dia lihat gue? “Habis nganterin sepupu.” Jawab gue. Gue menunjuk tempat les di seberang jalan. “Mulai hari ini dia les disana.” “Kok bisa? Bukannya sebelumnya Jihan tempat lesnya yang di Gunadharma itu ya?” “Dia pindah.” Jawab gue. “Temen deketnya pindah ke Ganesha.” Seketika kelebatan cowok yang dipukul Jihan buat gue terganggu. Kok bisa dia baik-baik aja selama ini selama bergaul sama singa betina macam Jihan? Chiara mengangguk-anggu. Dia berusaha menyembunyikan senyumnya namun malah gagal. Alhasil gue yang tersenyum geli melihatnya. Bukan cuma gue aja yang mabuk kepayang karena cinta, cewek gue juga sama. “Padahal kan Gunadharma bagus.” “Emang bagus, Chi. Tapi kalau anaknya pengen pindah malah bikin gak enjoy. Belajar yang bagus kan kalau kita nya enjoy.” Maksudnya dia gak bakal enjoy kalau gak ada cowok tadi. Kayanya Jihan punya perasaan buat cowok itu. Gue harus mengagendakan buat wawancara cowok itu. Jihan memang galak, tapi gue tahu dia punya hati yang gampang banget patah. “Iya bener.” Dia menyetujui apa yang gue bilang. Setelahnya Chiara memperhatikan motor gue. Membuat gue harus menerka apa yang ada di pikirkannya saat ini. “Kak kapan-kapan bonceng ya.” Pintanya tiba-tiba. “Boleh.” Sumpah demi apapun gue kaget, cowok normal kaya gue yang nembak cewek duluan pasti punya keinginan buat bonceng ceweknya, anter-jemput dia sekolah, atau pergi berdua di malam minggu. Sayangnya gue gak pernah berani buat memintanya. Karena gue tahu ada hal yang begitu challenging yang harus gue lakukan. “Tapi aku harus izin dulu ke ayah kamu kan?” Chiara bergidik.  “Serem aku ngebayanginnya.” Gue tertawa. Kalau Chiara setakut itu apalagi gue. “Kayanya kamu udah mau telat.” Gue sadar jarum jam di pergelangan tangan gue sebentar lagi menujuk angka empat. Dia menarik tangan gue untuk melihat jam. Dia gak sadar akibatnya buat gue seperti apa. Selama ini selalu gue yang pegang tangan dia duluan. Dan itu pun gak pernah lama karena gue khawatir akan ada yang melihat hal itu. Dia nyentuh tangan gue duluan buat gue bereaksi luar biasa. “Aku masuk ya kak.” pamitnya. Gue mengangguk seperti orang linglung. Dia narik pergelangan tangan gue, namun berhasil buat gue kaya gini. Sepertinya gue emang udah gila karena dia. “Oh ya Chi.” Gue membulatkan tekad. Ragu itu berusaha gue telan. “Iya kak?” “Aku boleh gak lihat kamu latihan?” tanya gue, tak mau terlihat ragu sama sekali. “Daripada aku pulang terus balik lagi kesini 1 jam lagi buat jemput Jihan.” Setidaknya gue harus memberikan alasan agar dia tak menolak. “Boleh kak.” Sama seperti dia yang tersenyum saat menjawab, gue pun tersenyum lebar. Gue bergegas menuju minimarket untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuk Chiara dan teman-temannya. Merasa gue harus memberikan kesan yang baik di depan mereka. Chiara sudah menjadi salah satu bagian Pemuda Bangsa sebelum gue menyatakan diri suka sama dia. Bahkan sebelum kenal dengan gue, dia udah lebih dulu jadi bagian dari tempat ini. Dan gue merasa harus banget memperlakukan orang-orang yang kenal cewek gue dengan baik. Setidaknya gue harus membantu dia untuk lebih akrab dengan kenalannya. Karena bagaimanapun, ketika gue gak bisa minta bantuan sama gue, dia akan minta bantuan sama temen-temennya. Gue memikirkan kehidupan Chiara sampai sejauh itu. Sampai di minimarket nyatanya tak mudah. Gue malah berdiri kebingungan di depan rak snack. Apakah gue harus memborong semuanya? Gue gak tahu apa yang temen-temen Chiara suka. Terlalu lama berdiri disana seperti orang b**o, gue lalu berjalan memutar menuju jejeran lemari pendingin. Membuka salah satunya yang berisi banyak minuman, mulai dari teh, jus, kola, air putih, sprite, dan lain-lain. Gue gak membuka lemari berisi s**u kaleng dan s**u kotak. Gue gak berpikir kalau mereka akan suka kalau gue bawain s**u di tengah latihan. Hal teraneh yang gue lakukan, untuk seorang Farran yang semua orang tahu kalau gue selalu yakin dengan apa yang gue lakukan, adalah gue browsing saat ini. Membuka aplikasi chrome dan mengetikan keyword pencarian yang aneh. ‘Apa yang harus diberikan kepada teman yang olahraga’ Artikel yang muncul pertama kali muncul dengan judul Beragam Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Fisik dan Mental. Maaf, artikel pertama yang muncul bukan tujuan gue. Gue gak sedang penasaran dengan manfaat olahraga karena hal itu sudah dibahas sering sekali oleh guru olahraga. Scroll lagi ke bawah ada artikel dengan judul Pertolongan Pertama saat Cedera Olahraga – Kompas Health. Situasi serius gue saat ini gak berhubungan dengan kecelakaan karena olahraga. Gue menggeleng. Hingga kemudian gue menemukan artikel dengan judul Makanan Terbaik untuk Penuhi Energi saat Olahraga. Tanpa pikir panjang gue mengklik artikel tersebut. Membaca beberapa paragraf pertama dengan seksama. Sampai pada poin-poin penting yang langsung gue baca dengan suara pelan. Gue macam bah dukun yang lagi komat-kamit. “Karbohidrat… protein… air… Mmm… s**u rendah kolestreol dan lemak, PR banget kalau gue harus merhatiin satu persatu ingredients s**u di sini.” Gumam gue lalu berlanjut membaca point selanjutnya. “Kacang tanah, memiliki kandungan protein tinggi, dapat membantu pertumbuhan otot. Gak cocok gue kasih pas pertengahan olahraga. Selanjutnya ada oat, disukai otot sebelum bekerja. No! Dried blueberry, apa lagi ini?” “Lalu ada dark chocolate, ide yang buruk ngasih orang yang olahraga coklat. Lalu ada biji labu, serius nih? Gak gak. Menu setelah olahraga… Yoghurt, sereal, irisan d**a ayam…” “Ada yang bisa dibantu mas?” tanya seorang pramuniaga yang tengah menyeret keranjang beroda. Cukup peka kalau gue sebenarnya menghalangi jalan dia, gue pun menyingkir, memepetkan tubuh ke lemari pendingin. “Ah.. enggak.” Jawab gue keki sendiri. Pramuniaga itu mengangguk. “Mari.” Katanya sopan, lewat sambil membungkukan tubuhnya. Gue terdiam sesaat, menimbang-nimbang apakah sebaiknya gue nanya aja ke mas-mas ini. “Mas… mas…” akhirnya gue memanggil dia. “Kalau yang olahraga bagusnya dikasih apa ya mas?” Pramuniaga itu menatap gue bingung. Pertanyaan tiba-tiba dan tak terduga disaat dia tidak siap. “Air mungkin mas.” Jawabnya terkesan ngasal namun buat gue berpikir. “Air?” gue memastikan. “Yang olahraga biasanya cape, pasti butuh air daripada yang lain.” Dia nyengir. Terdengar tak yakin, namun masuk akal. Gue mengangguk-angguk. Dan mengucapkan terimakasih. Membuka lemari pendingin dan terdiam lagi. Praminiaga itu masih menatap gue. “Bagusnya minuman dingin atau yang gak dingin ya?” gak tahu kenapa gue mendadak b**o saat ini. “Lebih baik yang gak dingin mas. Kalau minum dingin biasanya malah bikin makin haus.” Jawaban pramuniaga itu amat sangat membantu sampai akhirnya gue memborong beberapa botol minuman. Air mineral dan beberapa minuman lainnya. Gue cuma belanja minuman. Agak susah memang menunjukan citra yang baik di pertemuan pertama. Tapi gue berhati-hati takut malah memberikan kesan yang buruk. Kasih air aja kayanya cukup dan gak berlebihan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN