(Chiara Aylin)
Ayah memang selalu seperti ini. Bilang mau jemput jam 6 datang jam 5. Seperti sekarang. Padahal Kak Bima sudah bilang ke ayah kalau aku selesai latihan setengah 7. Harusnya dia sampai disini setengah jam lagi. Apaan ini?
Aku panik bukan main. Keberuntunganku sepertinya sedang gak bagus hari ini. Kak Farran sedang ada disini dan ayah juga datang. Apa yang harus aku katakan? Apa yang harus aku lakukan?
“Ayah kok udah jemput?” tanyaku panik setelah berada di hadapan ayah. Aku melirik panik sekilas pada Kak Farran yang juga tengah menatapku dengan tatapan kaget.
“Kakak kamu bilang kamu selesai latihannya setengah 6.” Jawab ayah dengan polosnya.
“Enggak ayah. Sejak kapan aku selesai latihan jam segitu.” Lagi-lagi aku melirik panik pada Kak Farran.
Sumpah demi apapun wajah Kak Farran sudah tak berbentuk saat ini. Gugup dan juga pucat. Aku faham kenapa dia menampakan wajah seperti itu. Reputasi ayah yang aku ceritakan pasti buat dia takut setengah mati. Dari cerita aku aja ayah sudah meneyeramkan seperti itu. Apalagi saat ini dia baru saja duduk bersisian dengan ayah. Aku gak bisa membayangkan setakut apa dia.
Ayah menunjukan chat yang dikirimkan oleh Kak Bima.
Benar saja Kak Bima bilang kalau hari ini sesi latihanku hanya sampai setengah 6. Pantas ayah sudah ada disini. Aku nanti akan buat perhitungan pada Kak Bima. Dia tahu dijemput ayah aja aku gak mau. Dia malah bilang ke ayah kalau aku selesai latihan setengah 6. Mau buat aku mati karena malu lagi mungkin dia.
Ayah kan orangnya seperti ini. Dia gak pernah sadar kalau sikapnya buat anak-anaknya malu. Alasan apapun, penjagaan, kasih sayang seorang ayah, atau apapun itu. Dimataku selalu salah. Ayah menunjukan hal itu dengan cara yang salah.
Sialnya, kenapa hari ini bertepatan dengan ada Kak Farran juga. Bagaimana jika dia menanyakan kenapa ada Kak Farran disini.
“Oh ya, nama kamu tadi siapa?” tanya ayah.
Mampus.
Baru aja aku hendak memikirkan cara antisipasi agar ayah tak berbicara dengan Kak Farran ayah malah sudah lebih dulu bertanya. Kak Farran dengan muka pucat pasi menjawab.
“Farran Pak.” Jawabnya dengan suara kecil mirip suara tikus kejepit.
“Oh iya, Farran.” Ayah mengangguk-angguk. Tadi sepertinya mereka sempat berkenalan dan ayah lupa nama Kak Farran. Semoga saja nanti dia juga lupa.
“Lain kali ngobrol lagi ya.” Ujar Ayah. “Seru ngomong sama anak kaya kamu.”
Kak Farran tersenyum masam. Mukanya kaya lagi nahan buang angin. Suara ayah yang seolah memerintah itu memang bisa buat siapapun gugup. Perlahan dia mengangguk.
Aku cuma menatap Kak Farran dengan tatapan tak enak.
Untuk saat ini aku cuma pengen menghilang dari dunia ini. Takut ayah tanya siapa Kak Farran dan kenapa dia bisa ada di tempat latihanku. Cowokku orang yang ramah, dan tak pernah keberatan menjawab pertanyaan apapun dari siapapun. Sebelum dia tahu kalau laki-laki yang duduk disampingnya adalah ayahku, aku yakin kalau dia menjawab pertanyaan pribadi yang ayahku ajukan. Sikap ayah yang berlebihan padaku buat dia merasa amat sangat berhak untuk tahu siapapun yang berhubungan denganku.
“Kamu sekolah di Bumi Nusantara juga kan?” tanya ayah.
Kak Farran mengangguk. “Iya, Pak. Saya kelas 12.”
“Anak saya juga sekolah disana.” Ayah menatapku. Aku tersenyum masam. Dia gak tahu aja kalau cowok disampingnya adalah pacarku. “Pernah lihat anak saya di sekolah?”
Aku menatap Kak Farran yang tengah menatapku. Dia seperti menanyakan jawaban apa yang harus dia lontarkan pada ayah. Dia tampak kebingungan harus menjawab apa. Maka dengan tak sopan aku mendahului Kak Farran yang hendak menjawab pertanyaan ayah.
“Kayanya belum ya kak? Kakak kelas 12 apa? Aku belum pernah lihat kamu kayanya.”
Bohong. Siswa yang jarang berinteraksi dengan selain teman sekelasnya pun tahu siapa Kak Farran. Dia memang punya keberadaan yang amat sangat penting di sekolah. Dia gak perlu mengenalkan diri kepada setiap orang.
Aku cari aman. Aku merasa lebih baik jawab kalau aku gak pernah ketemu dengan dia selama di sekolah. Iya, pilihan terbaik hanya pura-pura tak kenal.
“Kalau aku sering lihat anak, bapak.”
Aku melotot. Kenapa Kak Farran menjawab seperti itu.
“Masa? Chiara pasti terkenal ya di sekolah?”
Aku tersenyum hambar. Terkenal karena punya kakak seperti Kak Bima.
“Iya.” Jawab Kak Farran. “Karena Chiara satu-satunya atlet angkat besi di sekolah.” Lanjutnya. Dia memang tahu bagaimana cara memberikan jawaban yang masuk akal.
Aku bersyukur dia bisa berpikir secepat itu. Beda dengan aku yang malah panik tak karuan. Ngomong-ngomong ayah punya insting yang kuat. Pengalamannya sebagai Angkatan Darat yang pernah menjadi tentara perbatasan di Kalimantan buat dia amat sangat terlatih. Takut saja kalau ayah sampai bisa mengendus kalau aku punya hubungan dengan Kak Farran. Bukan khawatir dia akan marah padaku, aku khawatir dengan apa yang akan dia lakukan pada cowok yang aku sayang ini.
Sayang? Geli rasanya mengatakan hal ini. Tapi dia memang cowok yang sangat aku sayang setelah ayah dan kakak-kakakku saat ini.
Aku hanya menjaga keselamatannya aja.
Ayah mengerikan.
Jangan sampai tiang rumahnya dipatahkan ayah.
“Kalau kamu aktif olahraga apa?” ayah memperhatikan Kak Farran sebegitu telitinya.
“Ha?” Kak Farran tampak bingung.
“Kamu atlet juga ya?” tanya ayah. “Tubuh kamu kayanya gak lembek.”
“Enggak kok Pak, saya bukan atlet. Cumae mang rutin lari pagi aja.”
“Chiara!” sayangnya aku gak bisa berlama-lama mengawasi ayah dan Kak Farran karena Pak Gusti memanggilku. Aku tak bisa pergi lama-lama memang.
Sebelum pergi aku cuma bisa menatap prihatin Kak Farran. Ditinggalkan bersama dengan ayah buat aku amat sangat khawatir. Ayah tipe laki-laki yang banyak bicara dan sering menasehati orang tak jelas. Bahkan pada orang yang tak dia kenal sekalipun. Ayah adalah orang yang merasa bahwa dia tahu banyak hal tentang dunia ini. Simplenya, orang yang gampang menilai seseorang hanya dengan melihat saja.
Aku tak bisa tenang sama sekali. Berkali-kali melirik ke arah mereka berdua. Sampai-sampai Kak Melayu menenangkanku.
“Tenang Chi, ayah lo emang galak. Tapi dia gak bakal bunuh pacar lo di tempat kok.”
“Maksudnya bawa pacar lo ke tempat sepi terus eksekusi.” Kak Eko menimpali.
Couple itu tertawa bersama. Mereka tahu apa yang sedang aku khawatirkan dan membuatnya menjadi lelucon. Aku bisa saja marah, tapi kekhawatiranku sama Kak Farran jauh lebih besar daripada mengurus ego harus marah pada mereka berdua.
Lagipula, aku gak bisa membuat mereka berdua berhenti meledeku. Kehadiran ayah saya sudah cukup buat aku jadi bulan-bulanan.
“Eh anak manja, pacar lo lagi di wawancara malaikat maut tuh.” Ucap Gandi saat aku berjalan untuk kembali baris di belakang.
Ngeselin.
Ayah emang akan jadi malaikat maut kalau sampai dia tahu siapa Kak Farran.
Semoga saja gak ketahuan.
“Aduh… kasian Farran. Ayah lo kan galak Chi.” Riska yang sejak tadi juga memperhatikan dua orang di bangku mengutarakan kekhawatiran yang sama.
“Iya nih. Ayah gak bakal bunuh dia kan?”
“Jangan ngomong gitu dong.” Riska malah jadi yang lebih panik. Dia memukul punggungku. “Kasian Farran ganteng gue.”
“Hellow… tolong ya.” Aku melirik sebal pada Riska. “Kak Farran cowok gue.”
“Aelahh.. gue kan cuma muji dia ganteng aja, Ra.”
“Lo bilang ganteng gue seolah lo mendeklarasikan kepemilikan dia, Ris.”
“Yaudah, gue koreksi nih. Kasian Kak Farran yang ganteng.” Riska mengkoreksi kalimat sebelumnya dengan nada bicara yang terpaksa.
“Kak Farran kemana?” gumamku saat melihat dia beranjak dari tempat duduk. Lalu melenggang pergi dari tempat latihan.
“Diusir bapak lo kali, Chi.” Ketus Gandi.
“Ngeselin.” Umpatku pada Gandi.
Akupun melirik jam yang menggantung di dinding. Saat itu aku sadar kalau waktu sudah berlalu selama satu jam. Seperti yang Kak Farran bilang, dia cuma disini sambil menunggu sepupunya selesai les. Maklum jarak dari tempat tinggalnya ke daerah ini cukup jauh. PR aja kalau dia harus bulak-balik dengan jarak tempuh 10 menit dalam waktu satu jam.
Setelah Kak Farran pergi, aku bisa bernapas dengan lega untuk beberapa saat. Gak perlu merasa khawatir karena dia bersama dengan ayah. Terlepas dari sifatnya yang menyenangkan dan buat siapapu betah aku cuma khawatir dengan sikap ayah. Ayah memang selalu buat aku was-was tiap dia ngobrol dengan temanku.
“Ayah kebiasaan deh jemput sebelum diminta jemput.” Omelku setelah masuk ke dalam mobil.
Sesi latihan baru saja selesai. Aku pamitan lebih dulu kepada Pak Gusti dan teman-teman lainnya untuk pulang lebih dulu. Yang lainnya biasanya shalat berjamaah dulu di mushola kecil disana. Dilanjut dengan nyari makan bareng-bareng. Sementara aku harus buru-buru pulang. Kalau tidak, suasananya akan aneh banget karena dijamin ayah akan mau ikut.
Remaja mana sih yang suka main dengan teman-teman di awasi oleh ayahnya.
“Aku bisa sendiri, ayah.” Aku memperingatkan tangan ayah yang hendak memakaikan sabuk pengaman buatku.
“Emang kenapa sih? Orang ayah gak ganggu. Cuma nonton aja di bangku.”
Dengan ayah duduk aja udah ganggu.
Sayangnya sebagai anak yang baik aku gak berani untuk mengatakan hal itu.
Bisa-bisa dikutuk jadi batu.
“Emang gak bosen cuma lihatin doang? Ayah temen-temen lain gak pernah ada lho yang jemput anaknya kepagian.”
“Ya… itu kan orang tua mereka.” Ayah mulai menyalakan mesin jeep.
Selain tampangnya yang seram ayah juga tak tanggung-tanggung memilih tipe mobil yang akan dia bawa sehari-hari. Jeep putih yang mirip sekali dengan penampakan jeep penculik yang ceritanya marak sekali ketika aku masih SD. Ayah bahkan pernah disangka penculik ketika jemput aku ke sekolah gara-gara dia parker jeepnya tepat di depan gerbang.
Tapi menurutku ayah saat itu keren. Dia jemput aku bersama Jeep kesayangannya dan turun dari mobil masih mengenakan seragam tentara lengkap. Gara-gara itu gak ada lagi temen yang suka usil padaku. Kesombongan semasa SD akan profesi ayah yang tentara akhirnya buat semua orang percaya.
Ngomong-ngomong, itu kali pertamanya ayah jemput aku sekolah. Dan aku… sangat senang saat itu. Ayah jarang ada di rumah karena harus bertugas. Biasanya Kak Baskara atau Kak Bima yang bergantian jemput aku.
Melihat ayah berdiri disamping Jeep putih mengenakan seragam lengkap buat aku yang baru keluar gerbang seketika lari padanya. Di depan Jeepnya ayah merentangkan tangannya. Tubuhku diangkat setinggi mungkin saat tiba di pelukannya. Aku anak SD yang sangat Bahagia saat itu.
“Tapi aku gak suka.” Aku merengek. “Aku kan bukan anak SD lagi yang harus ditungguin kalau lagi ada kegiatan di luar rumah.”
Ayah menghela napas lelah. “Lagi-lagi itu yang kamu bilang.”
“Emang iya kan? Ayah sama kakak-kakak selama ini terus anggap aku kaya anak kecil.”
“Emang faktanya kamu masih kecil, sayang.” Ayah mengelus rambutku lalu mencubit pipiku. Aku menghindar setelahnya. Wajahku merengut.
“Aku paling gak suka kalau ayah udah cubit pipi aku.”
Ayah tertawa. “Habisnya ayah suka gak kuat kalau udah lihat pipi kamu. Daripada ayah cium-ciumin terus.”
Aku semakin merengut. Itu pilihan yang buruk. Keduanya gak aku suka. Apalagi dicium. “Ayah anggap aku masih TK jangan-jangan.”
Ayah tertawa semakin kencang. “Dimana ayah, kamu akan terus jadi anak kecil.”
Tuh kan, bukan cuma Kak Bima dan Kakak-kakak lain yang menganggap aku masih kecil. Dimata ayah pun aku selalu menjadi anak kecil buat dia.
“Terserah ayah.” Kataku. “Lain kali jemput kalau aku udah telpon aja bisa gak?”
Ayah diam.
“Ayah!” aku meninggikan suara. Tak peduli dengan ayah yang akan marah karena suaraku. “Aku tuh kesel karena suka di ledekin anak manja karena ayah jemputnya suka kepagian.”
“Omongan orang itu jangan ditelen semuanya, sayang.”
“Mereka ada benernya juga ayah. Dengan ayah jemput aku kepagian kaya hari ini buat aku malah kelihatan anak yang manja banget. Padahal kan enggak.”
“Emang ayah manjain kamu kok.”
“Tapi aku gak mau dimanja terus ayah. Aku udah 16 tahun.”
“Ada apa dengan 16 tahun? Mau 16 tahun, 26 tahun, 36 tahun, bahkan 46 tahun sekalipun kamu tetep anak perempuan ayah satu-satunya. Ayah akan manjain kamu sampai kapanpun.”
“Aku serius ayah.”
“Ayah juga serius, Chi.”
“Kalau ayah tetep kekeh kaya gitu, aku gak bakal mau lagi dijemput sama ayah. Mending aku pesen ojek online aja lain kali.” Ancamku.
“Jangan!” sesuai dugaanku ayah gak akan menyarankan aku untuk naik ojeg online atau angkutan umum lainnya. “Itu berbahaya.”
“Aku bisa jaga diri aku sendiri. Lagian aku udah gede.”
“Anak lain malah pengen diantar jemput sama orang tuanya. Nah kamu malah gak mau.”
“Kalau ayah jemputnya pas aku telpon aja baru aku mau.”
Ayah menghela napas. Penawaran dariku pokoknya harga mati. Mau tidak mau dia harus setuju. Ayah belum menjawab. Ayah sadar kalau ancamanku kali ini bukan main-main. “Pilihannya cuma dua ayah, jemput aku kalau aku telpon atau jangan jemput sama sekali.”
“Oke.” Ayah menghela napas. “Besok-besok ayah akan jemput kamu kalau kamu telpon aja.”
Aku tersenyum. Berhambur memeluk lengan ayah. “Makasih ayah.”
“Tapi kamu harus mau ya kalau tiba-tiba ayah yang jemput, bukan Bima atau kakak kamu yang lain.”
“Iya, aku gak akan nolak. Asal jemput pas aku telpon aja.”
“Oh ya.” Ayah menghentikan jeepnya di depan warung pecel lele langganan kami. “Anak tadi bukan pacar kamu kan?”
Mampus.
Pertanyaan macam apa ini?
Apa aku ketahuan?
***