(Bima Agus Hutomo)
Waktu itu gue baru 8 tahun ketika ibu tiba-tiba pingsan di dapur. Gue sedang bersama dengan Chiara yang baru 11 bulan di ruang tamu ketika Barly teriak-teriak. Segera gue gendong adik gue dan berlari ke dapur. Di depan kulkas ibu pingsan, Barly menangis disampingnya. Ada darah yang keluar dari mulut ibu. Banyak sekali. Barly yang masih memakai seragam putih biru karena baru pulang sekolah menangis disamping ibu.
“Bim… Bim ibu kenapa?” Barly mengguncang-guncang tubuh ibu. Berusaha untuk mengembalikan kesadaran ibu. Dia juga memanggil-manggil ibu berkali-kali.
Gue dan Chiara dalam gendongan gue cuma diam di depan pintu menuju dapur. Gue gak bisa bergerak sama sekali dari tempat. Chiara yang masih kecil seperti tahu bahwa ada yang tak beres dengan ibu kami. Seketika dia menangis keras sekali. Gue mencoba tak menenangkannya seperti biasa. Hanya diam dengan mata sedikit demi sedikit berair.
“Bim! Ibu kenapa!” Barly masih mencoba membangungkan ibu. “Bu, bangun bu!”
Gue tahu, dan semua orang di rumah ini tahu bahwa sewaktu-waktu hal ini akan terjadi. Suatu saat nanti tubuh ibu kami yang lemah akan menemui ujungnya. Namun, kejadian ini terasa amat sangat tiba-tiba. Baru sebulan lalu ibu menjalani perawatan untuk kanker paru-paru yang di deritanya. Dan kondisi ibu terlihat membaik setelahnya. Bahkan dia jarang sekali batuk-batuk setelahnya.
Tak lama Baskara datang bersama dengan Bastian. Baskara menyerahkan es krim yang sedang dimakannya ke tangan Bastian dan berlari menghampiri ibu. Dia tak berteriak panik atau menangis seperti Barly dan juga gue. Si sulung berlari menuju gagang telepon yang letaknya tak jauh dari oven.
“Ibu saya pingsan. Tolong kirim ambulance kesini.” Ujar Baskara dengan suara terputus-putus. Wajahnya memerah. Kaget dan sedih dalam bersamaan itu ketara sekali di wajahnya. Setelah menelpon rumah sakit, dia lalu menelpon ke markas ayah. Ayah sedang bertugas di luar pulau. Meninggalkan kami bersama dengan ibu di rumah. Tak butuh waktu lama panggilan tersambung.
“Saya Baskara.” Ucap Baskara memperkenalkan dirinya. Dia menahan agar suaranya tak bergetar. “Anak tertua Pak Adi Purnama.” Lanjutnya.
Gue menurunkan Chiara dari gendongan gue. Sepertinya sejak tadi gue tak sadar kalau kondisi ibu sedang sekarat. Gue hanya berdiri menonton dengan kekagetan luar biasa. Tangis Chiara semakin hebat ketika gue menurunkannya. Entahlah, saat itu gue kalut sekali. Tak terpikirkan apa akibatnya gue menurunkan anak 11 bulan yang baru bisa berjalan beberapa langkah itu.
Di umur 8 tahun gue udah faham kalau kondisi ibu gak baik-baik aja selama ini. Ibu yang sering batuk-batuk dan sering pulang-pergi rumah sakit bukan sesuatu yang baik. Ibu muntah darah kemudian pingsan seperti itu seperti sebuah alarm tanda bahaya. Ayah dan Baskara memang tak pernah mengatakan separah apa kondisi ibu. Ketika ibu pingsan mereka selalu bilang kalau ibu kecapean dan butuh istirahat. Ayah dan Baskara meminta gue, Bastian, Barly, untuk lebih pengertian pada ibu. Sebisa mungkin gak buat ibu kerepotan sampai buat dia kecapean sekali. Sebelum gue faham gue selalu menyalahkan diri sendiri karena udah buat ibu kerepotan ngurus gue dan sodara-sodara gue. Semakin gue dewasa gue sadar kalau penyebabnya bukan karena itu.
Sudah sejak lama ibu sakit. Sudah sejak lama juga gue lihat ibu sering batuk-batuk parah bahkan sampai kesakitan. Beberapa kali juga gue mendapati ibu membuang tisu berdarah bekas dia batuk ke tempat sampah. Gue hanya diam dan tak bertanya. Merasa diam adalah pilihan yang paling tepat. Gue pikir ayah dan ibu punya alasan kenapa mereka gak pernah berterus terang kalau ibu kami sedang sakit parah. Mereka punya alasan kuat kenapa gak bilang kalau ibu kami punya kanker paru-paru.
Gue cuma mengangguk mengerti. Dan mengajak 2 adik gue main seperti biasa. Sementara Barly selalu pergi entah kemana. Sejak kecil ibu memang paling dekat dengan Barly.
Ketika ibu batuk darah kemudian pingsan di depan Barly gue tahu itu bukan perkara yang mudah untuk disaksikan anak 12 tahun yang amat sangat dekat dengan ibunya itu. Barly menangis histeris seakan tak percaya kalau ibu sedang sekarat. Gue mendekat pada Barly dan menarik tubuhnya dari ibu. Bukan gue mau membiarkan ibu tergeletak begitu saja disana. Gue cuma gak mau dia malah menyakiti ibu.
“Kak Baskara udah panggil ambulance.” Ucapku memberitahu Barly.
“Lepasin!” Barly mengentakan tubuh gue. Merangkak secepat kilat menghampiri ibu kembali.
Barly memeluk kepala ibu erat sekali sambil terus memanggil-manggilnya. Gak peduli kalau seragam putih biru yang baru dia kenakan beberapa bulan itu akan berubah menjadi warna merah. Dari mulut ibu memang masih mengeluarkan darah. Banyak sekali. Gue belum pernah melihat darah sebanyak itu sebelumnya.
Bastian menangis menghampiri Chiara yang menangis kejer. Dua anak termuda di keluarga ini saling berpelukan. Bastian sudah faham bahwa statusnya sebagai kakak Chiara membuat dia punya peran untuk menenangkan adiknya.
Sekali lagi gue berusaha menarik Barly dari ibu. Gue takut kalau sikapnya itu malah memperburuk kondisi ibu. Namun, lagi-lagi dia mendorong gue. Tak hanya itu, dia juga memukul gue berkali-kali. Tak mau dijauhkan dari ibu satu jengkal pun.
“Ayah…” gue menatap Baskara yang rupanya sudah berhasil menyambungkan panggilan kepada ayah kami. Saat itulah Kak Baskara menangis. “Ayah…” panggilnya lagi.
Seolah ada sesuatu di tenggorokannya. Dia gak bisa mengatakan apapun.
“Ayah…” Gue melihat air mata keluar dari mata Baskara. Seketika deras sekali. Sejak tadi dia memang menahannya.
“Baskara, ada apa?” suara panik ayah terdengar. Baskara memang sengaja meloud speaker pesawat telepon. Dia tak punya kekuatan untuk memegangnya, sehingga membiarkan gagang menggantung begitu saja.
“Adik-adik kamu kenapa?”
Ayah semakin khawatir karena mendengar suara tangis anaknya yang lain. Ditambah dengan Baskara yang tak mengatakan sepatah katapun. Baskara sedang menangis.
“Baskara? Bas? Bas? Kenapa?”
Suara ayah semakin terdengar panik karena anak tertuanya tak kunjung berbicara.
Baskara menghela napas panjang. Lalu dengan segenap kekuatan dia bersuara. “Yah… ibu pingsan.”
Hening.
“Ibu ngeluarin banyak darah.”
“Kamu udah telepon rumah sakit?”
“Udah. Ambulance akan sampai 15 menit lagi.”
“Bagus! Kamu memang bisa diandalkan.” Puji ayah. Gemblengan dunia militer membuat dia bisa menetralkan kepanikan dan kecemasannya. “Bas, ayah tahu ini akan sulit buat kamu.” Suara ayah terjeda.
“Iya ayah?” jawab Baskara. Dia kembali menarik diri, berusaha bersikap tegar.
“Tolong tenangkan adik-adik kamu ya. Ayah akan segera berangkat ke Jakarta”.
Baskara mengangguk.
“Ayah akan sampai kesana secepat yang ayah bisa.”
Setelah itu panggilan terputus. Membiarkan gagang telepon yang menggantung, Baskara berjalan menuju meja makan. Mengambil kotak tisu dan berjalan menghampiri ibu.
Beda dengan gue yang sejak tadi tak berhasil menarik Barly dari ibu, hanya dengan satu cengkeraman pada tas Barly, Baskara berhasil menyeret dia menjauh dari ibu. Gue melihat Baskara menarik Barly sampai ke dekat Bastian dan Chiara. Baskara tak butuh berbicara apapun karena hanya dengan satu tatapan mata saja sudah bisa membuat anak pemberontak itu tak bergerak sama sekali dari tempatnya.
“Bim.” Baskara menghampiri gue. Mengusap kepala gue dengan lembut. Tatapannya begitu lelah. Namun, gue tahu saat ini dia berusaha untuk besikap tegar. “Peluk Bastian dan Chiara ya.”
Air mate gue jatuh lagi ketika gue mengangguk mengiyakan permintaan Baskara. Gue berusaha memahami sesulit apa posisi Baskara saat ini. Dia anak pertama yang mau gak mau harus tegar menghadapi kondisi ibunya saat ini. Gue gak mau menambah beban buat dia dengan bersikap keras kepala. Gue menghampiri Chiara dan Bastian yang sama-sama sedang menangis. Dua anak kecil ini bahkan tahu bahwa saat ini adalah situasi yang sangat sulit untuk mereka lihat.
Begitu gue sampai di depan Bastian dan Chiara, tanpa gue berbicara banyak, mereka berdua sudah lebih dulu berhambur ke pelukan gue. Tak sampai disitu, gue juga merangkul Barly yang tampak stress melihat keadaan ibu kami.
Meskipun ingin, kami tahu gak bisa menolong ibu. Barly yang sejak tadi tak mau dipisahkan dengan ibu akhirnya balas memeluk gue dan juga Bastian dan Chiara. Kamu berempat menangis bersama.
Sementara Baskara, dengan telaten membersihkan darah di sekitar kepala ibu dengan tisu. Sambil menahan tangis, dia memindahkan kepala ibu ke pangkuannya dan membersihkan darah dari wajahnya.
Gak ada hal yang lebih menyakitkan dalam ingatan gue selain itu. Ketika kami berlima menyaksikan kepergian ibu kami bersama-sama dan tak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.
Ambulance datang tepat 15 menit setelah di telepon. Namun sayang, nyawa ibu kami tak tertolong.
Diantara kelima anak ibu cuma Chiara aja yang gak punya memori apapun tentang ibu. Dia masih 11 bulan waktu itu. Meskipun dia menangis hebat. Dia gak inget sama sekali akan kejadian itu. Dia bahkan gak inget rupa ibu kami kalau tidak melihat fotonya. Dipemakaman ibu ayah berpesan agar kami semua menjaga Chiara. Seminggu sebelum kepergiannya ibu bahkan berkali-kali berpesan agar kami para kakaknya menjaga Chiara dengan baik. Ibu sepertinya sudah punya firasat akan kepergiannya yang gak lama lagi.
Karena pesan dari ibu itulah yang buat gue, sodara yang lain, dan juga ayah amat sangat menjaga Chiara. Sebisa mungkin kami menjaganya 24 jam. Gak bisa gue biarkan dia sakit sedikitpun. Chiara adik kesayangan gue. Yang meskipun dia sedikit bebal dan suka protes sana-sini karena kasih sayang sodara dan ayah yang menurutnya berlebihan, gue tetap gak akan melonggarkan penjagaan buat dia. Begitu juga dengan yang lainnya. Bastian yang terlihat lunak sama Chiara pun gue tahu akan jadi orang kesekian yang pasang badan ketika Chiara disakitin. Gue bahkan rela menukar nyawa gue untuk keselamatan adik gue.
Karena itu pesan dari ibu. Untuk menjaganya.
Gue gak pernah baik-baik aja ketika masuk ke dapur. Ingatan gue saat melihat tubuh ibu tergeletak dengan darah di sekitarnya tak pernah bisa gue hilangkan sampai saat ini. Barly sedang di dapur ketika gue datang.
“Tumben udah pulang jam segini?” tanya gue.
Jarang sekali gue lihat Barly di hadapan gue. Biasanya dia mendekam di kamar atau dia gak ada di rumah sama sekali.
“Urusan lo emang keberadaan gue.” Sinis Barly.
“Sinis banget sih lo sama sodara sendiri.”
Barly cuma memutar bola mata. Mengembalikan botol minuman dingin ke dalam kulkas. “Gak perlu juga gue baik sama adik yang gak hormat sama kakaknya macem lo.”
Setelah menyindir, dia lalu melenggang pergi dari dapur begitu saja. Meninggalkan gue yang selalu terheran-heran denga nasal muasal sikap ketusnya itu. Ayah memang keras tapi dia gak ketus sama sekali, sedangkan ibu dia lembutnya minta ampun. Jadi, darimana sifat ketusnya itu menurun.
“Lain kali lo mau jemput Chiara gak?” gue mengekorinya, tak jadi mengambil minum. “Dia gak mau dijemput ayah.”
“Gak.” Ketusnya lalu membanting pintu kamar tepat di depan muka gue.
Gue harus banyak-banyak istigfar setiap kali berhadapan dengan kakak gue yang satu ini. Sepertinya setiap hari dalam setahun hidupnya buat Barly stress terus. Pernah gue mengomelinya karena jadi orang terlalu serius menanggapi hidup yang bawaannya buat dia emosi ke semua orang. Dan jawabannya.
“Urus hidup lo sendiri!”
Kalau omongannya itu berwujud anak panah, kayanya sudah sejak dulu gue mati di tangan dia. Tajam.
Pengen rasanya gue ngutuk kakak gue yang satu itu jadi penyedot debu. Setidaknya biar dia berguna buat gue dan rumah ini. Setiap hari kerjaannya kan ngeluh, marah-marah, judes sana-sini, sinisin siapapun.
Ting.
Firly
Bro, nebeng ya. Bawa Mercy-nya Pak Adi biar lo tampak keren dan menjanjikan. Siapa ada cewek yang nyantol. Sekalian buat mantan nyesel udah ninggalin lo.
Astagfirullah.
Gue lagi-lagi istigfar. Teman SMA gue yang namanya Firly ini emang suka kurang ajar sama gue. Dia minta gue bawa mobil kesayangan ayah dan juga secara tidak langsung minta gue jemput ke rumahnya. Kalau rumahnya deket gue gak keberatan sama sekali. Masalahnya, gue harus mengendarai mobil selama 30 menit untuk sampai di rumahnya. Belum lagi dari rumahnya ke tempat resepsi pernikahan mantan gue memakan waktu tempuh yang sama.
Yang ada bukannya gue tampak keren di nikahan mantan. Gue bakal amburadul setelah nyetir satu jam.
***