(Chiara Aylin)
Baru kali ini aku gugup ketika akan latihan. Sesi latihan masih berupa pemanasan ringan dipimpin oleh Pak Gusti di belakang. Aku seperti biasa kebagian tugas untuk menghitung. Tak banyak yang menggemari olahraga angkat besi. 13 putra dan 10 putri. Kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi jurusan Pendidikan Jasmani yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaran dan olimpiade. Anak SMA nya hanya aku, Riska, dan Gandi. Anak SMP ada 3 orang, yang salah satunya tidak hadir karena sakit. Sisanya mahasiswa dan mahasiswi.
Sentra pelatihan angkat besi ini baru berdiri sejak 4 tahun yang lalu didirikan oleh Pak Gusti sendiri dengan nama Pemuda Bangsa. Ngomong-ngomong soal Pak Gusti dia mantan atlet angkat besi yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Waktu itu tahun 1997 di Austria. Pa Gusti berhasil menyabet medali perunggu.
Meskipun baru berdiri, Pemuda Bangsa sudah berhasil mencetak beberapa atlet yang berprestasi. Salah satunya Kak Eko, mahasiswa semester 4 yang berdiri di belakangku. Tiga bulan lalu dia berhasil menjuarari kejuaraan angkat besi di Thailand. Ada juga Kak Melayu yang di kejuaraan yang sama berhasil meraih medali perak. Ngomong-ngomong Kak Eko dan Kak Melayu ini pacaran sudah agak lama. Mereka adalah pasangan pertama yang bersatu di Pemuda Bangsa.
“Itu siapa?” bisik-bisik di belakangku membuat aku dan yang lainnya ikut menoleh ke tempat duduk.
Itu Kak Farran. Dia tersenyum namun tak menunjukan bahwa senyum itu ditujukan padaku. Sehingga tak ada yang tahu kalau dia datang untuk aku. Aku cuma tersenyum. Disampingnya kresek besar berlogo mini market terkenal yang entah apa isinya.
“Sodara Pak Gusti ya?” tanya Kak Melayu.
Pak Gusti tak menjawab. Namun diamnya itu membuat semua orang berpikir kalau Kak Farran memang saudaranya Pak Gusti.
Sesi pemanasan sudah selesai. Dilanjutkan pendinginan sebelum melanjutkan ke latihan yang sebenarnya. Seperti hidup, kadang harus ditempa dulu oleh sesuatu yang berat. Setelah reda, barulah itu hidup yang sesungguhnya. Aku memang suka tiba-tiba terpikirkan beberapa filosofi ketika melakukan sesuatu.
Kak Farran masih duduk di sana. Memainkan ponsel dan kunci motornya. Kakinya menyilang. Dan aku beberapa kali melihat ke arah sana cuma sekedar untuk memastikan bahwa dia masih disana. Bodoh, padahal tadi Kak Farran bilang akan melihat sambil menunggu sepupunya pulang les. Dan ini baru 15 menit berlalu itu artinya masih ada waktu 45 menit lagi dia ada disini.
Aku gak memikirkan ayah sama sekali. Dia gak akan datang sebelum jam 5. Kenapa karena dia ada jadwal melatih anak-anak silat di kompleks. Biasanya dia baru pulang jam 5. Aku hafal dengan kebiasaan ayah. Pengalamannya di dunia militer membuat ayah punya disiplin yang tinggi dan juga kebiasaan yang bagus.
“Dia ganteng ya, Ra.” Bisik Riska padaku. Aku dan dia berpasangan untuk melakuan pendinginan.
Selain aku, sejak tadi Riska juga curi-curi pandang ke arah Kak Farran. Dan bukan cuma Riska saja, Kak Melayu dan atlet perempuan lain juga beberapa kali curi-curi pandang pada pacarku. Rasanya aku pengen berteriak untuk mengumumkan kalau cowok ganteng yang punya lesung pipi ketika tersenyum itu adalah pacarku. Agar gak ada lagi yang berani curi-curi pandang dan memuji Kak Farran di belakang seperti Riska ini.
“Lihat yang ganteng dikit aja seneng.” Balasku setelah selesai.
Pak Gusti bertepuk tangan meminta semuanya berkumpul.
“Sodaranya Pak Gusti gantengnya gak dikit, Ra. Ganteng banget.” Puji Riska. Dari wajah dan cara dia berbicara menunjukan sekali kalau dia benar-benar kesengsem sama cowok itu.
Emang dimana-mana Kak Farran itu selalu mencuri perhatian. Gak di sekolah gak dimanapun. Dia punya wajah dan bentuk tubuh yang mendukung hal itu. Ditambah dia yang murah senyum. Lihat saja Riska yang saat ini melompat-lompat sambil memukuli pundaku setelah senyumannya dibalas oleh Kak Farran.
“Dia notice gue, Ra.” Riska melirik Kak Farran lagi.
Lagi juga. Kak Farran tersenyum pada Riska. Itu cuma senyum canggung disertai anggukan. Riska buta aja gak ngeri kalau Kak Farran risih diperhatikan sejak tadi.
Saat yang lain memanggil aku Chi, atau nama depan aku dengan lengkap—Chiara—Cuma Riska saja yang manggil aku Ara atau Ra. Dia memang suka memberikan panggilan seenak hati untuk orang-orang yang dikenalnya. Kak Eko aja dia panggil Kak Oke. Kak Melayu aja dia panggil Kak Ayu. Cuma Pak Gusti aja yang dia panggil dengan bener.
“Yaelah, di senyumin gitu doang.” Kataku semoga berhasil mematahkan harapannya. “Lagian kaya gitu tuh cuma ramah tamah aja, Ris.”
“Gak PDKT sama cowo sih lo jadi gak tahu senyum cowo yang tertarik sama lo kaya gimana.”
Hallow…
Kalau boleh aku menyombongkan diri, aku ingin bilang kalau cowok yang senyum padanya tadi adalah pacarku. Dibanding Riska jelas aku lebih unggul. Riska katanya sering PDKT dengan banyak cowok, tapi gak pernah ada satu cowok pun yang berakhir jadi pacarnya. Selalu berakhir di tengah jalan. Kalau bukan Riska yang risih dengan sikap cowok yang PDKT dengannya, sebaliknya cowok yang PDKT dengannya yang tiba-tiba menghilang.
Riska adalah kang Ghosting yang juga sering jadi korban ghosting.
“Iya deh iya bu.” Aku tak mau meladeninya lagi karena wajah Pak Gusti sudah mulai serius.
Aku melirik kea rah Kak Farran lagi. Di saat yang sama dia juga sedang menatapku. Senyumnya kembali tercetak. Matanya menatapku hangat. Berangsur-angsur aku gugup.
Ini kali pertama aku latihan dilihat oleh pacar sendiri. Dan katanya jauh sebelum dia nembak aku dia sudah tahu kalau aku latihan di sini. Kak Jonathan emang tempat stalking tak meninggalkan jejak bagi Kak Farran. Belahan jiwa Kak Kaline itu punya sifat yang mirip sekali dengan Lee Ik Jun di Hospital Playlist. Kak Jonathan mudah akrab dengan banyak orang, sifatnya yang usil namun tak buat risih malah lebih terkesan punya sifat yang menyenangkan buat dia punya banyak kenalan. Dia suka bicara dengan banyak orang serta suka mendengarkan atau suka cerita tentang dirinya sendiri. Darinya Kak Farran tahu banyak tentang aku.
Selain hanya bertemu di perpustakaan, bisa dibilang aku dan Kak Farran fakir waktu bersama. Kami berdua sama-sama takut kalau kebersamaan di sekolah diketahui oleh Kak Bima. Aku tak mau Kak Farran berakhir jadi arak-arakan Kak Bima. Menurutku dia cowok yang paling pengertian yang pernah aku kenal. Sifatnya sebelas dua belas dengan Kak Bastian. Kak Farran gak pernah menuntut apapun padaku. Tidak seperti cowok kebanyakan yang sering ngambek gara-gara jarang kontekan atau maksa-maksa ketemuan berdua. Catat: selain bertemu di perpustakaan Kak Farran gak keberatan dengan kami yang jarang bertemu.
Katanya, “Sering atau jarangnya pasangan ketemu gak jamin perasaan mereka awet, Chi. Kalau boleh jujur, aku pengen banget sering ketemu sama kamu. Tapi aku tahu kamu kaya gimana, dan aku pun punya sesuatu yang harus aku kejar. Kita berdua sama-sama punya alasan tersendiri buat gak ketemu. Bagi aku gak masalah sama sekali.”
Saat dia bilang kaya gitu, aku jadi makin kagum sama dia. Koka da cowok 18 tahun yang pemikirannya udah kaya gitu. Kak Farran bisa menempatkan dirinya dengan baik di situasi apapun. Dia bisa usil di waktu yang tepat, bisa menunjukan empati di saat yang harus, dan bisa serius juga di situasi yang memang mengharuskan dia untuk serius.
Cowok itu benar-benar buat aku jatuh cinta dengan cara yang luar biasa.
“Ayo istirahat dulu.” Ujar Pak Gusti setelah semua anak didiknya selesai angkat barbel secara bergantian.
Kami semua pun mendekat ke bangku. Kak Farran mengangkat wajahnya.
“Ayo diminum dulu.” Kak Farran membuka kresek besar disampingnya. Ada berbagai minuman di dalam sana. Semuanya gak ada yang dingin.
“Ihh… makasih lho. Tahu aja kita gak boleh minum yang dingin-dingin.” Puji Kak Melayu sambil mengambil satu botol air mineral dari kresek.
“Inisiatif aja, karena kalian semua lagi latihan yang berat. Gak bagus aja kalau gue beli minuman dingin.” Jawab Kak Farran menanggapi pujian dari Kak Melayu.
“Makasih ya bro.” Kak Eko meninju pelan bahu Kak Farran membuat dia sedikit terhuyung. Namun, dia tertawa-tawa.
“Oh ya.” Aku hendak duduk disamping Kak Farran, namun Riska sudah lebih dulu duduk disana.
Dengan kesal aku hanya melewati Kak Farran dan mengambil air mineral dari sana. Tak mau jauh dari kak Farran aku duduk bersandar pada kursi, disebelah Kak Farran juga.
Riska mengulurkan tangannya. “Kenalin aku Riska.” Dia memperkenalkan dirinya. Wajahnya yang caper itu buat aku pengen banget guyur mukanya dengan air yang ada di tanganku. Sayangnya, kenapa tutupnya susah banget buat dibuka.
“Gue Farran.” Jawab Kak Farran tanpa membalas jabatan tangan Riska, karena dia melihat aku kesusahan buka tutup botol.
Riska terlihat sedikit kecewa karena Kak Farran tidak menjabat tangannya malah membukakan tutup botol untuku. Namun kekecewaannya gak berlangsung lama. Mungkin dia sadar bahwa posisinya sebagai orang baru gak membuat dia berhak untuk kecewa dengan apapun cara Kak Farran memperlakukannya. Ada untungnya dia sadar diri.
“Salam kenal ya.” Ucap Riska.
“Salam kenal juga, Ris.” Jawab Kak Farran dengan nada bicara yang seperti biasa bersahabat. Dia menyerahkan botol minum yang sudah dia bukakan tutupnya padaku.
“Lain kali minta tolong kalau gak bisa buka.” Kata Kak Farran padaku.
Aku mengangguk. “Makasih ya.”
“Oh ya, kamu sekolah dimana? Kelas berapa?” Riska belum menyerah untuk menarik perhatian Kak Farran. Bahkan dia tak ragu-ragu untuk manggil di dengan ‘kamu’.
“Gue anak Bumi Nusantara. Kelas 12.” Jawab Farran. “Kalau lo?” tanyanya balik. Dia cuma beramah-tamah aja.
Aku menghela napas. Beda dengan Kak Farran yang sudah dewasa diumurnya yang ke 18, aku nyatanya masih cewek dengan mental anak kecil karena kesal dengan pertanyaan Kak Farran pada Riska. Aku ingin Kak Farran gak nanya Riska balik. Riska pasti salah tangkap dengan maksudnya.
Ingin sekali aku bilang cukup pada pikiranku yang masih anak-anak ini. Aku tahu sifat Kak Farran seperti apa, namun susah aja rasanya buat menghilangkan pikiran anak-anak ini.
“Wah… Anak Bumi Nusantara ya. Kakak kelasnya Chiara dong. Aku anak SMA 9. Kelas 10, seangkatan sama Ara.” Jawab Riska riang. Dia lalu mencolek bahuku. “Ra, kok lo gak bilang kalau Kak Farran kakak kelas lo sih?”
Aku tersenyum canggung. “Emang lo nanya?”
“Dari tadi kan gue penasaran sama cowok yang tiba-tiba masuk tempat latihan kita.”
“Udah deh Ris.” Kata Gandi sambil mengambil satu botol air dari kresek. “Chiara bener kok. Lagian kenapa juga dia harus ngasih tahu lo kalau dia kakak kelasnya.” Gandi mengambil posisi duduk disampingku. Cukup dekat jaraknya.
“Eh sorry.” Kak Farran meletakan tangannya diantara bahu Gandi dan bahuku.
Gandi kicep.
“Boleh lo geser dikit?” tanya Kak Farran tak lupa senyumnya.
Melihat apa yang Kak Farran lakukan Riska dan semua orang yang ada disana dibuat cengo. Kak Melayu menyikut Kak Eko yang duduk disampingnya sambil menatapku curiga. Yang lainnya pun menatapku dengan cara yang sama. Hanya Riska yang tampak kecewa.
Maaf ya Ris. Kali ini kamu harus mundur sebelum PDKT.
“Duduk di atas aja, Di.” Pak Gusti menepuk-nepuk tempat disampingnya. Dari wajah Pak Gusti sepertinya dia tahu aku dan Kak Farran punya hubungan.
“Aku kira kamu sodaranya Pak Gusti.” Ujar Riska kecewa. Dia menggeser sedikit, memberikan jarak antara dirinya dan Kak Farran.
“Pak Gusti siapa?” tanya Kak Farran polos sambil dia menyentuh puncak kepalaku. Entah apa yang dia ambil namun tangannya mengibas-ngibas. Sepertinya ada kotoran.
Perhatian sederhana dari Kak Farran itu lantas membuat semua orang berseru cie dengan kompak.
“Gue kira lo gak punya pacar, Chi.” Celetuk Gandi dengan tampang kecewa. “Baru aja mau gue deketin.”
Perkataan Gandi mendapat hadiah tatapan tajam dari Kak Farran. Dia juga menggeser duduknya. Sehingga kepalaku menyentuh kakinya. Sikap posesif Kak Farran buat aku salah tingkah. Cara dia menunjukan kepemilikannya akan aku buat aku merasa senang dan malu dalam waktu bersamaan. Dia gak pernah menunjukan sikap seperti ini ketika di sekolah. Dengan sikapnya yang seperti ini buat aku merasa amat yakin kalau dia memang suka sekali padaku.
“Pak Adi apa kabar, Chi?” tanya Kak Eko. Sengaja meledekku.
Setelah insiden ayah memarahi Pak Gusti di depan semua anak didiknya membuat semuanya tahu sifat protektiv ayah padaku. Menjelaskan juga kenapa aku tidak pernah ikut acara makan-makan bersama setiap pulang latihan. Atau tidak ikut acara kebersamaan apapun.
“Baik, dia baik.” Jawabku sewot.
“Dia tahu gak kamu punya pacar?” kali ini Kak Melayu yang nanya.
Semua orang menunggu jawabanku.
“Cari mati aja ngasih tahu ayah.” Aku bergidik.
Riska mengangguk-angguk. “Iya juga sih.” Dia menatap Kak Farran. “Yang ada kamu di dor sama ayahnya Ara.”
“Nah itu tahu.” Kak Farran menganggapi leluconnya.
Tiba-tiba Pak Gusti meniup peluitnya. “Waktu istirahatnya sudah selesai. Kita kembali latihan.” Pak Gusti berjalan lebih dulu ke tengah ruangan.
Yang lainnya menyusul Pak Gusti termasuk Riska. Meninggalkan aku yang harus berbicara sebentar dengan Kak Farran.
“Maaf ya, kamu jadi digodain anak-anak.”
Kak Farran tersenyum. “Gapapa, mereka seru-seru.”
“Tapi mereka ngeselin gak sih?”
“Lebih ngeselin Jonathan sama Kaline sebenernya.” Jawab Kak Farran membuat aku tanpa pikir panjang menyetujuinya.
Mereka berdua memang sepasang manusia yang punya tangkat ngeselin yang sama kalau udah ledek hubunganku dengan Kak Farran.
Aku pun bergabung bersama dengan yang lainnya. Aku berpasangan dengan Riska lagi. Dia memang gak pernah mau dipasangkan dengan yang lain selain aku. Termasuk Gandi meskipun mereka sahabatan dan satu kelas di sekolahnya. Riska risih aja harus pasangan sama cowok, katanya. Gak tahu alasan sebenernya sih.
Riska membantuku mengangkat barbel besar di pundaku. Ini salah satu latihan seorang atlit angkat besi. Melakukan squat dengan barbel besar di pundak. Riska membantu memegangi barbel itu untuk menghindari sewaktu-waktu aku tak bisa bangun. Kami bergantian.
Setelah selesai, kami latihan untuk mengangkat beban yang sebenarnya. Semua anak didik berbaris. Mengangkat beban secara bergantian. Yang sudah selesai berbaris kembali di belakang. Dimulai dengan beban yang tak terlalu berat. Setelah satu kali putaran beban ditambah oleh Pak Gusti.
“Chi!” tiba-tiba Kak Melayu menepuk pundakku. “Mampus gak tuh.”
Aku menatap ke arah yang sama dengan Kak Melayu. Mataku membulat melihat dua orang yang sedang berbincang di bangku.
“Mampus banget kak.”
Tanpa meperdulikan selanjutnya giliranku untuk angkat beban aku berlari menghampiri Kak Farran yang sedang berbicara dengan ayah.
“Ayah kok udah jemput?” tanyaku ngos-ngosan.
Mendengar aku menyebut pria paruh baya disampingnya dengan sebutan ayah membuat Kak Farran kaget.
Apa yang sudah Kak Farran katakan pada laki-laki disampingnya sampai buat dia sekaget itu.
***