(Chiara Aylin)
Diperjalanan menuju tempat latihan aku melihat sepasang remaja berseragam SMA berboncengan di motor. Pria yang menyopiri sesekali tersenyum dan mengangguk-angguk. Dan si gadis yang di boncengan tak berhenti mengoceh. Bahkan di lampu merah suara mereka mengalahkan segalanya. Mereka tertawa-tawa karena lelucon yang diucapkan masing-masing.
Pemandangan yang bikin iri.
Sementara aku…
“Jangan lihatin orang pacaran gak sopan.” Kak Bima memperingati karena sejak tadi mataku tak berhenti melihat sepasang remaja SMA itu.
Yang dikatakan Kak Bima gak pernah menapak dengan baik di hatiku. Selalu buat kesel.
“Bebas dong, mata punya aku.”
“Heee… anak kecil dibilangin.”
Kayanya berapapun umurku dimata Kak Bima aku gak pernah tumbuh sama sekali. Aku selalu jadi anak kecil buat dia. Bahkan saat aku pakai seragam SMA untuk pertama kali pun Kak Bima meledekku begini.
“Eh, kok anak TK pake baju SMA.”
Ngeselin gak? Ngeselin gak?
Ngeselin lah.
Saat itu aku hanya merengut dan ngambek. Resiko jadi cewek satu-satunya dikeluarga buat aku juga jadi satu-satunya bahan bullyan. Kalian tahu, kaya artis yang baru naik daun. Setiap pergerakannya selalu jadi perhatian. Apapun yang aku lakukan tak pernah lepas dari komentar. Kak Baskara, Kak Bastian, dan Kak Bima yang parah, sementara Kak Barly terkadang hanya tertawa-tawa atau geleng-geleng kepala lihat tingkah saudara-saudaranya. Kalau ayah, biasanya hanya duduk dan terlihat tak peduli. Tapi aku tahu dia mendengarkan ketika aku sedang di bully habis-habisan oleh kakak-kakak. Sayangnya ayah tak pernah menolong.
Ada yang bilang katanya aku seorang putri karena lahir dari keluarga yang semuanya laki-laki.
Prett.
Mana ada?
Cuci piring, bersih-bersih, selalu aku yang lakukan. Empat kakakku kemana?
Aku tak mau melibatkan ayah dalam kekesalanku. Karena… orang tua manapun akan ngeselin ketika nyuruh-nyuruh anaknya. Aku cuma mau bicara tentang empat kakakku yang selalu besikap seolah raja di rumah.
Dikeluargaku ada semacam struktur organisasi tak kasat mata. Kedudukan tertinggi jelas ayah. Kemudian Kak Barly, meskipun dia anak kedua dan jarang bicara serta punya kepribadian yang sangat tertutup dia seperti punya magis tersendiri. Magis yang buat dia aku bilang punya kedudukan kedua setelah ayah. Kak Baskara yang TNI aja gak berani bantah kalau Kak Barly angkat bicara. Orang pendiam memang suka buat kaget kalau sekalinya ngomong.
Setelah itu ada Kak Baskara, si keras, fotokopian ayah yang juga masuk dunia militer punya kedudukan ketiga karena statusnya sebagai anak pertama tentunya. Dia pun seperti punya keberanian tersendiri untuk mendeklarasikan dirinya sebagai orang ketiga di rumah. Setelah omongan ayah, lalu Kak Barly setelah itu Kak Baskara. Mereka bertiga punya aturan yang kadang kali mutlak. Gak bisa diganggu gugat.
Setelah itu ada Kak Bima. Kalau aku bilang Kak Bastian lebih pantas dapat posisi ke empat. Alasannya karena dia kakak paling aku sayang. Paling pengertian. Paling pintar. Paling bijak. Dan paling… paling… paling segalanya dimataku. Sayangnya Kak Bima yang cerewet dan suka sok tegas itu gak terima kalau posisinya lebih rendah dari adiknya. Kak Bima memang terkenal suka senioritas dari jaman sekolahnya dulu.
Sebagai informasi saja dulu Kak Bima pernah percaya diri banget mencalonkan diri sebagai ketua OSIS dan gagal gara-gara banyak yang gak suka orang macam Kak Bima mimpin semua orang. Pas masih jadi anggota OSIS aja udah sok, masa mau dinaikan jabatannya lagi menjadi lebih tinggi. Yang ada dia makin besar kepala. Meskipun dia kakakku. Aku sangat mendukung sekali teman-teman Kak Bima yang menentangnya. Itu pilihan bagus. Orang seperti Kak Bima jangan sampai memegang kekuasaan tinggi.
Lalu di posisi kelima ada Kak Bastian. Sifatnya yang periang dan terbuka selalu punya cara tersendiri untuk menetralisir aura negatif di rumah. Terutama ketika di meja makan. Beda dengan Kak Bima yang akan di demo seisi sekolah kalau dia naik jabatan menjadi ketua OSIS, beda halnya dengan Kak Bastian. Seisi sekolah kabarnya pernah akan demo ke kelas Kak Bastian gara-gara dia gak mau mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Emang yah, orang-orang tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ups, aku bilang Kak Bima buruk.
Memang dari semua kakaku dia yang paling menyebalkan sih.
Walaupun begitu Kak Bastian juga sebenarnya gak sebaik itu. Dia kadang nyebelin. Kaya dia tiba-tiba manggil ke kamarnya dan nyuruh aku matiin lampu kamarnya. Padahal dia tinggal bangun dari kasur dan matiin sendiri. Dia juga sering ngetuk pintu kamarku malem-malem saat aku lagi tidur nyenyak-nyenyaknya cuma karena dia pengen di olesin minyak kayu putih di punggungnya. Kak Bastian memang punya semacam kesensitifan kulit terhadap udara malam. Ketika dia terkena udara malam dia akan berkeringat dan gatal-gatal. Bodohnya meskipun dia tahu hal itu dia tetap suka membuka jendela kamarnya ketika belajar sampai larut malam.
Dia juga sering makan es krim kesukaanku di kulkas padahal sudah ada namanya. Dia bilang gak tahu kalau itu punyaku. Alasan dia saja, Kak Bastian memang pada dasarnya suka banget usil padaku.
Meskipun begitu rasanya sifat buruk Kak Bastian bisa termaafkan oleh sikapnya yang lebih bersahabat padaku daripada kakak yang lain dan ayah. Kak Bastian tipe cowok yang mau mendengarkan curhatan orang. Tipe pendengar yang gak menghakimi atau gak menambahkan dengan opini versinya. Atau yang lebih nyebelin menukas curhatan dengan versi dia yang menurutnya lebih menyedihkan.
Sibuk memikirkan 5 cowok dalam hidupku yang semua orang bilang 5 pandawanya aku, sampai tak sadar kalau Kak Bima sudah menghentikan motornya di depan tempat latihan.
“Chi, udah nyampe.” Tegur Kak Bima.
Aku turun dari motornya. Mengamit helm lalu meminta tangannya untuk aku salami.
“Nanti selesai latihan langsung telpon ayah. Katanya ayah pengen jemput.” Ujar Kak Bima.
Aku kaget mendengarnya. Aku segera menggeleng sambil menunjukan wajah enggan. “Kenapa gak Kak Bima aja yang jemput?”
“Kakak ada urusan.” Jawab Kak Bima.
“Ah, alesan doang. Sok sibuk.” Cibirku. Diantara Kak Baskara dan Kak Bima yang galaknya minta ampun aku paling gak suka kalau dijemput ayah.
Kak Bima menjitak kepalaku. “Kakak emang orang sibuk ya.”
“Mana ada? Pengangguran kayak Kak Bima tuh bilang sibuknya cuma di bibir doang. Aslinya enggak.”
“Sok tahu kamu.”
“Ahh…” Aku menarik tangannya bersikap manja. Membujuknya supaya dia mau menjemputku. Meskipun Kak Bima ngeselin aku lebih baik dijemput dia daripada ayah. “Kak Bima aja yang jemput jangan ayah.”
Kak Bima tersenyum sambil melepaskan tanganku. Wajahnya antagonis sekali. Dia tahu aku gak suka dijemput ayah tapi dia seperti sengaja memberikan kesempatan itu pada ayah.
“Kalau ayah yang jemput kenapa sih?” tanyanya sok gak tahu masalah yang sering ayah lakukan.
“Pokoknya jangan ayah aja.” Aku bahkan sampai menghentak-hentakan kaki.
“Ayah katanya pengen kencan sama kamu.” Kata Kak Bima sambil cengengesan. “Yaudah sih, sama-sama dijemput. Sama-sama nanti nyampenya ke rumah. Nanti di jalan juga bakal dijajanin. Ribet banget sih.”
“Bukannya ribet kak.” Bantahku. “Kak Bima lupa kejadian dia labrak Pak Gusti gara-gara aku di suruh sit up 100 kali?”
Kak Bima pura-pura berpikir. “Emang iya? Kapan itu kejadiannya?”
“Gak usah sok b**o deh kak.” Sumpah aku pengen nampol wajahnya sampai bibirnya miring ke kiri. “Ayah kan bilang mau jemput jam 6 nyatanya suka dateng satu jam sebelumnya. Ujung-ujungnya dia lihatin aku latihan dan marah-marah sama pelatih gara-gara aku latihannya katanya terlalu berat. Padahal itu kan wajar.”
“Ayah dateng sejam sebelum itu karena dia gak sabar pengen ketemu anak kesayangannya aja, Chi. Terus emang pernah dia marah-marah? Paling ayah cuma nasehatin pelatih kamu aja. Ayah kan mantan tentara, dia tahu mana latihan yang berlebihan dan mana yang wajar.”
Kak Bima sebenernya dikasih mantra apa sih sama ayah sampai apapun yang aku katakan gak mempan. Ayah selalu benar dimata Kak Bima. Ayah jungjunannya.
“Ngeselin ih. Jangan ayah dong!”
“Ya terus mau siapa? Kak Barly?” tanyanya seperti sudah lelah dengan protesanku.
“Daripada ayah ya mending Kak Barly lah. Walaupun dia ketusnya minta ampun.” Kak Barly adalah supir kesekian yang akan ayah tugaskan untuk antar jemput aku. Ayah tahu seperti apa tabiat Kak Barly. Ketus, tak sabaran, sering ngomel karena hal kecil itu gak bakal cocok kalau disuruh jemput aku. Telat satu menit saja buat dia akan cemberut dan banting pintu kamar.
Dan akupun gak pernah meminta dia buat menjemputku. Daripada kena ambekannya.
“Ya mana mau dia jemput kamu.” Tegas Kak Bima.
“Atau Kak Bastian aja. Aku ikhlas kalau Kak Bastian yang jemput.” Negosiasi masih berjalan. Intinya sampai akhirnya bukan ayah yang jemput aku akan terus merajuk.
Kak Bima memutar bola mata. “Udah deh, Chi. Jangan ganggu permata keluarga kita. Biarin dia fokus belajar. Dia calon orang sibuk.” Ucap Kak Bima sedikit sensi. “Ayah juga gak bakal biarin lo ganggu belajar calon pengharum nama keluarga kaya dia.”
Selain dia yang tak suka dengan kedudukannya yang sebenarnya lebih rendah dari Kak Bastian di dalam hierarki keluarga Pak Adi Purnama Hutomo, Kak Bima juga sensi karena ayah sering membangga-banggakan Kak Bastian yang berhasil masuk kedokteran UI. Beda dengan kakak-kakak yang lain dari segi otak aku memang paling mirip dengan Kak Bima. Punya otak berkapasitas standar. Beda dengan Kak Baskara yang meskipun masuk militer dia juga dulu terkenal pintar. Kak Barly juga jenius komputer. Dan Kak Bastian punya otak yang encer sekali, dia bisa menghafal banyak hal dalam waktu singkat. Dan Kak Bima, seperti sebuah cela dari sebuah ketidaksengajaan.
Bukan aku kasar, tapi Kak Bima sendiri yang sering mengeluhkan hal itu ketika ayah membangga-banggakan kakak-kakak yang lain. Katanya ayah sama ibu kebablasan sampai mereka punya Kak Bima.
“Emang kamu mau kemana sih kak?” aku akhirnya bertanya kenapa dia gak bisa menjemputku nanti. Kalau saja ada orang lain yang bisa menjemputku, aku tak akan mau penasaran urusan Kak Bima.
“Mau kondangan.” Jawab Kak Bima sok ketus.
“Halah dusta.”
“Serius.”
“Emang siapa yang mau nikah?”
Raut wajah Kak Bima seketika berubah. Terlihat bingung dan sedih juga.
“Temen SMA.” Jawabnya. Dari gesturnya dia seperti tak mau aku menanyakan hal lain lagi.
“Mantan ya.”
Kak Bima melotot.
“Ciee yang ditinggal nikah mantan.”
“Kakak minta ayah jemput sekarang juga nih.” Ancamnya sambil mengeluarkan ponsel. “Biar dia lihatin kamu selama latihan.”
Aku segera merebut ponselnya. Horror sekali ancamannya.
“Gak seru.”
“Yaudah sana. Buruan masuk.” Kak Bima mengusirku. “Kakak bilang ke ayah kamu selesainya setengah 7.”
“Gitu dong.” Kataku senang.
Kak Bima mengacak-ngacak rambutku. “Sana masuk. Ntar telat, dihukum lagi.”
“Iya.”
Setelah itu Kak Bima pergi dari depan tempat latihan. Meninggalkan aku yang berdiri dengan perasaan yang sebenarnya masih enggan mengingat nanti ayah yang akan jemput. Masalahnya apa ayah akan percaya kalau aku selesai latihan setengah 7?
“Chi… Chiara.” Panggil seseorang ketika aku hendak masuk ke tempat latihan.
Aku memutar tubuh. Motor matic hitam mendekat. Senyumku mengembang karena pengendara motor itu.
“Kak Farran.” Tegurku. Sumpah demi apapun aku senang sekali melihat dia disini. “Kok disini?” tanyaku heran.
Meskipun dia tahu aku latihan disini, dia tidak pernah sekalipun datang. Karena katanya sepulang sekolah dia harus belajar sambil menjaga toko milik papanya sampai Isya. Melihat dia di hadapanku sekarang antara percaya dan tak percaya sebenarnya.
“Habis nganterin sepupu.” Jawabnya. Dia menunjuk tempat les di seberang jalan. “Mulai hari ini dia les disana.”
“Kok bisa? Bukannya sebelumnya Jihan tempat lesnya yang di Gunadharma itu ya?”
Gunadharma adalah tempat les ternama yang aku tahu tempat anak orang-orang berada menambah pengetahuan selain pengetahuan yang didapatkan dari sekolah. Konon biaya daftar dan biaya bulanannya mahal sekali. Bisa 2 sampai 3 kali SPP sebulan. Memang semahal itu. Tapi ada harga ada kualitas juga. Buktinya Haruku yang semester sebelumnya tak masuk 10 besar dengan nilai matematika yang tak pernah tembus angka 70 itu mendadak menjadi perbincangan. Bagaimana tidak, mendadak kertas ujiannya berangka 100.
Mengejutkan dan fenomenal sekali sampai si peringkat pertama di kelas yang merasa terancam kedudukannya mewawancarai Haru.
“Lo gak nyontek kan? Gak mungkin dong lo tiba-tiba dapet 100.”
“Gue belajar makanya dapet nilai sempurna.” Haruku tersenyum sambil menunjukan kertas ujiannya tepat di depan wajah si peringkat pertama. Baru dapat nilai 100 sekali saja sudah buat dia sombong. Cuma Haru aja.
Si peringkat pertama geram dan masih tak percaya.
“Mana ada yang sebelumnya gak pernah dapet 70 tiba-tiba dapet 100. Gak masuk akal Haru.”
“Masuk akal dong, kan gue les di Gunadharma.” Jawab Haru yang kemudian dilanjutkan dengan slogan khas tempat les itu. “Want to be smart? Study Hard in Gunadharma!”
Seminggu kemudian si peringkat satu mendaftar di tempat les yang sama dengan Haruku.
“Dia pindah.” Jawab Farran. “Temen deketnya pindah ke Ganesha.” Ujar Kak Farran.
Ganesha adalah tempat les di seberang jalan tempat latihanku.
Aku mengangguk-angguk.
“Padahal kan Gunadharma bagus.”
“Emang bagus, Chi. Tapi kalau anaknya pengen pindah malah bikin gak enjoy. Belajar yang bagus kan kalau kita nya enjoy.”
“Iya bener.” Kataku sambil mengangguk-angguk. Aku pun suka pelajaran yang buat aku senang ketika mempelajarinya.
Kak Farran mengangguk. Dia lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tangannya bersih sekali seperti dia gak pernah merasakan teriknya sinar matahari. Padahal setiap hari dia berangkat dan pulang sekolah pakai motor.
Melihat dia di atas motor saat ini aku jadi teringat sepasang remaja SMA di lampu merah tadi. “Kak kapan-kapan bonceng ya.”
“Boleh.” Jawabnya enteng. “Tapi aku harus izin dulu ke ayah kamu kan?”
Bayangan menyeramkan tiba-tiba datang. Kak Farran menghadapi ayah yang mukanya bengis dan selalu tampak gak bersahabat dengan orang lain. Aku segera menggeleng. “Serem aku ngebayanginnya.”
Kak Farran tertawa. Lesung pipinya buat aku semakin jatuh cinta sama dia. Kok bisa sih dia semanis ini?
“Kayanya kamu udah mau telat.” Kak Farran melirik jam yang melingkat di pergelangan tangannya sekali lagi.
Aku menarik tangannya dan sadar kalau latihan akan dimulai 5 menit lagi.
“Aku masuk ya kak.” Pamitku.
Kak Farran mengangguk.
“Oh ya Chi.” Panggilan dari Kak Farran membuat aku yang sudah sampai di pintu masuk menoleh lagi.
“Iya kak?”
“Aku boleh gak lihat kamu latihan?” tanyanya. “Daripada aku pulang terus balik lagi kesini 1 jam lagi buat jemput Jihan.”
Senyum di wajahku mengembang. Tak perlu memikirkan lama-lama. Aku pun mengangguk. “Boleh kak.”
***