(Farran Hafaza)
Gue cuma bisa lihat punggung Chiara semakin jauh. Dia pulang bersama dengan Pak Bima, kakaknya. Selain kami, Kaline, dan Jonathan gak ada lagi yang tahu kalau kami pacaran. Gue sebenarnya gak suka pacarana diem-diem. Kaya gue selingkuh sama istri orang. Ngeri-ngeri sedep kalau ketahuan. Tapi mau gimana lagi, gue gak bisa memaksakan Chiara buat ekspos hubungan kami ke semua orang. Chiara anak cewek satu-satunya dari lima bersaudara. Punya ayah pensiunan TNI Angkatan Darat dan punya kakak-kakak yang super duper protektif dan juga galak. Gue pun menyetujui hal itu.
Pernah guru olahraga kelas gue gak masuk waktu itu dan terpaksa jam olahraga kelas gue harus gabung dengan kelas 10 dengan guru Pak Bima, kakaknya Chiara. Anak yang lahir dari keluarga militer emang beda. Pak Bima sosok guru yang sebenarny terbuka namun kelihatan gak bisa di deketin. Dia kaya punya batas sendiri untuk orang-orang di sekitarnya. Dia juga tegas dan keras ketika ngajar. Gak heran banyak kelas 10 yang ngeluh karena harus berguru olahragakan Pak Bima.
Gue pun yang gak terlalu suka olahraga, karena bagi gue berkeringat itu adalah hal yang paling enggak banget rasanya. Panas-panas lengket. Dan bau. Makin gak seneng gue sama olahraga ketika dia ngajarin kelas gue.
Padahal Pak Bima guru baru. Baru masuk pas gue semester 2 kelas 10. Tapi dia udah kaya yang punya seluruh lapangan. Emang kaya gitu sih orangnya. Punya rasa percaya diri yang tinggi dan sepertinya tipe orang yang gak bakal baper sama omongan orang sejelek apapun dia.
Intinya Pak Bima itu orang yang bakal galak banget kalau sampai dia tahu kalau gue pacarana sama adiknya.
Kalau ayah Chiara, dari yang gue denger dari mulut Chiara sendiri, dia laki-laki 55 tahunan yang di usianya sekarang masih terlihat bugar sekali. Rajin fitness dan berkuda. Dia juga aktif sebagai guru pencak silat di kompleksnya. Dari yang gue denger dari Chiara kalau ayahnya pernah matahin tiang kayu rumah orang. Alasannya karena dia marah Chiara yang baru pulang sekolah di goda di tengah jalan dan buat dia nangis ketika sampai rumah.
Denger ayah cewek yang gue suka pernah matahin tiang depan rumah orang aja udah buat gue bergidik.
Melanjutkan jejak ayahnya, Chiara juga punya kakak yang aktif di militer. Angkatan Darat juga. Katanya dia sedang di tugaskan di Jakarta. Oke, gue kayanya gak beruntung karena pacaran ketika kakak Chiara yang TNI lagi ada di kota yang sama. Gue gak kebayang kalau gue ngelakuin satu kesalahan kecil, kepala gue bakal meledak di tangan dia.
Dia juga punya dua kakak laki-laki yang lain. Satu namanya Barli, Chiara bilang Barli kakak yang paling gak dia suka. Kerena Barli orangnya introvert parah, dan suka sinis sama dia. Tapi dari cerita Chiara kalau dia pernah tersesat ketika study tour pas SMP dan yang berhasil lacak lokasinya Kak Barli. Hingga Chiara bisa diketemukan oleh polisi tak lama setelah dia tersesat buat gue malah lebih ngeri sama dia. Satu lagi namanya Bastian, kakak terakhir yang sekarang masih kuliah. Jurusan kedokteran UI. Katanya dia kaka paling baik dan bisa diandalkan. Tapi kok entah kenapa gue malah lebih takut sama orang baik ya.
Inti dari semua itu adalah… gue Farran Hafaza cowok yang menggadaikan nyawanya karena cinta.
Kenapa? Karena Chiara anak cewek satu-satunya dan dikelilingi 5 pandawa yang siap hancurin apapun jika itu menyangkut Chiara.
Kalau Jonathan bilang, gue ini nekad. Ya, nekad karena pacarana sama cewek yang dijaga sama 5 pengawal 24 jam nonstop. Katanya gue harus udah sejak awal nyiapin peti mati ketika pacarana sama dia. Kalau ketahuan salah satu dari 5 penjaganya, bisa jadi gue mati saat itu juga.
Tapi… apa gue peduli? Tentu saja tidak.
Namanya juga suka, kalau di tahan kan gak baik. Gue lebih memilih menggadaikan keselamatan gue daripada gue harus memendam perasaan gue buat cewek itu. Hidup cuma sekali, sayang banget kalau gue menyelesaikan hidup gue tanpa gue pacaran sama orang yang bener-bener gue suka.
Meskipun gue gak suka pacarana diem-diem kaya sekarang, tapi gue bisa memahami kekhawatiran Chiara. Dari cerita kakak-kakak dan ayahnya aja udah serem. Dia pasti khawatir gue kenapa-kenapa. Maklum Chiara perempuan satu-satunya di keluarga. Ibunya katanya meninggal saat dia masih bayi dan sempat berpesan untuk menjaga Chiara. Tak heran ayah dan kakak-kakaknya amat sangat menjaga dan memanjakan dia.
Gue jadi inget pas gue bilang suka wajah Chiara kaya gimana.
“Kamu… suka sama aku?” tanya Chiara, menunjuk gue kemudian ke dirinya sendiri. Tatapan tak percaya dan was-was karena tiba-tiba gue tembak di perpus.
Gue faham kenapa dia menatap gue dengan tatapan seperti itu. Ya… orang kami gak pernah ngobrol banyak sebelumnya. Gue yang terlalu pengecut buat ngajak dia ngobrol karena takut topik pembicaraan gue garing. Dan dia yang gue lihat tertarik sama gue tapi kaya ada sesuatu yang halangin dia buat deket sama gue. Kami sering ketemu di perpus. Sebenernya gue yang sering sengaja dateng ke perpus ketika tahu dia sering kesini di jam istirahat. Semacam sebuah usaha buat deket meskipun gue yang pengecut ini cuma bisa lihat dia milih-milih buku dari rak novel. Catat, tanpa berani ngajak ngobrol.
Dan sekarang tiba-tiba gue nyamperin dia yang lagi ngembaliin buku ke rak semula dan bilang kalau gue pengen Chiara jadi pacar gue.
Chiara lihat gue was-was bahkan terlihat celingak-celinguk seolah mencari sesuatu. Dia mungkin ngira gue lagi ngeprank dia.
“Gak ada kamera tersembunyi kok.” Ucap gue. Lalu menggaruk tengkuk yang tak gatal sama sekali. Gue cuma… gugup luar biasa.
Ngomong-ngomong gue emang tahu kalau Chiara lebih pendek dari gue. Tapi berhadapan kaya gini buat gue gemas sendiri karena ternyata cewek ini emang mungil.
“Tapi kok tiba-tiba banget.” Dia masih gak percaya.
Wajar sih. Namanya juga di tembak tiba-tiba.
“Aku serius, Chiara.” Kata gue berusaha meyakinkan dia. Kalau gue emang bener-bener nembak dia, bukan main-main. Oke, cara gue nembak dia emang bakal buat cewek lain pun salah faham.
“Kak Farran tahu nama aku.” Lucunya, Chiara malah kaget karena gue tahu namanya.
Gue tertawa. “Mana mungkin juga aku nembak cewek tanpa tahu namanya dulu.”
“Kan gak pernah kenalan.”
“Tahu nama gak perlu kenalan juga, Chi. Lihat kamu lewat terus tanya Jonathan aja aku udah tahu.”
“Oh, tanya Kak Jonathan.”
Gue memutar bola mata. Ngobrol sama Chiara ternyata cukup menguras kesabaran. Tapi dia lucu, gimana dong. Gue gak bisa kesel sama sekali.
“Yakin suka sama aku?” dia malah menanyakan hal itu. Apa semustahil itu kalau gue suka sama dia.
“Ya.” Gue mengangguk. “Kalau aku gak yakin, gak bakal aku berani-beraniin nembak kamu tiba-tiba kaya gini.”
“Pak Bima kakak aku.” Ujar dia cemas. Gue bahkan udah tahu hal itu. Dan tahu juga sifat Pak Bima itu kaya gimana. “Dia galak tahu.”
“Ya tinggal aku baikin.” Jawab gue, berusaha untuk terlihat meyakinkan sekali di depannya. Walaupun sebenernya kaki gue gemetar karena kegalakan Pak Bima emang udah terkenal. Apalagi kalau menyangkut adik kesayangannya.
“Orang galak biasanya kan luluh kalau dibaikin.” Lanjut gue. Gak tahu dapet quotes itu darimana. Gue sendiri kaget ketika kalimat itu keluar dari mulut gue. Sok novelis banget.
“Ayah aku tentara.” Chiara menyipitkan matanya.
Ucapannya malah buat gue tertawa terbahak-bahak. Cara dia ngomong mirip sama anak SD yang lagi berbangga-bangga ngarang profesi bapaknya agar terlihat keren dan meyakinkan. “Aku tahu.”
Dia memilin jari jemarinya. “Maaf, kak, aku gak bisa pacaran.”
“Kamu gak suka sama aku?” tanyaku. Gue punya insting yang bagus kalau dia suka juga sama gue. Berkali-kali gue memergoki dia lagi lihatin gue.
“Siapa sih yang gak suka sama kamu kak.” Ujar Chiara.
Gue memegangi bahunya membuat dia yang menunduk seperti tengah dilanda badai keraguan itu mendongak dan menatap gue. Bola matanya gemetar. Dan segera menatap ke arah lain. Itu malah buat gue semakin yakin kalau Chiara juga punya perasaan yang sama.
“Jawab yang jujur ya.” Gue menghela napas. “Kalau kamu, Chiara suka gak sama kakak?”
Aduh… pertanyaan gue kok kaya norak banget ya. Chiara cuma diam, masih ragu. Atau mungkin masih mengira kalau gue nembak dia karena main-main aja. Dia mungkin baru percaya kalau lihat gue mati berdiri karena jantungan di depan dia. Baru dia tahu kalau sejak tadi jantung gue berdebar gak karuan. Nembak cewek yang disuka itu gak segampang itu, meskipun gue cowok. Perlu nyali yang besar dan keberanian yang gak kalah gede juga.
“Suka.”
Satu kata itu nyatanya membuat gue semakin melambung. Perasaan gue emang gak bertepuk sebelah tangan.
“Jadi… mau kan jadi pacar kakak?”
“Mau.” Jawabnya namun masih terlihat bingung. “Tapi kalau Kak Bima tahu gimana?”
“Kita bisa pacaran diem-diem kok.”
“Cuma kamu dan aku aja yang tahu.”
Gue mengangguk.
“Ngeri aja kalau sampai Kak Bima tahu aku pacaran.”
***
Kalau boleh jujur awalnya gue gak yakin bisa jalanin pacarana diam-diam sama Chiara tanpa ketahuan Pak Bima. Mata ada dimana-mana ngomong-ngomong. Dan gue cukup disorot di sekolah ini. Bukan karena sombong gue bilang kaya gini, tapi siapa sih yang gak kenal cowok yang mencetak beberapa penghargaan buat sekolah ini. Gue dapat semua itu karena kerja keras. Jadi, gue gak masalah menyebutkannya seolah gue punya jasa yang besar banget buat sekolah. Ngomong-ngomong selain gue, banyak juga yang punya prestasi di sekolah ini. Kaline dan Jonathan pun berprestasi di bidang mereka sendiri, panahan.
Gue cuma jadi sasaran keberlebihannya guru memuji gue makanya gue bisa terkenal. Kalau boleh milih, gue pengen jadi siswa yang mencetak banyak prestasi tapi biasa-biasa aja. Biasa-biasa dalam artian, banyak yang tahu gue tapi gak sememuja itu. Seorang Farran Hafaza juga masih manusia. Pujian dari mereka semua seolah gue adalah siswa paling sempurna di SMA Bumi Nusantara buat gue merasa takut untuk berbuat kesalahan. Jadi beban tersendiri buat gue menyandang title itu.
Sekali lagi, gue masih manusia.
Manusia yang pasti punya satu masa dia melakukan kesalahan.
“Farran tunggu sebentar ya.” Ujar Pak Bahari, guru Bimbingan Konseling sambil beranjak dari kursinya karena harus menjauh untuk menerima telepon.
Karena beberapa bulan lagi gue akan keluar dari SMA Bumi Nusantara dan menyandang titel alumni, gue punya kewajiban untuk mendiskusikan apa yang ingin gue capai selanjutnya dengan BK. Gue memang yakin masuk jurusan Ilmu Komputer UI karena gue punya ketertarikan luar biasa disana. Gue pengen buat start up game sejak dulu. Sebenernya itu impian ayah gue baru-baru ini setelah dia kenal sama smartphone. Dan setelah gue geluti ternyata dunia IT itu sangat menarik. Kaya jaringan yang saling menyambung satu sama lain yang jumlahnya milyaran.
Bicara tentang dunia perkomputeran selalu buat d**a gue bergemuruh. Semangat gue naik gila-gilaan. Gue membayangkan hal itu akan sangat seru banget kalau gue menggelutinya dengan serius.
Banyak guru-guru termasuk Pak Bahari yang menyayangkan gue yang ingin masuk jurusan Ilmu Komputer, bukannya kedokteran, teknik, dan farmasi yang masih berhubungan dengan dunia sains. Mereka menyayangkan semua prestasi yang gue dapat dari bidang itu. Tapi balik lagi, gue gak mau masuk ke jurusan yang gak buat gue bersemangat.
“Oh ya, tadi kita sampai mana?” Pak Bahari baru kembali. Duduk kembali di kursinya dan menatap formulir bakat minat milik gue di atas meja.
“Saya sudah bulat masuk Ilmu Komputer pak.” Ujar gue.
Pak Bahari sekali lagi menatap gue dengan tatapan menyangkan.
“Menurut bapak dengan prestasi saya selama ini bisa membuat saya lolos SNMPTN UI gak ya? Apa ada nilai di mata pelajaran yang harus saya tingkatkan?”
Ketika gue punya tujuan gue emang akan berusaha memaksimalkan apa yang gue bisa.
Pak Bahari mengatupkan bibirnya, melihat nilai-nilai rapot gue dari semester 1 sampai semester 4. “Sebetulnya dari nilai-nilai kamu selama ini sudah mumpuni Farran. Namun, saya harap kamu terus meningkatkan diri kamu. Karena setiap tahunnya kriteria untnuk lolos SNMPTN bisa berubah-ubah.”
Gue mengangguk-angguk. Nilai gue emang udah cukup bagus selama ini, gak ada yang di bawah 90. Dan selalu gue pastikan selalu meningkat setiap semesternya. Gue emang punya metode belajar sendiri dan strategi sendiri untuk mewujudkan semua itu.
“Apa ada lagi yang mau kamu tanyakan Farran?” tanya Pak Bahari.
“Untuk saat ini gak ada pak. Lain kali kalau ada boleh kan saya ke sini lagi?”
Pak Bahari mengangguk dengan senang hati. Ruang BK memang selalu jadi ruangan yang punya titel jelek kalau dimasuki siswa bermasalah. Namun sebenarnya tak seperti itu. Banyak orang aja yang taku di cap jelek kalau masuk kesini. Nyatanya disini bukan cuma tempat siswa-siswi badung aja. Disini juga, kalau mau siswa-siswi bisa mendiskusikan apapun. Termasuk curhat juga. Pak Bahari orangnya sangat terbuka dan mau mendengarkan.
“Kalau begitu, saya permisi pak.” Farran berpamitan.
Gue emang udah bulat buat masuk Ilmu Komputer.
***