BAB 3

2854 Kata
(Chiara Aylin) *** Gimana bisa sih aku tenang ketika nanti jam 10 mau ketemu dengan Kak Farran? “Kenapa sih?” tegur Haru. Lagi-lagi melirik kesal karena kakiku yang goyang-goyang membuat meja ikut bergetar. Dan aku cuma menggeleng dengan mata terus melihat jam yang menggantung di atas papan tulis. Bu Indita guru Sejarah sedang menulis di papan tulis. Teman sekelas termasuk Haru pun sibuk menulis, sementara aku, mana bisa aku focus sementara di atas papan tulis itu jarum jam terus bergerak menuju ke angka sepuluh. Tiga belas menit menunggu jam istirahat rasanya lama sekali. Bu Indita belum menyelesaikan tulisannya di papan tulis. Padahal sebentar lagi mau istirahat. Siapapun gak suka menunggu. Orang sabar pun gak suka menunggu menurutku. Bu Indita menyelesaikan tulisannya dengan membuat titik yang menimbulkan suara nyaring. Lalu dia mengemas barang-barangnya dari atas meja guru. Dan berpamitan. “Silakan tulis yang ada di papan tulis sebelum jam istirahat ya,” katanya. “Sampai jumpa lagi minggu depan.” Bu Indita pun melenggang pergi meniggalkan kelas. Dan aku semakin tak bisa tenang. Kakiku semakin bergerak tak terarut menimbulkan gempa yang lebih kuat lagi di meja aku dan Haru ini. Haru sekali lagi menatapku kesal. “Sana ke toilet.” Katanya ketus. “Jangan bikin getaran yang gak perlu deh. Gue lagi diburu waktu nih sebelum papan tulisnya di hapus sama si Sapto.” Katanya. Sapto adalah ketua kelas mereka yang suka resek menghapus tulisan di papan tulis cepat-cepat padahal banyak yang belum selesai menulis. Kata-kata andalannya adalah, ‘Salah siapa nulisnya lelet’ Sebetulnya baik aku dan Haru bahkan mungkin sepertiga siswa-siswi kelas ini heran kenapa cowok yang sok berkuasa seperti Sapto bisa terpilih sebagai ketua kelas. Nasib emang sejak awal gak bagus untuk kelas ini karena dapat pemimpin seperti Saptohadi Wiguna. “Eh mau kemana lo!” Haru menodongkan pulpennya pada Sapto yang sudah berdiri dari kursinya. Sapto yang kaget tergugu. “Gue…” “Jangan berani-berani hapus ya, To!” Rayhan yang duduk di deret bangku ke tiga barisan ke 4 ikut mengancamnya. “Oy oy santai!” Sapto angkat tangan. Wajah ngeselinnya plus senyum tengilnya terpampang ke setiap sudut kelas. “Gue mau ke toilet kok.” Haru menghembuskan napas. “Syukurlah.” Ujarnya pelan. Beda dengan Haru dan yang lainnya, yang khawatir tulisan di papan tulis dihapus Sapto, aku malah dilanca cemas yang luar biasa karena tiga menit lagi bel istirahat berbunyi. Tanpa sadar aku menggigit pulpen. Aku gak bisa tenang. Aku gak bisa tenang. Tolong. Remaja yang sedang dimabuk cinta dengan perasaan yang menggebu-gebu ini semakin resah karena sebentar lagi… Bel istirahat pun berbunyi. Tanpa peringatan aku segera berlari keluar kelas meninggalkan Haru yang menoleh padaku entah hendak bertanya apa. Aku melesat secepat kilat menuju perpustakaan. Aku harus melewati dua Gedung untuk tiba disana. Kalau berjalan biasa setidaknya butuh saktu 3 sampai 4 menit untuk sampai disana. Aku yakin Kak Farran udah ada disana menungguku. Karena kelasnya hanya terhalang 3 kelas untuk sampai di perpustakaan. Perpustakaan berada di lantai dua tempat dimana kelas 12 IPA berada. Berada di pojok dengan sebuah tangga di sampingnya. Keberuntunganku memang tak pernah bagus. Tangga samping perpustakaan yang biasanya jarang di lalui kelas 12 menuju kantin, mereka biasanya menggunakan tangga yang ada di samping kelas 12 IPA 1 karena itu tangga terdekat kelas 12 IPA untuk sampai ke kantin. Kenapa pula banyak yang melewati tangga ini sekarang. “Maaf kak.” Aku melipir setelah tak sengaja menabrak bahu kakak kelas 12 cewek yang muka ketusnya terkenal seantero SMA Bumi Nusantara. s**l kenapa aku harus menabrak Adara Kyra si mantan ketua OSIS tahun lalu yang ketus dan galaknya minta ampun. “Lain kali matanya jangan ditinggalin di kelas ya.” Aku mencebikan bibir. Tuh kan, ketus sekali dia. Ditambah dengan putaran bola mata jengah itu membuat aku semakin ciut. Kak Dara memang gak main-main ketusnya. “Eh!” seseorang menepuk bahu Kak Dara. “Jangan marahin anak orang di tangga.” Katanya. Aku tersenyum menatap penyelamatku. Kak Kaline. Kak Dara menatap bengis pada Kaline yang terlihat tak terpengaruh sama sekali oleh tatapannya. Lagipula mana mempan orang seperti Kak Dara untuk Kak Kaline. Meskipun Kak Kaline ini ramah, kata Kak Farran dia adalah cewek paling di takui kelas 12. Ya siapa sih yang berani sama dia kalau disampingnya selalu ada Kak Jonathan yang meskipun cengengesan kalau marah seremnya minta ampun. Kaline, Jonathan, dan Farran memang bak tiga serangkai yang tak terpisahkan. Namun, Kaline dan Jonathan punya hubungan yang lebih erat lagi. Karena mereka berdua sudah kenal sejak kecil, bahkan sejak keduanya masih pakai popok. Rumah mereka juga berdekatan, masih satu kompleks katanya meskipun terhalang beberapa rumah. Berbeda dengan Kak Farran yang kenal mereka berdua hanya sejak masuk SMA. “Inget ucapan gue ya.” Kak Dara menunjuk wajahku. Aku cuma mengangguk kecil, tak berani menatap wajahnya karena takut. Gak ada juga kayanya yang berani menatap Kak Dara yang punya wajah judes, mata jutek, ditambah dengan mulutnya yang gak segan-segan ngegas ke siapapun yang buat dia ngerasa terganggu. Kak Dara ini adalah tipe cewek yang bisa memegang kendali atas situasi apapun. Seperti sekarang, padahal bukan salahku menabrak bahunya. Tangganya aja yang sempit, dan banyak yang lewat. “Ih, ada apa sih.” Keluh dua cewek di undakan tangga paling atas karena mereka tak bisa lewat. Keluhan lain juga terdengar dari yang lainnya. Tabrakan bahu tak sengaja itu mampu membuat kemacetan di tangga samping perpus. “Eh Dar.” Kak Kaline menepuk bahu Dara lagi. Yang membuat dia ditatap bengis lagi. “Macet nih. Buru jalan.” Lagi, Kak Dara memutar bola mata. Dia sepertinya masih punya banyak kata-k********r yang ingin diucapkan pada di penabrak bahunya. Tapi urung ketika melihat ke atas tangga dimana banyak orang yang tak bisa lewat karena ulahnya. Dia meninggalkan aku yang masih berdiri menempel ke pegangan tangga dengan muka pengen nangis. Kenapa dia bisa segalak itu sih? “Jangan diambil hati.” Ujar Kak Kaline. “Dara PMS nya tiap hari.” “Setuju.” Balas Kak Jonathan yang entah bagaimana caranya berhasil menembus orang-orang di tangga hingga akhirnya dia sampai di samping Kak Kaline dan merangkulnya. “Dara itu cewek terakhir yang bakal gue pacarin.” Umumnya tanpa ditanya. Ucapannya langsung mendapat tampolan dari Kak Kaline. “Awas aja lo sama dia. Gak gue restuin.” “Iya zeyeng, gak bakal kok.” “Oh ya, dia udah di perpus tuh.” Kak Kaline menaik turunkan alisnya jahil. Hubungaku dengan Kak Farran memang sangat rahasia. Awalnya hanya aku dan dia saja yang tahu, sampai pada suatu hari Kak Jonathan dan Kak Kaline memergokiku dan Kak Farran sedang pegangan tangan di perpus. Diingat-ingat lagi lucu sekali waktu itu. Tapi aku tak mau menceritakannya karena kalian pun bakal bisa menebak gimana keadaannya. Situasi yang buat tegang, konyol, dan bikin canggung seketika itu juga. Kak Farran sedang duduk sambil memainkan smartphonenya ketika aku datang. Earphone merah pemberianku seminggu yang lalu dia pakai. Cowok yang diem aja gantengnya mirip aktor aja itu belum menyadari kedatanganku. Lalu aku jahil berjalan ke belakangnya, mengambil buku asal dari rak yang tak jauh dari tempat duduknya. Sambil mataku nakal melihat apa yang sedang dia lihat sampai gak sadar kalau aku udah datang. Ternyata… “By the way, tadi aku di marahin sama orang itu di tangga.” Bisiku di samping telinganya. Seketika Kak Farran melepaskan earphone dari telinganya dan memutar tubuh. Matanya membulat mungkin kaget karena aku memergoki dia sedang scroll instagramnya Kak Dara. Aku melengos ke rak buku, mengembalikan buku yang tadi aku bawa. Dan mencari buku yang lain. Karena ketika sadar aku mengambil buku yang full Bahasa Inggris. Gak mau aja aku kelihatan b**o di depan cowok jenius ini. Bahasa asing adalah salah satu kelemahanku. Sebenarnya aku bohong, aku emang lemah dalam banyak mata pelajaran. Kak Farran mengikutiku. Tubuhnya bersandar pada rak buku, menatapku dari samping. Pernah aku penasaran kenapa Kak Farran bisa suka sama aku. Cewek yang gak pinter. Gendut. Dan gak cantik juga. Tapi katanya ketika seseorang mulai menanyakan hal itu, itu artinya dia mulai ragu dengan perasaannya. Aku gak mau Kak Farran berpikir seperti itu. Meskipun sebenarnya aku aja yang gak percaya diri saat ini. Karena kalau dipikir yang Haru dan penggemar-penggemar Kak Farran lain bilang bahwa dia adalah cowok yang mustahil buat suka sama cewek biasa. Catat, aku merasa aku amat sangat biasaya aja untuk Kak Farran yang subhanallah ini. Lagi pula mana ada sih cewek yang akan merasa percaya diri ketika Kak Farran nyatain perasaanya. Akupun begitu. Ketika dia bilang suka sama aku, aku bahkan sempat menuding dia sedang mempermainkan aku. Yang kemudian dia buktikan dengan cara dia sendiri. Cara yang cukup nekad sebenarnya. Cara yang seolah dia meletakan nyawanya di tangaku, cuma untuk membuktikan kalau dia gak main-main. Apalagi kalau bukan menemuin Kak Bima dan bilang kalau dia suka sama adiknya. Gila aja, Kak Bima dari luar aja udah galak gitu mau di tantang dengan bilang kalau dia suka sama aku. Ih… ngeri banget kalau ngebayanginnya. Di tampol udah kelar kayanya hidup Kak Bima. Belum lagi kalau hal itu sampai nyebar ke Kak Barli, Ayah, Kak Bastian, dan… Kak Baskara yang kalau untuk urusan aku gak pernah tanggung-tanggung seremnya. “Emang Dara ngapain kamu?” tanyanya. “Ada lah.” Jawabku ketus. “Kak Kaline juga tahu.” Kak Farran hanya menatapku dengan bibir terkatup rapat. Menghela napas. “Jadi aku harus tanya dulu sama Kaline padahal kamu disini bisa cerita?” tanyanya sok ngambek. Dari luar Kak Farran emang kaya cowok yang gak bakal bisa digapai. Karena meskipun dia ramah dan murah senyum dia tuh cowok yang kelihatan gak bakal suka uwu-uwuan, apalagi pura-pura ngambek kaya gini. Yang orang lain tahu Kak Farran itu baik dan serius dalam waktu yang bersamaan. Pokoknya cowok yang udah punya wibawa di umurnya yang baru... “Kamu tahun ini berapa tahun sih kak?” “18.” Jawabnya. Ya, dia cowok yang udah punya wibawa di umurnya yang ke 18. Padahal dia gak aktif di kegiatan kesiswaan, seperti OSIS, MPK, dan organisasi lain. Selain ekskul-ekskul serius kaya eksul Saint, matematika, dan computer. Emang ya, orang cerdas itu gak perlu membuktikan diri di tempat manapun kalau dia punya wibawa. Tanpa sadar aku tersenyum. Merasa bangga sendiri karena cowok luar biasa ini adalah pacarku. “Kenapa kamu senyum-senyum gitu?” Kak Farran menyadari senyum-senyum tak jelasku, dia pun ikut tersenyum. Duh… aku rasanya pengen larang dia sering-sering senyum kaya gitu deh. Lesung pipinya buat aku harus istigfar beberapa kali. “Enggak.” Kilahku. Masa aku bilang kalau aku bangga punya cowok keren kaya dia. Bisa-bisa dia makin besar kepala. Sepinter apapun, aku gak mau kalau Kak Farran jadi orang yang besar kepala. Orang lain gak suka cowok pinter yang sombong. Itu cuma akan buat Kak Farran malah kelihatan ngeselin daripada berwibawa. Jangan sampai pokoknya Kak Farran punya cela disana. Ayah juga gak bakal ngerestuin aku pacaran sama cowok yang sombong. “Kamu belum jawab pertanyaan aku lho.” Dia menagih. Aku tahu maksudnya adalah Kak Dara. “Yang mana?” “Dara ngapain kamu emang?” Aku memutar bola mata, pura-pura kesal. “Sepenasaran itu ya sama Kak Dara. Kenapa gak DM aja langsung? Gampang kan?” sindirku. Dia tertawa. “Kenapa aku harus DM dia kalau disini ada kamu yang bisa cerita.” Lagi-lagi itu yang dikatakannya. “Sana. Tanya aja sama Kak Dara. DM dia. Daripada scroll instagramnya terus, mending DM aja, ada alasan kan?” kataku sewot. Melewatinya begitu saja dan duduk lesehan di pojokan. Cowok itu mengikutiku. Alih-alih kesal karena aku menudingnya punya perasaan sama Kak Dara, dia malah tertawa. Dia duduk bersila di hadapanku. “Cemburu ya sama Dara?” Aku memutar bola mata. “Beneran nih aku tanya aja sama Dara apa yang dia lakuin sama kamu?” tanyanya terdengar seperti menantang. Aku mengangkat dagu balik menantangnya. “DM aja, PDKT juga sekalian.” “Oke.” Kak Farran menyanggupi. “Aku DM dia nih sekarang.” “DM aja.” “Aku DM nih.” Kak Farran menaik turunkan alisnya. Dia kayanya suka banget goda aku. “Langsung DM aja sih, susah banget.” Aku menarik smartphone dari tangan Kak Farran. Hendak mengetikan DM untuk Kak Dara olehku sendiri. Namun… Seketika aku diam melihat barisan huruf di ponsel tersebut. Kalau aku DM Dara itu artinya kita ngumumin kalau kita pacaran Aku menatap Kak Farran. “Kamu gak mau kan kalau Kak Bima tahu?” tanyanya. Entah kenapa tatapannya terlihat sedih. Dan aku merasa bersalah. Karena Kak Farran sebenarnya tak mau merahasiakan hubungan kami dari siapapun. Namun, dia akhirnya setuju karena situasiku yang sulit. “Aku lebih khawatir sama kamu Kak. Kak Bima orangnya serem.” Kak Farran tertawa. Mengacak-ngacak rambutku lalu mencubit pipiku gemas. “Jadi kamu khawatir aku diapa-apain Kak Bima?” “Iya lah.” Kak Farran menurunkan tangannya. Dia mencondongkan tubuhnya sehingga kepalanya sejajar dengan wajahku. Tatapanya melembut. Senyumnya juga mengembang. Aku gak pernah bisa kuat kalau lihat senyum semanis ini. Aku gugup. “Love you.” Aku nyaris berteriak. Dia kenapa sih manis banget. Aku tersenyum malu, pipiku memanas. Entah mungkin sudah semerah tomat sekarang. Kak Farran belajar ngombal dimana sih. Dua kata itu menang sederhana namun jatuh cinta buat aku ngerasa kalau yang dia ucapkan itu amat sangat mendebarkan. Tolong, aku gak tahu kecepatan jantungku berdebar saat ini berapa kali dalam satu menit. Ini gak aman. Tolong. Lalu Kak Farran mengambil tangan kananku. Menggenggamnya. Dia paling suka pegang tangaku. Katanya tanganku hangat, beda dengan tangannya yang selalu dingin dan berkeringat. “Tangan kamu imut-imut. Lucu. Aku suka.” Ujarnya sambil memperhatikan jari-jari tanganku yang pendek-pendek dan gemuk-gemuk. Dia yang bilang lucu, kalau aku sendiri seringnya gak percaya diri karena punya tangan dan tubuh yang berisi. “Aku insecure sebenernya pas kamu bilang tangan aku imut.” Kataku. “Emang imut kok.” Katanya. “Bilang aja tangan aku gemuk.” “Gemuk itu cuma ukuran, Chi.” “Gemuk itu bukan ukuran buat cewek, Kak.” Kataku mencoba mendebatnya. “Gemuk itu buat cewek kaya kiamat.” Kak Farran menghela napas. “Apapun yang kamu anggap tentang tubuh aku. Opini aku tentang itu gak bakal berubah. Baik atau enggaknya kamu kan bukan diukur dari kamu gemuk atau kurusnya. Kamu baik ya karena pikiran kamu baik. Kamu jahat yak arena emang isi kepala kamu penuh sama kejahatan semua. Bagi aku, di dunia ini gak ada yang lebih penting dari itu.” “Emang ya, karena kamu cowok aja makanya bilang gitu.” “Chi.” Panggilnya. Aku suka banget kalau Kak Farran udah manggil aku Chi. “Gemuk atau kurus kalau emang dasarnya dia nyenengin gak bakal ada tuh yang peduli. Ketika kamu temenan sama Haru pun bukan karena kamu nyari yang kurus dan dia nyari yang gemuk kan?” “Tuh kan, kamu juga bilang aku gemuk pada akhirnya.” Protesku. Aku emang kaya cewek lain yang sensitif banget terhadap masalah satu itu. Kak Farran terkekeh. “Emang yaa ribet cewek itu.” Komentarnya. Dia lalu melanjutkan apa yang sedang dia katakan sebelumnya. “Maksud aku tuh, cantik itu cuma standar yang entah dibikin sama siapa. Standar itu ada biar seragam. Dan kamu sendiri tahu kan kalau di dunia ini gak cuma dihuni satu ras aja. Dari mulai yang hidungnya mancung sampai yang tenggelam kaya kamu.” Kak Farran mencubit hidungku. Aku menghindar. Heran kenapa dia hobby banget nyubit-nyubit. “Dari mulai yang tinggi banget sampai yang pendek. Dari yang kulitnya terang sampai kulitnya gelap. Dan masih banyak banget perpedaan-perbedaan. Semua itu gak bisa di samain dengan standar apapun. Karena ya emang dari sananya udah diciptain beda-beda. Mau disama-samain juga gak bakal kecapai.” Aku diam. Ngobrol dengan orang jenius yang punya pemikiran sedalam Kak Farran emang beda. Kalau ngobrol sama Haru tentang hal ini aku pasti akan mendebatnya sengotot mungkin. Ketika ngobrol masalah ini dengan Kak Farran aku gak bisa berkata apa-apa. Cuma bisa dengerin satu demi satu kata yang keluar dari mulutnya. Dia menjelaskan pemahamannya tentang standar kecantikan yang sering aku, Haru, dan banyak cewek lainnya perdebatkan dengan sangat-sangat jelas. Senang sekali ada yang berpikiran seperti Kak Farran yang bicara tentang hal itu padaku. “Jadi…” Dia lalu tersenyum lagi. Cukup, jangan banyak-banyak senyum. “Gimanapun kamu sekarang. Sejelek apapun kamu pikir tentang diri kamu karena kamu gak bisa memenuhi standar orang lain, aku cuma minta tolong mulai saat ini pikirin apa yang aku bilang barusan ya.” Katanya. Dia memang punya cara tersendiri buat aku patuh. Gak perlu memaki, gak perlu bernada tinggi, gak perlu ngotot, gak perlu juga memaksakan. Dengan ucapannya yang lembut dengan nada rendah seperti itu buat aku mengangguk seketika itu juga. “Aku beruntung disukai sama kamu Kak.” Kataku. Kalau aku denger di sinetron aku biasanya mencak-mencak dan bilang norak kalimat itu. “Aku juga beruntung.” Katanya. ”Huekk…” Tiba-tiba saja suara muntah terdengar. Aku dan Kak Farran seketika waspada dan menoleh ke samping bersamaan. “Aku juga beruntung.” Ledek Kak Jonathan dengan suara yang di buat amat sangat ngeselin kalau didenger. Kak Kaline yang berdiri disampingnya merangkul Jonathan. “Beruntung banget gue punya lo, Jo.” Untung mereka berdua yang melihat hal itu. “Iri bilang bos.” Sindir Kak Farran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN