Malam Pertama
"Bagaimana apa dia sudah mati?"
"Mobilnya terbakar dan masuk ke jurang yang cukup dalam Pak."
"Baguslah, tapi kalian harus pastikan kalau Danish sudah mati. Aku tidak ingin ada yang menghalangi jalanku," ucap Rendra tidak memiliki rasa empati.
"Pak, bagaimana dengan Nona Kinaya?" tanya Afdal kaki tangan Rendra.
"Kinaya tetap akan jadi istriku, dia hanya perlu tahu kalau ayahnya kabur sebab perusahaan mereka bangkrut." Rendra tertawa begitu bahagia.
"Pak, istri dari Danish sudah mendapat telpon dari polisi baru saja."
Rendra menggebrak meja kerjanya mendengar berita terbaru dari Afdal.
"Cari wanita tua itu, jangan sampai dia memberitahu Kinaya apa yang terjadi. Pernikahanku boleh di undur, tapi tidak boleh untuk gagal."
"Baik Pak," jawab Afdal langsung pergi dari ruang kerja Rendra.
Siapapun yang melihat Rendra tidak akan percaya dengan semua yang pria itu lakukan. Wajah lembut dan pribadi yang sopan, hanyalah topeng untuk menutupi betapa serakah dirinya.
Sementara di tempat lain, seorang CEO yang rupawan sedang sangat bahagia karena pencapaiannya berhasil membuka cabang perusahaan di Thailand. Peresmian itu di hadiri oleh semua pemegang saham dan juga keluarganya.
Tepuk tangan dari berbagai orang terhormat membuat dia semakin bangga dengan apa yang dia lakukan selama ini. Namanya Reikhan Maldyni, wajahnya yang tersenyum berubah ketika orang kepercayaannya memberitahu berita penting.
"Danish Van den Bosch, mengalami kecelakaan dan sekarang ada di Rumah Sakit dekat tempat kejadian."
"Kau yakin itu dia?"
"Ini fotonya," jawab Kevin menunjukkan foto yang ada di gawainya. "Aku menerima informasi dari orang yang bisa di percaya."
"Keluarkan dia dari rumah sakit itu dan bawa ke Rumah Sakit Maldyni Center." Kevin mengangguk paham lalu menelpon orang suruhannya. "Kev, pastikan tidak ada berita apapun tentangnya, tutup mulut mereka yang mengetahui berita ini."
"Baik Rei," jawab Kevin yang mengerti maksud atasannya tersebut. Danish adalah saingan bisnis yang berhasil Reikhan kalahkan. Sekarang nasib pria itu juga ternyata ada di tangan Reikhan. Sungguh keberuntungan yang luar biasa.
***
Satu Minggu berlalu....
Entah sudah berapa kali wanita dengan mata sembab itu menghabiskan cairan alkohol yang di tuangkan ke dalam gelas. "Nay, aku mau pulang nih." Wanita bernama Dira membujuk temannya itu untuk pulang.
"Kalau mau pulang ya silakan," jawab Kinaya dengan senyum yang di buat-buat. Wanita itu jelas sudah mabuk. Dira prihatin melihat Kinaya seperti ini setelah ibunya meninggal. Ya, hari ini tepat satu minggu ibu sahabatnya itu meninggal.
"Sofi, aku harus pulang sekarang." Dira kembali mengajak salah satu temannya juga. Mereka bertiga datang ke sebuah Klub malam memang untuk menemani Kinaya.
Awalnya Kinaya memang hanya ingin menghilangkan penat. Ayahnya pergi setelah mengalami kebangkrutan, dan sekarang satu Minggu sebelum hari pernikahannya, ibunya meninggal dunia.
"Guys maaf, aku harus balik. Suamiku udah sampai di rumah." Dira mengecup pipi Sofia dan melambaikan tangan kepada Kinaya.
"Kita balik juga gak Nay?" tanya Sofia melirik Kinaya yang masih terus minum padahal wajah wanita itu sudah Semerah tomat akibat menahan rasa mual.
Tiba-tiba dua orang pria datang meminta untuk bergabung di meja mereka. "Bolehkah kami duduk bersama kalian? Meja yang lain sudah penuh."
"Boleh," jawab Sofia sementara Kinaya hanya diam. Dua orang pria tampan yang sudah duduk di meja yang sama dengan Kinaya itu terlihat ingin memperkenalkan diri mereka.
"Jika kau ingin memperkenalkan dirimu, ayo ikutlah denganku." Kinaya tiba-tiba saja menarik lengan salah satu dari pria itu menuju ke lantai dansa.
"Kinaya i***t," umpat Sofia kesal kepada sahabatnya itu. Bagaimana Sofia tidak kesal, besok adalah hari pernikahan Kinaya, tetapi sahabatnya tersebut masih sempat ingin berduaan dengan pria lain.
Di lantai dansa Kinaya tersenyum manis kepada pria di depannya. "Hai aku Kinaya," kata Kinaya lalu dia mengalungkan ke dua lengan di leher pria itu. "Tidak ada yang marah bukan?"
"Tidak. Hanya saja aku takut kau menyesal." Pria itu tersenyum seadanya.
"Kenapa begitu? Siapa namamu?"
"Kau boleh mengingatku dengan sebutan apapun."
"Hem...menarik. Kenapa berkata seperti itu?" Mereka terus mengobrol di lantai dansa itu. Pandangan Kinaya sedikit buram akibat pengaruh alkohol, tetapi dia tahu jelas kalau pria di hadapannya mungkin tingginya mencapai 190 centi meter.
"Karena aku tidak akan lama berada di kota ini."
"Oh...baiklah baiklah." Kinaya tertawa kemudian tiba-tiba memeluk pria tersebut. "Karena kau tidak lama di sini, aku ingin bercerita. Boleh?" tanya Kinaya dengan nada manja miliknya.
"Hei Mr. Spiderminee kenapa diam saja?" Kinaya mendengak untuk melihat wajah si pria tampan yang malam ini dia artikan sangat kuat dan juga miliknya. Itu sebabnya dia memanggil dengan sebutan Mr. Spiderminee.
"Baiklah karena kau sudah meng-klaim aku milikmu. Silakan lakukan apa saja dan katakan apa saja kepadaku."
Kinaya tertawa lucu kemudian mereka berdua hening. Hanya suara musik yang berdentum hebat, mereka berdua berpelukan dibawah lampu kerlap-kerlip malam.
"Satu minggu yang lalu ibuku meninggal dunia." Pria itu mendengar Kinaya terisak. Tubuhnya bergetar saat Kinaya menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke bagian d**a bidang yang ia miliki. "Setelah pemakaman ibu, aku meminta Rendra memundurkan tanggal pernikahan kami, tetapi dia berkata tidak bisa. Katanya, ibu hanya akan membuat keluarganya malu. Aku pikir dia akan mengerti bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, tetapi dia malah menyalahkan ku dan berkata aku tidak serius dan aku egois."
"Jadi itu sebabnya kamu mabuk-mabuk malam ini?" Kinaya baru ingin menjawab, tapi dia menutup mulutnya karena ingin muntah. Saat itu juga Kinaya berlari menuju toilet. Refleks pria yang menemaninya sedari tadi juga mengikuti Kinaya.
Tidak perduli toilet wanita yang Kinaya masuki, dia siaga membantu memegang rambut panjang dan ikal milik Kinaya saat wanita itu memuntahkan isi perutnya.
Kinaya bernapas lega dan tersenyum kepada pria di hadapannya saat ini. Dia tersenyum, menelusuri wajah tampan Mr. Spiderminee dengan jemari lentiknya. "Astaga kau sangat tampan." Kinaya mendekatkan wajahnya perlahan dan kemudian memejamkan mata untuk menyambut benda kenyal yang sudah menempel pada bibirnya saat ini.
Ciuman lembut dan manis itu berubah menjadi menggebu saat Kinaya menarik tubuh Mr. Spiderminee lebih dekat kepadanya. Tidak ingin jadi bahan tontonan gratis, mereka berdua masuk ke dalam bilik toilet dan mengunci pintu itu rapat-rapat. Kini Kinaya duduk di atas pangkuan pria itu dan tangan nakal si pria sudah menjelajahi tubuhnya. Menarik lepas resleting crop top yang Kinaya gunakan malam itu.
Kinaya yang menggebu memberikan tanda kemerahan di leher pria itu, setelahnya si pria itu memilih untuk menggigit bibir penuh milik Kinaya.
Mr. Spiderminee menggeram ketika Kinaya bergerak-gerak di atasnya. Dia mencoba menahan hasratnya lebih jauh karena tidak ingin wanita yang dia lihat sempurna untuknya saat ini merasa menyesal. Dia tahu Kinaya sedang dalam pengaruh alkohol, dan sebenarnya dia juga sama.
Tadi dia dan Kevin temannya, duduk bersama lima orang lainnya. Mereka bermain permainan konyol yang menyebabkan dia dan Kevin harus merayu dua wanita yang duduk berjauhan dengan mereka. Lalu, dia berhasil dengan mudah entah dengan Kevin di meja sana.
Dia harap wanita yang sedang menunggunya tidak mengetahui apa yang sudah dia lakukan malam ini,
Dia mengecup hidung mancung milik Kinaya "Namaku Reikhan," bisiknya di telinga Kinaya. Lalu ganti memberikan tanda kemerahan di pundak, dan leher Kinaya.
"HEI APA ADA ORANG DI DALAM?"
Kinaya terkejut, Reikhan menahan pundak Kinaya dan mengisyaratkan agar tenang.
Mereka berdua diam saja bahkan Kinaya menahan napasnya membuat Reikhan gemas dengan wanita itu. Entah pergi ke mana wanita nakal yang menggodanya tadi.
Setelah beberapa menit tidak ada lagi yang memanggil, Kinaya bergerak cepat memakai lagi pakaian yang tadi di lepas Reikhan sambil menggigit bibir bawahnya.
Sementara Mr. Spiderminee itu hanya diam memperhatikan semua yang Kinaya lakukan.
Bahkan sampai Kinaya beranjak dari pangkuannya dan pergi dari toilet itu. Reikhan tersenyum konyol dengan apa yang terjadi kepadanya malam itu.
Reikhan yang tahu Kinaya pergi darinya juga keluar dari toilet melihat keberadaan wanita itu di meja tempat mereka bertemu tadi. "Hei kau dari mana saja?" tanya Kevin tapi Reikhan tidak menjawabnya.
"Wanita yang tadi duduk di sini pergi ke mana?"
"Oh...mereka sudah pulang, baru saja berpamitan." Reikhan duduk di kursi tempat dia duduk tadi. "Astaga Rei, baru sebentar kau pergi dengan wanita itu, kenapa sampai sudah melakukan hubungan yang jauh?" tanya Kevin kesal sebab jelas terlihat tanda merah di leher Reikhan.
Reikhan tidak menjawabnya, pria itu lebih memilih diam sambil melihat hasil foto yang diam-diam dia ambil tadi.
Mereka kembali ke meja di mana tiga orang teman mereka menunggu.
Dengan bangganya Reikhan menunjukkan foto wanita yang sedang mabuk dan mencumbunya.
"Bukankah itu Kinaya?" tanya Doni, teman Demian yang mengajak mereka semua untuk berpesta di klub itu.
"Kau kenal dia?" tanya Reikhan lalu duduk sambil menghabiskan alkohol dari gelasnya.
"Dia calon istri Rendra. Besok mereka akan menikah," jawab Demian pria yang juga mengenal Kinaya.
"Astaga Rei, kau sudah membuat kekacauan. Meski aku tidak menyukai Rendra," jawab Demian dan kemudian tertawa. Reikhan tidak lagi ikut mengobrol dengan teman-temannya, dia jadi terus memikirkan Kinaya.
"Demian apa kau di undang ke acara pernikahan Rendra temanmu itu?"
"Tentu saja. Kenapa?"
"Bawa aku bersamamu besok!"
Bersambung...
**Bagaimana ya kalau Kinaya kembali berjumpa dengan Mr. Spiderminee nya ini?