1. Gaun Putih dan Lingerie Merah
"Hari ini aku memakai gaun pengantin tercantik, hanya untuk menyaksikan pria yang kupuja mencium wanita lain dengan jubah tidur merah menyala."
***
Cermin besar di hadapan Kinaya memantulkan sosok yang hampir tidak di kenalinya sendiri. Gaun pengantin satin berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, dengan detail brokat halus yang dipasang manual di sepanjang lengan dan d**a.
Ketika rok gaunnya yang bervolume menyapu lantai, Kinaya tidak bisa menahan senyum tipis yang perlahan merekah menjadi tawa bahagia yang membuncah.
Hari ini adalah hari fiting baju pengantinnya. Hari yang selama ini hanya ada di dalam angan-angannya.
Dengan hati-hati agar tidak menginjak ujung gaun, Kinaya melangkah mendekati tirai beludru berat yang memisahkan ruang ganti dengan area tunggu.
Dengan satu sentuhan lembut dari pramuniaga butik, tirai itu terbuka, memperlihatkan sosok pria yang sedang duduk di sofa sembari menatap layar ponselnya.
"Rendra," panggil Kinaya lembut.
Rendra mendongak. Untuk sesaat, pria itu terpaku. Ponsel di tangannya perlahan diturunkan saat matanya menyusuri penampilan Kinaya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan kagum itu membuat pipi Kinaya merona merah.
"Bagaimana? Bagus, kan?" tanya Kinaya, berputar pelan untuk memamerkan keindahan gaunnya.
Rendra berdiri dari sofa, melangkah mendekat dengan senyum hangat yang selalu berhasil menenangkan Kinaya. "Kamu... luar biasa cantik, Nay. Sampai aku bingung harus berkata apa."
Mendengar pujian itu, kebahagiaan Kinaya rasanya membubung tinggi.
Hubungan mereka sudah berjalan bertahun-tahun. Melewati masa pacaran yang panjang hingga akhirnya bulan lalu mereka resmi menggelar acara pertunangan yang mewah. Langkah ini, pernikahan ini, adalah akhir manis yang selalu dinantikannya.
Bagi Kinaya, Rendra bukan sekadar kekasih. Pria itu adalah jangkar, tempatnya bersandar, dan penyelamat dari segala badai yang melelahkan di kantor. Sebagai putri tunggal dari Danish Van den Bosch, seorang pengusaha ternama yang gurita bisnisnya menggenggam separuh pasar nasional, hidup Kinaya tidak pernah benar-benar miliknya sendiri.
Sejak kecil, Kinaya dipaksa untuk menjadi perfeksionis. Tidak boleh ada ruang untuk kesalahan. Setiap langkah, keputusan bisnis, bahkan gerak-gerik pribadinya selalu berada di bawah sorotan tajam kamera media.
Berada di posisi calon pewaris takhta perusahaan sebesar Van den Bosch Group mendatangkan tekanan yang terkadang membuat Kinaya merasa tercekik.
Namun, keberadaan Rendra mengubah segalanya. Rendra adalah satu-satunya orang yang selalu bisa ia andalkan untuk berdiskusi tentang kerumitan perusahaan yang kelak akan dipimpinnya.
Di saat dunia luar menuntut Kinaya menjadi sosok pemimpin yang dingin dan tanpa cela, di depan Rendra, ia bisa menjadi Kinaya yang rapuh, yang butuh didengar. Rendra selalu setia menemaninya, memberikan perspektif logis dan dukungan tanpa syarat.
"Aku tidak tahu apa jadinya aku di perusahaan tanpa kamu, Ren," bisik Kinaya tiba-tiba, menatap refleksi mereka berdua di cermin. Rendra kini berdiri tepat di belakangnya, menyandarkan dagu di bahu Kinaya.
"Kamu itu hebat, Nay. Tanpa aku pun, kamu pasti bisa. Aku hanya pelengkap yang bertugas memastikan kamu tidak lupa caranya tersenyum," balas Rendra lembut sembari menggenggam jemari Kinaya.
Kinaya tersenyum getir jika mengingat perjuangan mereka hingga bisa berada di titik ini. Mendapatkan restu dari sang Papa bukanlah perkara mudah. Danish Van den Bosch, dengan segala ketegasan dan sifat protektifnya, awalnya menentang keras pilihan Kinaya.
Bagi Danish, Rendra belum cukup matang untuk mendampingi putrinya yang akan memegang kendali dinasti bisnis mereka.
Namun, keteguhan hati mereka, kesetiaan Rendra yang teruji waktu, serta pembuktian demi pembuktian akhirnya meruntuhkan tembok keras di hati sang Papa. Restu yang sempat mustahil itu kini sudah di tangan.
Kinaya memejamkan mata sejenak, menghirup aroma parfum Rendra yang familier.
Di dalam balutan gaun pengantin ini, di samping pria yang mencintainya, Kinaya merasa siap menghadapi dunia luar yang kejam. Masa depannya terasa begitu cerah, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Kinaya merasa benar-benar aman.
Kebahagiaan yang baru saja membubung tinggi itu mendadak menguap tanpa sisa, menyisakan firasat aneh saat Rendra pamit keluar butik sebentar untuk menerima telepon. Kinaya, yang berniat mengejutkan kekasihnya dengan masih mengenakan gaun pengantin tersebut, melangkah pelan menuju pintu kaca butik yang sedikit terbuka.
Namun, langkahnya terhenti. Suara Rendra terdengar dari balik pilar. Nada bicaranya begitu lembut, jenis nada suara yang sangat familier di telinga Kinaya, tetapi kalimat yang meluncur berikutnya justru seperti pisau tajam yang menghujam jantungnya.
"Iya sayang, sebentar lagi aku ke apartemen kamu ya. Kamu rindu ya?"
Kinaya membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Sayang? Siapa?
"Tenang saja," Rendra terkekeh, suara tawa yang biasanya terdengar merdu kini terdengar begitu culas di telinga Kinaya. "Danish Van den Bosch itu tidak lagi sibuk mengurusi pergerakanku. Dia sedang sibuk memikirkan bisnisnya yang akan bangkrut, sementara pewarisnya yang manja sedang terlena dengan angan-angan pernikahan denganku."
Dunia seolah runtuh menimpa pundak Kinaya. Lututnya melemas, untungnya dia sempat berpegangan pada gagang pintu butik itu. Pria yang dipujanya, pria yang dia anggap sebagai jangkar dan penyelamat di tengah badai, baru saja menyebut ayahnya dengan nama lengkap tanpa rasa hormat, dan menyebut dirinya... pewaris manja yang terlena?
Belum sempat Kinaya mencerna rasa sakit itu, suara Rendra kembali terdengar, mengoyak sisa-sisa hatinya yang hancur.
"Sabar ya, sayang. Kamu pakai lingerie merah, yang semalam kita beli itu ya sambut aku."
Darah Kinaya mendidih. Rasa sedih sesaat berganti menjadi amarah yang membakar. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih. Dia sudah mengambil langkah maju, berniat menerjang keluar, merobek gaun pengantin sialan ini, dan menampar wajah munafik Rendra di depan umum.
Namun, tepat sebelum tangannya mendorong pintu, sebuah pikiran menyergapnya seperti air es.
Perusahaan.
Kinaya teringat satu hal yang krusial. Kondisi Van den Bosch Group belakangan ini memang sedang tidak baik-baik saja. Laporan keuangan tidak stabil, dan beberapa proyek besar sedang tersendat. Jika saat ini dia bertindak gegabah dengan langsung memutuskan hubungan, Rendra—yang memegang banyak rahasia internal karena sering diajak berdiskusi—pasti bisa dengan mudah memanipulasi informasi. Pria itu bisa menghancurkan namanya dan nama Papanya dalam semalam. Jika skandal pribadi berbaur dengan krisis perusahaan, saham Van den Bosch Group akan terjun bebas menuju kehancuran total.
Kinaya menarik napas dalam-dalam, memaksa logikanya bekerja di atas rasa sakit. Dia tidak boleh kalah sekarang.
Dengan langkah gemetar namun pasti, Kinaya berbalik. Dia masuk kembali ke dalam butik dan langsung menuju toilet. Di dalam ruangan tertutup itu, dia mencengkeram wastafel, menatap wajahnya di cermin yang kini pucat pasi. Air mata sempat menggenang, namun dengan cepat dia menyekanya. Dia mengatur napas, meredam debaran jantungnya yang menggila, dan mengunci seluruh rasa sakitnya rapat-rapat. Dia harus memakai topengnya sendiri sekarang.
Beberapa menit kemudian, Kinaya keluar dari toilet dengan wajah tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Rendra sudah kembali ke dalam butik, tampak rapi dan tersenyum manis seolah dia adalah pria paling setia di dunia.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Rendra, melangkah mendekat.
"Ya, sudah," jawab Kinaya, suaranya terdengar luar biasa datar, meski Rendra tampaknya terlalu abai untuk menyadarinya. "Kenapa? Kamu buru-buru?"
"Iya, barusan Mama telepon," Rendra memasang wajah menyesal yang sangat meyakinkan. "Dia minta aku anterin ke butik tempat Mama jahit pakaian untuk acara resepsi kita."
Kinaya benci menyadari betapa lancarnya pria ini berbohong. Mama? Atau jalang berbaju merahmu? batin Kinaya menjerit. namun yang keluar dari bibirnya adalah, "Oh... oke. Mau aku temani?"
"Tidak perlu, sayang. Kamu istirahat saja atau ke spa. Kamu kan harus istirahat," ujar Rendra lembut, bahkan sempat mengecup kening Kinaya. Kecupan yang kini terasa seperti racun yang membakar kulitnya.
Kinaya mengangguk, berpura-pura setuju dengan senyum palsu terbaiknya.
Setelah Rendra mengantarkannya pulang ke rumah, Kinaya tidak lantas masuk ke dalam. Begitu mobil Rendra keluar dari gerbang, Kinaya langsung bergegas menuju jalan raya dan mencegat sebuah taksi.
"Ikuti mobil hitam di depan itu, Pak. Jangan sampai kehilangan jejak, tapi jangan terlalu dekat," perintah Kinaya dingin.
Taksi itu membelah jalanan kota, membuntuti mobil Rendra hingga akhirnya berhenti di sebuah gedung apartemen. Jantung Kinaya berdesir tajam saat mengenali gedung itu. Itu adalah kompleks apartemen yang disediakan perusahaan untuk beberapa staf Van den Bosch Group.
"Pengkhianat ini memelihara selingkuhannya di fasilitas milik keluarga ku?" Rasa muak Kinaya sudah mencapai ubun-ubun.
Rendra turun dari mobil dengan langkah terburu-buru, tampak begitu tidak sabar untuk menemui selingkuhannya hingga sama sekali tidak menyadari keberadaan taksi Kinaya yang berhenti agak jauh di belakang.
Kinaya turun dari taksi setelah membayar, lalu melangkah perlahan ke dalam lobi, menyelinap di antara pilar dan koridor lantai yang dituju Rendra. Dari balik belokan tembok koridor yang sepi, Kinaya mengintip.
Pintu salah satu kamar apartemen terbuka.
Seorang wanita berdiri di sana, mengenakan jubah tidur satin berwarna merah menyala yang kontras dengan kulitnya. Belum sempat wanita itu berucap, Rendra sudah maju, merengkuh pinggangnya, dan langsung mencium bibir wanita itu dengan penuh gairah di ambang pintu.
Kinaya menyaksikan pemandangan itu dengan mata kepala sendiri. Tepat di depan matanya, seluruh ilusi tentang pernikahan impian dan pria penyelamat itu hancur berkeping-keping. Namun, di balik rasa sakit yang mengoyak dadanya, sepasang mata Kinaya kini menatap tajam, sedingin es.
Kalian sudah salah memilih lawan, bisik Kinaya dalam hati, bersumpah akan membalas setiap tetes air mata yang tertahan hari ini dengan kehancuran mereka berdua.
Sambil masuk ke dalam taksi, Kinaya menelpon Asisten pribadinya.
"Don, beritahu seburuk apa kondisi perusahaan. Dan apa yang terjadi."
["Nona, bukankah anda bilang ingin cuti dua bulan ini karena ingin mengurus pernikahan anda."]
"Beritahu saja pada ku. Kita bertemu di restoran hotel sky."
Kinaya pergi menemui asisten pribadinya itu. Mencari tahu apa yang sebenarnya sedang di hadapi papanya dia bulan ini.
Kinaya menutup mulutnya tidak percaya kalau perusahaan yang ayahnya bangun bangkrut.
"Semua ada campur tangan Reikhan Maldyni, Nona."
"Cari tahu tentang anak emas Maldyni itu. Aku akan cari cara membalasnya."
"Yang saya tahu dan dengar, dia sering pergi ke klub malam dekat dengan gedung apartemennya."
"Baiklah kalau begitu."