Fachri meneguk ludah. Memang selama ini ia sudah merasakan bagaimana nikmatnya percintaan dengan Arin. Akan tetapi, saat ini ia merasakan gelenyar aneh yang menyesakkan dadanya. Gelenyar aneh yang membuat bagian tubuhnya di bawah sana menggeliat dan mengeras sempurna. Rasa itu semakin menjadi-jadi saja. Saat Arin bersimpuh di hadapannya. Dengan gerakan perlahan membuka celana bahan hitam yang ia kenakan, bersamaan dengan celana dalam yang masih mengurung bagian inti tubuhnya di bawah sana. Kini yang meneguk ludah bukan Fachri saja. Arin pun sama. Dengan jelas kini ia melihat betapa besar dan panjangnya yang dimiliki Fachri. Pantas saja ia merasa sakit, penuh, dan sesak saat dimasuki. Saat penyatuan diantara mereka semakin dalam dan cepat. Arin menggeleng. Menepis gelenyar aneh yang m

