Pusing dengan pekerjaan yang tidak pernah habis, Fachri lebih pusing lagi memikirkan masalah Aisya, yang kini merembet jauh kemana-mana. Dua bulan sudah berlalu dari kejadian malam itu, Aisya jadi pendiam dan murung. Tidak banyak bicara dan suka mengurung diri di kamar. Sebagai kakak, melihat perubahan Aisya seperti itu, tentu saja ikut membuat Arin kepikiran. Meskipun masih sakit hati, tetap saja hubungan darah diantara mereka berdua, membuat ia tidak bisa acuh begitu saja. Arin ikut terpukul dengan perubahan Aisya. Ikut merasakan sakit saat berpapasan dengan sang adik, yang hari ke hari kondisinya semakin buruk saja. Dan itu semua membuat Arin tampak seperti orang yang kebingungan. Ia harus berjibaku dengan praktek dan masalah Aisya. Harus menjalankan tugasnya sebagai ibu dan ist

