AMANDA memandang hasil testpack yang dipegangnya dengan wajah pucat. Jantungnya berdebar tak karuan setelah alat pendeteksi kehamilan itu menunjukkan dua garis yang artinya ia positif hamil. “Ya Tuhan…” Tubuh Amanda limbung karena terlalu syok. Sementara tangannya berangsur gemetar hingga membuat testpack yang dipegangnya jatuh ke lantai kamar mandi. “Tidak mungkin! A-aku harus bilang apa pada Victor kalau pulang nanti?” Amanda menjambak rambut frustasi, tubuhnya ia sandarkan ke dinding. “Hiks… Ya Tuhan, kenapa nasibku seperti ini?” Tubuh Amanda ambruk terkulai lemas di lantai kamar mandi. Tatapan matanya melambangkan keputusasaan, sementara tangan kanannya mengelus perutnya yang masih rata. Setelah lama terjebak dalam pikiran, Amanda memutuskan keluar dari kamar mandi. Perempuan itu m

