O T T O

819 Kata
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ "Aaaa ... satu lagi, Raefal." Zea menyodorkan satu sendok bubur di hadapan mulut Raefal, namun Raefal hanya menggelengkan kepalanya seraya menutup mulutnya rapat-rapat. "Ngga mau, Ze ... Gue udah kenyang." Sahut Raefal dengan suara yang sedikit sumbang. "Udah kenyang gimana, sih? Kamu baru makan empat sendok. Kasihan tante Ratna udah capek-capek buatin kamu bubur,  tapi kamu ngga mau makan." Zea menundukkan wajahnya, ia sedih karena Raefal tidak mau menghabiskan buburnya, padahal Ratna sudah membuatkan bubur itu untuk Raefal. Raefal yang sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjangnya itu akhirnya mengangkat dagu Zea, agar Zea kembali menatapnya dan tidak menunduk lagi. Raefal tidak suka melihat Zea menunduk seperti itu. "Gue bukannya ngga mau makan bubur itu, tapi gue mual, Ze." Raefal berucap selembut mungkin. Zea menghembuskan napasnya, "Makanya kamu tuh jangan latihan basket sampai malam terus. Badan kamu capek, butuh istirahat juga. Aku ngga mau kamu kenapa-napa, Raefal..." Zea berucap dengan sedih. Ia benar-benar tidak ingin melihat Raefal sakit seperti ini. "Iya, sorry. Gue ngga bakal latihan sampai malam lagi. Janji." Raefal menyodorkan satu jari kelingkingnya kepada Zea. Namun, Zea hanya menatap jari kelingking Raefal, membuat Raefal mengernyitkan wajahnya bingung. "Ngga mau terima janji gue?" Tanya Raefal. Zeapun akhirnya mengangkat jari kelingkingnya juga dan ia segera menyatukannya dengan jari kelingking Raefal, "Kalau kamu ingkar janji, beliin aku cokelat segudang!" Ucap Zea yang terdengar seperti sebuah ancaman. Raefal tertawa mendengar kalimat yang diucapkan oleh Zea, "Siap, ibu negara!" Raefal mengangkat tangannya dan memberi hormat kepada Zea. Zea terkekeh pelan, "Jangan sakit lagi, ya?" Raefal mengangguk, lalu ia menepuk sisi ranjangnya dan menggeser sedikit tubuhnya, memberikan tempat untuk Zea duduk di sampingnya. "Sini!" Seru Raefal. Dengan senang hati Zea langsung mengangguk dan segera mendaratkan bokongnya di samping Raefal. Setelah berhasil duduk di samping Raefal, Zea menyandarkan kepalanya pada d**a bidang milik Raefal. Hal itu ternyata membuat Raefal terkejut selama beberapa saat. Namun di detik berikutnya, Raefal tersenyum hangat dan mengelus surai cokelat Zea dengan lembut. "Lo dengar sesuatu ngga?" Tanya Raefal, masih dengan posisi Zea yang bersandar di atas dadanya. "Dengar. Detak jantung Raefal kenapa cepat banget ya?" Zea semakin mendekatkan telinganya pada d**a Raefal. Tawa Raefal kembali pecah dan ia mencubit pipi Zea dengan sangat gemas, "Coba lo pegang d**a lo juga. Detak jantungnya secepat gue atau ngga?" Tanya Raefal lagi. Zea menurut dan ia langsung memegang dadanya. Lalu Zea mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan. "Wah iya! Detak jantung Zea juga cepat banget." Zea berucap takjub, seolah ia telah menemukan sesuatu yang begitu berharga. Zea mengangkat kepalanya dari d**a Raefal, kemudian ia menatap Raefal sambil menyipitkan kedua matanya. "Jangan-jangan ..." Zea menggantungkan kalimatnya membuat Raefal mengangkat sebelah alisnya. "Jangan-jangan apa?" Tanya Raefal heran. "Kita ... kita p-punya penyakit jantung?!" Kemudian Zea berteriak histeris dan Raefal kembali memecahkan tawanya melihat kepolosan yang dimiliki oleh Zea. "HUWAA! MAMA, ZEA SAKIT JANTUNG!" "ZEA NGGA MAU MENINGGAL DULU. DOSA ZEA MASIH BANYAK!" "ZEA MAU NIKAH SAMA RAEFAL, JANGAN AMBIL NYAWA ZEA DULU, YA ALLAH!" *** Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Zea sudah pulang sejak pukul lima sore tadi. Raefal kini tengah berdiri di atas balkon kamarnya sambil menikmati angin malam yang cukup dingin menyentuh lembut kulit putihnya. Bintang-bintang malam ini bersinar sangat terang membuat Raefal tidak berhenti untuk tersenyum. Raefal menatap bintang-bintang tersebut dengan kagum. Bintang-bintang di langit malam ini terlihat begitu indah dan cantik. Hal itu tentu saja membuat Raefal enggan mengalihkan perhatiannya dari bintang-bintang tersebut. "Selamat malam, Bunda!" Raefal berucap sambil menatap satu bintang yang paling terang, hal yang sudah menjadi kebiasaannya. "Bunda ... Raefal mau cerita sama Bunda. Boleh kan?" Raefal bertanya pada bintang itu, walaupun Raefal tahu ia tidak akan pernah mendapatkan jawaban. "Raefal mau cerita tentang dia, Bunda. Dia yang dengan lucunya meminta Raefal untuk berteman saat hari pertama Raefal masuk ke sekolah, Bunda." Raefal masih tersenyum menatap bintang itu. "Dia ... dia orang yang sangat ceria, Bunda. Dia cantik seperti Bunda. Dan yang pasti dia selalu bisa menghibur Raefal, Bunda ..." Raefal menarik dalam-dalam napasnya. "Zea Nayara. Itu nama dia, Bunda. Bunda izinin Raefal kan, kalau Raefal ingin memiliki dia?" Raefal terkekeh sendiri mendengar ucapannya. "Yaudah deh, pokoknya di surga sana jangan lupa doain Raefal ya, Bunda. Doain Raefal supaya bisa menjaga Zea dengan baik. Raefal sayang Zea, Bunda." Raefal tersenyum lebar. Namun, senyum itu tak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian, senyum itu sudah hilang digantikan dengan wajah yang mendung, seakan hujan akan turun begitu deras di wajahnya. "Bunda ... Raefal rindu a-ayah ..." Satu tetes air matanya lolos begitu saja. "Maafin Raefal, Bunda. Sepertinya Raefal akan ingkari janji Raefal. Raefal mau mencari ayah, Bunda. Raefal mau bertemu dengan ayah. Raefal rindu ayah, Bunda ... " Raefal kini sudah terisak, pipinya sudah basah dibanjiri oleh air mata. Dan tiba-tiba saja sebuah usapan lembut terasa begitu hangat di bahunya. Raefal menoleh dan menemukan Ratna di sana yang sedang menampilkan sebuah senyum sendu. "Kangen, Bunda?" Tanya Ratna yang sudah membawa Raefal ke dalam dekapannya. Raefal mengangguk dengan pelan, "Kangen a-ayah juga ... " Ucap Raefal dengan parau. Ratna semakin mengeratkan pelukannya pada Raefal sambil mengusap punggung Raefal dengan lembut. Dan tanpa Raefal tahu, dalam hati Ratna terus mengucapkan beribu kata maaf dan kini air mata Ratna juga sudah mengalir dengan deras. "Raefal ingin mencari ayah, Ma ... " ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN