SELAMAT MEMBACA!
☆☆☆
"SMA CAKRAWALA, SMA KEBANGGAANKU! KU YAKIN, HARI INI PASTI MENANG!" Suara nyanyian dari para pendukung SMA Cakrawala terus berkumandang di dalam stadion saat ini. Mereka semua begitu semangat menyanyikan lagu tersebut.
Mereka semua berlomba-lomba untuk mendoakan dan mendukung para pemain yang saat ini sedang bertanding di hadapan mereka.
Hari ini babak final. Yap, tentu saja SMA Cakrawala berhasil melaju ke babak final. Setelah dua minggu belakangan ini, mereka bertanding dan menyingkirkan lawan-lawannya yang sangat sulit. Tetapi, semangat dari tim basket SMA Cakrawala begitu menggelora dan mereka semua melakukan permainannya dengan sungguh-sungguh.
Mereka semua percaya bahwa; hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Dan mereka semua berhasil membuktikan bahwa kalimat tersebut memang benar adanya.
Buktinya, kini mereka sudah mencapai babak final dan akan bertanding melawan SMA Cemerlang yang sudah menjadi juara bertahan selama dua tahun berturut-turut.
Namun, mereka semua tidak goyah. Mereka semua tetap berusaha dan semangat. Mereka semua yakin, bahwa mereka pasti akan memenangkan pertandingan kali ini dan membawa SMA Cakrawala menjadi juara.
Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, pertandingan babak final kali ini berlangsung sangat ketat.
Score sementara saat ini adalah 48-49 untuk keunggulan SMA Cemerlang. Penonton dan pendukung SMA Cakrawala tentu saja dibuat tegang oleh score tersebut.
SMA Cakrawala tertinggal satu angka dan waktu berakhirnya pertandingan ini sebentar lagi akan selesai. Di detik-detik yang menegangkan seperti itu, Raefal menjadi sang pahlawan karena berhasil merebut bola dari sang lawan.
Raefal terus mendribble bola basket tersebut dan ia menshootingnya dengan sempurna, sehingga menghasilkan dua point.
Tepat setelah Raefal berhasil memasukan bola tersebut ke dalam ring dengan sempurna, waktu permainan pun berakhir. Dan pertandingan kali ini, dimenangkan oleh SMA Cakrawala.
Para pendukung SMA Cakrawala langsung bersorak-sorak dan meloncat-loncat dengan riang dan gembira. Termasuk juga dengan gadis cantik yang selalu memberi dukungannya setiap kali SMA Cakrawala bertanding dan yang pasti dukungan terbesarnya ia tujukan untuk Raefal. Kalian sudah tahu kan siapa gadis itu?
Benar. Zea Nayara. Gadis yang selalu ada untuk Raefal kapanpun dan dimanapun.
Zea terus meloncat dan berteriak heboh dengan gembira. Tetapi, beberapa detik selanjutnya jeritan kegembiraan itu berubah menjadi jeritan keterkejutan.
Zea menghentikan aksinya karena ia penasaran mengapa semua teman-temannya menjerit seperti itu. Zea kembali melihat ke arah lapangan di hadapannya.
Dan betapa terkejutnya Zea, ketika melihat tubuh penuh keringat Raefal sudah tergeletak di tengah-tengah lapangan.
Zea langsung menerobos dan berlari menuju tengah lapangan untuk menghampiri Raefal yang kini sudah dibawa oleh beberapa tim medis.
Air mata Zea tidak dapat di bendung lagi. Ia berlari sambil terus menangis. Zea takut. Zea tidak ingin melihat Raefal sakit, lagi.
Tim medis tersebut membawa Raefal ke dalam sebuah ruangan khusus yang ada di sana. Zea akhirnya berhasil masuk ke dalamnya setelah ia memberontak melewati para penjaga di pintu ruangan itu.
Saat ini, Zea dapat melihat tubuh Raefal yang terbaring begitu lemah. Wajahnya begitu pucat dan hidungnya kembali mengeluarkan darah yang saat ini sedang dibersihkan oleh salah satu perawat di sana.
Zea menghampiri Raefal setelah dokter dan perawat tersebut selesai memeriksa keadaan Raefal.
Zea duduk di samping ranjang tempat Raefal terbaring. Zea menggenggam tangan Raefal begitu erat dengan air matanya yang terus mengalir layaknya hujan yang begitu deras.
"R-raefal ... " Tangisan Zea terdengar semakin kencang.
Karena tangisan Zea sangat kencang akhirnya perlahan-lahan Raefal kembali membuka kedua mata yang memiliki pupil berwarna cokelat tersebut.
Raefal mengernyitkan wajahnya karena ia merasa sangat asing dengan tempat tersebut. Kemudian, Raefal menoleh ke kanan dan ia mendapati Zea yang sedang menangis.
Tangan Raefal langsung terangkat untuk menghapus air mata yang keluar dari kedua mata hazel gadis di sampingnya itu. Kemudian, Raefal menyunggingkan senyuman hangatnya.
"Hey, lo kenapa nangis?" Tanya Raefal seraya mengusap pipi kanan Zea dengan lembut.
Tangisan Zea malah semakin kencang dan membuat Raefal menjadi khawatir. "Hey, Ze? Jangan nangis, please ..."
"Hiks ... R-raefal kenapa s-sakit lagi, sih? Zea takut, hiks...." Ucap Zea dengan tersedu-sedu.
Raefal tertawa pelan dan mengacak-acak rambut Zea dengan gemas, "Gue capek banget. Jadi tumbang deh, hehe ..." Kata Raefal sambil berusaha untuk mengubah posisinya menjadi duduk.
"Hiks ... H-harusnya Raefal b-bilang kalau capek. Biar diganti sama yang lain. Jangan malah main terus sampai s-selesai, hiks ..." Ucapan Zea masih sangat terbata-bata.
"Sstt, udah jangan nangis. Sekarang gue baik-baik aja, kan?" Raefal tersenyum sambil menatap kedua mata Zea dengan lekat.
Zea mengagguk dengan ragu, "I-iya. Tapi, hi-"
"Udah, yuk balik ke dalam! Gue mau terima piala, nih." Raefal menepuk dadanya, bermaksud untuk membanggakan dirinya sendiri.
Zea menghapus sisa-sisa air matanya, kemudian ia menggandeng Raefal dengan erat. "Ayok, captain!"
Zea dan Raefal kembali memasuki lapangan dan teman-temannya yang lain langsung datang menghampiri mereka untuk menanyakan bagaimana kondisi Raefal saat ini. Dan pastinya Raefal menjawab ia tidak apa-apa dan semuanya baik-baik saja. Teman-teman mereka pun akhirnya menghembuskan napas dengan lega.
Tim Basket SMA Cakrawala mengangkat piala besar itu dengan bangga. Bahkan, Raefal ikut diangkat ke udara karena Raefal sudah menjadi pahlawan di detik-detik akhir pertandingan dan akhirnya membawa SMA Cakrawala menjadi sang juara.
Setelah mengabadikan banyak gambar dan dibanjiri dengan ucapan selamat dari teman-temannya, Raefal segera mengajak Zea untuk pulang.
Sesampainya mereka berdua di dalam mobil, Raefal segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Umm ... Zea?" Panggil Raefal ketika lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah.
Zea yang sedang menatap lurus ke depan akhirnya menoleh kepada Raefal. "Apa?"
"Nanti malam ada acara ngga?"
Zea meletakan jari telunjuknya di atas dagu, seolah-olah ia sedang memikirkan jawaban yang sulit. Tetapi akhirnya, Zea menggelengkan kepalanya tanpa ragu.
"Ngga ada. Emang kenapa? Pasti kamu mau ajak aku kencan, ya?" Tanya Zea dengan tatapan menyelidik yang dibuat-buat.
Raefal mencubit pipi Zea dengan pelan, "Yee ... siapa juga yang mau ngajak lo kencan!" Tukas Raefal.
Zea menatap Raefal dengan bingung, "Terus?"
"Itu ... soalnya di cafe pelangi lagi ada promo. Gue pengin ke sana, tapi ngga ada temannya. Lo mau temani gue?"
Zea terlihat berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk dengan semangat.
"Makanan? Minuman? Promo? Ya ayolah! Aku mana mungkin nolak semua itu. Yaudah, nanti malam jemput aku kalau gitu." Zea menyengir dengan lebar.
Raefal menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal dan mulai melajukan kembali mobilnya.
"Kalau kita langsung ketemuan di sana aja gimana, mau?" Raefal akhirnya kembali berbicara.
"Emangnya kenapa kita ngga berangkat bareng?"
"Soalnya ... soalnya itu, umm ... di sana lagi promo, kan? Pasti bakalan rame banget. Jadi, kalau kita pisah nanti kan gue atau lo bisa nyari kursi yang kosong."
Zea mengagguk paham, "Yaudah deh."
☆☆☆