D I C I A N N O V E

1491 Kata
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ "Jangan terlalu mencintaiku, Zea." Zea mengerjapkan matanya perlahan-lahan, mencoba mencerna apa yang baru saja Raefal ucapkan kepadanya. Zea langsung memeluk Raefal dengan erat, mencoba memberitahu Raefal bahwa dirinya ingin terus bersama dengan Raefal. Raefal tersenyum seraya mengelus rambut Zea dengan lembut.  Namun, beberapa detik kemudian kepalanya terasa sangat sakit. Raefal mencoba meraih ponsel yang berada di dalam sakunya. Kemudian, ia langsung mengirimkan pesan singkat kepada seseorang. "Raefal jangan pernah tinggalin Zea, ya ..." Ucap Zea dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Raefal. Raefal tak bisa berkata apapun lagi, saat ini ia sedang menahan mati-matian rasa sakit di kepalanya. Akhirnya Zea melepaskan pelukannya, Zea tersenyum lebar menatap Reafal yang tentu saja membuat Raefal ikut tersenyum. "Ze, kamu tunggu di sini sebentar ya?" Ucap Raefal yang sudah bersiap-siap akan pergi. "Zea ditinggal lagi?" Zea memanyunkan bibirnya, menatap Raefal sedih. Raefal tersenyum, "Sebentar aja. Ngga apa-apa, ya?" Dengan ragu, akhirnya Zea pun mengangguk untuk membiarkan Raefal pergi. Perlahan langkah Raefal mulai menjauh sampai akhirnya Zea tak lagi melihat pundak tegap lelaki itu. Sudah tiga puluh menit Zea menunggu Raefal, namun lelaki itu tak kunjung kembali. Zea mencoba menghubungi Raefal lagi, tetapi semuanya percuma. Tak ada balasan apapun dari Raefal, telpon Zea pun tidak diangkat oleh Raefal. Zea masih mencoba berpikir positif, ia kembali melihat sekelilingnya. Gadis itu menghembuskan napas lelah, pasalnya festival itu kini semakin sepi. Satu persatu orang mulai meninggalkannya. Zea menggosok-gosok kedua telapak tangannya, mencoba menghangatkan dirinya sendiri dari dinginnya angin malam ini. Satu jam. Dua jam. Bahkan sudah tiga jam Zea menunggu, Raefal tak kunjung kembali. Dengan ragu, akhirnya Zea memutuskan untuk menelpon Papanya. Syukurlah ... tak perlu menunggu waktu yang lama, Ray langsung mengangkat telpon dari Zea. "Zea, kamu dimana?" Tanya Ray terdengar begitu cemas. "Papa ..." Zea terisak. "Sayang ... kamu dimana?" Tanya Ray lagi, kali ini mencoba lebih lembut agar tak terlalu terlihat bahwa dirinya sangat mencemaskan Zea. Zea akhirnya memberitahu kepada Ray dimana dirinya berada saat ini. Setelah itu Ray langsung menjemput Zea. Setelah sampai di rumah, Zea langsung memasuki kamarnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Zea menangis. Bagaimana tidak? Raefal tega sekali meninggalkan Zea sendirian di festival. Raefal bilang ia tidak akan lama, tapi buktinya? Zea sudah menunggu sampai tiga jam dan Raefal tidak juga kembali. Lelah dengan isak tangisnya, Zea memutuskan untuk menuju kamar kedua orang tuanya. Setelah sampai di depan kamar tersebut, Zea mengetuknya sebanyak tiga kali lalu membuka pintu yang tidak terkunci itu secara perlahan. "Mama ... Zea mau s**u ..." Rengekan Zea terdengar begitu menggemaskan. Namun, bukan orang yang tadi Zea panggil yang menghampirinya, melainkan papanya yang justru berada di hadapan Zea saat ini. "Mama kemana, Pa? Zea mau s**u ..." Rengeknya sekali lagi. Ray tersenyum lalu megusap lembut puncak kepala putrinya dengan sayang. "Mama lagi ke rumah sakit, sayang. Ada pasien yang harus Mama tangani saat ini juga." Zea mengangguk maklum. Pekerjaaan Mamanya memang sangat mulia, walau Zea harus selalu siap dengan keadaan seperti sekarang yang harus ditinggal oleh Zemira kapanpun keadaan darurat itu datang. Ray kembali tersenyum, "Masih mau s**u?" Tanya Ray lembut. Zea mengangguk. Ray pun langsung membawa putrinya menuju dapur. Zea menunggu di meja makan, Ray sedang membuatkan s**u untuknya. Ray sangat senang dengan sikap manja Zea yang seperti ini. Iya Zea memang sudah besar, tetapi bagi Ray Zea tetaplah putri kecil yang sangat ia sayangi. "Diminum, Zea ..." Ray menyerahkan segelas s**u putih itu di hadapan Zea dan langsung diambil oleh gadis itu. "Terima kasih Papa!" Ucap Zea girang. Ray lagi-lagi tersenyum melihat putri kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya saat ini.  Ray pun mengambil tempat bersebrangan dengan Zea, sehingga mereka kini saling berhadapan. "Ze, kenapa kamu bisa ada di festival tadi sendirian?" Tanya Ray mulai serius. Sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ray, Zea meneguk habis susunya terlebih dahulu. "Tadi Zea sama Raefal, Pa." Zea menyengir lebar. Ray menghembuskan napasnya kasar, "Ze ... sudah berapa kali Papa bilang? Jauhi anak itu." Ray berucap datar. Zea cemberut, menatap Papanya tidak suka. "Kenapa sih, Pa? Raefal baik kok. Zea senang kalau sama Raefal. Jadi, kenapa Zea harus jauhi Raefal, Pa?" Tanya Zea dan ia berharap akan mendapatkan jawaban sedetail-detailnya dari Ray mengenai alasan mengapa ia harus menjauhi Raefal. "Papa tau yang terbaik untuk kamu, Zea." Ray menatap dalam kedua bola mata putrinya itu. "Tapi kenapa? Papa suruh Zea jauhi Raefal tanpa kasih tahu ke Zea alasannya apa!" Nada bica Zea sedikit meninggi. Rahang Ray mengeras, namun ia coba menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak ingin memarahi Zea. "Jawab Papa!" Lagi, nada bicara Zea sedikit meninggi. "Tidak sopan berbicara seperti itu kepada Papa, Zea." Ray kembali menghembuskan napas panjangnya, lalu pergi meninggalkan Zea dengan tanda tanya besar di kepala gadis itu. Zea menatap punggung Ray yang mulai menghilang, ia mencoba mencari-cari alasan apa yang membuat Papanya bersikeras agar Zea menjauhi Raefal. Namun nihil, Zea tidak mendapatkan jawaban apapun. Zea memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya yang berada di kasur. Lalu ia mengetikkan sebuah pesan untuk seseorang. Cepat kabari Zea, Raefal. Jangan tinggalin Zea :( Setelah mengirimkannya pada Raefal, Zea melangkahkan kakinya ke kamar mandi, ia butuh menyegarkan dirinya saat ini. *** Pukul satu dini hari. Raefal membuka kedua bola matanya secara perlahan, berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang memaksa masuk ke dalam indera penglihatannya. Saat ini ia berada di ruangan yang didominasi oleh warna putih serta bau obat-obatan yang sangat ia benci. Tentu saja Raefal tahu dirinya sedang berada di mana. Raefal menolehkan kepalanya ke sebelah kanan, ia mendapati Luna yang tertidur menundukan kepalanya di atas brankar Raefal. Raefal tersenyum pedih, ia mengusap rambut Luna dengan lembut. Hal itu ternyata menggangu Luna dan gadis itupun terbangun. Luna tersenyum menatap Raefal, "Gimana keadaan kamu?" Tanya Luna sambil menggenggam erat satu tangan Raefal yang terbebas dari selang infus. "Maaf merepotkan ..." Bukannya menjawab, Raefal justru meminta maaf pada Luna yang dibalas gelengan dari gadis itu. "Sudah tugasku, Raefal. Kamu cepat sembuh, ya ..." Luna mengusap kening pemuda itu, lalu mengecupnya singkat. Raefal tersenyum tulus. "Terima kasih, Luna." Luna pun membalas senyum Raefal tak kalah tulus. "Kamu haus?" Tanya Luna. Raefal mengangguk dan Luna dengan sigap membantu Raefal duduk. Luna berjalan menuju dispenser untuk mengambil air hangat.  Setelah itu, Luna langsung membantu Raefal untuk menghilangkan rasa dahaganya. "Ponsel aku dimana?" Tanya Raefal pada Luna. "Ada. Sebentar ya aku ambilin." Luna berjalan menuju sofa bewarna cokelat yang ada di dalam kamar inap Raefal, ia segera mengambil ponsel Raefal yang betada di dalam kantung hoodie  berwarna putih milik Raefal. Setelah mendapatkan apa yang Luna cari, ia segera memberikannya pada Raefal. Raefal pun kembali mengucapkan terima kasih. Raefal membuka ponselnya, sudah ada banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari orang tuanya dan Zea. Raefal langsung menghembuskan napasnya saat nama Zea tertera di layar ponselnya. Pikirannya langsung tertuju kepada gadis yang ia tinggalkan di festival tadi malam. Apakah gadisnya sudah pulang? Pasti dia sangat ketakutan.  Pikir Raefal. Dengan segera ia langsung menghubungi orang tuanya, telponnya dengan cepat langsung di terima oleh Ratna di sana. "Mama, malam ini Raefal menginap di rumah teman. Maaf Raefal baru mengabari ..." Raefal menggigit bibir bawahnya, ia tidak enak hati berbohong kepada Ratna. Tapi, ia juga tidak akan mungkin memberitahu keadaan yang sebenarnya. Setelah mendapatkan ceramah singkat dari Ratna, telepon pun akhirnya terputus. Dan kini Raefal beralih ke room chat Zea. Maaf Zea. Nanti kalau ketemu, hukum aja Raefal. Selamat malam menjelang pagi Zea. Sudah lima menit berlalu setelah Raefal mengirimkan pesan tersebut pada Zea, namun tidak ada balasan. Semoga saja Zea sudah tertidur, tidak memikirkan pria yang tidak bertanggung jawab seperti dirinya. Raefal beralih menatap Luna yang sedang memainkan ponselnya di sofa. Raefal merasa sangat bersyukur. Pintu kamar Raefal terbuka perlahan, membuat Raefal dan Luna langsung menatap ke arah yang sama. "Sudah bangun?" Tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan jas putih. Ia hampir menginjak usia empat puluh tahun, namun wajahnya masih terlihat sangat cantik. "Sudah, Dokter." Raefal tersenyum ramah. "Dokter kenapa berkunjung sepagi ini?" Tanya Raefal heran. Dokter itu tidak menjawab, ia malah tersenyum menatap Raefal. Senyum sendu. "Saya hanya ingin melihat keadaanmu Julian. Syukur jika kamu sudah bangun, saya sangat khawatir." "Tidak perlu khawatir Dokter Mira. Aku kan kuat!" Raefal menyengir lebar pada Dokter Mira. "Iya saya tahu kamu kuat!" Ucap Dokter Mira sambil menarik pelan hidung Raefal. Setelah itu, Dokter Mira memeriksa keadaan Raefal dan kembali menyuruh Raefal untuk beristirahat agar cepat pulih kembali. Setelah memastikan Raefal terlelap, Dokter Mira berjalan ke arah Luna. "Terima kasih banyak sudah menemani Julian." Dokter Mira tersenyum hangat kepada Luna. "Sudah menjadi tugas saya Dokter." Balas Luna dengan ramah. "Kamu dekat dengan Julian?" "Sangat dekat." Dokter Mira tersenyum lega mendengarnya, "Ada yang ingin saya bicarakan denganmu." Ucap Dokter Mira yang terdengar begitu serius. Luna menatap Raefal yang sudah kembali terlelap dalam tidurnya. Luna menarik napas, ada perasaan tidak enak di dalam hatinya. Seolah memberitahu bahwa akan ada sesuatu yang tidak baik tentang sahabatnya. "Tidak apa-apa jika ia ditinggal sebentar. Mari ikut dengan saya." Ajak Dokter Mira dan Luna pun langsung mengekori dari belakang. Ternyata Dokter Mira membawa Luna ke ruang kerjanya. Dokter Mira mempersilahkan Luna duduk dan langsung menyampaikan apa yang harus ia sampaikan saat ini. Bahu Luna bergetar hebat, kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya agar isaknya tak terdengar saat Dokter Mira menjelaskan secara detail tentang keadaan Raefal saat ini. Dokter Mira menghampiri Luna lalu memeluknya. "Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk Julian. Kamu bantu saya dengan doa dan selalu berada di samping Julian. Itu sudah cukup, Luna."  Ucap Dokter Mira sambil mengusap lembut punggung gadis itu. Isak Luna semakin terdengar sangat pilu. Tuhan ... mengapa harus Raefal? ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN