D I C I O T T O

1083 Kata
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ "Eh, Raefal!" Raefal menoleh dengan kesal pada Adit, karena sejak tadi cowok itu terus memanggil namanya sambil memukul lengan kirinya berkali-kali. Raefal malas meladeni Adit, karena ia pasti akan membahas hal yang tidak penting sama sekali. Tapi ... jika dibiarkan, lama-lama lengan Raefal sakit juga ternyata. "Apa sih?!" Sahut Raefal begitu kesal. Adit menyengir lebar, menampakan senyum seolah ia tak melakukan apapun sejak tadi. "Galak amat sih, santai aja dong!" "Kalau ngga penting, gue keluar kelas nih sekarang." Raefal segera berdiri, namun Adit menahannya. "GuamaunanyaseriusLunaudahpunyapacarapabelum?" "Ha? Lo ngomong apa lagi ngerap?" Setelah itu tawa Raefal pun pecah, Adit berbicara dengan satu tarikan nafas dalam waktu yang hanya sekian detik. Dikira Raefal akan mengerti kali ya bahasa yang barusan Adit ucapkan? "Nih gua nanya serius wahai Raefal Julian yang tampan, tapi masih tampanan gue." Raefal mengangkat satu alisnya dan Adit kembali tersenyum dengan lebarnya. "Nanya apaan? Buruan!" "Hm ... Lo sama Luna itu apa ya? Eh maksudnya hubungan lo sama Luna?" Kali ini Adit berbicara cukup pelan dan lemah lembut, membuat Raefal geli sendiri mendengarnya. "Hubungan gua sama Luna? Kita ..." Raefal menggantungkan kalimatnya dan menatap Adit dengan sengit. Adit mengerutkan keningnya dan tak kalah sengit menatap Raefal, "Kita apa? Kalau ngomong jangan setengah-setengah lah, setan!" Adit sedikit terpancing emosinya. "Ya ... selow aja dong, landak!" Raefal memukul pipi kanan Adit lumayan kencang. "Ye ... ngga usah pukul-pukul dong, biawak!" Adit membalas pukulan yang diberikan Raefal tadi. "Ah, berisik sekali anda! Mau tau jawabannya ngga lo? Kalau ngga, gua mau cabut." "MAU!" Adit berseru heboh, membuat beberapa teman-teman yang sudah berada di kelas melihat ke arah mereka berdua. "Gua sama Luna cuma sahabat. Ngga lebih. Udah ah, gua mau ke kantin. Jangan nanya-nanya lagi lo!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Raefal bergegas pergi ke kantin untuk membeli air mineral. "Alhamdulillah!" Adit mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya setelah itu ia bersujud. Saat Adit bangun dari sujudnya, seseorang sudah berdiri di hadapannya seraya menatap Adit dengan bingung. "Kamu ngapain?" Tanya orang itu. Adit segera membenarkan posisinya dan kembali berdiri tegak. "Ha? Ngga, abis nyari pulpen, siapa tau jatuh di kolong meja." Adit menunjukkan deratan gigi-gigi putihnya kepada Luna. "Oh gitu. Hm ... permisi ya aku mau duduk." Ucap Luna karena Adit menghalangi jalannya. "Eh tunggu!" Adit langsung menahan pergelangan tangan Luna sebelum gadis itu pergi ke tempat duduknya. Luna kembali menatap Adit dengan penuh tanya dan tanpa kata. "Pulang sekolah ... balik sama gua, ya?" Luna terlihat berpikir sejenak dan akhirnya ia mengangguk sambil melengkungkan kedua sudut bibirnya dengan sempurna, "Oke." "Oke." Adit tersenyum senang dan segera melepaskan tangan Luna yang berada digenggamannya. Degup jantung Adit sangat tak beraturan saat ini, hatinya seperti dipenuhi oleh bunga-bunga yang sedang bermekaran. Darahnya berdesir, wajahnya memanas dan ia benar-benar merasa bahagia. "Oh ... indahnya jatuh cinta." Adit membatin. *** Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, namun Raefal masih berada di lapangan basket sekolah. Ia bermain basket sejak bel pulang sekolah berbunyi. Raefal bosan. Dan salah satu cara yang paling ampuh untuk menghilangkan rasa bosannya adalah bermain basket. Luna sudah pulang bersama Adit. Sepertinya Raefal tahu mengapa pagi tadi Adit menanyakan hubungan dirinya dengan Luna. Ternyata ... cowok itu ingin mendekati Luna. Raefal turut bahagia jika nantinya Adit dan Luna bisa bersama. Sebab, Raefal tahu Luna tak pernah membuka hatinya untuk siapapun dan Raefal tidak tahu apa alasannya. Raefal yakin jika Adit akan membahagiakan Luna seutuhnya. Selama berteman dengan Adit, Raefal tidak pernah melihat Adit menggoda gadis-gadis yang berada di sekitarnya. Bahkan, malah sebaliknya gadis-gadis itu yang justru menggoda Adit. Raefal berjalan menuju pinggir lapangan untuk beristirahat sebentar. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang dingin menempel di pipi kanannya. Raefal menoleh dan menemukan Zea di sana. "Zea? Kamu kok belum pulang?" Tanya Raefal bingung. "Raefal ngga sadar ya? Zea kan daritadi liatin Raefal main basket." Raefal mengerutkan keningnya, "Di mana?" "Di situ!" tunjuk Zea ke tribun paling atas bagian pojok kanan. "Kenapa jauh banget? Kenapa ngga di bawah aja?" "Kan biar Raefal ngga tahu. Nanti kalau Raefal tahu, Zea pasti disuruh pulang." Ucap Zea sambil menggembungkan kedua pipinya. Raefal tersenyum seraya mengusap puncak kepala Zea dengan lembut. "Nah, sekarang kenapa kamu ngga pulang? Dan bukannya kamu ada les hari ini?" Zea menyengir lebar, "Zea bolos ..." "Nanti papa kamu-" "Sekali ajaaa, emang ngga boleh? Boleh kan?" Raefal menghembuskan nafasnya pelan, "Aku antar kamu pulang, mau?" Tawar Raefal dan Zea langsung mengangguk antusias. "Tapi ..." Raut wajah Zea berubah seratus delapan pulun derajat, Zea memegangi perutnya yang sedari tadi terus berbunyi, "Zea lapar." "Yaudah, kita makan dulu." Raefal merapikan barang-barangnya terlebih dahulu dan mengganti bajunya. Setelah itu, Raefal langsung menggandeng Zea menuju parkiran karena hari sudah semakin sore. Mereka akhirnya sampai di sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolah. Sore ini ... akhirnya mereka bisa saling membagi cerita dan canda tawa. Sore ini ... akhirnya mereka bisa bersama. Mereka terus berbincang sampai tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Raefal langsung mengajak Zea untuk segera pulang. Semakin malam, semakin tidak bagus angin malam untuk Zea. Raefal tidak mau Zea sakit karena terlalu pulang larut malam. Apalagi, hari ini Raefal mengendarai motor. Namun, di tengah perjalanan Zea memaksa untuk berhenti. Karena ada festival di sebuah taman yang sangat ramai. Zea penasaran, ia juga ingin berada di antara orang-orang tersebut. "Raefal boleh, ya? Kapan lagi ada festival seramai ini? Boleh, ya, boleh?" Zea menatap Raefal dengan penuh harap. Dan akhirnya Raefal mengiyakan permintaan Zea tersebut. Meraka berjalan layaknya pasangan kekasih yang lainnya. Bergandengan tangan sambil bercanda tawa bersama. Mereka mencicipi beberapa jajanan yang dijual di sana. Setelah puas mencicip beraneka ragam makanan, mereka memilih untuk melihat pesta kembang api. Mereka duduk sambil menatap langit yang di penuhi oleh kembang api berwarna-warni. Raefal menatap Zea yang tersenyum begitu lebar sembari menatap langit. "Dingin?" Tanya Raefal karena ia melihat Zea terus menggesekan kedua telapak tangannya. Zea mengangguk pelan, "Dingin ... tapi kita kan ngga bawa jaket." "Sebentar, ya? Jangan kemana-mana." Ucap Raefal dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Zea. Raefal menuju tempat penjual hoodie yang berada di sana. Tanpa berlama-lama, akhirnya Raefal membeli dua hoodie berwarna putih. Dan Raefal langsung kembali menghampiri Zea. "Nih pake." Raefal menyerahkan satu hoodie tadi kepada Zea. Raefal memakai hoodie tersebut disusul oleh Zea. "Ih kok bisa samaan?" Tanya Zea saat hoodie putih tersebut sudah melekat di tubuh mereka berdua. "Serius?" Raefal melihat hoodie miliknya dan juga Zea. "Wha, padahal aku tadi asal milih aja, lho!" Raefal tertawa diikuti oleh Zea. Saat mereka sedang tertawa, Raefal tiba-tiba memegang tangan Zea dan membawa tangan Zea untuk menyentuh dadanya. "Jangan pernah sedih, ya? Aku lebih suka lihat kamu tertawa. Karena saat kamu tertawa, saat itu juga jantung aku berdetak ngga sewajarnya. Bisa kamu rasain, kan?" Tanya Raefal dan Zea langsung mengangguk. Setelah itu, Zea langsung menghambur ke dalam pelukan Raefal. Pelukan yang sangat erat dan terasa sangat nyaman. "Don't leave me. I love you ..." Ucap Zea dengan sangat pelan, namun Raefal masih bisa mendengarnya. Raefal semakin mengeratkan pelukannya. "Aku boleh minta satu permintaan sama kamu?" Tanya Raefal. "Boleh, apa?" "Jangan terlalu mencintaiku, Zea." ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN