"Aku dan kamu ... memang saling mencinta.
Namun, sepertinya semesta ingin mempermainkan hati kita.
Aku dan kamu ... memang saling mendamba.
Namun, sepertinya semesta tak mengizinkan kita untuk bersama."
***
SELAMAT MEMBACA!
☆☆☆
"Kamu mau langsung pulang?" Tanya Raefal pada Luna saat mobilnya berhenti karena lampu merah sedang menyala.
Luna menggeleng, "Aku mau ketemu tante Ratna." Luna menunjukan senyum lebarnya kepada Raefal.
"Oke." Raefal langsung menancap gasnya saat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi warna hijau.
Setelah mengantarkan Luna membeli kue untuk Ratna, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Raefal. Ratna yang kebetulan sedang menyirami tanaman bunga kesayangannya langsung menyambut hangat kedatangan mereka.
"Luna?" Tanya Ratna tak percaya melihat Luna berada di samping Raefal dengan mengenakan seragam yang sama dengan Raefal.
"Tante!" Luna langsung berlari menghambur memeluk Ratna. "Luna kangen sama tante."
Ratna melepaskan pelukannya dari Luna dan ia beralih memegang kedua bahu Luna dengan lembut, "Kamu kemana aja, sayang? Tante kira kamu udah lupa sama Raefal dan tante." Ratna membelai lembut rambut cokelat milik Luna.
"Kamu makin dewasa, makin cantik." Ratna kembali memeluk Luna dengan erat.
"Udah dong peluk-pelukannya!" Kata Raefal jengkel. Ia merasa kesal, sebab mereka berdua seperti menganggap Raefal tak ada.
Ratna dan Luna sama-sama tertawa. Kemudian, Raefal memasuki rumahnya terlebih dahulu, meninggalkan Ratna dan Luna yang masih saling melepas rindu.
Matahari mulai terbenam, senja yang menghiasi langit sore ini perlahan mulai pudar. Langit sudah tak lagi cerah dan telah berganti menjadi gelap. Saat ini, mereka bertiga tengah menyantap makan malam bersama. Suasana malam ini di selimuti oleh canda dan tawa Ratna dan juga Luna. Sedangkan Raefal, lagi-lagi ia merasa tak di anggap.
Tapi ... tak apa. Sebab, hatinya terasa tenang ketika melihat orang-orang yang ia sayangi tertawa lepas dan terlihat sangat bahagia. Raefal tidak ingin melihat mereka semua sedih. Melihat mereka semua dirundung rasa cemas. Raefal tidak ingin merepotkan mereka, menjadi beban untuk orang-orang yang ia sayangi.
Biarlah seperti ini untuk sementara waktu. Biarlah mereka merasakan arti sebuah kebahagiaan. Walapun Raefal tahu, cepat atau lambat semuanya tidak akan lagi menjadi baik-baik saja seperti saat ini.
Raefal menghembuskan napasnya pelan dan ia kembali menyantap makan malamnya di temani suara tawa bahagia dari Ratna dan Luna.
Tiba-tiba saja, kepala Raefal terasa sangat sakit. Seperti ada benda-benda besar yang sedang menghantam kepalanya. Tanpa kata, Raefal segera meninggalkan meja makan sambil sesekali ia meringis. Menahan sakit yang teramat sangat di kepalanya.
Raefal berusaha menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Namun, Raefal tak bisa menahan tubuhnya sendiri. Berkali-kali ia jatuh tanpa suara dan kembali bangkit lagi. Sampai akhirnya, ia berhasil masuk ke dalam kamarnya. Ia segera menguci pintu kamarnya dan tubuhnya langsung jatuh terduduk di belakang pintu.
Kepalanya terasa semakin sakit. Sangat-sangat sakit. Raefal ingin berteriak, namun ia tidak boleh melakukan hal tersebut. Alhasil, ia hanya meringis, ringisan yang terdengar begitu perih.
Dan ... kembali lagi, cairan kental berwarna merah itu mengalir dari hidungnya. Raefal segera mengelapnya dengan kasar.
"s**t!!" Umpat Raefal pada dirinya sendiri.
***
Tok ... tok ... tok ...
"Raefal? Kamu lagi apa, sayang?" Ratna mengetuk pintu kamar Raefal, ia khawatir karena Raefal tadi tiba-tiba pergi meninggalkan ruang makan dan tidak kembali lagi setelah setengah jam berlalu.
Pintu kamar Raefal akhirnya terbuka, memperlihatkan Raefal dengan rambutnya yang berantakan dan sedikit basah. "Raefal abis dari kamar mandi, Ma. Kenapa?" Raefal pun mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga bersama Ratna.
"Mama kira kamu kenapa. Lagian kamu tiba-tiba pergi gitu aja." Ucap Ratna dengan terselip nada yang terdengar begitu khawatir.
Raefal berhenti melangkah, ia menoleh kepada Ratna yang berada di sampingnya, ia mencium singkat pipi Ratna kemudian tersenyum. "Raefal baik-baik aja, Ma. Jangan khawatirin Raefal. Raefal ngga mau lihat Mama sedih karena Raefal."
Ratna hanya membalas dengan senyuman. Entah mengapa, perasaannya mengatakan hal yang lain. Ratna merasa Raefal tidak sedang baik-baik saja. Semoga ... itu hanya perasaan Ratna saja karena terlalu mengkhawatirkan Raefal sejak tadi.
Mereka berdua melangkah menuju ruang tamu dan di sana sudah ada Luna yang sedang bersiap untung pulang. Karena, hari sudah semakin malam dan Raefal harus segera mengantarkan Luna pulang.
Setelah berpamitan dengan Ratna, mereka langsung melangkah menuju mobil Raefal yang terparkir di halaman depan rumah.
"Kamu kenapa?" Tanya Luna saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
Raefal tak menjawab, ia malah menundukan kepalanya di atas stir mobilnya.
"Raefal ..." Luna mencoba mengangkat kepala Raefal dan saat itu juga air matanya kembali mengalir dengan deras. Dengan susah payah, Luna memindahkan Raefal ke kursi penumpang dan Luna langsung menancap gas setelah ia berhasil memindahkan Raefal.
Luna mengendarai mobil Raefal dengan cukup kencang, untung saja jalan raya saat ini sedang lengang. Luna dengan segera memarkiran mobil Raefal setelah ia sampai di tempat yang ia tuju.
Luna menatap Raefal yang berada di kursi penumpang. Raefal belum sadar. Luna harus bagaimana? Haruskah ia membawa Raefal masuk ke dalam sendirian? Rasanya tidak mungkin, karena tubuh Raefal jauh lebih besar darinya.
Namun, sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Ada sebuah kursi roda terletak persis di samping mobilnya. Luna tidak tahu kursi roda itu milik siapa. Dengan segera, Luna memindahkan Raefal ke atas kursi roda tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Suster tolong!" Luna berteriak saat ia memasuki pintu rumah sakit. Dan dengan sigap, para suster mengahampiri Luna dan langsung memindahkan Raefal ke atas brankar.
***
Luna sangat gelisah. Apakah ia harus memberitahu Ratna? Tidak. Raefal pasti akan sangat marah jika ia memberitahu Ratna. Luna bingung, sebab Raefal tak mengizinkan Luna untuk memberitahu siapapun tentang keadaannya.
Tapi ... apa sebaiknya ia menghubungi Ratna? Marah atau tidaknya Raefal, itu Luna pikirkan nanti, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk Luna memikirkan hal tersebut. Luna pun mengeluarkan ponselnya dan segera mencari kontak Ratna. Namun, baru saja Luna ingin memanggil Ratna, pintu ruangan Raefal terbuka. Menampilkan sesosok dokter wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik.
"Pasien sudah sadar. Anda bisa menemuinya sekarang."
Luna tersenyum ramah, "Terima kasih, Dok."
Dokter itu menghampiri Luna dan mengelus kedua bahu Luna dengan lembut. "Sama-sama." Ia menatap Luna cukup lama, kemudian ia tersenyum dan akhirnya pergi meninggalkan Luna.
Luna segera menghampiri Raefal. Dan saat Luna masuk, Raefal sudah terduduk dan mencoba melepaskan selang infus yang munusuk tangannya.
"Raefal kamu mau ngapain?" Luna buru-buru menghampiri Raefal.
"Aku mau pulang." Raefal sudah berhasil mencabut selang infus itu dari tangannya.
"Tapi ..."
"Aku mau pulang, Luna." Raefal bergegas meninggalkan ruangan yang paling ia benci itu dan Luna langsung mengerjarnya.
"Raefal, tapi kamu masih sakit. Kamu harus mendapat perawatan untuk beberapa hari. Aku mohon ... jangan pulang."
Raefal tak menjawab, ia justru mempercepat langkah kakinya.
"Raefal!" Luna kembali mengejar Raefal dan ia langsung menggenggam tangan Raefal dengan erat.
"Aku ngga sakit, Luna. Jangan pernah bawa aku ke tempat ini lagi." Ucap Raefal saat ia sudah menghentikan langkahnya dan menatap dalam-dalam kedua bola mata Luna. "Aku baik-baik aja ..."
Luna langsung menghambur memeluk tubuh Raefal. Tangisnya benar-benar pecah saat ini. Jelas saja, Luna tahu semua yang diucapkan Raefal tadi adalah kebohongan. Luna tahu Raefal tidak ingin membuat dirinya cemas dan khawatir. Tapi ... Luna tidak bisa. Kenyataan yang sekarang Luna tahu sudah sangat membuat dirinya di selimuti rasa khawatir yang begitu dalam kepada Raefal.
"Kenapa harus kamu, Raefal, kenapa?" Tangisan Luna semakin kencang dan Raefal pun semakin mengeratkan pelukannya untuk Luna.
"Everything will be alright, Luna. Jangan khawatir." ujar Raefal setenang mungkin. "Ayo, pulang. Ini udah terlalu malam buat kamu."
Dan akhirnya mereka kembali melangkahkan kedua kakinya keluar dari sana. Tetapi, saat mereka baru saja keluar dari pintu rumah sakit, mereka berpapasan dengan Zea.
"Raefal? Kok kamu ada di sini?" Zea memghampiri Raefal dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Kenapa sama dia juga?" Kali ini Zea menatap Luna dengan pandangan sedikit tidak suka.
"Hm .. aku abis jenguk te-temannya Luna ... ah iya, temannya Luna." Raefal tersenyum pada Zea.
"Oh iya, kamu kenapa malam-malam ada di sini? Sendirian pula. Kalau ada apa-apa di jalan sama kamu gimana?"
Raut curiga Zea kini berubah menjadi senang, ia senang melihat Raefal yang mencemaskan dirinya seperti ini. "Zea sama Pak Jono, kok. Zea kesini mau nganterin dokumen penting Mama."
"Harus malam-malam begini? Kenapa bukan Pak Jono aja yang nganterin itu? Ka-"
"Zea yang maksa untuk ikut." Zea menyengir lebar.
Raefal menghebuskan napasnya, "Yaudah, aku pulang dulu. Kamu hati-hati ya."
Dan setelah itu, Raefal dan Luna kembali melanjutkan langkahnya menuju halaman parkir.
"Raefal, Zea ngga tau tentang-"
"Ngga. Dan aku ngga mau sampai dia tahu. Aku ngga bisa lihat dia sedih karena aku, Luna."
Luna menundukan wajahnya dalam-dalam. Sekarang Luna tahu betapa dalam rasa cinta yang Raefal punya untuk Zea.
Sampai kapanpun, Luna memang tidak akan pernah bisa menembus hati Raefal. Tetapi, Luna akan menjaga Raefal sekuat yang Luna bisa. Karena apapun keadaannya, mereka hanya sepasang sahabat. Tidak lebih.
☆☆☆