S E D I C I

894 Kata
"Menyerah? Mengalah? Tidak.  Karena ... aku punya cinta lebih dari yang kau rasa." *** SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ Bel berbunyi tiga kali, menandakan waktu pulang telah tiba. Raefal segera merapikan buku-buku serta alat tulisnya ke dalam tas. "Raefal, ayok pulang!" Ujar Luna yang sudah berdiri di samping Raefal sambil menggandeng tangan Raefal. Raefal melihat sekelilingnya dan benar saja, tatapan mata seisi kelas saat ini sedang tertuju pada dirinya dan Luna. Saat kedua bola matanya menatap Zea, Raefal rasanya ingin sekali menghampiri gadisnya dan memeluknya dengan erat. Namun, Raefal tidak bisa melakukan hal tersebut. Saat ini ada Luna di sisinya, ia akan menceritakan bahwa ia dan Zea menjalin hubungan nanti. Dengan berat hati, Rarfal memutuskan kontak mata dengan Zea secara sepihak. Ia tahu, itu pasti akan sangat melukai gadisnya. Raefal kembali melihat Luna yang masih setia berdiri di sampingnya sambil menatapnya dengan lekat, Raefal tersenyum dan mulai berjalan meninggalkan kelas bersama Luna. "Kuat ... kuat ... Zea ngga boleh lemah! Zea ngga boleh nangis!" Zea berucap dalam hati, mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri. "Ze, lo baik-baik aja?" Tanya Rayta dengan tatapan yang sangat khawatir dengan keadaan Zea saat ini. Zea menggeleng dengan lemah, "Ngga, Tata ... Zea ngga baik-baik aja sekarang. Zea sakit, Tata ... " Ucapnya dengan sangat lirih. "Raefal kenapa, sih? Kok jadi gini ke elo? Bahkan sejak pagi, dia ngga ngajak lo bicara sama sekali. Dan sekarang? Dengan entengnya, dia pergi sama si anak baru itu dan ninggalin lo? Dasar breng-" "Sstt! Raefal ngga jahat, kok. Yaudah, Zea mau nyusul Raefal dulu, ya?" Zea pun langsung berlari pergi meninggalkan kelas. Zea berusaha berlari dengan cepat menuju halaman parkir sekolah. Untung saja, Zea masih bisa melihat Raefal dan ia segera menghampirinya. "RAEFAL!" Teriak Zea dengan kencang. Alhasil, Raefal dan Luna langsung menoleh kepada Zea. Zea kini sudah berada tepat di hadapan Raefal. Kedua bola matanya menusuk lurus mata Raefal. "Raefal kenapa? Zea ada salah ya sama Raefal? Raefal kenapa ngga bicara sama Zea sejak pagi? Raefal kenapa selalu pergi ninggalin Zea? Salah Zea apa? Zea minta maaf kalau Zea ada salah sama Raefal. Zea minta maaf sebesar-besarnya. Maafin Zea Raefal ... Zea ngga bisa kalau Raefal kayak gini terus ke Zea. Zea minta maaf ..." Ucap Zea panjang lebar. Dan akhirnya pertahanan Zea runtuh, ia menangis di hadapan Raefal. Tak ada satu katapun yang terucap dari mulut Raefal, Raefal hanya memandang Zea. Sungguh, hatinya terasa sangat sakit saat melihat Zea menangis seperti saat ini. "Raefal kenapa diam aja? Raefal marah banget ya sama Zea? Zea minta maaf Raefal, Zea bener-bener minta maaf, hiks ..." Air mata yang mengalir di pipi Zea semakin deras. Raefal sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Kedua tangan Raefal menangkup wajah Zea dan kedua ibu jarinya mulai menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Zea. "Jangan nangis, aku sakit kalau lihat kamu nangis." Ucap Raefal dengan lembut. Zea berusaha menghentikan tangisnya. Namun, bukannya berhenti, tangisnya justru semakin pecah. "Ze ..." Ucap Raefal lagi dengan selembut mungkin. "Hiks ... Zea ngga bisa berhentiin tangis Zea, Raefal, hiks ..." Ucap Zea dengan sangat jujur. Raefal berhenti mengusap kedua pipi Zea dan ia langsung membawa Zea ke dalam dekapannya dengan erat. "Udah ya? Jangan nangis lagi ..." Raefal bisa merasakan Zea menganggukan kepalanya walaupun begitu pelan. Setelah Zea benar-benar merasa lebih baik, Raefal melepaskan Zea dari dekapannya. "Mau aku antar pulang?" Tanya Raefal. Drtt ... drtt ... Baru saja Zea ingin mengangguk, ponsel yang berada digenggamannya sejak tadi bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk. "Iya, Pah?" "Pak Jono sudah sampai untuk jemput kamu?" Zea memutar pandangannya, mencari keberadaan mobilnya. Dan benar saja, mobil tersebut sudah berada tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini. "Zea?" "Iya, Pah. Pak Jono udah jemput Zea. Tapi ... Zea mau pulang sama-" "Ngga boleh. Kamu harus pulang sama Pak Jono. Hari ini kamu sudah mulai les dan Pak Jono yang akan antar jemput kamu." "Tapi-" "Ngga ada tapi-tapian. Cepat masuk ke mobil. Papa tutup dulu telponnya." Tut .. tut .. Zea menghembuskan napasnya, mengapa Papanya sekarang menjadi seperti ini? Zea bahkan merasa Papanya menjadi jahat. Ah ... semoga itu hanya perasaan Zea saja. "Raefal ... Zea mau pulang sama Raefal, tapi Pak Jono udah jemput Zea." Raefal akhirnya tersenyum, "Yaudah ngga apa-apa. Hati-hati ya, sayang ..." Ucap Raefal lalu mengelus pipi kanan Zea dengan lembut. Dan hal itu tentu saja membuat Zea menjadi salah tingkah sendiri. "Yaudah ... Zea pulang dulu." Zea mulai melangkah menjauh dan melambaikan tangannya kepada Raefal. Raefal menatap punggung Zea dengan perasaan yang saat ini sangat sulit untuk ia jelaskan. Raefal pun memutuskan untuk segara pulang. Namun, baru saja Raefal ingin masuk ke dalam mobilnya, Zea sudah kembali di hadapannya. Raefal tentu saja terkejut bukan main. "Ze ... ngagetin aja. Kenapa bisa ada di sini lagi?" Ucap Raefal sembari mengelus dadanya. Zea menatap tajam Raefal, "Kenapa dia pulang sama kamu?" Tunjuk Zea kepada Luna yang sudah berada di dalam mobil Raefal sejak tadi. "Dia sahabat aku, Zea." Zea mengernyitkan dahinya dan masih menatap Raefal dengan tatapan mengintimidasi. "Dia sahabat aku dari kita masih SMP. Terus, pas dia kelas satu SMA, dia pindah ke Italia. Dan sekarang dia kembali lagi untuk a-" Raefal hampir saja keceplosan. "Intinya, kamu harus percaya sama aku. Percaya kalau aku sayang sama kamu." Zea masih mencerna apa yang baru saja Raefal katakan. Dan akhirnya, Raefal menggandeng tangan Zea untuk mengantarkan gadis itu kepada sopir yang sudah menunggu Zea sejak tadi. "Sana masuk." Ucap Raefal menyuruh Zea segera memasuki mobilnya. Zea membuka pintu mobilnya, sebelum Zea benar-benar masuk, ia kembali menatap Raefal. "Zea percaya. Zea percaya kalau Raefal sayang Zea." Zea tersenyum dan setelah itu ia benar-benar masuk dan mobilnya pun mulai melaju pergi. Raefal menghembuskan napasnya, "Aku bakal terus sayang kamu, Zea. Tapi ... kamu jangan ya." ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN