Q U I N D I C I

1282 Kata
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ "Anjir mules!" Adit meremas perutnya seraya berlari menuju toilet untuk menyetorkan sesuatu. Adit paling benci jika pagi hari seperti ini dirinya sakit perut, baru saja ia turun dari motor sport hitam miliknya dan ia harus berlari seperti ini untuk segera sampai di toilet. Perjalanan menuju toilet tak semulus yang adit bayangkan, di tengah perjalanan ia malah menabrak seorang gadis yang mukanya terlihat sangat asing di sekolah ini. BRUGH! Adit dan gadis itu sama-sama terjatuh dengan b****g yang mencium lantai terlebih dahulu. "Ah elah, gue lagi naber lo pake nabrak gue sega-" Adit menutup bibirnya rapat-rapat saat melihat seseorang yang ia tabrak itu, gadis itu sudah berdiri, sedangkan Adit masih duduk sembari memandangnya. "Masya allah ... bidadari surga ada di sini!" Adit langsung berdiri lalu memberi senyum hangat kepada gadis tersebut. Dan entah mengapa, sekarang Adit sudah tidak lagi merasakan sakit perut. Adit mengulurkan tangannya sambil menyengir dengan sangat lebar, "Aditya Prasaja. Kelas dua belas IPS satu, masih menjadi kapten basket di sekolah tercinta ini." Gadis itu juga membalas senyum yang Adit berikan dan ia juga menyambut uluran tangan Adit dengan senang hati. "Aku Luna." Setelah mengetahui nama gadis tersebut, Adit langsung melepas jabatan tangan mereka. Adit menjadi salah tingkah sendiri. "Oh iya, aku boleh minta tolong?" Tanya gadis bernama Luna tersebut. "Apa sih yang ngga buat kamu!" Adit kembali menyengir dengan lebarnya. Luna tertawa kecil, "Ruang TU di sebelah mana, ya?" Adit mengerutkan keningnya, "Lo anak baru?" Luna mengangguk dengan pelan. "Oh ... yaudah ikutin gue, yuk!" Adit langsung menggandeng tangan Luna tanpa sadar. "Eh? Kamu mau bawa aku kemana?" Luna tentu terkejut saat Adit tiba-tiba menggandeng dirinya. "Pelaminan, hahaha ..." Adit tertawa mendengar ucapannya tersebut. "Serius Adit ..." Luna sedikit jengkel dengan tingkah Adit. "Lo mau ke TU kan?" Luna mengangguk. "Ayok, gue antar!" Adit langsung berjalan meninggalkan Luna yang masih berdiam diri. Dan dengan langkah pelan Luna mulai mengikuti Adit. Di sepanjang koridor yang Adit dan Luna lewati, tatapan semua orang tertuju pada mereka berdua. Tapi, tepatnya tertuju pada gadis yang sedang berjalan di belakang Adit saat ini. Bagaimana ia tidak menjadi pusat perhatian? Postur tubuh yang langsing dan tinggi, kulit putih dan bersih, kedua mata bulat berwarna cokelat teduh, hidung yang mancung serta bentuk bibir yang indah berwarna pink itu membuat wajahnya terlihat begitu sangat cantik. Benar kata Adit, dirinya memang seperti bidadari yang berasal dari surga. Sangat cantik dan sempurna. Setelah memakan waktu lima menit, akhirnya mereka sampai di ruang tata usaha. "Ini ruang TU. Gue duluan, ya?" "Makasih Adit." Luna tersenyum sangat manis, hingga membuat Adit merasakan jantungnya berdetak tidak karuan. Adit berusaha tersenyum dengan lebar, "Sama-sama. Sampai ketemu lagi jodohku!" Adit mengedipkan sebelah matanya dan langsung berlalu meninggalkan Luna. Adit memasuki kelasnya dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Selamat pagi teman-teman!" Sapanya kepada semua teman yang berada di kelas. Adit duduk di samping Raefal yang wajahnya tak secerah Adit saat ini. Adit pun melihat Zea, dan wajah gadis itu juga tidak ceria seperti biasanya. "Woi!" Adit berteriak tepat di kuping Raefal. Raefal menoleh dan menautkan kedua alisnya menatap Adit. "Santai aja kali liatinnya!" Raefal tak menggubris, ia kembali melamun dengan tatapan yang kosong. "Fal! Lo lagi kenapa sama Zea?" Adit menepuk bahu Raefal dengan kencang. "Ngga apa-apa." Jawaban Raefal begitu dingin. "Yaelah ... macam cewek aja lo jawabannya 'ngga apa-apa'." Adit memutar kedua bola matanya dengan sebal. Raefal kembali tak menggubris apa yang di ucapkan oleh Adit. "Fal mau tahu ngga?" Adit kembali menepuk bahu Raefal dengan kencang. Dengan raut wajah yang sudah sangat kesal, Raefal kembali menoleh, "Apa?" Adit menyengir lebar, "Barusan gue ketemu jodoh." "Halah!" "Serius, Fal! Dia kayak bidadari yang datang dari surga buat gue." "Ngayal!" "Serius b**o!" "Elo yang b**o!" "Namanya Luna." Adit memberi tahu nama gadis yang ia temui tadi dengan bangga kepada Raefal. "Ngga nanya!" Adit menjitak kepala Raefal, "Kurang ajar lo ye!" Raefal akhirnya tertawa, "Eh bentar, tadi siapa namanya? Lu-Luna?" Tanya Raefal karena ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Tuh kan lo kepo juga! Ingat udah punya ibu negara lo." Adit menatap Zea yang ternyata sedang memerhatikan mereka berdua. "Pagi Ze!" Sapa Adit dengan cengiran lebar. Zea hanya memberi pelototan tanpa ada niat untuk membalas sapaan Adit. "Gila. Tuh anak serem amat?" "Siapa?" Tanya Raefal. "Cewek lo. Masa gue sapa baik-baik, dia malah melototin gue?" "Selamat pagi anak-anak!" Belum sempat Raefal kembali bertanya pada Adit, Bu Debi sudah masuk ke dalam kelas. "Anak-anak, hari ini kalian kembali kedatangan murid baru. Dia pindahan dari Italia, ibu harap kalian semua bisa membatu dia untuk beradaptasi di sekolah ini dengan baik." Kemudian, Bu Debi keluar kelas sebentar dan kembali lagi bersama seseorang yang langsung membuat kaum adam bersorak gembira. Raefal tak peduli, ia malah sibuk membaca buku paket sejarah. Berusaha berkonsentarsi karena suara teman-temannya yang sangat berisik. "Silahkan perkenalkan diri kamu." Ucap Bu Debi pada si anak baru tersebut. "Selamat pagi! Perkenalkan nama aku Mezzaluna Shyane. Kalian bisa panggil aku Luna." Mezzaluna Shyane? Luna? Raefal tak lagi fokus membaca buku paket sejarah, ia menatap lurus ke depan, melihat gadis yang baru saja memperkenalkan dirinya. Luna juga menatap Raefal, kemudian ia tersenyum. Raefal membalas senyum itu, walaupun sangat tipis. Luna berjalan menuju bangku yang tepat berada di belakang Raefal. Bu Debi baru saja menyuruh Luna untuk duduk bersama Andini. Raefal berusaha tenang, walaupun dirinya bertanya-tanya, mengapa ia kembali? *** Bel dua kali tanda istirahat akhrinya berbunyi. Raefal merapikan buku-bukunya. Ia berdiri dan berniat untuk menghampiri Zea. Namun, sebelum ia melangkah menuju meja Zea, tangannya sudah digenggam oleh seseorang. Tanpa kata, ia membawa Raefal keluar dari kelas sambil menggenggam erat tangan Raefal. Dan hal itu tentu saja membuat seisi kelas kebingungan. Terutama Zea dan Adit. Raefal dan Luna sejak tadi hanya diam. Bahkan tidak saling menyapa dan berkenalan. Lalu, mengapa tiba-tiba Luna dan Raefal keluar kelas sambil bergandengan tangan seperti itu? Zea menatap kepergian mereka berdua dengan perasaan sesak yang menggumpal di hatinya. Cemburu. Tentu saja Zea kesal dan cemburu melihat Raefal bergandengan dengan gadis lain di depan matanya. Bukan hanya di depannya, tetapi di depan teman-teman sekelas mereka. Ada apa sebenarnya? Siapa Luna itu? "Tata ke kantin, yuk?" Ajak Zea pada Rayta yang masih menatap Zea dengan pandangan yang penuh tanya. "Ze, lo ngga apa-apa?" Tanya Rayta khawatir. Zea tersenyum lebar, lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum dengan lebar. "Ngga apa-apa. Buruan Tata, Zea laper nih!" Padahal Zea biasa saja, namun ia berusaha mencairkan suasana agar tidak terus seperti ini. Dan mereka pun langsung melangkah menuju kantin. Sedangkan Luna dan Raefal sekarang sudah berada di taman belakang sekolah. Mereka duduk bersampingan. Mereka hanya diam. Mereka tidak tahu harus memulai darimana. "Raefal ..." "Luna ..." Mereka berbicara bersamaan. "Kamu duluan," "Kamu dulu," Lagi, mereka berbicara bersamaan. "Yaudah aku dulu." "Yaudah aku duluan." Mereka masih berbicara bersamaan. Dan hal tersebut membuat keduanya tertawa. "Dua tahun lalu kamu pergi dan sekarang ada di depan mata aku. Apa kabar, Luna?" Akhirnya Raefal yang berbicara lebih dulu. "Aku ... baik, Raefal." Luna menatap Raefal begitu dalam. Seolah dengan tatapan itu Luna mengetahui semua yang terjadi pada Raefal. "Untuk apa kembali?" Tanya Raefal lagi. Luna masih menatap dalam-dalam kedua mata Raefal, mencari sebuah kebenaran dari tatapan mata itu. Yang Luna tahu, tatapan Raefal menjawab semua keraguan Luna selama ini. "Untuk apa kembali, Luna?" "Untuk kamu." Air mata Luna jatuh saat itu juga. "Kenapa untuk aku? Kenapa kamu nangis?" Raefal memegang dan mengusap kedua bahu Luna dengan lembut. Luna tak berkata apapun, hanya air mata dan isak tangis yang mampu Luna berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Raefal. Mereka kembali saling bertatap begitu dalam, sampai Luna akhirnya kembali bersuara. "Aku tahu tentang-" "Stop! Aku ngga mau bahas hal itu." Sergah Raefal dengan cepat. Luna kembali menangis dengan kencang, "Kenapa harus kamu, Raefal...?" Hancur. Semua kekuatan yang Raefal sudah buat hancur seketika. Raefal langsung membawa Luna ke dalam dekapannya dengan begitu erat. "Semua akan baik-baik aja, Luna." Raefal mencium puncak kepala Luna berkali-kali, berusaha membuat agar Luna percaya pada dirinya. Berusaha membuat Luna percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tanpa mereka sadari, satu sosok gadis memperhatikan mereka berdua dengan perasaan yang tak kalah hancur sejak tadi. Pertarungan belum di mulai, namun ia sudah merasa kalah. Zea kalah. Tidak ada lagi harapan dirinya untuk tetap bersama Raefal. Namun, hatinya tidak menerima kekalahan itu. Ia berjanji akan berjuang untuk kembali mendapatkan hati Raefal, ia akan membuktikan jika dirinya memang pantas untuk terus bersama Raefal. Zea belum kalah. Dan tidak akan pernah kalah. ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN