bc

Benteng Darah dan Perempuan Berani

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
fated
arranged marriage
badboy
goodgirl
mafia
single mother
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
small town
childhood crush
war
like
intro-logo
Uraian

"Malam itu, seorang anak kehilangan segalanya. Namun dunia tidak sadar bahwa mereka baru saja menciptakan monster yang akan kembali menagih darah."

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Malam Pengkhianatan & Lahirnya Pembalasan
Langit malam itu gelap. Bukan sekadar tanpa bintang, melainkan seolah ikut menyembunyikan sebuah rahasia besar. Di dalam megah mansion keluarga Alfarizi, suasana terasa aneh. Terlalu sunyi… Terlalu tenang untuk ukuran rumah milik mafia besar seperti Haikal Lorenzo Alfarizi. Seorang anak laki‑laki berusia dua belas tahun berdiri bersembunyi di balik pilar marmer besar. Nafasnya ditahan rapat, matanya membulat penuh ketakutan. Haikal Lorenzo Alfarizi. Ia tidak sengaja mendengar sesuatu yang seharusnya tak pernah ia dengar. Dari balik pintu ruang kerja ayahnya yang sedikit terbuka, terdengar suara berbisik—namun cukup jelas untuk membuat dunia Haikal runtuh seketika. “Semua sudah siap. Operasi besok malam akan menjadi akhir dari Haidar Lorenzo Alfarizi.” Suara itu… suara yang sangat ia kenal. Javier Aldebaran. Tangan kanan ayahnya. Orang yang selama ini dianggap seperti keluarga sendiri. Namun yang membuat tubuh kecil Haikal gemetar hebat bukan hanya itu. Suara lain menyusul—lembut, namun sarat racun. “Kau berjanji, setelah ini semuanya akan menjadi milik kita.” Itu suara ibunya. Isabella Maharani. Haikal menggeleng pelan, tak percaya. Dadanya terasa sesak menyesakkan. Tidak… Mama tidak mungkin melakukan hal seperti itu… Tanpa sadar kakinya melangkah mendekat. Ia ingin memastikan, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk semata. Melalui celah pintu, ia melihatnya sendiri dengan mata kepala. Javier berdiri sangat dekat dengan Isabella—terlalu dekat. Tangan pria itu melingkar di pinggang ibunya dengan sangat akrab, sementara Isabella tersenyum… senyum yang tak pernah sekalipun ia lihat terarah pada ayahnya. “Setelah Haidar mati,” lanjut Javier dengan nada dingin, “Aku akan mengambil alih segalanya. Kau tetap akan menjadi Nyonya Alfarizi, tak ada yang berubah.” Isabella tertawa pelan. “Hanya satu hal yang berubah… Aku tak perlu lagi berpura‑pura mencintai pria itu.” Hancur. Seketika itu juga, dunia Haikal benar‑benar runtuh. Air matanya jatuh tanpa suara. Tangannya gemetar hebat. Ia ingin lari menjauh, namun kakinya terasa membeku di tempat. Ternyata… semua ini… adalah sebuah pengkhianatan. Malam berikutnya. Haidar Lorenzo Alfarizi berdiri tegap di tengah gudang tua di kawasan pelabuhan. Tatapannya tajam, penuh kewaspadaan dan kecurigaan. “Terlalu sunyi,” gumamnya pelan. Anak‑anak buahnya saling bertukar pandang. Ada sesuatu yang tidak beres. Dan benar saja. Hanya dalam hitungan detik… Dor! Dor! Dor! Suara tembakan memecah keheningan malam. Dari segala arah, puluhan pria bersenjata bermunculan, mengepung mereka rapat‑rapat. “Penyergapan!” teriak salah satu anak buahnya. Haidar segera mengangkat senjatanya, membalas serangan tanpa ragu. Tubuhnya bergerak cepat, terlatih, dan mematikan. Namun jumlah lawan… terlalu banyak. Dan yang paling menyakitkan, dari balik bayangan gelap itu, muncul satu sosok yang membuat Haidar terdiam sepersekian detik. “Javier…” Pria itu melangkah keluar dari kegelapan dengan santai. Senyum tipis penuh kemenangan terukir jelas di wajahnya. “Maafkan saya, Tuan Haidar,” ucapnya dingin tanpa dosa, “Permainan ini berakhir malam ini.” Langkah kaki lain terdengar menyusul dari belakangnya. Seorang wanita muncul dari balik bayangan—anggun, namun berpakaian terlalu terbuka untuk situasi berbahaya seperti ini. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung puas. Haidar membeku. Matanya membesar, napasnya tertahan di tenggorokan. “Isabella…” Wanita itu tak menjawab sepatah kata pun. Ia justru berjalan santai, lalu berdiri tepat di samping Javier—seolah‑olah itulah tempat yang sesungguhnya miliknya sejak awal. Tanpa rasa bersalah sedikit pun. Javier melirik Isabella, lalu menariknya mendekat dengan sangat akrab. Gerakan itu sengaja diperlambat, sebelum ia mencium wanita itu tepat di depan mata Haidar—bukan sekadar sentuhan singkat, melainkan cukup lama untuk menegaskan segalanya. Bahwa pengkhianatan itu nyata adanya. Javier meludah ke lantai dengan rasa jijik, dadanya naik‑turun menahan amarah yang nyaris meledak. “Menjijikkan…” Isabella malah tertawa kecil. Suara yang dulu begitu ia puja‑puja, kini terdengar seperti jarum yang menusuk hati. “Jangan begitu, sayang,” ucapnya santai tanpa rasa malu, “Dulu kau juga sangat tergila‑gila pada tubuhku.” Setiap kata yang keluar dari bibirnya membawa racun. Tatapan Haidar berubah. Bukan lagi sekadar marah, melainkan hancur berkeping‑keping. “Jadi selama ini… semua hanya sandiwara?” suaranya berat dan parau, penuh luka yang dalam. “Selama ini… kau hanya berpura‑pura?” Isabella mengangkat bahu seenaknya, seolah pengkhianatan itu tak berarti apa‑apa. “Aku hanya lelah hidup di bawah bayang‑bayangmu, Haidar. Javier… mampu memberiku lebih dari sekadar itu.” Javier tersenyum puas, tangannya tetap melingkar posesif di pinggang Isabella. “Dunia terus berubah, Tuan Haidar,” ucapnya dingin. “Dan kau… sudah terlalu lama duduk sendirian di puncak.” Haidar menggertakkan gigi keras‑keras. “Semua ini…” desisnya pelan namun mengancam, “Akan kalian bayar mahal.” Javier hanya terkekeh meremehkan. “Sayangnya… kau tak akan hidup cukup lama untuk melihatnya terjadi.” Tatapan Haidar berubah total. Bukan rasa takut, melainkan kekecewaan yang tak terkira. “Jadi… kau yang mengatur semua ini.” Haidar mengangkat senjatanya ke arah mereka. “Kerajaan ini terlalu besar untuk kau pegang sendirian.” Dor! Peluru pertama menembus bahu Haidar. Namun pria perkasa itu masih berdiri tegak. “Pengkhianat…” desisnya. Darah mulai mengalir deras, namun rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibanding luka di hatinya. Dikhianati orang kepercayaan… dan wanita yang dicintai seumur hidup. Meski terluka, nyala api di matanya belum padam. Ia mencoba membalas, namun terlambat. Dor! Dor! Dua peluru berikutnya menghantam tubuhnya. Haidar terhuyung tak berdaya. Napasnya memburu, darah mengalir makin deras. Namun sebelum tubuhnya jatuh, pandangannya masih tajam menatap Javier. “Haikal… Akan membalas semua ini…” Javier tersenyum tipis, dingin dan kejam. “Kalau saja dia masih hidup sampai saat itu.” Dor! Satu tembakan terakhir mengakhiri segalanya. Tubuh Haidar Lorenzo Alfarizi jatuh tergolek di atas lantai beton yang dingin. Pemimpin besar itu… berakhir karena sebuah pengkhianatan. * * Di dalam mansion… Haikal kecil terduduk di lantai kamarnya, memeluk lutut rapat‑rapat. Ia tak tahu alasannya, namun hatinya terasa sangat sakit malam itu. Sejak semalam ia berusaha mencari tahu keberadaan ayahnya, tetapi semua orang di mansion seolah tak melihatnya. Semua mengabaikan… Pintu kamarnya tiba‑tiba terbuka. Pengasuhnya, wanita paruh baya bernama Daniela, masuk dengan wajah penuh kepanikan. Ia baru saja kembali dari luar kota. “Tuan muda! Kita harus pergi sekarang juga!” “Ayahku?” suara Haikal bergetar. Wanita itu terdiam. Matanya berkaca‑kaca, tak sanggup menjawab. “Tuan, kita harus bergerak! Tak ada waktu lagi!” Tanpa penjelasan lebih lanjut, Haikal ditarik pergi lewat pintu belakang mansion. Di sana, sebuah mobil sudah menunggu dengan mesin menyala. Saat kendaraan melaju menjauh, Haikal menoleh ke belakang. Mansion megah itu perlahan menjauh… bersamaan dengan seluruh hidupnya yang hancur. Bayangan wajah ibunya berkelebat di benak—senyum lembut yang dulu selalu menenangkannya sebelum tidur. Namun kini, senyum itu terasa asing, palsu, bagaikan topeng yang mulai retak. Lalu muncul bayangan pria yang biasa ia panggil “Paman”. Pria yang selalu mengusap puncak kepalanya, yang selalu mengawal dirinya dan ibunya. Sosok lembut yang selalu membelanya saat ayah memarahinya. Semua itu… dusta belaka. Potongan kenangan berputar cepat di kepalanya: tawa, pujian, sentuhan hangat—kini berubah menjadi pisau yang menikam dari dalam. Haikal mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Kenapa…? Namun pertanyaan itu tak pernah lolos dari bibirnya. Lalu terbayang sosok yang sangat ia hormati—tegas dan disiplin, namun selalu menatapnya lembut. Sosok yang dulu mengangkatnya tinggi‑tinggi sambil tertawa, mengajarkannya menembak di halaman belakang, mengenalkan berbagai jenis senjata, dan selalu berkata dengan bangga: “Kau harus kuat, Nak…” “Jangan khawatir, Tuan. Suatu hari nanti kita akan ambil kembali semuanya,” ucap Rigel Adhyaksa—sopir sekaligus pengawal kepercayaan Haidar yang kini mengemudikan mobil. “Kami akan selalu mendukung dan melindungi Tuan,” sambung Daniela, pengasuh sekaligus istri Rigel. Haikal buru‑buru menghapus sisa air mata di matanya, menolak kelemahan yang mencoba merayap masuk. Ia menarik napas panjang, berat, lalu menghembuskannya perlahan. Ia duduk lebih tegak. Tatapannya menembus pekatnya malam di luar jendela. Tak ada lagi tangis. Tak ada lagi anak kecil yang ketakutan. Yang tersisa… hanya dingin. Hanya diam. Dan sesuatu yang perlahan tumbuh di dadanya… pembalasan. Rigel memacu mobil membelah kegelapan, meninggalkan masa lalu yang tak akan pernah kembali. Di kursi belakang, Haikal duduk terlalu diam—jauh lebih diam dari anak seusianya. Matanya kosong, menatap lurus ke depan tanpa benar‑benar melihat apa pun. Akhirnya kendaraan memasuki gerbang besar kediaman Adinda Alfarizi—ibu dari Haidar Lorenzo Alfarizi. Lampu‑lampu halaman menyala terang. Di teras berdiri seorang wanita berwibawa, mengenakan mantel panjang dengan rambut tersisir rapi. Wajahnya tegas, namun matanya menyimpan kekhawatiran mendalam. Itu Adinda Alfarizi. Di sampingnya beberapa pengawal berjaga siaga. Para pembantu berdiri agak menjauh dengan wajah tegang—seolah mereka sudah tahu kabar buruk yang datang. Begitu mobil berhenti, Rigel segera turun dan membuka pintu belakang. “Nyonya… kita harus segera pergi,” ucapnya cepat namun tetap sopan. Adinda tak langsung menjawab. Pandangannya jatuh pada sosok kecil di dalam mobil. “Haikal…” suaranya melembut, kontras dengan aura dingin yang biasa ia tampilkan. Anak itu perlahan mengangkat wajah. Tak ada tangisan. Tak ada jeritan. Hanya kehampaan… yang justru terasa jauh lebih menakutkan. Adinda menarik napas dalam, lalu mengangguk tegas. “Semua masuk. Sekarang.” Tanpa banyak bicara, semua segera bergerak. Haikal dipindahkan ke mobil utama bersama Adinda, sementara yang lain mengikuti di kendaraan terpisah. Mesin kembali menyala. Namun sebelum konvoi benar‑benar pergi, Adinda memberi satu isyarat sederhana—hanya satu anggukan. Di sisi lain halaman, seorang pria berdiri di balik bayangan. Gibran Pratama, pengawal kepercayaan Adinda Alfarizi. Tatapannya tajam menatap mansion megah yang puluhan tahun menjadi lambang kejayaan keluarga Alfarizi. Kini… ia hanya saksi bisu pengkhianatan. Untuk menghapus jejak, Adinda memutuskan menghancurkan bangunan itu sendiri. Tanpa ragu, Gibran menekan pemicu di tangannya. BOOM! Ledakan dahsyat mengguncang malam. Api langsung menjalar dari sisi bangunan, melahap dinding demi dinding dengan rakus. Kaca pecah berserakan, suara runtuhan bergema keras. Dalam hitungan detik, mansion itu berubah menjadi lautan api. Dari dalam mobil, cahaya merah menyala terpantul di mata Haikal. Ia menatapnya. Tanpa berkedip. Seolah sedang menyaksikan pemakaman seluruh hidupnya. Adinda melirik cucunya, rahangnya mengeras. “Mulai malam ini,” ucapnya pelan namun tegas, “kau bukan lagi anak kecil yang bisa hidup aman di bawah bayang‑bayang orang lain.” Haikal tak menjawab sepatah kata pun. Namun perlahan, tangannya mengepal erat. Api terus berkobar di belakang mereka. Dan di dalam pantulan nyala api itu, lahirlah sesuatu yang baru. Bukan lagi seorang anak. Melainkan… awal dari pewaris kegelapan yang akan mengambil kembali segala miliknya. Satu per satu. Dengan caranya sendiri. Dan saat hari itu tiba, tak ada yang bisa menyelamatkan mereka. Termasuk wanita yang dulu pernah ia panggil… Ibu. Malam itu, seorang anak kehilangan segalanya. Namun dunia belum tahu… seorang raja tanpa mahkota—yang suatu hari pasti akan kembali. Haikal Lorenzo Alfarizi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
767.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.1K
bc

Not just, the Beta

read
353.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook