💜 D-U-A B-E-L-A-S 💜

529 Kata
Gretha sayup-sayup membuka matanya. Dia mengendarkan pandangan ke berbagai sudut kamar ini. Tanpa sengaja, dia melihat secarik kertas di atas meja. Gue keluar dulu. Telepon gue kalau efek obat di tubuh lo udah hilang. Bukannya gue enggak mau nolongin lo, cuma gue ga tau gimana caranya menghilangkan efek obat itu daripada terjadi yang enggak-enggak, lebih baik gue cabut. Setelah membacanya, Gretha langsung menganbil ponselnya lalu segera menghubungkan panggilannya dengan Fattan. Cukup dengan sekali percobaan, sambungan telepon langsung terhubung. "Masih ngerasain panas gak?" suara Fattan langsung terdengar. "Kaga. Udah hilang. Maksud lo efek obat apaan? Gue kaga minum obat yang aneh-aneh ya," ucap Gretha dengan cepat. Dia enggak paham dengan maksud Fattan di surat itu. "Di minuman lo tadi ada obat." "Obat apaan? Orang Rey cuma ngasih air putih." "Udah deh, Gret. Bocil mana ngerti." "Ga jelas lo." "Jangan ke mana-mana. Gue balik ke situ." Tidak lama kemudian, pintu kamar diketuk beberapa kali. Tanpa mengintip siapa yang mengetuk, Gretha langsung membuka pintu itu. Awalnya dia pikir Fattan, tetapi ternyata Reymond yang berada di sana. "Kenapa?" tanya Gretha dengan kedua alis yang mengerut. Reymond langsung mendorong Gretha agar lebih masuk ke dalam. "Mau apa?" tanyanya dengan panik. Pasalnya wajah Rey benar-benar menyeramkan, "jangan pegang-pegang!" ucap Gretha lebih kencang. Reymond semakin mendekat sampai tubuh Gretha terbentur tembok, tetapi pria itu semakin mendekat. Tangannya bergerak menyentuh resleting depan baju Gretha. "Mau ngapain sih!" teriak perempuan itu lebih kencang. "Kamu suka sama aku kan? Kalau iya, diam aja," ucap Reymond sambil menatap Gretha lekat, "kenapa tadi aku suruh tunggu di kamar kamu malah kabur. Enggak dengar perintah aku emang?" tanyanya sambil menarik resleting baju perempuan itu. Gretha menepis tangan itu. "Diam!" bentak Reymond membuat seketika nyali Gretha menciut. "Gret! Gretha! Gret!" Pandangan mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu. Dengan sekuat tenaga Gretha mendorong tubuh Reymond dan segera berlari menuju pintu. "Kenapa?" tanyanya Fattan saat melihat penampilan Gretha yang sudah acak-acakan. Perempuan itu menunjuk ke arah dalam kamar. Memberitahukan bahwa ada Reymond di dalam sana. "B*ngsa*" Fattan berjalan mendekati pria itu lalu mengepalkan tangan dan melayangkan tonjokan tepat di wajah pria itu, "ga usah memanfaatkan Gretha. Anj*n*!" teriaknya kencang. "Lo udah memanfaatkan dia buat kepopuleran lo dan sekarang buat memenuhi nafsu binatang lo," ucapnya dilanjutkan dengan satu tonjokan yang tepat mengenai wajah Reymond. "Keluar sekarang atau gue seret? Mulai sekarang enggak usah dekat-dekat Gretha lagi. Enggak usah memanfaatkan dia lagi. Pria busuk kaya lo enggak pantas buat dia." Reymond mengelap darah segar yang keluar dari hidungnya. Setelah itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu keluar dari kamar. "Jangan bongkar masalah ini ke kru," ucap Rey saat melewati Gretha. Perempuan itu hanya terdiam saja, dia masih shock dengan kejadian tadi. "Gret," panggil Fattan pelan. Gretha langsung menoleh ke arah pria itu. Berlari kecil lalu memeluk pria itu dengan erat. "Gue takut. Takut banget," ucapnya dengan terisak. Fattan mengusap puncak kepala gadis itu. "Tenang ya. Ada gue sekarang." Setelahnya hanya isak tangis Gretha yang terdengar. "Gret," panggil Fattan setelah isak tangis perempuan itu mulai mereda, "bisa diresleting dulu nggak baju lo?" tanyanya yang seketika membuat Gretha mematung lalu dia buru-buru meresletingkan bajunya. "Maaf." "Iya, gapapa," Fattan kembali membawa Gretha ke dalam pelukannya, "lanjut lagi nangisnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN