💜 T-I-G-A B-E-L-A-S💜

461 Kata
"Lo tuh jangan b**o-b**o banget kenapa sih!" ucap Fattan saat suasana di antara mereka sudah mereda. Gretha yang sudah berhenti menangis dan emosi Fattan sudah menurun. "Gue enggak b**o. Cuma gue enggak tahu aja. Gue kan lagi masa PDKT ini jadi gue pikir berbuat baik dan berpikir positif ke calon pasangan ya wajar-wajar aja," ucap Gretha membela diri. "Itu namanya kurang pintar. Bukan kurang sih, tapi tidak pintar. Jangan tertipu kesan pertama Gret." Gretha menaikan satu kakinya lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Enggak tahu deh," perempuan itu menepuk sisi sebelahnya, "deketan kenapa sih ngobrolnya. Jauh-jauh banget. Sinian." "Kaga," Fattan berbicara cepat, "gue di sini aja." Bagaimana pun juga dia kan pria normal. Berada satu kamar bersama perempuan, sudah merupakan kesalahan baginya. Apalagi kalau berada di atas ranjang yang sama. Dia enggak mau terjadi yang tidak-tidak. Dia berusaha untuk mengindari itu semua ya termasuk dengan cara ini, menjaga jarak. "Ih yaudah kalau mau di sofa aja." "Yaudah," Fattan mengambil bantal sofa lalu dia jadikan sandaran untuk duduknya, "kembali ke pembahasan tadi, coba dipakai otaknya sedikit, Gret. Rey cuma mau manfaatin lo doang. Dia enggak ngebalas perasaan lo." Gretha menaikkan sebelah alisnya. Menunggu Fattan untuk melanjutkan ucapannya. "Gara-gara lo colab sama dia terus. Subscribers dan following dia bertambah. Dia tuh mengambil keuntungan dari kedekatan kalian." Gretha mengangguk-angguk. Tanpa dikasih tahu pun dia tahu, karenanya subscribers dan following Rey bertambah. "Sebenarnya kalau masalah itu, gue senang aja sih Fat. Menjadi bermanfaat buat orang lain ya apa salahnya." Fattan menganga seketika. "Dih, b**o ya. b**o banget," pria itu mengambil satu lagi bantal sofa lalu melemparkannya ke arah Gretha, "tidur deh lo. Kesel banget gue. Jadi bikin emosi. Punya sahabat dibilanginnya, enggak pintar-pintar," ucapnya. Dengan sigap, Gretga lo langsung menangkap bantal yang dilemparkan kepadanya. "Ga jelas lo," ucapnya kesal. "Ya habisnya lo. Jangan kebaperan sama dia. Dia tuh enggak benar-benar suka sama lo. Dia cuma manfaatin lo doang." "Iya, iya. Enggak jadi jadiin dia crush lagi. Gue mendingan jomblo aja," ucap Gretha sambil cemberut. Untuk ke depannya, dia harus bisa menyeleksi lagi calon-calon yang akan menjadi pasangannya. Yang pastinya calon pasangan harus cocok dengan Fattan sehingga hubungan mereka bisa mendapatkan dukungan yang baik dari pria itu. "Gret," kali ini Fattan menegakan tubuhnya dan memandang Gret dengan lurus, "kalau cowok tuh beda-beda sikapnya saat berdua sama lo dan saat ada di depan teman-temannya atau di depan kamera. Lo harus tahu kalau sikap yang hanya berdua sama lo, itu sikap dia sebenarnya." "Gimana-gimana?" tanya Gretha yang sepertinya gadis itu belum paham. "Gini contohnya. Kalau ketika lagi berduaan sama lo, dia cuek. Dan kalau lagi bareng-bareng orang lain atau lagi di rekam kamera, dia perhatian sama lo. Berarti sikap sesungguhnya dia sama lo ya cuek." "Begitu ya?" "Iya. Kalau menjalin hubungan ke depannya harus lebih pintar ya." "Iya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN