Malam hari pun tiba. Gretha dan Fattan masih berada di dalam kamar hotel yang sama. Sedari tadi mereka berdiskusi perihal pembagian tempat untuk tidur. Gretha yang memaksa Fattan untuk tidur di sofa dan Fattan yang bersikeras untuk tidur di lantai.
"Kalau enggak mau di sofa enggak apa-apa," Gretha mengeser tubuhnya ke pinggir sehingga ada jarak yang lebih luas, "gue ga masalah buat berbagi ranjang. Lo pindah ke sini juga gapapa, Fat. Gue percaya lo ga bakal apa-apain gue."
"Kaga. Tidur di sofa aja gue enggak mau, apalagi seranjang sama lo."
Diantara pilihan tidur di ranjang, di sofa, atau di lantai, Fattan lebih memilih untuk tidur di lantai. Dia berusaha untuk tidak melihat Gretha dalam keadaan tertidur. Kalau di lantai, mau bagaimana pun posisi tidurnya dia tidak bisa melihat Gretha, kecuali pria itu duduk atau berdiri.
"Emangnya kenapa sih, Fat?"
"Nanya itu terus. Jawabannya ya tetap sama. Enggak apa-apa."
Gretha mendengus sebelum akhirnya berbalik, menutup tubuhnya dengan selimut lantas memejamkan matanya. Begitu juga dengan Fattan.
Baru setengah jam tertidur, Fattan seketika terbangun begitu merasakan gejolak ingin buang air kecil. Tanpa ba-bi-bu dia bergerak masuk ke dalam kamar mandi dan segera menuntaskan keinginannya.
Setelah merasa lega, Fattan keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke tempat awal. Tidak sengaja dia melihat selimut Gretha yang tersingkap. Tubuh Gretha juga meringkuk khas seperti orang yang sedang kedinginan.
Fattan awalnya mencoba tidak peduli, tetapi dia enggak tega. Dia takut Gretha sakit. Oleh karena itu, dia berjalan mendekati ranjang perempuan itu lalu menarik selimutnya. Sesudah selesai, dia tidak segera berbalik. Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengusap puncak kepala Gretha. pelan.
"Gue kesel banget sama Rey. Rasanya gue mau nonjok sampai dia mampus, tapi ini di hotel bisa-bisa kalau gue begitu malah memperburuk suasana," ucap Fattan masih dengan tangan yang berada di puncak kepala Gretha.
"Gue selama ini berusaha buat menjaga lo. Memperhatikan kebahagiaan lo. Masa dia tiba-tiba datang dan mau merusak lo. Bangs** banget kan," ucap Fattan lagi, meskipun dia tahu Gretha tidak membalas ucapannya.
"Meskipun selama ini omongan gue suka ceplas-ceplos. Gue ga tau sih lo pernah tersakiti dengan omongan gue atau enggak, tapi yang jelas, gue begitu karena rasa sayang gue sama lo. Meskipun lo nyusahin gue dan berkali-kali bikin gue kesel, tapi gue tetap sayang sama lo."
Fattan menarik tangannya lalu bergegas untuk kembali tidur. Saat memejamkan matanya, tiba-tiba ada suara derap langkah. Fattan buru-buru kembali membuka matanya dan menemukan Gretha yang sudah berada di depannya.
"Ngapain? Kok lo ga tidur?" tanyanya kaget.
"Enggak. Gue pura-pura tidur tadi pas lo keluar dari kamar mandi," Gretha tersenyum lebar, "Fattan gue enggak nyangka loh, lo bisa ngomong kaya begitu. Co cwit."
Fattan mendengus sebal. "Gue tarik omongan gue tadi."
"Ih masa bisa begitu," Gretha meregangkan kedua tangannya, "Fattan peluk!" pintanya.
"Apaan? Jangan aneh-aneh," pria itu mengambil bantal untuk menutupi wajahnya, "balik sana ke kasur. Tidur."
Gretha menggeleng lalu dia menarik bantal yang menutupi kepala Fattan. "Peluk dulu. Kan peluk sayang. Gue ngebalas sayang lo nih."
"Ga perlu."
"Jahat banget."
"Lagian ga boleh peluk-peluk. Ga baik."
"Biasanya lo duluan yang peluk gue kalau gue lagi sedih."
"Ya itu beda, kan lagi sedih."
Gretha menghentakkan kakinya. "Yaudah kalau ga mau," ucapnya lalu kembali menaiki ranjang.