💜 L-I-M-A B-E-L-A-S 💜

463 Kata
Pagi-pagi sekali sebelum Gretha bangun, Fattan sudah lebih dahulu bangun dan segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu, sambil menunggu Gretha bangun, dia membuka laptopnya dan mengerjakan sedikit revisi yang diminta oleh bosnya. "Selamat pagi, Sahabat Ganteng Tersayang." Fattan langsung mengalihkan pandangan dari laptop dan menatap Gretha yang juga sedang menatapnya sambil menguap-nguap. "Mandi. Sarapan. Jangan sampai terlambat. Kasihan kru yang nungguin lo," ucap Fattan kembali mengalihkan pandangannya ke laptop. "Iya, bawel. Sabar dulu. Gue masih mau melek-melekin mata." Fattan hanya terdiam, tidak menjawab ucapan itu. Beberapa saat kemudian, Gretha masuk ke dalam kamar mandi dan keluar dengan baju yang sudah berganti. Baju tidur pandanya sudah berubah menjadi hoodie pink. Food vloggers dengan gaya yang santai. "Gue keinget kejadian semalam," ucap Gretha tiba-tiba. Perempuan itu berjalan cepat dan duduk tepat di sebelah Fattan, "duh, gimana. Takut diapa-apain lagi nih gue." "Terus?" "Nanti ada Rey lagi. Gue enggak mau. Lo harus ikut. Temenin gue," Gretha menarik sebelah tangan Fattan lantas mengenggamnya, "please. Tolongin gue. Gue takut." Fattan menatap Gretha lekat kemudian menarik napas pelan. Dia sebenarnya mau untuk menunggu gadis itu shooting, tetapi dia harus segera mengerjakan tugas revisinya. Bosnya meminta dikirimkan sebelum jam 1 siang. "Gue harus ngerjain pekerjaan gue, Gret," ucap Fattan berusaha meminta pengertian dari Gretha, "bukannya gue enggak mau, tapi gue juga punya tanggung jawab dipekerjakan gue," lanjutnya. Gretha mengerucutkan bibirnya. Perempuan itu juga bingung, kalau Fattan mengikuti keinginannya bisa-bisanya pria itu dipecat karena lalai dalam bekerja. Kalau dipecat, Fattan enggak bisa lagi membelikannya makanan. Dan Gretha enggak mau hal itu terjadi. "Yaudah. Gapapa," jawab perempuan itu. "Nanti kalau pekerjaan gue selesai, gue langsung nyusulin lo kok. Share loc aja, tempatnya," kalimat itu membuat Gretha seketika tersenyum, "ga usah senyum-senyum lo. Jelek." Gretha menjulurkan lidahnya. "Yang penting lo sayang." Kalau tahu Gretha bakal menggodanya seperti ini, Fattan menyesal pernah mengutarakan tentang itu. Seharusnya dia diam-diam aja, menunjukan rasa sayangnya hanya lewat tindakan, tidak dengan kata-kata. "Roti yang gue kasih mana, Gret?" tanya Fattan yang baru teringat kalau mereka berdua belum sarapan. Gretha menunjuk ke tasnya. "Itu," jawabnya. "Ambil." Gretha menuruti perintahnya pria itu. Dia mengambil dua roti dengan isi yang sama yaitu selai cokelat. "Makan itu dulu. Tar lo di bawah makan lagi." "Iya," Gretha memberikan roti milikinya ke Fattan, "bukain. Susah." Tanpa menjawab, Fattan langsung mengambil roti itu dan membukakan bungkusnya. Setelah itu mereka makan roti dengan diselimuti oleh keheningan. "Gue jalan sekarang ya," ucap Gretha setelah dia selesai bersiap-siap. "Gret," panggil Fattan saat Gretha mengambil tasnya. Perempuan itu menoleh, tetapi tidaj mengucapkan sepatah kata pun, "sini." Gretha menyelempangkan tasnya lalu dia berjalan mendekati Fattan. "Apaan?" tanyanya. Fattan menarik Gretha ke dalam pelukannya. "Jangan takut dan panik ya di sana kalau lagi deketan sama si Bangs**," pria itu mengusap bahu Gretha dengan lembut, "lo bakal baik-baik aja kok, Gret. Gue janji."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN