Seminggu telah berlalu, pada setiap harinya Fattan selalu menemani Gretha shooting karena seluruh pekerjanya sudah selesai. Dari pagi sampai malam, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Disaat ada Gretha, di situ juga ada Fattan.
Saat ini, Gretha sedang memasukan barang-barangnya ke koper bersiap untuk check out dari hotel. Hari ini, adalah jadwal kepulangan mereka.
"Abis dari sini, lo mau ikut nggak?" tanya Fattan yang membuat Gretha mengalihkan pandangannya ke pria itu.
"Ikut mau ngapain?" tanyanya setelah itu dilanjut untuk meresletingkan kopernya.
"Habis pulang kita enggak langsung ke apartemen, nunggu dulu Bang Nagendra di bandara."
Nagendra Prawira Bashar, Abang dari Fattan yang selama ini tinggal dan membuka bisnis kuliner di Belanda. Pemuda sukses itu, bertahun-tahun meniti karir sebagai pengusaha sekaligus chef di negara kincir tersebut.
Sampai akhirnya, bulan ini Nagendra memutuskan untuk membuka cabang di Indonesia dan juga ditambah dari desakan sang Adik yang meminta Abangnya untuk pulang ke negara kelahirannya.
"Dia mau balik?" tanya Gretha yang langsung direspons dengan anggukan kepala, "bertahun-tahun gue enggak pernah lihat. Ada kali lima tahun ya, Fat. Sampai gue lupa mukanya."
Fattan memasukan laptopnya ke dalam tas. "Makanya nanti ketemu. Lo langsung pulang enggak ada urusan lagi kan sama kru?"
"Enggak."
"Yaudah, temenin gue nungguin Bang Gendra."
"Yaudah," Gretha menarik kopernya, "ayo pulang."
?
"Kita pakai papan ga sih, Fat? Ditulis namanya gitu? Biar kaya di film-film," tanya Gretha saat mereka berdua sudah sampai di bandara.
Fattan melirik Gretha dengan sebal. "Jangan aneh-aneh. Sekarang enggak zaman pakai begituan. Lagian, kita kan enggak punya papan tulis buat nulisin itu," ucap Fattan sambil terus menarik kopernya.
"Pakai kertas bisa."
Fattan menuju ke sebuah bangku panjang. Memberi isyarat agar mereka duduk di sana. "Gue yang bikin deh, Fat. Biar seru aja," ucap Gretha lagi.
Fattan berdecak sebal. Gini nih sifat keras kepalanya Gretha. Kalau mau sesuatu pasti dia akan lakukan, meskipun berpotensi membuat malu dirinya sendiri.
"Lo yang bikin. Lo yang pegang."
"Iya," perempuan itu buru-buru mengambil kertas dan pensil di dalam tasnya, "udah jadi."
Fattan melirik ke kertas itu. Enggak ada yang aneh, hanya tulisan dengan nama Nagendra. "Yaudah, bawa itu ntar. Kita Istirahat dulu."
Beberapa saat kemudian, Gretha dan Fattan sudah berisi di tempat penjemputan yang berada di area terminal kedatangan. Gretha dengan semangat memegang kertas di atas kepalanya, sedangkan Fattan hanya memainkan ponselnya sambil menunggu kabar dari Gendra.
Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan ke arah mereka. Gretha mengerutkan keningnya, memadang orang itu lebih lekat. Kacamata hitam yang dipakai lelaki itu membuatnya tidak mengenali apakah ini Gendra atau bukan.
"Bang!" Fattan yang berada di sebelahnya kini bersuara.
Pria itu tersenyum lalu mendekat ke arah Fattan. "Dek," ucapnya sambil menepuk pelan bahu adiknya.
Ya, benar, pria itu adalah Nagendra.
Gendra membuka kacamata hitamnya dan seketika membuat Gretha terpaku beberapa saat. "Bang Gen," panggil Gretha pelan.
Merasa terpanggil, Gendra menoleh ke arah Gretha. "Gret ya? Wah, sudah besar ya," ucapnya sambil tersenyum simpul.
"Bang Gen, makin ganteng. Lebih ganteng daripada Fattan. Udah punya pacar belum?" tanya Gretha yang sontak membuat suasana menjadi hening.